
Sudah 3 hari Bayu di rawat di rumah sakit, keadaannya pun kian membaik. Tinggal menunggu dokter jaga untuk memastikan kapan diijinkan pulang.
Ibu menjaganya di waktu pagi sampai sore, sehingga harus ijin tidak masuk kerja. Dan selama itu juga Reyhan bolak-balik dari counter ke rumah sakit. Pulang kerumah sebentar hanya untuk sekedar mandi dan berganti pakaian. Karena dia juga ikut menjaga Bayu di waktu sore sampai esok pagi harinya.
Untuk transaksi harian masih bisa di pantau lewat handphone nya. Selama Bayu sakit, Tiwi bersedia lembur. Dan, untuk hal itu Reyhan memberikan uang lembur yang sesuai.
'Dengan tidak dzolim pada orang disekitarnya, maka pintu kemudahan akan terbuka selebar lebarnya.'
Salah satu petikan khutbah Jum'at yang membekas di otak Reyhan sampai saat ini dan berusaha untuk dia jalankan.
Disaat Bayu tengah makan bubur ayam yang dibelikan Reyhan, seorang pria sepuh dengan balutan jas putih khas dokter pun mendekat ke arahnya. Ya, dia adalah dokter yang memeriksa kondisi Bayu dari sejak awal masuk rumah sakit.
Suaranya yang terdengar tenang berwibawa menyapa kedua kakak beradik yang tengah menikmati sarapan pagi sehingga sejenak untuk menghentikan aktivitasnya itu.
"Nah, jangan sampai telat makan ya biar sakit nya ngga kambuh lagi." Sapa dokter sepuh itu. Keduanya pun mengangguk sambil tersenyum simpul lalu meletakkan makanannya di meja nakas.
"Coba silahkan berbaring, biar saya cek dulu kondisi nya. Semoga bisa pulang hari ini juga." Dokter pun segera memasang stetoskop di telinganya dan meletakkan ujung bawahnya di dada bidang Bayu. Lalu setelah melewati serangkaian pemeriksaan akhirnya dokter pun mengulas senyum hangat dan mengatakan jika hari ini sudah diijinkan pulang.
"Alhamdulillah." keduanya berucap syukur bersamaan.
"Makan teratur, olahraga teratur, kurangi beban pikiran, dan jangan lupa minum obat nya sampai habis. Mengerti?"
"Iya pak." Bayu menjawab sambil mengangguk.
"Ya sudah saya permisi dulu kalo begitu." pamit dokter sepuh itu.
"Memang kamu punya beban pikiran?" kata Reyhan mencibir adiknya lalu sambil mulai menyuap bubur ke mulutnya.
Bayu yang mendengar kakaknya bicara seperti itu lantas meliriknya sebentar lalu dengan singkat menjawab, " Ya iyalah, wong yo manusia biasa bukan malaikat."
"Mikir apaan? Jangan bilang kalo uang gaji yang aku kasih kurang yaa? Atau......... kamu lagi mikir cewek ya? Tebak Reyhan sambil tersenyum simpul.
__ADS_1
"Buanyak banget laah, salah satunya ya itu."
"Itu, Itu apaan?" Reyhan mengernyitkan dahi.
"Mikirin cewek ya? Eh cewek itu ngga usah terlalu dipikirin, fokus aja sama masa depan, cari uang sebanyak-banyaknya, kalo jodoh ngga kan kemana kali Bay."
"Lagaknya, kayak udah punya pacar aja, sok nyeramahin aku."
"Eh, aku tuh emang belum punya pacar, pokoknya fokus mengejar impian, mengembangkan usaha."
"Kalo ada cewek yang tiba-tiba deketin kamu gimana?"
Uhuk ...... uhuk......
Reyhan tersedak dengan pertanyaan Bayu.
"Memang ada ya, yang lagi suka sama aku. Kok aku ngga ngerasa." Reyhan malah balik bertanya ke adiknya yang tengah menatapnya serius.
"Em....... tergantung sih."
"Gila! Anak orang main gantung gantung aja, kalo mati gimana?"
"Eh, bukan mau bikin anak orang mati. Maksudnya, ya tergantung dia itu sesuai dengan tipeku ngga. Kalo ngga sesuai ya no way."
"Lagak mu kak, sok british. Wong tiap hari juga makannya sambel korek." Bayu menimpuk kakaknya dengan bantal lalu Reyhan segera menghindar.
