Juragan Muda

Juragan Muda
185. Merawat para istri


__ADS_3

Laura mengernyitkan dahi ketika setibanya di rumah, pintu sudah terbuka lebar dan terlihat penuh orang. Bahkan suaranya riuh terdengar.


"Mungkin warga sekitar sini sengaja datang berkunjung untuk melihat bayi nya Bayu Miss. Adat di sini memang seperti itu." ucap Reyhan yang mengetahui istrinya tengah mengernyitkan dahi.


"Bagus dong. Kalau orang di kota bertegur sapa sama tetangga saja ngga pernah." cicit Laura ketika mengingat pergaulan di kota.


"Idih, siapa bilang. Dulu sewaktu kita nikah, pagi pagi aku ke masjid, bapak bapak pada bertegur sapa tuh dengan ku."


"Mereka kan tahu, suami ku pria yang baik. Pasti lah di sapa dengan ramah." dengan senyum tulus, Laura memuji suaminya.


"Ish, paling bisa. Pasti ada sesuatu nih." goda Reyhan, lalu dengan gemas mengusap kepala Laura.


Keduanya segera turun dan menyalami tamu satu persatu. Lalu ikut duduk bersama mereka.


Muncullah celotehan para tetangga yang sedikit menyinggung hati Laura.


"Kapan nih segera menyusul punya anak?"


Sebuah pertanyaan sakral yang sebenarnya hanya Allah sendiri yang tahu jawabannya. Tapi masih saja manusia bertanya pada sesamanya. Jika di bilang bodoh pun pasti juga tidak mau.


Laura hanya menarik senyum menanggapi pertanyaan itu, walaupun hatinya sangat tidak suka dengan pertanyaan yang di ajukan oleh para tetangga Reyhan.


"Miss Laura mandi dulu gih, biar ngga kedinginan." ucap Reyhan agar Laura tidak terus menerus di sudutkan dengan pertanyaan yang membuatnya berkecil hati.


Laura segera bangkit berdiri menuju kamar mandi. Sementara Reyhan membawa tas mereka masuk ke kamar, sembari mengambil baju ganti untuk dirinya dan Laura.


"Jangan hiraukan ucapan mereka ya Miss. Anggap saja pertanyaan mereka itu seperti radio nglokor." ucap Reyhan setelah Laura keluar dari kamar mandi. Dan keduanya tengah berdiri berhadapan.


"Radio nglokor? Apa maksud mu mas? Aku ngga ngerti." Laura mengernyitkan dahi mengulang ucapan Reyhan.


"Radio rusak." kekeh Reyhan.


"Ya ampun, kenapa bahasa mu aneh seperti itu mas." Laura ikut terkekeh menanggapi ucapan suaminya.


"Em, Miss Laura kalau ketawa selalu membuat hati ku gemas. Jadi pengen mencubit." dengan gemas Reyhan mencubit kedua pipi Laura sehingga membuat ia meringis.


Reyhan mengernyitkan dahi, ketika setelah sholat tahajud, ia mendengar Laura mengigau. Kadang ia terisak, kadang ia tertawa dan berbicara. Seperti tengah berbicara pada bayi. Ia pun bergegas mendekati Laura.


"Kenapa panas lagi?" desis Reyhan.

__ADS_1


Tadi siang badan Laura panas, setelah makan panas nya turun dan raut pucatnya memudar. Bahkan sore tadi ia juga terlihat lebih ceria. Dan pada malam hari justru kembali panas lagi.


Reyhan bergegas mengambil kain dan air untuk mengompres Laura, lalu duduk di sampingnya sambil memijit pelan badannya.


Keesokan harinya, ketika Laura bangun wajah nya semakin terlihat pucat. Akhirnya, pagi itu setelah subuh ia kembali tidur.


Reyhan akhirnya meminta ijin pada papanya untuk menemani Laura di rumah. Tak mungkin semua di bebankan pada ibunya. Walau tanpa di minta sekalipun ibunya tetap mau merawat Laura.


Dan jadilah di pagi itu, para lelaki sibuk mengurus istri masing-masing.


Reyhan mencuci baju miliknya serta milik Laura. Setelah itu, barulah ia membuat bubur kacang hijau yang di minta Laura.


Bayu pun juga sama, setelah kakak nya selesai mencuci baju, giliran ia yang mencuci baju keluarga kecilnya. Yang tentunya di dominasi oleh kain bedong, dan baju baju bayi yang lucu. Setelah selesai, giliran ia membersihkan tubuh Anisa dengan kain bersih dan air. Karena masih khawatir tentang bekas jahitannya.


