
Sejak kemarin sore tenda sudah di pasang di depan rumah pak Somad. Dan, pada pagi harinya, tetangga dekat juga sudah mulai berkumpul. Ibu-ibu mulai menyiapkan bahan-bahan untuk memasak, sedangkan bapak-bapak mengurus seekor kambing yang baru saja di potong.
Bayi perempuan pasangan Adam dan Tiwi itu, justru tampak rewel beberapa hari menjelang hari aqiqah nya. Mereka senantiasa bergantian menggendong dan menimangnya.
"Mas, kok bayi kita rewel melulu sih?" ucap Tiwi dengan wajah sedihnya.
"Kondisinya cukup baik. Mungkin bayi kita sedang beradaptasi sayang. Kamu jangan terlalu panik, karena ikatan batin antara anak dan ibu itu kuat. Kalau kamu tidak tenang, justru bayi kita akan semakin rewel." setelah mengecek kondisi putrinya, Adam mengusap pelan punggung Tiwi untuk menenangkannya.
"Oh iya mas, kan bayi kita belum diberi nama. Kira-kira nama yang pantas untuknya apa ya? Mungkin dia rewel melulu karena belum kita beri nama." Tiwi mendongakkan kepalanya menatap Adam, dan suaminya itu juga terlihat sedang berpikir sambil mengernyitkan dahi. Tiwi pun juga melakukan hal yang sama, memikirkan nama bayi yang cocok.
"Bagaimana kalau kita beri nama Fatimah Az-Zahra." usul Adam.
"Artinya apa mas?"
"Fatimah Az-Zahra artinya gadis yang lembut hatinya dan selalu berseri-seri wajahnya. Fatimah Az-Zahra adalah nama putri Rasulullah yang sangat di sayangi.
Kisah cintanya dengan sayyidina Ali bin Abi Thalib sangat terjaga kerahasiaannya, bahkan setan pun tidak bisa mengendusnya. Mereka mampu menjaga Izzah mereka, hingga Allah menghalalkan keduanya.
Dan kisah cintanya itu senantiasa terjaga sepanjang masa. Siapapun yang mendengarnya, pasti sulit percaya, namun itulah kenyataannya.
Ali bin Abi Thalib adalah sepupu dan salah satu sahabat yang istimewa dimata Rasulullah SAW. Selain beliau tinggal langsung bersama Rasulullah, dia juga seorang pemberani yang pernah menggantikan posisi tidur Rasulullah disaat hijrah dan juga seorang mujahid perang yang gagah.
__ADS_1
Sementara Fatimah, putri Rasulullah SAW yang taat, penyayang dan sangat peduli pada Rasulullah SAW, selalu ada disamping ayahnya dalam setiap kisah perjuangan sang ayah membumikan nilai-nilai islam di tengah kafir Quraisy.
Ali sudah menyukai Fatimah sejak lama, kecantikan putri Rasulullah ini tak hanya jasmaninya saja, kecantikan Ruhaninya melintasi batas hingga langit ketujuh. Kendalanya adalah perasaan rendah dirinya, apakah mampu ia membahagiakan putri Rasulullah dengan keadaannya yang serba terbatas. Demikian kira-kira perasaan yang ada pada Ali saat itu.
Pada suatu ketika, Fatimah dilamar oleh seorang laki-laki yang selalu dekat dengan nabi, yang telah mempertaruhkan kehidupannya, harta dan jiwanya untuk Islam, menemani perjuangan Rasulullah SAW sejak awal-awal risalah ini.
Dialah Abu Bakar Ash Shiddiq, entah kenapa mendengar berita ini Ali terkejut dan tersentak jiwanya, muncul rasa-rasa yang diapun tak mengerti, Ali merasa diuji karena terasa apalah dirinya jika dibanding dengan Abu Bakar kedudukannya disisi nabi.
Ali merasa belum ada apa-apanya bila dibanding dengan perjuangannya dalam menyebarkan risalah Islam, entah sudah berapa banyak tokoh-tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan dakwahnya. Sebutlah ‘Utsman, ‘Abdurrahman bin auf, Thalhah, Zubair, Sa’d bin abi Waqqash, Mush’ab. Ini yang tak mungkin dilakukan oleh anak-anak seperti Ali. Tak sedikit juga para budak yang dibebaskan oleh Abu Bakar sebutlah Bilal bin rabbah, khabbab, keluarga yassir, ‘Abdullah ibn mas’ud.
Dari sisi finansial Abu Bakar seorang saudagar, tentu akan lebih bisa membahagiakan Fatimah, sementara Ali?, hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.
Melihat dan memperhitungkan hal ini, Ali ikhlas dan bahagia jika Fatimah bersama Abu Bakar, meskipun ia tak mampu membohongi rasa-rasa dalam hatinya yang ia sendiri tak mengerti, apakah mungkin itu yang namanya cinta?
Namun ujian bagi Ali belum berakhir, setelah Abu Bakar mundur muncullah laki-laki nan gagah perkasa dan pemberani. Seseorang yang dengan masuk Islamnya mengangkat derajat kaum muslimin, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. Seorang yang diberi gelar Al-Faruq.
Ya, dialah Umar ibn Al Khathab. Pemisah antara kebenaran dan kebatilan juga datang melamar Fatimah.
Ali pun ridha jika Fatimah menikah dengan Umar, ia bahagia jika Fatimah bisa bersama dengan sahabat kedua terbaik Rasulullah setelah Abu Bakar yang mana Rasulullah sampai mengatakan “Aku datang bersama Umar dan Abu Bakar”.
Namun kemudian Ali pun semakin bingung karena ternyata lamaran Umar pun ditolak.
__ADS_1
Setelah itu menyusul Abdurahman bin Auf melamar sang putri dengan membawa 100 unta bermata biru dari mesir dan 10.000 Dinnar, kalo diuangkan dalam rupiah kira kira 55 milyar.
Dan lamaran bermilyar-milyar itupun ditolak oleh Rasulullah. Jika wanita atau orang tua jaman sekarang, mungkin tak perlu pikir panjang, pasti dengan penuh keyakinan akan langsung menerima lamarannya. Karena merasa sudah terjamin dengan kenyamanan dan kebahagiaan hidup mereka.
Akan tetapi kekhawatiran Ali bin Abi Thalib belum berakhir sampai di sini karena ternyata sahabat yang lainpun melamar sang Az Zahra.
Utsman bin Affan pun memberanikan dirinya melamar sang putri, dengan mahar seperti yang dibawa oleh Abdurrahman bin Auf. Hanya, ia menegaskan kembali bahwa kedudukannya lebih mulia di banding Abdurrahman bin Auf karena ia telah lebih dahulu masuk islam.
Tidak disangka tidak diduga, ternyata Rasulullah pun menolak lamaran Utsman bin Affan.
Empat sahabat sudah memberanikan diri dan mereka semua telah ditolak oleh Rasulullah SAW.
“Mengapa bukan engkau saja yang mencobanya kawan?”, seru sahabat Ali.
"Mengapa engkau tak mencoba melamar Fatimah?, aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.”
“Aku?”, tanyanya tak yakin.
“Ya. Engkau wahai saudaraku!”
“Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa aku andalkan?”
__ADS_1
Sahabatnya pun menguatkan, “Kami dibelakang mu, kawan!"