
Dengan begitu cepatnya kita melewati hari. Dan siapa sangka, dulu yang hanya sekedar rasa kagum, suka seiring berjalannya waktu tumbuh menjadi rasa cinta yang mengakar. Begitu juga yang di alami oleh Andre pada Rosyidah.
Namun, ia semakin takut berharap, karena keluarganya bukanlah siapa-siapa, jika dibandingkan dengan keluarga Rosyidah. Tidak ada yang patut dibanggakan darinya.
"Hei, kamu mau tidur di malam mobil ku?" Reyhan menepuk bahu Andre. Ketika mobil sudah memasuki halaman rumahnya. Setelah mengantar paket sembako dan sedekah ke panti seperti beberapa bulan lalu.
"Eh, sudah sampai?" Andre tergeragap dari duduknya dan memindai sekitar.
"Lagi mikirin apa? Rosyidah?" tebak Reyhan yakin.
Ia tahu sahabat nya itu tengah jatuh cinta. Tapi kurang percaya diri. Andre pun mengangguk lemah. Memang keduanya tak mungkin bisa menyembunyikan rahasia sejak menjadi teman sekolah.
"Kalau kamu sudah serius cinta sama dia, kenapa ngga coba melamar saja Ndre?"
"Apa! Melamar?" Andre terkejut dengan saran Reyhan. Namun Reyhan mengangguk memastikan.
"Aku ngga punya apa-apa Rey. Ilmu keluarga ku masih seujung kuku, beda jauh dengan keluarganya. Pasti, pasti akan di tolak sebelum ku utarakan niat ini."
"Kamu kepengen belajar bisnis. Tapi sudah takut sebelum mencoba peluang. Kamu ingin cinta mu di terima Rosyidah. Tapi, kamu ngga mau berjuang dengan melamarnya. Itu jiwa pesimis namanya. Ibarat kata, kalah sebelum berperang." Reyhan menonjok lengan Andre menyadarkan nya.
Argh....
Andre mengerang sambil mengusap lengannya. Ia juga memikirkan ucapan Reyhan barusan.
"Aku takut di tolak Rey?"
"Lebih baik di tolak sekarang, daripada kamu tidak pernah tahu apa isi hati Rosyidah. Kalau ternyata dia memiliki perasaan yang sama dengan mu, namun menunggu kamu yang ngga kunjung melamarnya gimana? Kamu yang akan menyesal nanti jika dia di lamar orang lain dulu. Aku saja dulu juga begitu. Keraguan akan menghambat jalan kita untuk menemukan kebahagiaan. Ingat itu."
"Kamu benar!" Andre menepuk bahu Reyhan dengan lebih keras sambil tersenyum.
"Kalau begitu, kamu antar aku kesana sekarang." ucap Andre dengan semangat.
Huft....
__ADS_1
"Kita kan habis dari sana Ndre." Reyhan mendengus kesal.
"Katamu tadi, kalau aku ngga segera, keburu di dahului sama yang lain?"
Reyhan menepuk jidatnya, lalu kembali memutar mobilnya. Sesampainya di rumah haji Dahlan, jantung Andre berdetak kencang.
"Bismillah, banyak banyak berdo'a. Semoga di beri yang terbaik." ucap Reyhan yang mengetahui ketegangan di wajah Andre. Ia pun mengajak Andre turun.
Tak lama kemudian, pintu terbuka setelah keduanya mengucapkan salam sambil mengetuk pintu. Terlihat Rosyidah mengernyitkan dahi melihat kedatangan mereka kembali. Pasalnya baru 1 jam yang lalu, keduanya berkunjung kesitu.
"Mas Reyhan, mas Andre?" gumam Rosyidah.
"Iya Ros, maaf kedatangan kami sedikit mengganggu. Boleh kami bertemu dengan Haji Dahlan lagi?" ucap Reyhan memecah kecanggungan.
"Bisa mas, silahkan masuk." Rosyidah mempersilahkan keduanya duduk di ruang tamu lalu memanggil abinya.
Entah kenapa, hatinya merasa deg-degan dengan kedatangan mereka kembali ke rumahnya. Setelah memanggil abinya, Rosyidah kembali membuatkan minuman untuk mereka sambil melamun.
Sementara itu, Haji Dahlan segera menanyakan tujuan tamunya kembali datang. Setelah berbasa-basi sebentar, Reyhan menyikut pelan lengan Andre agar segera bicara.
Langkahnya memelan, ketika samar-samar ia mendengar Abi dan tamunya bercakap-cakap. Akhirnya, di balik gorden ia berdiri dan mendengarkan.
