
Reyhan mondar-mandir di teras rumah, menunggu Bayu yang tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
Apalagi di tambah handphonenya yang terus berdering karena ibunya selalu menelponnya.
"Iya bu, sebentar lagi ya, Reyhan habis selesai mandi. Sebentar lagi kesitu." jawab Reyhan pada ibunya yang ada di seberang sana.
Akhirnya dari pada terus menerus di telepon, dengan berat hati ia berpamitan pada Bima.
"Bim, kakak balik ke rumah sakit lagi ya. Mungkin sebentar lagi kak Bayu datang. Kamu berani kan di rumah sendiri? Lagian masih ada karyawan kakak kok yang kerja, jadi masih ada temannya juga kan. Kalau ada apa-apa dan kak Bayu belum datang, kamu beritahu mereka saja. Paham kan?"
"Paham kak. Bima kan sudah besar, kak Reyhan ngga perlu khawatir."
"Hem, bagus itu." kata Reyhan sambil merogoh dompet dan hendak mengambil lembaran uang untuk Bima.
"Kali ini ngga usah kasih Bima uang dulu kak. Kasian kakak, uangnya buat membayar biaya rumah Miss Laura dulu aja." tolak Bima ketika Reyhan sudah menyodorkan selembar uang warna merah padanya.
Melihat Reyhan yang masih terdiam, Bima segera meraih uang dan dompet kakaknya, lalu memasukkan kembali ke dalam tas.
"Ayo buruan berangkat, nanti Miss Laura nangis lho."
"Iya, kakak tinggal dulu ya Bim. Hati hati di rumah. Assalamu'alaikum." pamit Reyhan sambil menyalami adiknya.
Reyhan segera melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.
Sementara di rumah sakit. Laura tampak khawatir, kenapa sampai pukul 9 Reyhan belum juga sampai. Ia takut jika Reyhan akan marah padanya karena tak sabaran.
"Ibu sudah coba telepon mas Reyhan?" untuk yang kesekian kalinya Laura bertanya pada mertuanya.
"Sudah non, katanya baru selesai mandi, sebentar lagi juga akan kesini kok."
"Laura takut Bu, jika mas Reyhan marah pada ku." cicit Laura yang tak mampu menghilangkan rasa khawatirnya.
Semua menghela nafas panjang mendengar ungkapan hati Laura yang sangat takut jika Reyhan meninggalkan nya karena ia yang tak bisa sabar.
"Semua ini salah Laura ma, pa. Jika saja Laura menuruti nasehat mas Reyhan untuk membersihkan diri di kamar, tentu ngga akan seperti ini jadinya." Laura kembali menangis tergugu.
"Sabar sayang, semua bukan salah kamu. Semua sudah di atur. Ngga baik menyalahkan diri sendiri."
Kedua orangtuanya memeluk Laura bersamaan.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum." Reyhan membuka pintu sembari mengucapkan salam.
"Wa'alaikumussalam." balas mereka serempak, sambil memperhatikan ke arah pintu, termasuk Laura.
Reyhan melihat ketegangan di antara mereka lalu melangkahkan kaki pelan menuju arah mereka.
"Kenapa kamu lama sekali mas? Apa kamu marah dengan ku?" Laura langsung mencecarnya dengan pertanyaan.
Reyhan mendekat dan memeluk Laura, sembari mengusap rambutnya.
"Ngga pernah ada hal yang membuat ku bisa marah pada mu Miss Laura. Justru melihat kesakitan yang kamu alami seperti tadi, membuat ku bergidik ngilu. Jika boleh meminta, aku saja yang ada di posisi mu, untuk menggantikan mu. Tapi sayangnya hal itu tidak mungkin terjadi. Pengorbanan yang sudah kamu lakukan tidak sepadan dengan kasih sayang yang ku beri selama ini pada mu."
Semuanya saling diam, yang ada hanya hembusan nafas yang terdengar.
Kedua orang tua Laura merasa terharu, anaknya benar benar mendapatkan pendamping hidup yang sangat tepat. Mencurahkan segala kasih sayang dan perhatian pada anaknya seorang. Tidak pernah menyalahkan, tapi justru mengakui kesalahan.
Berangsur-angsur Laura mulai tenang, dan akhirnya ia mulai bisa memejamkan matanya.
