Juragan Muda

Juragan Muda
224. Bukan gambar lele


__ADS_3

"Apa lele itu yang selama ini bergerak di perut istri saya dok?" tanya Reyhan sambil memperhatikan layar monitor dengan serius.


Sementara Laura mengernyitkan dahi bingung, kenapa ada lele hidup diperutnya, padahal beberapa bulan ini ia tak pernah mengkonsumsi lele. Dan tentu saja dokter itu tersenyum mendengar ungkapan polos Reyhan.


"Itu bukan gambar lele pak. Itu gambar calon bayi yang di kandung istri anda. Usia kandungannya sudah memasuki Minggu ke 16."


"Apa! Istri saya hamil dok?" teriak Reyhan karena terkejut, sehingga membuat dokter itu juga ikut terkejut.


Laura juga membulatkan matanya tak percaya dengan ucapan dokter dan suaminya.


"Iya pak, istri bapak hamil."


"Alhamdulillah, akhirnya setelah sekian lama berusaha, berhasil juga kecebong ku berkembang biak di rahim istri tercinta ku." dengan binar bahagia, Reyhan langsung memeluk tubuh Laura yang masih berbaring diatas brankar.


Keduanya meluapkan kegembiraannya, tanpa menyadari jika sejak tadi terus diperhatikan oleh dokter yang duduk disampingnya.


Setelah sekian detik berlalu, keduanya baru menyadari jika sedang berada di rumah sakit. Sehingga segera mengurai pelukannya.


"Eh, maafkan kami dok. Seakan dunia milik sendiri, dan dokter numpang sama kita." celetuk Reyhan. Yang membuat dokter itu geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Sedangkan Laura menahan malu karena ucapan suaminya yang ceplas-ceplos itu.


Dengan hati-hati Reyhan membantu Laura turun dari brankar, karena tak ingin mengganggu lele yang hidup dalam perut istrinya.


Mereka berdua memperhatikan dengan serius nasehat yang diberikan oleh dokter. Setelahnya, mereka pun segera keluar dari ruangan dengan wajah yang berbinar bahagia.


"Ayo kita makan bersama, untuk merayakan lele yang hidup dalam perut Miss Laura." ucap Reyhan dengan penuh semangat 76.


"Maksud mu apa sih Rey? Budidaya lele ya di empang lah, masa di dalam perut istri." tanya Andre penasaran.


"Eh, maksud ku, Miss Laura sedang hamil." ralat Reyhan sambil merangkul kan tangannya di bahu Laura.


"Kok sama, istri ku juga baru hamil." balas ketiga lelaki itu, yang membuat mereka saling beradu pandang, lalu tertawa bersama.


Mereka pun saling mengucapkan selamat dan memberi pelukan.


"Apa dulu kita bikinnya bareng ya, sehingga hamilnya juga bareng? Jangan jangan nanti melahirkan pun juga bareng lagi." ucap Reyhan yang kembali mengundang tawa mereka.


Mereka kembali bercakap-cakap tak tentu arah sembari berjalan menuju mobil masing-masing.


Mobil pun bergerak meninggalkan pelataran rumah sakit menuju ke restoran yang cukup terkenal.

__ADS_1


Sesampainya di restoran tersebut, mereka segera memesan makanan dalam jumlah yang cukup banyak dan bervariasi. Para suami tak ingin buah hati mereka sampai kekurangan gizi.


Setelah pesanan datang, mereka pun segera melahapnya sambil bercakap-cakap. Tak lama kemudian seluruh hidangan itu sudah habis tanpa sisa.


Mereka segera pulang ke rumah masing-masing untuk menyampaikan kabar gembira itu pada kedua orang tuanya.


Sepanjang perjalanan, setiap pasangan itu tak hentinya saling bercerita dengan penuh semangat. Dan ketika sampai rumah, mereka kembali menciptakan kegemparan.


"Papa." sapa Laura pada papanya yang tengah sibuk mengerjakan setumpuk berkas.


"Laura, katanya kamu sakit, kok terlihat cerah sekali?" tanya pak Atmaja dengan tatapan heran.


"Aku pikir Miss Laura itu gendut gara-gara setiap hari makan terong pa. Ternyata sudah hamil 4 bulan."


"Apa! Serius kamu Rey?"


"Mas Reyhan mana mungkin bohong pa."


"Alhamdulillah. Papa senang sekali mendengarnya. Nanti kalau cucu papa sudah lahir, papa mau resign dari pekerjaan ini. Semua papa limpahkan sepenuhnya pada kamu Reyhan. Karena papa ingin fokus momong cucu."


Reyhan menepuk jidatnya, terbayang setumpuk pekerjaan yang harus ia kerjakan setiap harinya. Padahal ia ingin sekali menghabiskan waktunya bersama keluarga kecilnya setiap waktu. Sedangkan Laura dan papanya terkekeh melihat ekspresi Reyhan.


