Juragan Muda

Juragan Muda
209. Ketahuan


__ADS_3

Di sela-sela kesibukannya, Adam melihat status Tiwi di Facebook. Walaupun Tiwi jarang membuat status, Adam suka membaca statusnya berulang ulang. Entah kenapa, hanya dengan membaca statusnya membuat semangat kerjanya bertambah. Seperti saat ini, ia tengah senyum sendiri membaca status Tiwi setelah memeriksa pasiennya.


"Kakak, kenapa kamu senyum senyum sendiri?"


Hampir saja, handphone yang di bawa Adam terjatuh karena ia terkejut dengan kedatangan adiknya yang tiba-tiba.


"Dira, sejak kapan kamu ngga mengucap salam sebelum masuk ke ruangan ku?"


"Aku sudah mengucap salam berulang kali, kakak saja yang ngga dengar. Malah senyum senyum sendiri seperti itu." balas adiknya Adam sambil mengerucutkan bibirnya.


"Kak, kamu kapan cari pacar sih, keluarga tunangan ku sudah mendesak ku untuk segera menikah." keluh Dira.


Adam menghela nafas panjang, karena tidak tahu jawaban dari pertanyaan adiknya. Tangannya terkulai lemas di atas meja, sehingga handphonenya tergeletak begitu saja.


Dira yang melihat handphone kakak nya masih menyala, sedikit melirik. Namun karena layarnya terbalik membuatnya kesusahan membaca.


Dengan gerak cepat tangannya menyerobot handphone itu dan membaca deretan tulisan. Membuat Adam tersentak kaget dan segera menyerobot handphone nya. Namun Andira tetap kukuh mempertahankan handphone itu.


Adam akhirnya kewalahan, dengan nafas tersengal-sengal ia duduk di kursinya. Sedangkan Andira terkekeh sambil mulai membaca dan menyecroll pelan layar handphone.


"Sudah ku duga, pasti mbak Tiwi itu pacar kakak. Kenapa ngga ngaku sejak dulu? Sengaja biar aku lama nikah ya?"


"Dia bukan pacar ku." sahut Adam tegas.


"Iya memang bukan pacar, tapi calon istri. Nih, aku kembalikan handphone nya. Aku mau laporan ke mama. Assalamu'alaikum." setelah puas Andira bangkit berdiri dan menyerahkan handphone itu lalu melenggang pergi.


"Jadi kamu kesini hanya untuk mengawasi ku?" Adam bersungut-sungut kesal dengan adiknya. Namun adiknya hanya tersenyum kecil dan tidak mengabaikan ucapan kakaknya.


Sebenarnya adiknya tadi menjenguk temannya yang di rawat di rumah sakit itu, makanya dia sekalian mampir ke ruangan kakaknya. Tidak menyangka melihat kakaknya yang tengah di mabuk asmara.


Sesampainya di rumah, Andira benar-benar melaporkan hal itu pada mamanya. Reaksinya, mamanya sangat senang ketika Adam mulai jatuh cinta dengan orang yang tepat.


"Ayolah ma, bujuk kak Adam untuk segera menikah. Aku yakin dia itu masih gengsi mengungkapkan perasaan nya pada mbak Tiwi."


"Iya, nanti mama coba bilang sama dia."


Mama pun memainkan handphonenya sebentar.

__ADS_1


______


Sementara di rumah sakit, setelah adiknya keluar dari ruangannya, Adam tak bisa berkonsentrasi kerja. Ia menebak nebak apa yang akan di lakukan adiknya.


Ia menghempaskan tubuhnya di kursi sambil kembali membuka handphonenya. Ia ulang lagi membaca status Tiwi.


Entah kenapa, tak bosan bosannya, ia melakukan hal itu. Di awal pertemuan mereka yang kurang bersahabat, namun pada akhirnya takdir mempertemukan keduanya berulang kali. Sehingga melahirkan debaran aneh di dadanya. Namun ia malu mengakuinya.


Cinta itu seperti angin. Kau tak bisa melihatnya. Namun kau bisa merasakannya.


______


Sementara di tempat lain, Anisa kembali menyuruh Tiwi untuk pulang lebih awal karena sekalian mengantar pesanan pelanggan. Dengan patuh Tiwi pun melaksanakan tugas itu. Ia mengernyitkan dahi ketika melihat alamat yang tertera.


'Sepertinya ini alamat dokter Adam. Ya Allah kenapa aku jadi deg-degan begini ya mau ke rumahnya saja.'