"Em, jadi begini maksud kedatangan kami kembali. Saya, saya mau.... melamar putri anda, Rosyidah untuk menjadi istri saya pak. Saya sangat mengerti dan tahu diri, keluarga saya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan keluarga pak Haji. Jika di tolak saya juga tidak apa-apa, yang terpenting sudah mengungkapkan isi hati saya. Mohon maaf atas kelancangan saya ini pak." walaupun awalnya terbata, akhirnya Andre mampu mengutarakan maksud kedatangannya, hingga peluh membasahi wajahnya.
DEG!
Jantung Rosyidah seketika berdetak kencang. Ketika mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan mereka. Ia tak menyangka akan di lamar oleh sahabat Reyhan.
Ada rasa bahagia karena ada lelaki yang menaruh hati padanya. Apalagi lelaki itu, sahabat Reyhan. Jika Reyhan saja baik, Rosyidah yakin, Andre juga baik. Beberapa kali bertemu dengannya, Rosyidah bisa merasakan hal itu.
Namun ia juga butuh waktu untuk mempertimbangkannya baik-baik. Karena ia berharap menikah sekali dalam hidupnya.
Haji Dahlan menghela nafas sambil tersenyum sebelum memberi jawaban. Ia salut dengan anak muda itu. Belum lama bertemu dengan Rosyidah sudah yakin untuk melamarnya.
__ADS_1
"Nak Andre, bapak paham dengan maksud mu. Jodoh itu tidak memandang strata sosial. Jangan kamu merendah seperti itu. Semua keputusan bapak serahkan pada Rosyidah. Karena kelak yang akan menjalani dia. Apapun keputusan yang ia beri, semoga kamu bisa menerima dengan besar hati."
Sebelum haji Dahlan memanggil Rosyidah, ia sudah terlebih dulu melangkah mendekati mereka membawa minuman. Terlihat tangannya gemetar saat meletakkan minuman itu di meja.
'Astaghfirullah, kenapa tangan ku bergetar seperti ini?' batinnya. Tiba-tiba ia merasa gugup.
'Lhololoh, tangan Rosyidah kenapa bergetar seperti itu? Apa dia sakit?' batin Andre.
Sementara Reyhan dan haji Dahlan tampak menyunggingkan senyum ketika melihat Rosyidah gemetaran. Haji Dahlan yakin jika putrinya sudah mendengar percakapan tentang dirinya.
Setelah mengantar minuman, Rosyidah hendak kembali ke kamarnya, namun abinya justru menyuruhnya untuk duduk di sampingnya. Dengan patuh Rosyidah pun duduk.
Haji Dahlan meminta Andre untuk menyampaikan ulang maksudnya tadi, yang membuat jantungnya kembang berdetak kencang. Apalagi sekarang ada Rosyidah langsung dihadapannya.
"Ayo nak Andre silahkan." tangan haji Dahlan bergerak mempersilahkan sambil tersenyum hangat.
Andre membalas dengan tersenyum sambil mengangguk. Tangannya saling bertautan dan kembali berkeringat dingin.
"Em.... Rosyidah. Perkenankan aku menyampaikan maksud tujuan ku kembali kesini. Aku.... ingin menjadikan mu sebagai istri ku. Aku sadar diriku masih banyak memiliki kekurangan dalam segi ilmu, materi dan banyak lagi. Namun segala bentuk kekurangan itu tak mampu menghambat diri ku untuk menyampaikan lamaran ini pada mu. Semoga kamu berkenan memaafkan kenekatan ku ini."
Andre menghirup nafas panjang. Akhirnya bisa mengutarakan keinginan yang selama ini selalu ia tahan.
Sementara Rosyidah, jantungnya juga kembali berdetak kencang. Setelah terdiam sambil membuang nafas berulang kali, akhirnya dia memberi sebuah jawaban.
"Sebelumnya, saya sangat bersyukur, ada orang yang mau melamar saya. Jangan merasa rendah diri, karena di mata Allah kita semua sama. Namun meskipun begitu, bolehkah saya meminta waktu untuk mendapatkan keputusan yang tepat?"
"Bagaimana nak Andre, Idah meminta waktu?"
"Silahkan, mau minta waktu 1 hari, 2 hari atau....."
"In shaa Allah kurang dari 1 bulan saya akan beri jawaban." potong Rosyidah yang membuat Andre terkejut.
'Ya ampun, tega sekali, bisa mati berdiri aku, menggantung ku selama itu.' batin Andre ingin menangis.
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️