Juragan Muda

Juragan Muda
112. Mulai jatuh cinta


__ADS_3

Pagi itu seperti biasa Laura sarapan pagi dengan keluarga nya. Tak ada yang berbeda dengannya. Ia tetap berpenampilan seperti biasanya sebelum berangkat ke kampus. Dengan balutan dress selutut berwarna nude yang di padukan dengan blazer warna putih ia semakin terlihat cantik.


"Ehem."


Sengaja bu Ani berdehem sambil menyunggingkan senyum. Pak Atmaja dan Laura melihat ke arah bu Ani bersamaan.


"Kenapa ma? Keselek ya?" tanya Laura polos.


"Iya. Mama juga pengen dibelikan baju baju yang banyak." celetuk bu Ani sambil menyuap nasi ke mulutnya.


"Hem... soal itu ya. Kenapa ngga minta sama papa aja suruh beliin." jawab Laura apa adanya.


"Iya ih, mama ini. Kalau mau tinggal beli aja, tiap bulan juga uang selalu ngalir ke rekening mama."


"Ih, papa nih. Beda dong beli sendiri sama di beliin calon mantu."


Uhuk.... Uhuk


Laura dan pak Atmaja tersedak bersamaan.


"Ya ampun, mama baru ngomong kayak gitu aja, kalian sudah tersedak." bu Ani geleng-geleng kepala melihat anak dan suaminya tersedak. Ia justru kembali menyuap makanan ke mulutnya.


"Apa maksud mama?" tanya Laura dan pak Atmaja bersamaan.


"Itu deretan gamis yang di cuci bibi punya siapa kalau bukan punya anak kesayangan mama. Ngga mungkin deh mau beli sendiri baju seperti itu, pasti hasil endorse."


"Iya ma, itu hasil endorse temen kok. Kemarin kan habis dari toko Anisa, jadi dia kasih ke Laura." tutur Laura yang berbohong. Ia malu jika harus mengatakan itu semua dari Reyhan.


"Ya sudah Laura pamit dulu ya ma, pa." ucap Laura setelah meneguk minumannya. Ia mencium pipi papa dan mama nya.


'Ih, apaan sih mama itu, pakai acara nyindir nyindir segala.' gerutu Laura dalam hati. ia berjalan dengan tergesa-gesa menuju mobilnya.


Sedangkan di meja makan, pak Atmaja dan bu Ani masih menghabiskan makanannya.

__ADS_1


"Ma, tadi tumben minta di beliin baju segala. Biasanya beli baju ngga pernah bilang papa." gerutu papa kesal.


"Ih papa ini, mama tadi cuma nyindir Laura saja."


"Memang ada apa dengan nya?" tanya pak Atmaja penasaran.


"Kemarin itu, dia habis di beliin Reyhan gamis lagi. Tuh yang baru di cuci sama bibi. Nah, tadi malem pas mama mau bangunin dia, eh ternyata dia ngigau panggil panggil nama Reyhan melulu. Sepertinya dia sudah mulai jatuh cinta deh pa sama Reyhan."


"Hemm, sepertinya bener juga apa kata mama." balas pak Atmaja dengan menyunggingkan senyum.


_____


Sementara itu di pagi yang sama, Reyhan mendapati ibunya yang terlihat sedang murung.


"Lhoh bu, ada apa, kok terlihat murung?" tanya Reyhan sambil menggeser kursi di dekat ibunya duduk.


"Sepertinya ibu bakal kena PHK deh Rey. Kata teman ibu kemarin, kondisi pabrik baru kurang baik. Gagal ekspor dan beberapa karyawan ada yang ketahuan mencuri sparepart pabrik." jawab ibunya dengan muka yang sedikit di tekuk.


"Oh itu toh masalahnya." Reyhan menghela nafas panjang sambil tersenyum.


"Kalau di PHK ya sudah bu, ngga apa-apa. Ibu di rumah saja, kan sekarang sudah menjadi tanggungan Reyhan."


"Hem, kamu ini. Kalau ibu cuma nganggur di rumah ngga ada kerjaan tentu bosan lah. Sejak remaja sampai sekarang, ibu kan selalu bekerja. Kecuali...."


