
Sayup-sayup terdengar suara lantunan ayat suci sebelum adzan subuh berkumandang. Reyhan seketika terbangun dari tidurnya. Bergegas ia mengambil air wudhu dan segera berangkat ke masjid yang ada disamping rumahnya, karena tak ingin melewatkan kesempatan sholat subuh berjamaah.
"Gimana mau sukses, sholat subuh saja selalu bolong." celetuk Bima ketika melewati kamar Bayu.
"Ayo kak kita berangkat bareng." Bima membenarkan sarungnya sambil berjalan beriringan dengan Reyhan.
"Silahkan nak Reyhan, giliran kamu yang mengisi kutbah nya." kata salah satu tetangganya. Ketika sholat subuh sudah selesai.
Reyhan seketika membulatkan matanya mendengar perkataan tetangganya itu. Pasalnya ia belum pernah mengisi kutbah. Apalagi, jama'ah sholat subuh lumayan banyak. Ada rasa minder yang mendera. Jadi, gimana bisa ia tiba-tiba disuruh untuk melakukan hal itu.
"Tapi selama ini saya belum pernah yang namanya mengisi kutbah pak." bisik Reyhan takut didengar jama'ah lainnya.
"Kamu kan penjual, pasti pinter bicara. Sekarang kamu coba saja. Ayo, semua sudah menunggu." balas tetangganya itu. Akhirnya dengan berat hati Reyhan melangkah ke atas mimbar.
Setelah menghirup nafas panjang kemudian mengeluarkan perlahan-lahan, Reyhan mulai perlahan tenang.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barokatuh." suara Reyhan terdengar lantang. Semua jama'ah menjawabnya dengan suara lantang pula.
'Anggap saja mereka tidak ada, dan aku bicara seorang diri di depan cermin. Santai Reyhan.' batinnya mensugesti diri.
Setelah mengucapkan salam dan pembukaan, ia pun mulai menukil sebuah hadits riwayat Bukhari yang artinya:
"Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu, ia berkata; Nabi Muhammad Saw bersabda: Dua nikmat, kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya. Yaitu, kesehatan dan waktu luang."
"Wahai jama'ah yang dirahmati Allah, ketika pertama kali kita bangun tidur, apa yang kita lakukan? Apakah langsung pergi ke sawah, ladang, untuk bekerja atau langsung memasak untuk sarapan? Pernahkah sebentar saja, kita sejenak mengucapkan syukur pada Robb kita atas nikmat yang sudah diberikanNya? Dengan mengucapkan bacaan tahmid atau doa sesudah bangun tidur misalnya. Karena kita masih diberi kesempatan untuk melihat indahnya dunia hari ini. Karena kita masih diberi kesehatan sehingga bisa melakukan aktivitas apapun itu. Bayangkan jika tiba-tiba Allah mencabut sedikit nikmat sehatnya, bisa jadi kita akan kelimpungan dan terus mengeluh merasakan sakit sambil menyebut asma Allah untuk secepatnya menyembuhkan kita. Tapi ketika sehat, justru ia mulai melupakan Allah lagi. Na'udzubillahi min dzalik, jangan sampai kita jadi hamba yang kufur nikmat. Karena sudah seharusnya, jika kita diberi kesehatan dan waktu luang, justru kita harus memanfaatkan nya dengan sungguh-sungguh. Tidak hanya memanfaatkan untuk kepentingan dunia saja, tapi juga harus bermanfaat untuk akhirat kita. Karena memang akhirat menjadi tujuan akhir hidup kita. Boleh melihat tivi, boleh bermain handphone, boleh tiduran. Tapi, juga harus tahu batasannya, jangan sampai kebablasan. Karena fenomena yang terjadi sekarang, kebanyakan jika sudah asyik nonton sinetron, maka jadi malas mau sholat, padahal waktu sholat sudah hampir habis."
"Wah, kok betul sekali mas Reyhan. Aku dirumah juga sering gitu. Nonton sinetron ikatan cinta." celetuk jama'ah ibu ibu sambil terkekeh. Dan mengundang tawa jama'ah lainnya.
"Mulai sekarang, dikurangi ya jatah nonton tivi nya. Diganti dengan membaca ayat suci. Kalau capek istirahat dulu, nanti dilanjut lagi. Atau membaca buku untuk menambah wawasan. Jika tidak bisa membaca buku, ikut kajian untuk menambah wawasannya. Intinya, banyak hal positif yang bisa kita lakukan untuk mengisi waktu luang kita. Jangan sampai kita jadi orang yang rugi, seperti hadist tadi."