"Memang tipe mu seperti apa kak, yang seperti Tiwi bukan?"
"Ya enggak lah.. masih jadi rahasia pokok nya. Lagian kenapa tanya hal yang ngga penting seperti itu sih. Mending habisin tuh bubur nya, lalu segera beberes. Kita nikmati tidur dikasur kapuk punya ibu yang jauh lebih empuk." jawab Reyhan sambil menaikkan satu alisnya.
"Cewek itu penting lho kak, itu tuh namanya MASA PENJAJAKAN cari calon istri biar ngga salah pilih."
__ADS_1
"Kata pak ustadz, pacaran itu DOSA. Kalo mau punya cewek ya kudu langsung nikah." Tegas Reyhan. Tiba-tiba pikiran nya jadi teringat dengan kisah cintanya yang kandas. Sejak saat itu lebih tak memikirkan perihal pacar. Dan fokus mengembangkan usaha serta memperbaiki diri dihadapan sang Pencipta.
"Ya sudah, kalo sudah kata pak ustadz ya ngga bisa di ganggu gugat." cerocos Bayu.
Lalu setelah itu mereka segera bersiap siap pulang. Bayu menaiki mobil yang sudah dipesan Reyhan beserta tas dan peralatan lainnya agar lebih nyaman dan tidak terkena hawa yang masih dingin. Sedangkan Reyhan menaiki motornya.
Setelah menempuh perjalanan 15 menit akhirnya sampai juga dirumah kecil yang tampak teduh dan asri miliknya.
Ibu, Bima,dan pak Somad menyambut kepulangan Bayu dengan duduk di teras depan rumah.
Pak Somad dan Bu Rohmah memapah Bayu sampai ke ruang tv yang biasa dipakai untuk kumpul keluarga. Bima juga ikut membantu barang bawaan kakaknya. Reyhan yang sudah masuk rumah segera menuju kamarnya untuk mengambil pakaian ganti untuk dibawa ke kamar mandi. Sedangkan Tiwi belum sempat menyapa Bayu, karena sejak buka tadi counter sudah ramai pembeli.
Diruang tv mereka mulai saling bertukar kabar dan cerita. Tak lama berselang, rombongan ibu-ibu tetangga sedesa terlihat sudah memasuki pelataran rumah. Ibu pun segera keluar untuk menyambut kedatangan mereka.
Di desa Reyhan ini memang masih kental dengan budaya gotong royong nya. Biasanya mereka akan menjenguk di rumah sakit dengan menyewa sebuah bus. Tapi, karena ini masih musim covid jadi mereka tidak berani menjenguk di rumah sakit.
"Assalamu'alaikum." Seperti paduan suara, serentak ibu ibu itu mengucapkan salam pada Bu Rohmah yang sudah berdiri di depan rumah.
"Wa'alaikumussalam. Mari mari bu, silahkan masuk." Kata bu Rohmah menyambut kedatangan mereka. Lalu mengajak ke ruang tv dimana Bayu berada.
'Astaga emak-emak rempong mengusik ketenangan jiwaku, alamat mau tidur ngga jadi.' batin Bayu kala mendengar kegaduhan para tamu yang tak diundang itu.
"Mari bu, silahkan duduk. Maaf ya malah jadi ngrepotin." ucap Bu Rohmah sambil tersenyum. Bayu yang melihat ibu-ibu sudah mulai duduk, lalu terpaksa sejenak tersenyum sebagai rasa hormat.
"Ngga ngrepotin kok bu, biasa saja. Kayak ngga tau aja di desa ini adatnya seperti apa. Kapan pulang nya." salah satu tetangga basa basi mulai bertanya.
Dan, tak terasa hampir 1 jam mereka bercerita ngalor ngidul membahas yang tak pasti. Setelah itu mereka berpamitan pulang. Tak lupa menyelipkan amplop untuk Bayu.
'Ye.... akhirnya ibu-ibu PKK pulang juga.' sorak Bayu dalam hati.
'Katanya jenguk, tapi ngga diajak bercerita, malah sibuk nggibahin orang. Dasar kaum hawa, hawanya: bikin emosi naik turun.' batin Bayu lalu merebahkan badannya dikasur karena sudah mengantuk setelah meminum obat tadi.
__ADS_1