
Sudah sebulan keluarga pak Atmaja belajar memperdalam ilmu agama. selama sebulan itu pula, Reyhan selalu mengantar jemput dan menemani haji Dahlan. Sebenarnya haji Dahlan bisa berangkat sendiri, tapi Reyhan kekeh untuk mengantar. Walaupun terlihat sederhana, tapi itu adalah salah satu cara mendapatkan pahala juga.
Disela-sela kesibukannya, Reyhan tetap mengutamakan untuk mencari ilmu akhirat. Ia tak ingin, karena kekayaan yang dimilikinya malah menjauhkan dirinya dari akhirat.
Maka dari itu ia sangat khusyu' setiap mendengarkan tausyiah yang di sampaikan oleh haji Dahlan. Sebenarnya tak hanya itu saja, karena tiap hari tertentu Reyhan juga mengikuti acara pengajian yang diadakan oleh haji Dahlan juga. Ia juga membeli beberapa buku agama untuk dipelajari.
Selama sebulan itu pula, Laura tak pernah mau mengikuti majelis itu. Meskipun sudah dipaksa oleh kedua orang tuanya.
Dan, sore itu kebetulan sekali haji Dahlan sedang ada urusan penting. Sehingga ketika Reyhan datang untuk menjemput, haji Dahlan belum pulang.
"Tunggu sebentar ya nak, coba umi telepon abi dulu bagaimana sebaiknya." kata umi Salwa sambil menempelkan benda pipih itu ditelinga nya. Reyhan mengangguk dan tersenyum.
"Abi menyuruh Rosyidah untuk menggantikannya sementara waktu." kata umi Salwa setelah selesai menelepon.
"Silahkan, jika itu adalah keputusan dari pak haji umi." jawab Reyhan. Baginya yang terpenting adalah jadwal majelis itu tidak kosong.
"Tunggu sebentar, umi akan bicara dengan Rosyidah, semoga ia mau membantu." umi Salwa berjalan cepat menuju rumahnya dan mencari keberadaan Rosy.
"Rosy." umi Salwa mendekati Rosyidah yang baru saja selesai mengaji.
"Ada apa umi?"
"Abi, memintamu untuk sementara menggantikannya mengisi majelis di rumah saudara Reyhan."
Rosyidah terdiam sekian menit sambil mencerna perkataan uminya, sebelum akhirnya ia mengangguk setuju. Tentu saja Rosy tak kan melewatkan kesempatan untuk bisa berdakwah dimanapun tempatnya. Dan terlebih yang akan dibimbing adalah saudara Reyhan, maka terpacu lah semangat nya.
"Satu mobil dengan dia?" ucap Reyhan dan Rosy bersamaan. ketika umi Salwa mengatakan tak ada kendaraan yang bisa untuk dipakai Rosy.
Keduanya langsung mengangguk, walau sebenarnya terasa berat hati mereka. Karena mereka bukanlah mahram. Rosyidah tak lupa mencium tangan uminya sambil berpamitan. Sedangkan Reyhan sudah menunggunya di dalam mobil.
"Sudah siap?" tanya Reyhan yang membuat jantung Rosy berdetak kencang. Rosy hanya bisa mengangguk karena tiba-tiba lidahnya terasa kelu. Padahal selama ini dia selalu percaya diri berbicara dengan siapa saja.
Reyhan mulai pelan pelan melajukan mobilnya.
'Untung saja, tadi bawa mobil. Coba kalau seperti biasanya bawa motor, gimana cara ku memboncengkan nya?' batin Reyhan.
'Ya Allah, kenapa jantungku berdetak kencang? Selama ini aku selalu percaya diri. Tapi, kenapa sekarang untuk berbicara saja lidah terasa kelu? Bagaimana nanti caraku mengisi majelis?" batin Rosy.
__ADS_1
Tin...Tin....Tin
Reyhan membunyikan klaksonnya, dengan tergopoh-gopoh satpam pak Atmaja segera membuka pintu gerbang dan mempersilahkan masuk.
"Maa syaa Allah, rumah nya besar sekali." gumam Rosy sambil mengamati bentuk rumah pak Atmaja.
Reyhan yang mendengar dan melihat Rosy sedang mengamati rumah itu sedikit menyunggingkan senyum. Mengingatkannya dulu ketika pertama kali berkunjung kerumah itu. Dan sekarang hampir tiap hari dia wira wiri ke rumah itu seperti rumahnya sendiri.
"Sudah sampai kak, silahkan turun." Reyhan membukakan pintu mobil untuk Rosy. Keduanya saling melempar senyum sebelum akhirnya Rosy mengucapkan terimakasih.
Tak disangka sekali, kebetulan Laura sedang menikmati waktu sorenya di balkon. Dan ia menyaksikan hal itu.