"Kamu bisa berangkat sekarang Wi, nanti kemalaman lho." tegur Anisa.


"Eh iya mbak." Tiwi segera bersalaman sebelum keluar toko.


Ia mulai melajukan motornya menuju ke alamat yang di tuju. Ia segera menuju pos satpam untuk menyampaikan maksud kedatangannya. Bergegas satpam itu membuka pintu gerbang dan mempersilahkan masuk.


"Nak Tiwi, silahkan masuk." ucap mamanya Adam dengan senyum sumringah. Tiwi segera mengulurkan tangan, dan mencium takzim punggung tangan mamanya Adam.


"Terima kasih Tante, tapi saya kesini cuma mau mengantar pesanan saja kok."


"Tante kan belum ambilkan uangnya. Kamu tunggu di ruang tamu saja ya." pinta mamanya Adam.


Akhirnya Tiwi pun mengangguk lalu melangkah masuk. Setelah mengambilkan uang, mama malah mengajak Tiwi bercerita.


Sementara itu, Adam yang baru saja pulang dari rumah sakit, mengernyitkan dahi ketika melihat motor yang cukup dikenali terparkir di depan rumah, serta pintu rumah terbuka lebar.


'Semoga pikiran ku benar. Tapi kenapa aku jadi deg-degan?' batinnya.


Dengan langkah pelan ia menginjak lantai teras. Ia melihat mamanya tengah bercengkrama dengan Tiwi. Melihat senyumnya membuat Adam juga ikut tersenyum.


"Eh Adam, kenapa kamu ngga langsung masuk?" tanya mamanya yang tanpa sengaja menoleh ke arah pintu dan melihat Adam berdiri di sana. Tiwi pun juga ikut menoleh menatapnya, membuat Adam salah tingkah dan garuk garuk kepala.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum ma." ucap Adam sambil melangkah masuk lalu menyalami mamanya.


"Karena kamu sudah pulang, ayo kita makan malam sama-sama. Bibi sudah siapkan semua nya. Kamu juga harus ikut ya Wi."


"Apa!" Adam dan Tiwi terkejut bersama membuat mamanya tersenyum.


"Jangan kaget seperti itu dong. Cuma makan malam bersama, kenapa memangnya?"


"Em, maaf Tante, saya belum lapar, nanti makan di rumah saja. Sekarang saya...." belum sempat Tiwi berbicara, perutnya terdengar berbunyi nyaring, sehingga membuat Adam dan mamanya tersenyum. Namun Tiwi sangat malu sekali. Kenapa perutnya tidak bisa di ajak kompromi.


"Perut mu sudah keroncongan. Jangan menunda waktu makan, bisa sakit nanti. Iya kan Dam?"


"Eh, i_iya ma. Adam ke kamar dulu ya, mau mandi."


"Mandinya nanti saja, kasian Tiwi nanti kelamaan menunggu. Ayo kita makan sama sama."


Tiwi dan Adam tidak bisa menolak permintaan itu, sehingga dengan terpaksa mengikuti kemauan mama. Tiwi berjalan beriringan dengan mama sambil bercerita, sedangkan Adam mengekor di belakangnya.


'Akrab sekali mereka. Sampai anaknya sendiri malah di acuhkan. Tega sekali mama.' batin Adam.


Kini semua sudah duduk mengelilingi meja makan. Mama Adam menyuruh Tiwi mengambil makanan, karena hanya dia seorang yang belum mengambil. Setelah mengambil, mereka mulai makan bersama.


"Hah!"


Tiwi membulatkan matanya ketika tak sengaja sayur brokoli yang ia potong justru mencolot ke muka Adam. Matanya berkaca-kaca hampir menangis takut Adam memarahinya karena wajahnya sudah terlihat tegang.


"Ma_maafkan.... aku mas." dengan suara bergetar ia berucap.


Melihat wajah Tiwi yang merah dan mata berkaca-kaca membuat Adam tidak jadi memakinya.


"Adam. Maafkan Tiwi. Ia tidak sengaja. Mungkin bibi memasak sayurnya kurang lama." ucap mamanya yang tak tega melihat Tiwi hampir menangis.


Adam meraih piring Tiwi dan memotong sayurnya menjadi lebih kecil, lalu menyodorkannya kembali.


"Habiskan, kalau mau ku maafkan." ucap Adam datar.


❤️❤️❤️❤️

__ADS_1



__ADS_2