
Setelah beberapa hari di rumah sakit, akhirnya pagi itu Laura di ijinkan pulang. Reyhan sendiri yang akan mengantar Laura pulang, karena pak Atmaja harus mengecek showroom nya yang berada di kota Semarang. Sedangkan bu Ani di rumah menyiapkan segala keperluan Laura. Selama ia di rawat, Reyhan selalu menemani nya. Bahkan ia sampai rela menginap di rumah sakit untuk memastikan keadaan Laura.
Ia sadar, bahwa cinta yang selama ini ia cari justru berada di dekatnya. Namun, karena terhalang oleh rasa gengsi dari keduanya, membuat salah satu dari keduanya harus menerima musibah.
Tapi, di balik musibah tentu ada yang bisa di ambil ibroh nya, yaitu mereka tak lagi gengsi mengakui perasaannya.
"Sudah siap?" Laura tersenyum manis dan mengangguk pada Reyhan.
Setelah berkata seperti itu, Reyhan segera mendorongnya keluar dari kamar inap. Keduanya saling terdiam, menikmati waktu kebersamaan yang tersisa. Karena setelah pulang dari rumah sakit, Reyhan akan segera melamar Laura secara resmi. Setelah itu, keduanya tak diijinkan lagi bertemu sampai hari h pernikahan.
Kangen? Itu pasti. Tapi semua demi kebaikan keduanya. Lebih baik menjaga jarak sementara waktu sambil terus memperbaiki diri, dari pada terus berdekatan yang bisa saja membuat keduanya khilaf.
Sesekali Reyhan mencuri pandang ke arah Laura ketika berada di dalam mobil. Karena ia tengah asyik menikmati pemandangan luar.
"Miss Laura pengen mahar apa nanti?" Laura menengok ke arah Reyhan.
Laura mengedikkan bahu, bingung mau minta apa. Karena semua kebutuhannya sudah di penuhi oleh kedua orang tuanya.
"Aku ngga minta apa-apa."
"Kenapa begitu?"
"Habis aku bingung mau minta apa, semua sudah di cukupi oleh papa mama ku. Rasanya aku ngga butuh apa-apa lagi."
"Tapi mahar itu wajib lho dalam agama kita."
" Iya Reyhan aku tahu itu. Ya sudah aku pikirkan dulu nanti."
"Apapun permintaan mu, in shaa Allah aku akan berusaha untuk memenuhinya." kedua insan itu saling melempar pandang dan tersenyum hangat.
Tin...Tin....Tin
Reyhan membunyikan klakson ketika sudah sampai depan rumah Laura. Bergegas pak satpam segera mendorong pintu gerbangnya.
Tingtong ...
Beberapa kali menekan bel akhirnya pintu terbuka.
"Non Laura." seru bibi dengan mata berbinar, melihat majikannya itu sudah diijinkan pulang.
"Nyonya, non Laura sudah sampai rumah." teriak bibi. Dengan tergopoh-gopoh bu Ani menyambut kedatangan mereka.
__ADS_1
"Sayang, ayo segera masuk." ajak bu Ani. Ia dan Reyhan membantu memapah Laura sampai kamarnya.
"Aku ingin duduk di situ."
Laura menunjuk kursi meja riasnya. Beberapa hari tidak bercermin membuatnya kangen, sekaligus penasaran dengan kondisi wajahnya saat ini. Reyhan dan ibunya segera mendudukkan nya dengan pelan.
Sesaat, Laura memandangi bayangan wajahnya lewat pantulan cermin. Rasa minder mulai menyerangnya kala ia melihat dengan seksama luka luka yang kini tengah menghiasi wajahnya. Tatapannya pun terlihat sendu. Reyhan yang melihat hal itu dan berdiri di belakang Laura, segera menempelkan kedua tangannya pada bahu Laura untuk memberi dukungan dan menghiburnya.
"Aku cari istri bukan di lihat dari kecantikan fisiknya, karena kecantikan fisik akan memudar seiring berjalannya waktu. Aku mencari istri di lihat dari ketulusan hati nya, hidup berdampingan sampai Jannah nya Allah."
"Ish, gombal. Rayuan pulau kelapa nya keluar." Laura berbalik arah dan refleks mencubit pinggang Reyhan.
"Arghhh.... kebiasaan." pekik Reyhan.