_____
Hampir satu Minggu Laura di rawat di rumah sakit, kini keadaannya mulai membaik.
Reyhan dan ibunya tidak keberatan dengan hal itu. Sedangkan Laura juga terlihat pasrah. Dimanapun tinggal, asalkan itu bersama Reyhan, tak masalah.
Setelah berkemas dan menyelesaikan administrasi pembayaran mereka pun pulang. Reyhan mendorong pelan kursi roda yang di naiki Laura. Sedangkan mamanya membawa segala perlengkapan Laura.
Mereka berjalan pelan menyusuri lorong rumah sakit.
Pak Atmaja sudah siap di depan kemudi. Reyhan mengangkat dengan hati-hati tubuh Laura, dan masuk ke dalam mobil bagian belakang. Di sampingnya juga ada ibunya yang menemani. Setelah semua siap, pak Atmaja segera melajukan mobilnya.
Selama perjalanan, tak ada yang berbicara. Waktu berputar terasa lambat. Siang yang terik terasa menyilaukan mata, sehingga membuat Laura merasa mengantuk, dan tak lama kemudian ia tertidur.
Satpam segera membukakan pintu tanpa menunggu pak Atmaja menekan klakson mobilnya, karena sudah hafal dengan mobil mewah milik majikannya.
Bu Ani segera keluar terlebih dulu membukakan pintu rumah untuk mereka. Sedangkan pak Atmaja membantu Reyhan menurunkan Laura, agar tidak menggangu tidurnya.
Reyhan segera berjalan sambil menggendong Laura. Ia menaiki anak tangga menuju kamar Laura yang berada di lantai atas. Ia membenarkan letak tidur Laura, lalu menyelimutinya.
"Kamu pasti haus. Ini mama ambilkan minum dan makanan untuk mu nak." ucap bu Ani sambil membawa senampan makanan dan minuman untuk Reyhan.
__ADS_1
"Terima kasih ma."
Selama Laura sakit, memang Reyhan jarang makan. Sehingga ia cukup sempoyongan ketika tadi menggendong Laura. Ia segera makan makanan yang sudah di sajikan oleh ibu mertuanya.
"Kamu janjikan tidak akan meninggalkan anak mama satu satunya?" celetuk bu Ani.
Sesaat Reyhan menghentikan makannya, lalu memandang ke arah kedua mertuanya.
"In shaa Allah, apapun yang terjadi, Reyhan tidak akan meninggalkan Miss Laura ma. Terkadang Reyhan mikir, kenapa sampai ada lelaki yang selingkuh atau tega meninggalkan istrinya dengan berbagai alasan, padahal istrinya telah berjuang mati-matian dan merasakan sakit yang luar biasa ketika melahirkan."
Kedua orang tua Laura sangat terkesima dengan jawaban yang Reyhan berikan.
"Terima ya Rey, kamu memang menantu terhebat papa." dengan bangga pak Atmaja berkata, sambil menepuk pelan bahu Reyhan.
"Ya sudah, di lanjutkan dulu makannya." ucap bu Ani sambil tersenyum.
Reyhan pun membalasnya dengan sebuah senyuman sebelum akhirnya ia melanjutkan kembali menghabiskan makanannya.
Laura mulai mengerjapkan matanya pelan pelan di saat Reyhan selesai mengerjakan sholat dhuhur.
"Kamu sholat apa mas?" tanya Laura dengan suara yang lemah, bahkan matanya masih belum terbuka sempurna.
Reyhan tersenyum mendekat ke arah Laura.
"Sholat dhuhur sayang. Ini kan sudah siang."
"Ya Allah, apakah aku tidur kelamaan, sehingga tidak bisa membedakan mana pagi siang dan sore."
"Ngga apa-apa tidur lama, kamu memang membutuhkannya, agar kembali sehat sayang."
"Aku telepon bibi dulu untuk mengantarkan makanan kesini ya. Kamu kan harus segera minum obat, agar cepat sembuh."
"Meskipun aku sudah ngga hamil lagi, boleh kah aku meminta di buatkan bubur kacang hijau seperti dulu lagi mas?"
"Tentu boleh sayang ku. Kalau begitu, tunggu sebentar, mas buatkan bubur untuk mu."
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1