"Kecuali apa bu?" Reyhan mulai menatap ibunya karena sengaja menggantung kalimatnya.


"Kecuali kalau ibu punya cucu, ibu pasti senang ada di rumah. Bisa mainan sama cucu. Ibu sudah kangen pengen gendong bayi. Kapan kamu nikah sama non Laura? Tiap hari kesana, kenapa ngga buru buru di nikahin saja. Atau ada wanita lain yang kamu suka?"


Mendengar penjelasan ibunya, membuat Reyhan bingung harus berkata apa. Karena tak ada suatu ikatan antara dirinya dengan Laura.


Benar apa kata ibunya, ia terlalu sering berkunjung ke rumah Laura. Tapi bukan untuk berkencan dengannya, melainkan hanya mengantar haji Dahlan atau Rosyidah untuk mengisi majelis ta'lim di sana. Jika di tanya tentang perasaan nya pada Laura, ia juga masih bingung.


"Kenapa malah bengong?" ibunya menyenggol lengan nya.

__ADS_1


"Hehehe, ngga apa-apa kok bu. Ya sudah sebentar lagi bus jemputan karyawan pasti lewat. Ayo aku anter ke depan." Reyhan sengaja mengalihkan pembicaraan itu, dari pada bingung mau menjawab apa lagi.


"Hemm, kamu selalu saja begitu. Ya sudah ibu berangkat kerja dulu." bu Rohmah pun bangkit dari duduknya dan meninggalkan Reyhan sendiri di meja makan.


"Kau semakin membuat ku gila Miss Laura. Semua menginginkan kita ada hubungan spesial, tapi aku terlalu takut jika sampai ada yang tersakiti di antara kita jika terlalu memaksakan keinginan mereka."


"Sebaiknya aku segera buka counter saja, dari pada terus memikirkan dia." gumam Reyhan.


Setelah menghabiskan teh nya ia bergegas menuju counter yang ada di depan rumahnya. Walaupun hari masih pagi, pembeli yang datang silih berganti. Hingga akhirnya kedua karyawannya sudah datang dan ikut melayani pembeli.


"Maaf ya mas kita datang terlambat."


"Enggak terlambat kok, emang sengaja aku pengen buka counter aja. Hasilnya juga lumayan kok." balas Reyhan sambil menghitung uang yang ada di laci.


Melihat seluruh karyawannya yang berperilaku baik, dan melihat adanya kenaikan omset yang siginifikan membuat Reyhan ingin berbagi kebahagiaan untuk mereka juga. Tak hanya sekedar memberi gaji, ataupun sembako yang di bagikan tiap bulan nya.


Ia pun segera mengetik pesan di grup karyawan counter. Tak berselang lama, sudah ada puluhan notif balasan dari grup itu. Ia membuka satu persatu dan membaca isinya.


"Mau kemana?" ia membalas antusias karyawan nya yang semangat ketika di tawari piknik.


Ada yang mengajak ke gunung dan menginap di villa. Ada yang mengajak ke kebun binatang, agar bisa menyenangkan hati anaknya juga. Ada yang mengajak nonton konser dan masih banyak lagi usulan lainnya. Sampai Reyhan geleng-geleng kepala karena mereka terus berdebat tujuan piknik.


Hingga 2 hari perdebatan soal tujuan piknik, tapi belum menemui titik terang juga. Akhirnya Reyhan pun memutuskan untuk ke pantai saja. Semua karyawan pun langsung setuju.


Piknik akan di adakan hari sabtu. Semua urusan akomodasi Reyhan serahkan pada Bayu, karena ia harus mengikuti seminar di luar kota dulu selama kurang lebih 4 hari.


"Apa! Kakak mau piknik sama seluruh karyawan counter?" tanya Bayu yang tak percaya dengan rencana kakaknya. Reyhan pun mengangguk.


"Berapa tarifnya kak?"


"Ya gratis lah sama karyawan sendiri, ngapain itung-itungan."


"Widih, aku juga nebeng dong kak."

__ADS_1


"Boleh, asalkan semua akomodasi kamu yang urusin. Aku harus seminar dulu ke Semarang."


"Okay, soal gampang itu mah." jawab Bayu sambil menjentikkan jarinya.


__ADS_2