Juragan Muda

Juragan Muda
79. Sosok pemuda yang mencuri perhatian


__ADS_3

"Tapi dia itu auranya beda banget mbak. Dan, mbak Tiwi tahu ngga, dia itu terlihat akrab sekali dengan bapaknya mbak Anisa. Apa mereka........"


"Mereka apa Nya?" tanya Nina yang mulai terlihat antusias, Tiwi pun ikut mendongakkan kepalanya melihat Anya.


"Apa mereka ada hubungan spesial. Apa jangan-jangan..... cowok ganteng itu calonnya mbak Anisa." Anya pun langsung menutup mulutnya karena sudah berpikir terlalu jauh. Tiwi dan Nina saling bertukar pandang.


Hati Tiwi langsung mencelos mendengar nya. Tapi, Tiwi berusaha untuk berpikir rasional. Orang baik pasti jodohnya juga orang baik pula.


"Haduh, sampai lupa, kenapa tadi tidak tanya siapa namanya." Anya menepuk jidatnya.


Tiwi pun hanya diam saja tanpa ada keinginan untuk memberitahu siapa nama lelaki yang sejak tadi mereka bicarakan.


Baginya, membicarakan seseorang yang berada di masa lalunya hanya akan membuat dirinya tidak bisa bangkit dari rasa penyesalan. Jadi Tiwi lebih memilih menghindari, dan dalam hati ia berdoa semoga selanjutnya mereka tidak bertemu lagi.


"Ya sudah, kapan kapan saja kalau tuh cowok beli disini lagi, jangan lupa kamu tanyakan siapa namanya." saran Nina ke Anya yang langsung mengangguk menyetujui.


Hari esok, seperti biasanya Anisa memberi tausiyah lagi ke karyawannya.


"Mbak Anisa, diam diam ternyata sudah punya calon ya." celetuk Anya.


"Lhoh, semua manusia kan memang sudah memiliki calon masing-masing mbak Anya." jawab Anisa datar.


"Ih, ngomong sama mbak Anisa memang selalu kalah." jawab Anya gemas.


"Kemarin ada cowok ganteng kesini mbak. Dan cowok itu keliatan dekat sekali dengan bapak mbak Anisa. Apa itu jodoh mbak Anisa." terang Anya yang membuat Anisa sedikit mengerutkan dahi. Karena setahunya, bapaknya memiliki banyak teman. Baik dari kalangan muda ataupun tua.


"Teman abiku banyak mbak Anya, aku ngga bisa kalau disuruh mengingatnya satu persatu. Bukankah banyak teman banyak rezeki." balas Anisa tak mau ambil pusing membahas soal lelaki.


"Assalamu'alaikum." ucap Anisa setelah pulang dari mengisi acara pengajian ibu-ibu.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam." jawab keduanya orangtuanya kompak.


"Kok tumben sudah pulang sayang, biasanya kan sampai malam." ucap umi Sofiah.


"Hari ini banyak yang tidak hadir umi, karena banyak yang rewang ditempat orang punya hajat." Terang Anisa sambil membuka cadarnya.


"Astaghfirullah, umi sampai lupa karena tadi ikut bantuin Abi menyiapkan pesanan tempe untuk para penjual, harusnya umi kan juga ikut."


"Ya sudah, besok pagi kan masih bisa bantuin juga umi." sambung pak Gofur.


"Iya bi, gimanapun juga kita kan masih punya Anisa yang belum menikah. Kita juga harus aktif ikut kegiatan sosial, biar sewaktu waktu Anisa dapat jodoh, tetangga juga banyak yang bantuin kita."


"Oh iya, umurmu kan sudah 20 tahun Anisa, apakah kamu sudah siap menikah?" tanya pak Gofur. Mendengar pertanyaan yang mendadak seperti itu seketika membuat Anisa terbatuk-batuk.


"Ini diminum dulu sayang." Umi sofiah menyodorkan segelas jahe hangat yang tadi belum sempat diminumnya. Anisa pun meneguk minumannya pelan-pelan.


"Abi kan cuma tanya, kenapa kamu malah sampai terbatuk-batuk Anisa?" tanya abi Gofur lagi setelah Anisa lebih baik.


"Bukankah semua itu tetap bisa kamu lakukan ketika sudah menikah nanti sayang? Seperti umi yang juga membantu abi mengembangkan usaha tempe dan tahu kita. Sehingga bisa membiayai mu sampai ke jenjang kuliah. Dan beberapa kali kita umrah juga hasil dari usaha kita ini. Menikah itu kan tujuannya ibadah. Dan Allah tak akan menyia-nyiakan hamba Nya yang beribadah dengan sungguh-sungguh. In shaa Allah rezeki tetap akan mengalir sampai ajal menjemput. Begitu juga dengan kegiatan dakwah mu, tetap akan terus berjalan walaupun sudah menikah nanti, asalkan pasanganmu adalah orang yang tepat. Maka dari itu, segeralah menikah." bujuk abi Gofur.