__ADS_1
Semua jama'ah manggut-manggut mendengar ceramah Reyhan. Melihat hal itu, ia tersenyum lega. Awal yang bagus pikirnya. Mulai sejak saat itu, Reyhan berjanji pada dirinya sendiri, akan sering berlatih ceramah. Jadi jika sewaktu-waktu disuruh untuk mengisi kutbah tidak perlu minder lagi.
"Wah, kak Reyhan hebat. Aku salut banget sama kakak. Aku juga mau belajar ceramah, biar semua orang juga memujiku. Seperti tadi, aku mendengar mereka bisik bisik mengatakan kak Reyhan hebat." celetuk Bima ketika keduanya berjalan pulang.
"Sama, kakak juga mau belajar ceramah lagi, agar lebih fasih dalam menyampaikan, sehingga lebih mudah untuk dipahami. Tapi, jika niat mu belajar ceramah untuk dipuji orang, ya itu jelas salah besar. Lakukan sesuatu hanya mengharap ridho Allah, bukan ridho manusia, paham?"
"Paham kak." Bima mengangguk.
Sesampainya dirumah, keduanya segera membantu ibu mengerjakan tugas rumah. Sementara Bayu masih berada di alam bawah sadarnya. Seperti itulah kebiasaan Bayu yang memang sangat sulit untuk dirubah. Meskipun semua sudah menasehati, tapi tak juga digubris.
"Astaghfirullah, aku kira mimpi, ternyata bukan." pekik Reyhan ketika membuka handphone nya dan melihat riwayat panggilan.
"Kenapa malam malam miss Laura telepon aku? Perlu aku telepon balik ngga ya?" gumam Reyhan yang bingung. Akhirnya, ia menelpon balik, tapi sampai beberapa kali panggilan tetap tak ada respon.
"Mungkin baru siap siap kuliah." gumamnya lagi.
Sesuai niatnya kemarin, setelah selesai mengecek counter, Reyhan berangkat membelikan set gamis untuk Laura.
"Siang kak." sapa Anya dengan senyum yang ramah dan suaranya mendayu-dayu. Dan Reyhan justru geli mendengar suara Anya yang terkesan dibuat buat.
Setelah menjawab sapaan Anya, Reyhan berjalan menuju set rak gamis. Dan langsung memilih beberapa warna serta model yang berbeda.
DEG!
Seakan jantung Anisa berhenti berdetak. Ketika melihat siapa lelaki yang ada dihadapannya saat ini.
"Bisa dihitung sekarang ya mbak belanjaan saya." Reyhan mulai berbicara, karena merasa tak enak dipandangi wanita yang ada dihadapannya saat ini.
"Ba_baik kak." ucap Anisa yang sedikit gelagapan karena ketahuan sudah menatap Reyhan terlalu lama.
__ADS_1
"Totalnya 2 juta kak." suara Anisa terdengar bergetar karena speechless, tak percaya dengan orang yang ia temui saat ini.
"Ini kak uangnya." kembali suara Reyhan mengagetkan Anisa. Segera ia menerima uangnya dan menghitung.
"Pas ya kak. Terimakasih." ucap Anisa sambil menyerahkan paper bag berisi belanjaan Reyhan. Reyhan menerima nya sambil tersenyum dan hendak pergi, hingga Anisa kembali bersuara yang membuat Reyhan menghentikan langkahnya.
"Maaf kak." Reyhan menoleh ke Anisa.
"Bukankah kamu yang dulu pernah menolongku? Sewaktu umrah." jelas Anisa kemudian. Reyhan mengernyitkan dahi sambil mengingat-ingat. Karena kejadian itu sudah beberapa bulan.
"Oh, maaf. Saya sedikit lupa." jawab Reyhan sambil garuk-garuk kepala dan meringis.
Seerrr.......
Hati Anisa berdesir aneh karena melihat Reyhan yang meringis.
"Apakah kamu sudah sehat?" Reyhan perlahan mulai ingat dengan kejadian itu.
"Alhamdulillah." jawab Anisa sambil mengangguk. Reyhan juga mengucapkan alhamdulillah ketika mendengar jawaban Anisa.
"Kalau boleh tahu, kamu beli banyak gamis untuk siapa?"
"Ini untuk..... saudaraku." jawab Reyhan dengan sedikit bingung.
"Tunggu disini sebentar." titah Anisa. Reyhan mengernyitkan dahi bingung dengan maksud Anisa.
Hai kak, tetap dukung trus mas Reyhan untuk menemukan cinta sejatinya ya.
Cara nya, dengan kasih like hadiah vote dan favorit ❤️❤️
__ADS_1
Terimakasih sehat selalu lancar rezekinya 😘😘