
Sampai pukul 9 malam Reyhan sudah melakukan sebanyak 50 transaksi dalam sehari itu.
Dirinya tak menyangka jika di hari pertama memulai jualan bisa melayani transaksi sebanyak itu.
Awal yang bagus pikir dirinya, walaupun dirumah tetap menghasilkan rupiah.
Hari berikutnya, Reyhan melakukan hal yang sama. Membersihkan teras rumah, mengeluarkan perlengkapan dan menatanya dengan rapi.
Sambil menunggu pembeli, seperti biasa dirinya akan berselancar di dunia maya.
"Kak, kalo ada temanku beli sekarang bayar besok boleh ngga?" tanya Bayu yang hendak berangkat sekolah.
"Itu mah utang namanya, ngga mau ah." Reyhan menjawab dengan setengah bersungut-sungut.
"Kalo ada yang mau beli ya harus segera bayar, untungnya juga buat tambah tambah beli bensin mu."
"Iya iya, ya udah aku pamit sekolah dulu, mana uang buat beli bensin nya." goda Bayu.
"Huh, pagi pagi udah bikin aku mules dengan ocehan mu Bay Bay." kata Reyhan sambil menyodorkan uang 10rb juga.
Bayu yang menerima uang itu lantas mengibas ngibaskan dan berlalu berangkat sambil nyengir.
Sambil duduk, sambil makan, sambil selonjoran tak terasa sudah pukul 8 malam, sebentar lagi counter kecil Reyhan akan segera tutup.
Sambil menunggu, Reyhan mencoba mengecek buku transaksi hari ini, sungguh fantastis pikirnya, hari kedua ternyata telah melayani sebanyak 100 transaksi, padahal jam tutup masih 1 jam lagi.
Reyhan segera mengambil toples bekas roti yang ditaruh dibawah etalase, yang digunakannya sebagai tempat untuk menaruh uang jualan sementara waktu ini.
Lembar perlembar mulai dirapikan, kemudian menjumlahkannya.
"2 juta!" gumam Reyhan tak percaya. Lalu coba menghitung ulang.
"Iya, bener 2juta. Ya Allah Alhamdulillah, ngga nyangka sehari bisa pegang uang sebanyak ini. Biasanya pegang uang sebanyak ini harus nunggu 1 bulan dulu." gumam Reyhan lagi.
"Belum tutup Rey?" tanya ibunya sambil meletakkan sepiring bakwan jagung di dekat Reyhan. Diikuti kedua adiknya. Lalu duduk dan mulai melahap satu persatu.
"Eh, belum bu." jawab Reyhan setengah terkejut lalu memasukkan uang ke dalam toples roti kembali.
"Sebentar lagi lah, jalan juga masih ramai siapa tau ada yang mampir lagi."
"Wah uangnya segunung." Celetuk Bayu dan Bima bersamaan melihat kakaknya dengan gugup memasukkan uang hasil jualannya.
Ibunya hanya tersenyum melihat tingkah mereka.
__ADS_1
"Gimana, hasil counter hari ini?" tanya ibunya sambil mengamati etalase mini di depan mereka duduk.
"Setara gajiku sebulan bu." jawab Reyhan tersenyum puas.
"Wah hebat!" si bungsu Bima berseru kagum.
"Rencana besok pagi aku mau belanja keperluan counter bu. Banyak paket data yang sudah habis."
"Ya ngga papa, bagus itu, hasil yang ada segera diputar untuk modal lagi, jangan lupa sebagian juga di tabung." ibunya menasehati.
"Sekalian beli accesoris hp kak biar terlihat makin menarik." imbuh Bayu.
"Nah iya bagus juga ide Bayu, yang penting uangnya juga cukup." timpal ibunya.
"Boleh boleh, besok coba aku tanya sama cs counter tempat aku belanja."
"Dah malam ni, aku mau tutup, yok dibantuin." ujar Reyhan sambil menghabiskan bakwan yang tinggal sedikit.
_____
Sesuai rencana kemarin, pagi jam 8 Reyhan segera berangkat ke counter besar yang dituju.
Bermodal uang hasil penjualan kemarin Reyhan membeli lebih banyak paket data, cable data dan accesories handphone.
"Mas, kirain ngga buka?" sapa salah satu tetangga Reyhan.
