Juragan Muda

Juragan Muda
77. Tausyiah pagi


__ADS_3

Dua bulan sudah Tiwi bekerja sebagai admin online shop di toko Ar Rahmah milik Anisa.


Gaji pertamanya memang sedikit lebih rendah jika dibanding dengan gaji dulu ketika menunggu counter.


Tapi Tiwi tak begitu mempermasalahkan, karena kepribadian Anisa menjadi salah satu alasan untuk Tiwi tetap bertahan disana. Tiwi ingin belajar lebih banyak lagi dari Anisa, tidak hanya ilmu soal marketing tapi juga ilmu soal agama.


Bagi Tiwi, Anisa memiliki karakter yang unik. Walaupun memakai baju yang ekstra lebar, tapi tidak menghalangi geraknya untuk bersosial dengan sekitar. Berbeda dengan Tiwi yang sedari dulu memang kurang gampang bergaul, karena hanya mampu bergaul dengan anak-anak TK sewaktu dia mengajar dulu.


Yah, itu semua karena kepintaran Anisa dalam membawa diri dan juga bekal ilmu agama yang dimiliki dan cukup mumpuni.


Tiwi ingin sekali bisa menjadi seperti Anisa, memanfaatkan seluruh waktunya untuk kegiatan yang bermanfaat. Mulai dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, tak ada kegiatan yang sia-sia ia lakukan.


Beda dengan Tiwi yang dulu dihatinya selalu timbul keinginan untuk hidup enak tapi tidak tahu bagaimana cara memulainya. Sehingga yang ada hanya keinginan untuk mendapatkan Reyhan dengan berbagai cara karena ketampanan dan kekayaan yang dimilikinya, padahal kenyataannya ada Bayu yang dengan tulus mencintainya. Sekarang Tiwi telah kehilangan orang orang baik seperti mereka karena keserakahan nya sendiri.


Dalam hati Tiwi senantiasa berdoa, semoga didekatkan dengan orang yang baik seperti Anisa dan keluarganya. Karena dari mereka juga, ia menyadari kesalahannya selama ini dan perlahan lahan bisa berubah.


Setelah 3 bulan berselang, Anisa menambah 2 admin online shop lagi. Karena rencananya toko itu juga akan melayani penjualan secara offline juga.


Stok barang pun juga akan ditambah, tidak hanya sekedar baju muslim untuk wanita saja tapi juga untuk laki-laki. Obat obatan herbal seperti madu, minyak zaitun, habbattussauda juga akan disediakan perlahan-lahan sambil menyiapkan modal.


Tiwi pun membantu mengajari karyawan baru dengan telaten. Mulai dari menyiapkan orderan sampai membedakan antara struk asli dan palsu yang marak beredar di dunia jual beli online.


Sekarang, sebelum memulai pekerjaan, Anisa memberi tausiyah singkat dan mengaji. Agar pemahaman agama mereka meningkat. Meskipun waktunya hanya sedikit, yang penting konsisten.

__ADS_1


Karena Allah lebih menyukai amalan yang kecil namun berkesinambungan. Dari tiap tausiyah yang disampaikan akhirnya perlahan-lahan Tiwi mulai bisa menyerap ilmu yang disampaikan oleh Anisa. Bacaan qira'ah nya juga lebih bagus dari sebelumnya.


Tak dipungkiri, bekerja dengan Anisa, selain mendapatkan upah gaji, juga dapat bonus tambahan, yaitu ilmu yang bermanfaat. Yang belum tentu bisa ia dapatkan ditempat kerja lainnya.


Seperti pada pagi hari itu, Anisa menyampaikan tentang perintah Allah dalam surat An Nur ayat 31.


"Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara ***********, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya) kecuali yang (biasa) terlihat.


Dan hendaklah mereka menutupkan kain ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra putra mereka, atau putra putra suami mereka, atau saudara laki-laki mereka, atau putra putra saudara laki-laki mereka, atau putra putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan."


"Nah, berdasarkan penjabaran dalam ayat tersebut, jadi antuna bisa menilai ya, siapa yang kira-kira menjadi mahram dan bukan mahramnya kan?" tanya Anisa kepada 3 karyawannya. Sekian detik mereka mencoba memahami perkataan Anisa sebelum akhirnya mengangguk bersamaan.