"Ehem..." Bu Ani sengaja berdehem. Keduanya yang lupa jika ada seseorang di antaranya langsung tersipu malu.
"Benar apa yang di katakan Reyhan. Lagian sebentar lagi, luka mu pasti akan mengering dan kembali seperti sedia kala. Makanya kamu harus semangat sembuh. Kasian kan calon suami mu, bolak balik kesana kesini, rela tidur di rumah sakit demi menjaga mu." imbuh bu Ani.
"Iya iya ma."
"Mama tinggal ke bawah. Jangan lama-lama berduaan, karena yang ketiganya setan." ucap bu Ani memperingatkan.
"Ih, anak kurang adab." bu Ani mencubit gemas pipi Laura yang masih terdapat luka, sehingga Laura meringis kesakitan.
"Nah, rasain tuh, di cubit mama." kikik Reyhan ketika bu Ani sudah meninggalkan keduanya.
Reyhan bersimpuh di hadapan Laura dan memegang kedua tangannya, ia menatap manik mata Laura dengan intens.
"Aku.. pamit kerja dulu ya. Karena nikah itu juga butuh modal." Laura terkikik mendengar ucapan Reyhan yang absturd itu, namun memang benar adanya, nikah juga butuh modal.
"Jaga diri wahai calon istri ku. Jika butuh apa-apa kabari aku. Okay?" Tak ada kata yang bisa di ucapkan Laura, selain hanya bisa mengangguk dan tersenyum mematuhi ucapan calon suami nya itu.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam." balas Laura lirih.
Setelah itu, Reyhan mencium tangan Laura untuk menghirup aroma wanginya, yang akan Reyhan ingat selalu, ketika rasa kangen itu menghampiri.
Setelah Reyhan puas melakukan hal itu, ia segera berdiri dan meninggalkan Laura seorang diri di kamar.
Reyhan melajukan mobilnya menuju counter. Beberapa hari ia tak mengecek kondisinya langsung, hanya di wakilkan oleh Bayu.
__ADS_1
Sesampainya di counter, ia merasa tatapan karyawan padanya terlihat aneh.
'Idih, kenapa muka karyawan ku pada seperti itu? Kok bikin aku geli.' batin Reyhan sambil bergidik.
Reyhan masa bodoh dengan tatapan para karyawannya. Bergegas ia mengecek data di komputer. Ia berusaha untuk konsentrasi penuh, tapi yang di ingat selalu calon istrinya.
Huft....
Ia membuang nafas kasar. Setelah itu kembali fokus lagi. Beberapa karyawan yang melihat hal itu terkikik.
"Aldo.... Ngapain kamu terkikik seperti itu?" Reyhan memandang tajam ke arah karyawan nya itu.
"Eh, aku lagi seneng saja kok bos."
"Seneng kenapa?"
"Ya seneng, akhirnya bos ku sebentar lagi sold out dari barisan para jomblo.
"Memangnya aku handphone yang bisa sold out sewaktu-waktu."
Bugh...
Reyhan melempar Aldo dengan kalkulator yang ada di meja. Beruntung Aldo mampu menghindar dan justru bisa menangkap kalkulator itu.
"Bawaan orang mau nikah ya gitu bos, suka ngga konsentrasi kerja. Bawaannya pengen cepet-cepet ketemu sama calon istri." Aldo mengelus keduanya pipinya membayangkan bagaimana rasanya memiliki istri.
"Nikah saja belum pernah, sok tahu banget." Reyhan menoyor kepala Aldo sebelum berlalu pergi.
Huu....
seluruh karyawan menyoraki Aldo.
"Rasain tuh di marahin bos, sukanya iseng sih."
"Halah, ntar juga baikan sendiri."
Reyhan bergegas melanjutkan perjalanan nya menuju counter berikutnya. Lagi-lagi pandangan karyawannya pun sama seperti tadi.
Kali ini Reyhan sudah tahu, jika para karyawannya itu sudah mendengar kabar tentang dirinya yang sebentar lagi akan melamar Laura. Ia pun lebih memilih cuek daripada harus meladeni mereka. Begitu seterusnya sampai selesai dan ia kembali pulang.
Rasa capek dan lelah menyerangnya sehingga ia langsung tertidur pulas.
__ADS_1