"Eh iya mas, tadi harus ke supplier dulu mas, banyak paket data yang habis. Kalo nunggu sore takutnya malah ngecewain banyak pembeli karena stok sudah ngga komplit." Jawab Reyhan sambil sibuk merapikan jualannya.
"Tadi pagi aku kesini masih tutup pintunya, terus aku ke kecamatan beli pulsa listrik nya."
"Oh ya ngga papa mas, berarti belum rezeki saya." jawab Reyhan dengan tersenyum.
"Eh, boleh minta nomor handphone nya ngga mas, kalo malam malam lampu mati biar bisa langsung calling kamu."
"Boleh boleh mas, asal jangan ngutang saja. Bisa bangkrut aku nanti, baru juga buka." jawab Reyhan dengan bergurau, lalu keduanya tertawa bersamaan.
"Ya sudah, saya pamit dulu kalau begitu mas, laris manis ya." Kata tetangga Reyhan berpamitan pulang.
Satu persatu orang yang kebetulan lewat di depan rumah Reyhan mampir membeli. Ya, rumah Reyhan terletak di pinggir desa, jalan depan rumahnya walaupun bukan jalan raya, tapi jalan itu sering dilewati oleh banyak orang. Bahkan jalan itu tak pernah sepi walaupun hari sudah larut malam.
_____
"Assalamu'alaikum." Bima mengucapkan salam lalu menaruh sepedanya di pinggir teras.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam." Jawab Reyhan mendongakkan kepala kearah adiknya.
"Kok baru pulang, darimana saja Bim?" tanya Reyhan dengan wajah khawatir.
"Tadi ban ku bocor, harus jalan sampai ke tempat tukang tambal ban." Jawab Bima dengan wajah lesu dan berlalu masuk kerumah.
"Ya sudah buruan bersih bersih lalu makan ." Reyhan menasehati adiknya yang sudah berlalu masuk kerumah.
Reyhan lega ketika satu persatu anggota keluarganya sudah pulang dalam keadaan selamat.
Selama membuka counter, Reyhan malah kembali teringat dengan kecelakaan yang menimpa ayahnya.
Mungkin karena dirinya seorang yang berada dirumah selama hampir sehari, sedangkan ketika dirinya masih berkerja dipabrik jarang memikirkan kondisi rumah.
Jadi wajar dia khawatir ketika mengetahui salah satu anggota keluarganya pulang telat.
Ditengah tengah kesibukannya melayani pembeli, Reyhan tak lupa untuk mengerjakan sholat ketika waktunya tiba. Sebuah pesan penting dari bapak rahimahumullah nya berusaha dia jalan kan. Selama 3 hari buka counter, selama itu juga Reyhan mulai lebih memperbaiki sholat nya, yang biasanya 3 atau 4 kali sehari sekarang sudah 5 kali sehari.
Dirinya kini sadar, banyaknya ujian yang dia lalui harusnya bisa lebih mendekatkan diri pada Rabb nya.
_____
"Bim... Bima, sudah makan dan sholat belum?" Reyhan setengah berteriak memanggil adiknya.
"Sudah kak, kenapa? Bima balik bertanya.
"Kamu duduk disini ya, bantuin nunggu counter, aku mau sholat dulu, besok aku kasih uang jajan."
"Kamu cukup bilang kalo aku lagi sholat, jangan berani melayani dulu. Nanti kalo udah longgar aku ajari, ya."
"Okay kak."
"Dan inget, jangan gampang percaya sama orang lain." kata Reyhan memutar badan dan berlalu masuk.
Bima pun mengingat pesan kakaknya dengan baik. Ketika ada orang yang mampir dirinya segera menjawab dengan sopan.
Bima memiliki sifat yang berbeda dengan kedua kakaknya. Jika Reyhan dan Bayu memiliki sifat yang bar bar dan selalu ribut ketika bertemu, Bima justru tergolong anak yang pendiam dan lebih suka mengalah ketimbang kedua kakaknya.
Dari segi akademik, Bima juga tergolong anak yang berprestasi di sekolahnya. Sering mendapat peringkat 1 atau 2.
Sedangkan Bayu masuk dalam peringkat 10 besar.
Dan untuk Reyhan, bisa naik kelas saja sudah sangat bersyukur.
__ADS_1