"Jadi, kalau antuna sudah paham, maka mulai sekarang belajar sama sama ya untuk memakai jilbab, walaupun hanya keluar rumah sebentar untuk pergi ke warung tetangga tetap wajib hukumnya menutup aurat." tegas Anisa.


"Tapi mbak, saya tuh gerah banget kalau kelamaan pakai jilbab. Apalagi sambil aktivitas, bisa bermandikan keringat saya." keluh salah satu karyawan.


"Tapi mbak, pacar saya ngga suka kalau saya pakai jilbab. Terus sebenarnya kalau orang sudah pakai jilbab tapi masih pacaran boleh ngga ya mbak?" tanya salah satu pegawai Anisa. Yang membuat Tiwi seketika membulatkan mata. Karena menyadari dulu ia pernah berpacaran. Anisa yang mendengar pertanyaan salah satu karyawan nya seketika tersenyum sebelum akhirnya menjawab.


"Laki-laki yang baik tak akan mengajak perempuan pacaran mbak, karena mereka tahu itu adalah sebuah dosa. Laki-laki yang baik pasti akan langsung mengajak menikah. Karena menikah adalah menyempurnakan separuh agama. Menikah adalah ibadah terpanjang dan terlama, karena kebaikan, kepatuhan yang kita lakukan pada pasangan akan mendatangkan pahala. Memeluk istri saja dapat pahala. Beda halnya dengan memeluk sebelum menikah yang justru akan mendatangkan dosa dan murka Allah. Nah, sebaiknya katakan saja dengan pacar mbak, halalkan atau tinggalkan? Semua demi kebaikan bersama." jawab Anisa diiringi seulas senyum.


Deg!


Hati, Tiwi kian tersentil dengan ucapan Anisa barusan. Walaupun menyakitkan ketika didengar, tapi itulah kenyataannya. Kebenaran memang selalu terasa menyakitkan.

__ADS_1


"Yah, kok ribet gitu ya mbak." keluh seorang pegawai yang bertanya tadi.


"Islam itu bukan ribet mbak, tapi hendak menjaga martabat kaum hawa agar lebih terhormat. Mbak Anya tahu ngga beda permen yang dibungkus dan tidak dibungkus?" tanya Anisa yang membuat ketiga karyawan nya geleng kepala.


"Permen yang dibungkus akan terhindar dari semut, sedangkan permen yang tidak dibungkus akan dikerumuni banyak semut. Seperti itu pula keadaan seorang wanita yang tidak menutup aurat." Sebuah analogi sederhana yang disampaikan Anisa mampu membuat ketiga karyawan nya berdecak kagum, dan dengan mudah menerima penjelasan Anisa.


"Iya mbak, saya mulai paham. Apa itu artinya mbak Anisa juga tidak pernah punya pacar?" tanya Anya lagi dan seketika Tiwi menyenggol pelan sikunya, takut Anisa akan tersinggung. Namun Anisa malah tersenyum ketika mendapat pertanyaan seperti itu dan dengan tegas menjawab tidak.


"Oh iya, jika sudah tidak ada pertanyaan lagi, tausyiah pagi saya tutup ya, waktunya saya siap siap berangkat sekolah. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam." balas ketiganya kompak.


"Eh, kok saya jadi penasaran ya sama wajah Mbak Anisa itu seperti apa, kira kira mbak Tiwi sudah tahu belum wajah Mbak Anisa seperti apa? Kan sudah duluan kerja disini." ceplos Anya. Tiwi pun dengan berat menggelengkan kepalanya.


'Seperti apa ya wajah mbak Anisa itu?'


Hai kak, berteman yuk di FB


Fb: Nurul khanifah


Dan, masih ingat dong ya sama hadiah pulsa yang masih menanti sejumlah 75rb untuk 2 orang pemenang.


Ayo tetap semangat kasih dukungan author, agar berkesempatan mendapatkan hadiah pulsa😁💪💪

__ADS_1


Nah, sambil nunggu author update bab selanjutnya, yuk mampir di karya teman author yang seru banget ceritanya. Karya kak Tya



__ADS_2