Juragan Muda

Juragan Muda
172. Ban bocor


__ADS_3

"Rey, di antara mereka bertiga siapa kira-kira yang belum menikah?" bisik Andre pelan.


Reyhan justru terkekeh ketika Andre bertanya seperti itu.


"Memang mata mu ngga bisa membedakan mana yang sudah sama yang belum menikah?"


Andre mendengus kesal karena Reyhan justru berkata seperti itu. Teman-temannya rata-rata sudah pada menikah, membuat nya juga ingin merasakan nikmatnya sebuah pernikahan.


Tapi ia tak ingin salah jalan dalam memilih wanita seperti dulu kala. Dan jika mengingat hal itu, ia sangat berterima kasih pada Reyhan yang sudah berkenan membantu menyelamatkan nya dari cewek matre.


Padahal dulu ia sempat berbuat yang tidak baik pada Reyhan karena seorang wanita itu.


Andre pun hanya diam sambil mengamati 3 wanita itu. Berharap jodoh nya adalah seorang wanita yang sholihah, meskipun ia belum menjadi lelaki sholih.


'Yang paling cantik dan menyediakan minuman tadi pasti adalah istri Reyhan. Ngga mungkin aku mendekatinya, bisa di banting sama Reyhan nanti. Sebelahnya perutnya sedikit besar, sepertinya sedang hamil, mungkin istri Bayu. Yang satu masih datar datar saja, tapi sayangnya ngga keliatan wajahnya, masih muda atau sudah tua. Bikin penasaran saja, kenapa harus di tutupi? Eh tapi istri Bayu juga di tutupi wajahnya. Apa jangan-jangan kedua wanita itu memiliki wajah yang tidak cantik sehingga tidak percaya diri, lalu mereka sengaja menutupi nya. Itu istri Reyhan yang cantik tingkat bidadari meskipun pakai jilbab yang lebar juga tidak menutup wajahnya.' Andre bermonolog sendiri dalam hati. Walaupun ia pengen memiliki istri yang sholihah, kecantikan wajah juga masih menjadi salah satu standar penilaian nya.


"Tinggal yang pakai jilbab navi doang yang belum nikah. Tapi dia anak pimpinan pondok pesantren." bisik Reyhan yang melihat Andre masih serius melihat ke arah 3 wanita itu. Tapi kamu ngga boleh memandangi wanita terlalu lama.


Seketika Andre menelan saliva, merinding dengan jabatan ayah wanita bercadar itu. Apalah dirinya yang hanya remahan rempeyek. Tapi ia masih penasaran juga, seperti apa wajahnya.


Setelah puas bercengkrama, Rosyidah pamit pulang, karena sore hari ia harus mengajar anak-anak membaca Al Qur'an di rumahnya. Dan selang waktu yang cukup lama, barulah Andre pamit pulang.


Di tengah perjalanan, ia melihat seorang wanita yang tengah berjongkok di samping mobil nya. Bergegas ia pun mendekati, siapa tahu wanita itu membutuhkan pertolongan.


"Hai, ada yang bisa di bantu?" dengan senyum ramah Andre menyapa. Rosyidah pun mendongakkan kepalanya menoleh ke arah suara.

__ADS_1


Keduanya saling beradu pandang, dan menyadari bahwa baru saja keduanya bertemu di rumah Reyhan.


"Ban nya bocor." ucap Rosyidah datar, namun suaranya terasa indah di dengar Andre.


"Duduklah dulu, biar aku gantikan ban nya."


"Sepertinya aku tidak bisa tenang, karena sore ini anak anak sudah menunggu ku." gumam Rosyidah, yang masih bisa di dengar oleh Andre, karena jarak mereka sangat dekat.


Andre mengernyitkan dahi ketika Rosyidah bicara soal anak. Yang ia tahu dari Reyhan tadi, wanita itu masih single, lalu anak anak siapa yang ia maksud?


'Apa dia janda beranak banyak? Ah pasti Reyhan sengaja mengerjai ku.' batin Andre kesal.


Ia kembali fokus melepas satu persatu spare part di ban. Sementara Rosyidah terus melihat jam. Andre yang melihat wanita itu gusar, karena berulang kali melihat jam menawarkan bantuan yang lain.