Anisa pun masih menundukkan kepalanya, tak berani menatap abinya. Ia tahu bahwa abinya sangat berharap agar dirinya bisa segera menikah. Tapi, hati Anisa masih terpatri pada sosok pemuda yang telah membantunya dulu ketika pingsan saat umrah.


Bagi Anisa, dia adalah cinta pertamanya. Dipertemukan ditempat yang indah, membuat Anisa memiliki sebuah harapan. Bahwa, mungkin dia adalah jodoh yang dipersiapkan Allah untuknya.


Tapi, semua itu masih terasa abu-abu untuk disampaikan kepada kedua orangtuanya. Karena baru sekali mereka bertemu, dan bahkan nama saja ia tak tahu. Yang bisa dilakukan Anisa adalah terus bermunajat kepada Allah. Dan, sambil menunggu semua itu terjadi, Anisa terus memperbaiki diri dan meningkatkan kesibukannya.


"Anisa?" umi Sofiah menggenggam tangan Anisa pelan yang membuat Anisa sedikit tersentak dari lamunannya.


"Kenapa kamu diam saja? Apakah kamu sudah menjatuhkan pilihan pada seorang laki-laki?" tanya umi Sofiah pelan.

__ADS_1


Sekian detik Anisa kembali terdiam sambil merangkai kata yang tepat tapi tak juga menemukan nya.


"Kemarin, sewaktu abi mengantarkan makan siang untuk karyawan mu, tak sengaja abi bertemu dengan seorang pemuda yang dulu pernah singgah sholat dhuhur di masjid sini. Dulu ia baru lulus sekolah dan mencari kerja. Sekarang tampaknya dia sudah sukses. Tapi, yang abi lihat bukan hanya kesuksesannya semata. Melainkan tiap usaha yang ia jalani sampai berada dititik sekarang. Sikapnya yang sopan dan terlihat merendah membuat abi juga menaruh perhatian padanya. Padahal kami baru 2 kali bertemu, tapi sudah terasa sering bertemu ribuan kali."


"Abi, harusnya abi hati-hati jika berkenalan dengan seseorang. Karena persangkaan kita belum tentu benar dengan kesehariannya." sanggah umi. Anisa bisa menghembuskan nafas sedikit lega karena perkataan uminya yang seakan membela dirinya.


"Iya abi tahu, kemarin saat kita bertemu, kita mengobrol sangat lama, saking lamanya, kita lupa untuk tukaran nomor telepon." ucap abi Gofur sedikit tersenyum.


"Lalu siapa namanya?" tanya umi Sofiah yang penasaran.


"Em... kalau tidak salah kemarin namanya Reyhan."


"Reyhan." gumam umi Sofiah. Sedangkan Anisa sama sekali tidak respect mendengar nama itu di sebut.


"Iya, sepertinya namanya Reyhan. Jika nanti singgah di toko Anisa lagi, abi akan ajak dia mampir kesini umi."


"Tapi, kan itu cuma orang lewat abi. Belum tentu setahun sekali dia akan balik ke toko Anisa lagi." sanggah umi Sofiah.


"Katanya, dia memiliki hubungan pertemanan dengan counter yang ada di seberang jalan toko Anisa. Kemarin dia juga habis dari sana mengantar parcel. Besar kemungkinan dia sering wira wiri di daerah sini. Cuma Allah mungkin baru mempertemukan kita sekarang."


"Terus, apa maksud abi berkata soal pemuda itu? Apa sengaja ingin menjodohkan dengan Anisa?" tanya umi Sofiah yang membuat Anisa langsung mendongakkan kepalanya.


Tiba-tiba hatinya berdegup sangat kencang. Bagaimana nanti jika jawaban abi iya, padahal dihati Anisa masih berharap dengan sosok pemuda yang pernah bertemu di Mekkah.


Hai kak, selalu dukung karya author ya. Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca. Like hadiah vote dan favorit agar menambah semangat author trus update ๐Ÿ˜˜.


Bagi pemberi dukungan terbanyak, akan mendapat hadiah berupa pulsa total 75rb ya, ayo semangat ๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช


Nah, sambil nunggu author update bab selanjutnya bisa banget mampir ke karya teman author yang Joss gandosss๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰

__ADS_1



__ADS_2