
"Nis, kok kamu sudah pulang?" tanya Laura ketika mereka sama-sama menginjak teras rumah.
"Aku kurang enak badan La, jadi izin pulang cepat."
"Mau aku temenin periksa ke dokter?" tawar Laura.
"Ngga usah La, aku pengen istirahat saja."
Anisa menghentikan langkahnya. Dan kini pandangannya tertuju pada pohon mangga yang sedang berbuah lebat.
"La, siang siang seperti ini, cocoknya kita makan lotis." celetuk Anisa tiba-tiba.
Laura mengernyitkan dahi karena tidak tahu makanan apa yang di maksud oleh iparnya itu.
"Itu, kita buat lotis saja." imbuh Anisa lagi sambil menunjuk pohon mangga yang berbuah lebat.
"Oh, kamu mau makan mangga? Biar mas Reyhan yang petik kan buahnya." Tawar Laura.
Ia segera masuk ke kamar dan memanggil suaminya untuk menuruti keinginan Anisa.
Laura menghampiri Anisa yang sedang duduk di belakang rumah sambil mengupas mangga. Laura mengernyitkan dahi ketika Anisa mengupas mangga yang masih mentah.
"Lhoh, mas Reyhan tadi gimana sih, kok metik mangga yang masih mentah." gumam Laura
"Aku sendiri La yang minta." cicit Anisa, yang membuat Laura semakin bingung dengan tingkahnya.
"Anisa, nanti kalau perut mu sakit gimana? Biar dipetikkan lagi yang sudah matang."
"Hust... Kamu diam saja, pokoknya ini bakalan jadi makanan yang enak banget." balas Anisa tak mau di bantah.
Laura pun hanya bisa menghembuskan nafas kasar, lalu duduk di samping Anisa. Ia terus memperhatikan Anisa yang sedang mengupas mangga, lalu memotongnya kecil-kecil. Tangannya gesit mengulek sambal yang terbuat dari cabe dan gula jawa.
"Kamu mau coba?" Tawar Anisa yang sudah selesai meracik.
Ia menyodorkan potongan mangga mentah yang sudah di cocolkan sambel pada Laura. Yang membuat Laura seketika menelan saliva, dan menggeleng lemah. Hanya sekedar membayangkan saja sudah membuat perutnya mules, apalagi memakannya.
Anisa terkekeh kecil lalu segera memasukkan potongan mangga itu ke mulutnya. Terlihat ia sangat menikmati makanan yang baru saja di buatnya itu. Laura langsung bergidik ngeri ketika melihat Anisa yang justru menikmati makanan nya itu.
Keduanya lalu mulai bercerita tentang banyak hal, hingga tak menyadari jika makanan itu tersisa 2 potong.
"Ya Allah Anisa, kamu hampir menghabiskan makanan itu!" pekik Laura.
__ADS_1
"Sudah Nis, jangan di teruskan lagi. Nanti perut mu sakit. Lhoh, bukannya tadi kamu bilang ijin pulang cepat karena sakit? Tapi kenapa sekarang terlihat sehat sehat saja."
"Iya ya La. Aku juga bingung sendiri. Akhir akhir ini sepertinya aku banyak berubah." gumam Anisa.
Lalu ia menceritakan perubahan dirinya beberapa hari lalu pada Laura.
"Sebaiknya kamu periksa ke dokter saja Nis. Aku takut terjadi apa-apa dengan mu."
Anisa justru terkekeh kecil mendengar Laura yang begitu perhatian padanya. Namun ia menolak untuk periksa ke dokter karena merasa baik-baik saja.
Malam harinya, seperti biasa Reyhan selalu mengajak istrinya bercerita sebelum tidur. Ia tak ingin istrinya menyembunyikan permasalahan sekecil apapun darinya, yang bisa jadi bumerang di kemudian hari.
Laura yang tak sabar, akhirnya menceritakan kejadian tadi pada suaminya. Ia mengomel tak jelas ketika Reyhan menuruti keinginan Anisa untuk memetik buah yang masih mentah.
"Harusnya kamu petik yang sudah matang mas. Nanti kalau Anisa sakit perut gimana?" gerutunya karena begitu khawatir.
Reyhan yang melihat Laura begitu perhatian pada saudara iparnya itu justru tersenyum hangat dan merangkul bahunya.
"Katanya tadi aku di suruh mengikuti kemauan dia. Kok sekarang aku di marahi." Reyhan menowel dagu Laura yang sedang cemberut, karena justru terlihat menggemaskan di matanya.