"Mama sudah tahu belum? Kalau belum, segera kasih tahu. Oh iya, papa ingin mengadakan syukuran atas kehamilan kamu Laura. Kalian setuju kan?"


Setelah memberi kabar gembira pada papanya, keduanya segera menuju ke rumah, untuk memberi kejutan pada mamanya.


Saking terlalu posesifnya Reyhan, demi menjaga buah hatinya, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sangat lambat.


"Mas, sebaiknya aku jalan kaki saja. Lebih cepat sampai rumah. Daripada naik mobil, sudah berasa kayak naik siput, lama sekali." gerutu Laura yang membuat Reyhan terkekeh.


"Jangan begitu dong sayang. Aku tuh trauma sama kejadian dulu, makanya aku pelan pelan bawa mobilnya. Aku pengen bayi kita bisa bertahan dalam perut mu sampai nanti waktunya lahir."


Laura tak lagi membantah ucapan suaminya yang sangat memperhatikan ia dan bayinya. Sehingga Laura lebih memilih tidur dalam perjalanan menuju rumah orang tuanya.


Reaksi yang sama juga dilakukan oleh Bu Ani, ketika mengetahui Laura hamil.


"Alhamdulillah, akhirnya kamu hamil juga sayang. Semoga selalu sehat semuanya. Kamu harus berhati-hati, jangan. banyak gerak, makan makanan yang bergizi, rutin periksa ke dokter..."


Laura terkekeh mendengar celotehan mamanya yang seperti tidak ada habisnya itu.

__ADS_1


"Iya ma, Laura paham. Laura akan berusaha melakukan semua nasehat mama."


Hari sudah sangat sore, keduanya berpamitan pulang ke rumah Bu Rohmah. Karena ibu mertua belum mengetahui hal itu.


"Nanti selama hamil, sering-sering tidur di sini ya sayang. Biar kamu ngga kesepian di tinggal suami mu kerja."


"Iya mama. Laura pamit dulu ya, assalamu'alaikum." ucap Laura sambil mengecup tangan mamanya. Reyhan pun juga melakukan hal yang sama, bersalaman sambil mengecup tangan ibu mertuanya.


_____


Hal yang sama juga dilakukan oleh pasangan yang lain setelah sampai rumah. Yakni, menyampaikan berita bahagia itu pada keluarganya.


"Top cer juga Ndre kamu. Baru bikin kemarin malam, sekarang sudah jadi saja." kekeh ibunya, yang membuat Rosyidah malu.


"Kita kan selalu lembur tiap hari Bu, agar cepat jadi."


Rosyidah membulatkan matanya mendengar celotehan suaminya. Dengan gerak refleks, ia mencubit pinggang Andre sehingga membuatnya berteriak.


Arghhh....


"Kenapa sih Ndre, kok teriak-teriak seperti itu?" ibunya mengernyit heran menatap Andre.


"Ngga apa-apa kok Bu, ya sudah kita ke kamar dulu ya."


Ibunya geleng-geleng kepala melihat kelakuan aneh anaknya.


Sesampainya di kamar, Andre segera bertanya pada Rosyidah, kenapa sampai mencubit pinggangnya. Rosyidah pun tersenyum, lalu memberi pengertian.


Bahwa, hubungan ranjang itu tidak boleh diceritakan pada siapapun juga. Karena itu sama saja membuka aib kita. Jika dalam keadaan yang mendesak, seperti saat berkonsultasi dengan dokter misalnya.


Andre manggut-manggut mendengar penjelasan istrinya.


"Maafkan kekhilafan ku ya. Mungkin karena terlalu bahagia, jadi lepas kendali deh."


Rosyidah mengangguk menanggapi ucapan suaminya. Karena kelelahan, mereka pun tidur siang terlebih dahulu sebelum pergi ke pondok, menemui kedua orang tua Rosyidah.


Sebelum pulang ke rumah haji Dahlan, tak lupa Andre mampir membeli sesuatu untuk mertuanya.


"Sebenarnya kamu tak perlu repot-repot seperti ini mas. Di rumah pasti juga ada banyak makanan." kata Rosyidah, ketika Andre menenteng box donat.

__ADS_1


"Ini tidak merepotkan ku. Bukankah orang tua mu, orang tua ku juga. Jadi aku harus berbakti dan membahagiakan mereka juga. Lagian cuma seperti ini murah dan mengenyangkan juga kan."


Reaksi yang diberikan oleh kedua orang tua Rosyidah, saat mengetahui anaknya hamil, tentunya sangat bahagia. Keduanya tak henti-hentinya mengucapkan syukur pada sang Pencipta.


__ADS_2