"Kalau kamu sudah di tunggu anak anak mu, pakai saja motor ku dulu. Nanti mobil mu aku antar ke rumah mu."


"Jangan khawatir, Reyhan yang jadi jaminan nya, kalau sampai aku menggelapkan mobil mu." imbuh Andre lagi sambil terkekeh.


Ia paham jika wanita yang ada di depannya saat ini dalam mode siaga, karena baru sekali mereka bertemu dan tak saling mengenal. Pasti lah akan muncul prasangka buruk di hatinya.


"Baiklah saya setuju, terima kasih tawaran nya." ucap Rosyidah akhirnya. Andre tersenyum sambil menyerahkan kunci motornya.


Rosyidah melajukan motor pelan sambil berdoa semoga lelaki itu memang benar-benar mau menolongnya dan tidak berniat buruk padanya.


Sedangkan Andre, ia terus menatap kepergian wanita yang menurutnya misterius itu, karena mukanya sama sekali tak keliatan, hanya matanya saja yang terlihat berkedip indah. Hingga ketika Rosyidah tak nampak, ia kembali melakukan pekerjaan nya, mengganti ban.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, benar dugaan Rosyidah, bahwa anak anak TPA sudah menunggu nya. Kini mereka sedang bermain kejar-kejaran.


Bergegas Rosyidah memarkirkan motornya ke sembarang tempat, lalu berlari kecil ke dalam rumah untuk membersihkan diri dan mulai mengajar anak-anak.


Haji Dahlan yang baru saja pulang menghadiri sebuah acara penting, mengernyitkan dahi ketika ada motor yang terparkir seenak jidat nya sendiri. Bergegas ia masuk rumah dan menanyakan perihal pemilik motor itu.


Umi Sofiah yang tidak tahu apa-apa hanya menggeleng, karena sejak tadi ia berada di dapur. Haji Dahlan pun berniat bertanya pada Rosyidah. Tapi melihat anaknya yang sedang semangat menyampaikan ilmu, membuatnya mengurungkan niatnya untuk bertanya. Haji Dahlan pun kembali ke rumah utama mengerjakan tugas-tugas penting.


"Astaga, kenapa aku sampai lupa siapa namanya dan di mana rumah nya." gerutu Andre.


Ia pun segera menghubungi Reyhan menanyakan soal perempuan tadi. Beruntung Reyhan segera membalas pesannya, sehingga ia bisa lebih tenang. Setelah menghabiskan waktu sekian menit, akhirnya ban berhasil di ganti. Ia pun segera melajukan mobil menuju ke alamat yang sudah di beri oleh Reyhan.


"Hah, besar sekali pondok nya. Nyali ku sepertinya mulai menciut, padahal belum masuk ke dalam." gumam Andre lagi. Tapi hari sudah mendekati Maghrib, ia juga harus segera pulang. Akhirnya ia pun melajukan mobilnya memasuki pelataran pondok.


Haji Dahlan yang mendengar suara deru mobil, segera keluar melihat siapa yang datang. Ia mengernyitkan dahi ketika mobil Rosyidah berhenti di rumahnya.


'Siapa yang berada di dalam mobil itu?" batin haji Dahlan bertanya-tanya.


Sementara Andre yang masih berada di dalam mobil, melihat haji Dahlan yang berdiri di depan pintu dan terlihat seperti sedang menatap ke arahnya mulai merasakan grogi.


'Ya ampun, baru lihat bapak nya saja sudah keder.' Berulang kali Andre mengambil nafas panjang lalu menghembuskan perlahan. Barulah ia turun dari mobil.


"Assalamu'alaikum pak." ucap Andre sambil membungkuk memberi hormat pada lelaki paruh baya yang berbadan sedikit tambun itu. Dan kalau sekedar salam Andre pun masih hafal di luar kepala.


Ia segera menjelaskan maksud kedatangannya ke pondok. Haji Dahlan manggut-manggut dan tersenyum lega mendengar penjelasan nya.

__ADS_1


Haji Dahlan juga mempersilahkan Andre masuk ke dalam rumah. Tak ingin menyia-nyiakan waktu, Andre pun segera melangkah kan kaki mengikuti haji Dahlan.


__ADS_2