"Daya tahan tubuh setiap orang kan beda-beda Miss Laura. Mungkin Miss Laura bisa saja sakit setelah memakan mangga mentah itu, tapi tidak dengan Anisa. Lagian kalau dia sakit, kan tinggal di bawa ke dokter saja." imbuh Reyhan.
Dulu Laura tak pernah menaruh perhatian sekecil apapun pada orang lain. Tapi sekarang, setelah mengenal Reyhan, justru berbanding terbalik. Laura begitu perhatian pada orang-orang di sekitarnya.
Lagi-lagi dalam hatinya, ia bersyukur memiliki suami seperti Reyhan. Yang mampu mengubah jalan hidupnya menjadi lebih baik.
Cup....
Tiba-tiba Laura mengecup pipi Reyhan sambil menyunggingkan senyum. Sehingga membuat Reyhan juga ikut tersenyum.
"Hem, aku curiga, kalau main kecup-kecupan gini, pasti ada maunya." kekeh Reyhan sambil mencubit hidung istrinya dengan gemas.
Laura tetap tersenyum sambil menggeleng kuat.
"Aku sudah memiliki segalanya, ngga ada yang kurang menurut ku." tutur Laura yang tampak bahagia.
"Oh ya." goda Reyhan sambil menaikkan satu alisnya, lalu menggelitiki pinggang Laura yang membuat ia terkekeh geli dan berusaha menghindar, namun sangat sulit.
"Sudah mas, lepaskan." cicit Laura.
Setelah puas menggelitiki Laura, Reyhan justru mendekapnya erat. Benar benar suatu kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
__ADS_1
"Nis, kita ke rumah Rosyidah yuk?" ajak Laura pada Anisa, ketika keduanya sedang duduk di teras rumah menikmati waktu pagi dengan secangkir coklat hangat.
"Ide bagus tuh La. Pasti dia terkejut dengan kedatangan kita." kekeh Anisa.
Keduanya segera berdiri dari duduknya dan bergegas bersiap-siap.
Awalnya Laura ingin membonceng Anisa saja, tapi Reyhan menyuruhnya untuk membawa mobil agar tidak kepanasan atau kehujanan. Karena cuaca yang tidak menentu seperti sekarang. Akhirnya Laura pun mengikuti perintah suaminya.
Sesuai dengan prediksi keduanya, Rosyidah benar-benar kaget melihat kedatangan mereka. Bahkan ia sampai menitikkan air mata karena terharu.
Meskipun kedua sahabatnya sudah menikah, mereka masih mengingatnya.
Ketiganya saling berpelukan erat. Setelah puas, ketiganya berjalan menuju kebun belakang. Yang selama ini menjadi tempat ternyaman untuk mereka bercerita.
Sesampainya di kebun belakang, pandangan Anisa langsung tertuju pada pohon mangga dan belimbing wuluh yang sedang berbuah lebat. Matanya seketika berbinar bahagia.
"Ros, ayo kita buat lotis." celetuk Anisa. Laura langsung membulatkan matanya mendengar keinginan aneh Anisa kambuh lagi.
"Nis, nanti perutnya sakit kalau makan buah mentah." tegur Laura kemudian.
"Sudah sudah, kita turuti saja kemauannya La. Mumpung kita lagi kumpul." ucap Rosyidah menengahi.
Mereka pun menggelar tikar, dan mulai meracik bumbu sambil bercerita.
Rosyidah terkekeh ketika mendengar Laura yang selalu memperingatkan Anisa, seperti seorang ibu yang memperingatkan anaknya untuk tidak memakan buah mentah.
"La, kok kamu seperti ibu ibu sih?" kekeh Rosyidah.
"Biarin, besok kan kita juga bakal jadi ibu ibu." balas Laura sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ish, semakin dewasa saja kamu La. Ketularan mas Reyhan mesti." celetuk Rosyidah.
Sebulan lebih tak melihat kedua sahabatnya, ternyata sudah banyak berubah.
"Itu Anisa juga ketularan Bayu, jadi sering becanda. Berani beraninya ngeprank aku sama mas Reyhan coba." celetuk Laura, mengingat kejahilan Anisa tempo hari.
Rosyidah benar-benar terkekeh melihat kedua sahabatnya itu yang terus beradu mulut.
"Pasti rumah mas Reyhan tambah ramai dengan kehadiran kalian." celetuk Rosyidah.
"Itu pasti." jawab Anisa dan Laura kompak. Lalu mereka pun terkekeh.
__ADS_1