Sedangkan Bima, ia membersihkan seluruh ruangan, lalu mandi sebelum berangkat ke sekolah.


Ibu Rohmah juga tak kalah sibuk. Seperti biasanya ia memasak sendirian untuk keluarga. Sebelum para warga datang ke rumah nya membantu memasak makanan untuk acara aqiqah bayinya Anisa.


Oek...Oek


Terdengar tangis bayinya dari dalam kamar. Bergegas Bayu yang telah selesai mencuci baju masuk ke kamar.


"Kok papa sih panggilan nya?" mata Anisa mendelik tak suka.


Bayu mendekati Anisa yang tengah menyusui bayinya. Ia pun duduk di pinggir tempat tidurnya.


"Lalu maunya di panggil apa sayang?"


"Aku mau nya di panggil umi. Dan kamu abi mas."


Bayu terdiam mendengar permintaan Anisa. Karena hatinya merasa tidak sreg dengan panggilan itu.


"Sepertinya aku ngga cocok sayang kalau di panggil abi. Ilmu agama ku saja masih seujung kuku." Bayu pun mengatakan yang sejujurnya dengan wajah sendu.


Anisa kini menatap suaminya sekian detik sebelum menjawab.


"Mas, sebuah panggilan itu ngga ada sangkut pautnya dengan tingkat pemahaman seseorang terhadap keyakinannya. Umi itu artinya ibu. Sedangkan abi itu artinya ayah. Aku hanya ingin mengajari anak kita bahasa Arab saja kok. Masa kamu ngga suka sih."


"Hem, ya sudah kalau itu mau kamu sayang. Yang penting kamu bahagia." akhirnya Bayu menerima keputusan Anisa dengan senyuman.

__ADS_1


"Oh iya, anak kita sayang sampai lupa mau di kasih nama apa." seperti biasa Bayu mulai kumat lagi becanda nya.


Akhirnya mereka pun kembali berdebat dalam penentuan nama anak.


Hingga keduanya memutuskan memberi nama Zakira Zahra. Yang artinya seorang anak perempuan cantik yang senantiasa berdzikir.


Tentu keduanya berharap agar kelak anak mereka selalu mengingat Allah dan membasahi bibirnya dengan dzikir.


"Baiklah, karena palu sudah di ketok. Jadi sidang pemberian nama untuk bayi dan panggilan untuk kita sebagai orang tua sudah selesai. Bi-Bay mau mandi dulu biar ganteng dan keren." Bayu pun mengecup kening anaknya lalu bangkit berdiri hendak keluar.


"Apa maksudnya Bi-Bay mas?" Anisa mengerutkan keningnya.


"Abi Bayu." kekeh nya lalu keluar kamar.


"Ya Allah. Main singkat singkat saja." gumam Anisa sambil geleng-geleng kepala, meskipun ia juga tersenyum mengingat ucapan Bayu.


Sementara itu di kamar samping, Reyhan tengah membangunkan Laura. Semangkuk bubur kacang hijau yang masih mengepulkan asap panas sudah tersaji di meja.


"Miss Laura, ayo bangun." berulang kali Reyhan membangunkan Laura.


Hingga hampir setengah jam berlalu, barulah Laura menggeliat. Hidungnya mengendus bau makanan yang menggugah selera.


"Seperti bau bubur kacang hijau." desisnya.


"Bukan kah tadi memang minta di buatkan bubur kacang hijau Miss?"


'Masa sih? Aku ngga ingat." balas Laura sambil memperbaiki posisi duduknya.


Reyhan mengambil semangkok bubur itu lalu mulai menyuapi Laura. Ia tersenyum menatap Reyhan yang sangat perhatian dengannya.


"Aku juga mau suapin kamu mas."


Laura meminta sendok yang di pegang Reyhan lalu menyuapinya, hingga tanpa terasa bubur itu sudah habis.


"Mau nambah lagi?" tawar Reyhan dan Laura pun mengangguk.


"Kamu memang pintar memasak mas. Aku saja sebagai perempuan ngga pintar masak." kekeh Laura.


"Yang penting Miss Laura pintar menyenangkan hati ku."

__ADS_1


"Haish, gombalan ngga bermutu." Laura menimpuk Reyhan dengan bantal.


__ADS_2