"Huh, siapa yang dia bawa itu? Berani beraninya mengajak kesini." maki Laura dengan kesal lalu melempar majalah yang sedang dibacanya begitu saja. Dengan langkah gontai ia memasuki kamarnya.
Tingtong... tingtong....
Setelah menekan bel tak berselang lama akhirnya pintu terbuka.
"Assalamu'alaikum." Rosy dan Reyhan mengucapkan salam bersamaan.
"Wa'alaikumussalam." bu Ani menjawabnya dengan ramah. Namun raut terkejut juga tak dapat ditutupi, ketika melihat Reyhan datang dengan seorang perempuan yang bercadar. Tidak seperti biasanya dengan haji Dahlan.
"Rosyidah tante." Rosyidah menjawab dengan cepat. Ia tersenyum dan mengulurkan tangan ke bu Ani. Keduanya saling berjabatan tangan.
"Mari masuk." titah Bu Ani.
Mereka duduk diruang yang memang sudah disediakan untuk bermajelis. Tak lama, pak Atmaja datang menghampiri mereka.
"Sepertinya kamu seumuran dengan anak om." kata pak Atmaja ketika Rosyidah memperkenalkan diri.
Sementara itu, bu Ani seperti biasa memanggil Laura untuk ikut kegiatan majelis.
"Sayang, ayolah sekali kali kamu ikut kegiatan majelis. Apa kamu mau papa sama mama dihukum di neraka karena tak pernah mengajak anaknya dalam jalan kebaikan?" bu Ani terlihat sendu ketika berucap demikian. Yang membuat Laura tak tega, padahal baru saja ia marah tak jelas karena melihat Reyhan membuka pintu mobil untuk perempuan lain.
"Siapa yang akan mengajari kita ma?"
"Dia saudara Reyhan juga, anaknya haji Dahlan." bu Ani mendongakkan wajahnya menatap Laura.
__ADS_1
"Baiklah, Laura siap siap dulu."
"Terimakasih sayangku." bu Ani keluar agar Laura segera bersiap-siap.
"Masa iya aku pakai baju seperti ini." gumam Laura sambil melihat bayangan dirinya lewat pantulan cermin. Seperti biasa, ia mengenakan short pant dan tangtop mini diatas pusar.
Setelah mengobrak abrik seluruh isi lemari, akhirnya ia menemukan set gamis pemberian Reyhan dulu.
"Untung belum jadi aku buang." gumam Laura, lalu ia mulai mengenakan set gamis untuk yang pertama kalinya.
"Kok mirip wanita tadi sih. Atau, malah mirip emak emak?" gumam Laura tak percaya ketika kembali melihat bayangan dirinya didepan cermin. Berulang kali berputar untuk meyakinkan diri, bahwa yang ada di depan cermin adalah dirinya sendiri.
Setelah yakin, akhirnya dia keluar kamar menuju ruang majelis dimana semua telah berkumpul termasuk art nya. Atas anjuran dari haji Dahlan, agar semua penghuni rumah untuk mengikuti majelis, agar bertambah keberkahan dalam rumah itu, dan pak Atmaja menyetujuinya.
Laura berjalan dengan hati-hati karena ini adalah kali pertamanya ia mengenakan pakaian yang ekstra lebar.
"Assalamualaikum." untuk pertama kalinya juga Laura mengucapkan salam.
Uhuk..Uhuk...
Reyhan yang sedang minum tiba-tiba terbatuk-batuk. Sedangkan yang lain terdiam sekian detik. Mata mereka membulat sempurna dan mulut terbuka ketika melihat kearah Laura yang masih berdiri diambang pintu. Semua memandang dengan takjub ke arah Laura dengan penampilan yang sangat berbeda dari biasanya.
Ehem...Ehem
Laura sengaja mengeraskan suara deheman nya, karena mereka tak berhenti memandangnya.
"Non Laura sangat cantik, seperti bidadari." celetuk bibi.
Pak Atmaja dan istrinya tersenyum mendengar perkataan art nya dan mengangguk bersamaan tanda setuju.
Sedangkan Reyhan, sangat sulit untuk menggambarkan perasaan nya saat ini. Bahkan tadi ia sempat terbatuk. Hatinya kembali bergejolak, ketika perlahan Laura menghampiri mereka dan duduk diantara kedua orangtuanya.
"Bisa dimulai sekarang ustadzah majelisnya." ucap Laura dengan suara yang lemah lembut, dan berbeda dari biasanya.
Hai readers yang kece badai. Ayo terus kasih dukungan dengan menekan like hadiah vote dan favorit ya agar menambah author semangat trus update 😘😘
Sambil nunggu author update bab selanjutnya mari mampir di karya besti author ya.😍😍
__ADS_1