
"Ayo kita foto selfi dulu." ajak Laura sambil mengeluarkan handphone nya.
"Foto selfi?" gumam Reyhan tak paham dengan maksud Laura.
"Kamu buka isi paper bag itu dan kita foto bareng dengan isinya."
Perintah Laura, karena sedari tadi Reyhan sibuk melayaninya tanpa ada kesempatan untuk membuka paper bag.
"Ba_baik Miss."
Jawab Reyhan sambil mulai membuka paper bag.
Matanya membulat ketika berhasil mengeluarkan sebuah jam tangan limited edition.
Laura pun juga ikut membulatkan matanya, karena jam itu sama persis dengan miliknya, yang merupakan oleh-oleh dari papanya kemarin.
'Papa........ada ada aja.' batin Laura geram.
Ehm.....
Sengaja Laura berdehem untuk menghilangkan kecanggungannya.
"Buruan kamu pake itu jam nya lalu kita foto."
"Iya Miss, ni udah. Terus foto nya modelnya gimana." tanya Reyhan sambil menunjukkan jam tangan yang sudah melingkar dipergelangan tangan kanannya.
Seketika Laura tercenung, karena cara memakai jam tangan Reyhan yang sama persis dengannya.
"Oh ya udah sini agak deket aku, tapi jangan sampai nempel ya. Awas kamu." ancam Laura sambil melotot dan mengepalkan tangan ke arah Reyhan.
"I_iya Miss."
Cekrek... Cekrek....
Beberapa gaya sudah diabadikan dalam handphone Laura. Setelahnya ia ijin pulang. Melangkahkan kaki mendekat ke arah mobilnya terparkir.
Reyhan pun segera menjatuhkan diri diatas kursi sambil menghirup nafas lega, setelah mobil Laura tak terlihat di hadapannya.
"Huft.... Akhirnya dia pulang juga."
Dinda yang sedari tadi merekam kejadian itu, akhirnya keluar juga dari balik pintu persembunyian dengan suara tawanya yang keras lalu mendekati Reyhan yang masih duduk.
Sedangkan karyawan yang lain hanya mampu menahan tawa, tak berani menggoda Reyhan.
"Berasa senam jantung ya mas menghadapi tuh meses meses tadi, untung cantik, coba kalo mukanya lebih ancur dariku, berani lah aku tantangin dia."
"Hush, mulutmu dijaga. Kalo sampai kalian perang di counterku, bisa rugi aku nanti. Semua barang-barang pasti kalian lempar."
"Mas Reyhan tahu aja."
Wkwkwk....
__ADS_1
Dinda tertawa keras.
"Ya udah kamu buruan kerja lagi sana." perintah Reyhan seraya mengibaskan tangannya.
_____
"Ih... tumben banget sih aku serakus tadi. Perasaan tadi pagi aku juga udah sarapan. Apa karena hari ini aku mengeluarkan banyak tenaga untuk marah-marah, jadi cepet laper?" gumam Laura sambil memukul setir kemudi.
Lalu segera menambah laju kecepatan mobilnya, agar tingkah konyol yang tadi ia lakukan bisa pergi dari pikirannya saat ini.
"Gimana sayang, udah kamu jalankan amanah dari papa?" tanya mama yang sedang asyik berkebun lalu mendekat dan menyambut kepulangannya.
"He em, udah ma, cek aja di handphone papa nanti."
"Terus masakan mama udah dikasihkan, rantangnya apa ditinggal disana?"
Seketika Laura teringat, bahwa masakan mama nya sudah ludes dimakan Choki. Terpaksa dia harus berbohong.
"Sudah ma, katanya enak, rantangnya sudah dikembalikan tapi lupa belum dicuci, sekarang masih di mobil Laura, mama ambil sendiri ya, ini kuncinya." jawab Laura sambil menyodorkan kunci mobil lalu segera menaiki tangga menuju kamarnya.
"Laura sudah pulang ma?" tanya pak Atmaja yang ternyata sudah berdiri diambang pintu, baru saja pulang kerja.
"Iya, baru saja. Katanya sudah menjalankan amanah dari papa, coba cek saja handphone papa."
"Oh ya." jawab pak Atmaja dengan binar bahagia, lalu segera menggeser pelan handphone nya.
"Lihat ma, mereka pasangan yang serasi kan? Yang satu cantik yang satunya lagi ganteng. Dan Reyhan ini adalah seorang Juragan Muda yang baru papa temui selama ini. Bukan dari golongan orang yang mampu, tapi dia mau berusaha sampai sukses. Sangat jauh beda dengan anak muda zaman sekarang, yang bisanya hanya mengandalkan kekayaan orang tuanya saja." papar pak Atmaja sambil menyodorkan handphone ke istrinya, dan istrinya pun mengangguk setuju dengan pikiran suaminya.
"Mama juga setuju pa." Bu Ani mengangguk sambil tersenyum menanggapi perkataan suaminya.
"Ya sudah papa mandi dulu sana. Udah bau acem." ledek bu Ani.
"Ah mama bisa aja, justru acem ini yang bisa bikin mama tambah lengket sama papa." lalu pak Atmaja pun tertawa.
_____
"Bang berhenti di gang depan itu ya." perintah Choki ke kenek bus sambil menunjuk sebuah gang yang pinggirnya dipadati penjual kaki lima.
Tak lama bus pun berhenti.
"Nih ongkosnya." Choki menyerahkan uang 2 ribu yang sengaja di lipat kecil ke kenek bus lalu segera turun dari bus dan berlari menjauh.
Kenek pun menerima dan merapikan uangnya.
"Astaga cuma 2 perak." gumam kenek sambil geleng-geleng.
"Woi..... mas.... mas, uangnya kurang ini, masak cuma 2 perak." seru kenek. Namun Choki segera berbaur dengan kerumunan pembeli agar tidak terlihat.
"Huu.... dasar, gaya sosialita taunya melebihi rakyat jelata." kenek bus meluapkan amarahnya sambil memukul bagian pinggir bus dengan keras, akhirnya bus pun kembali melaju.
Setelah bus kembali melaju, Choki segera meletakkan berbagai makanan yang sudah dipegangnya begitu saja di meja lalu berjalan meninggalkan lapak penjual.
__ADS_1
"Hei mas, ini ngga jadi dibeli?" teriak penjual ke arah Choki yang meninggalkan lapaknya, Choki pun hanya mengibaskan tangannya pertanda tak jadi.
"Woooo...... dasar bocah gemblong, wes di pegang pegang kok malah ngga jadi beli." maki penjual sambil merapikan dagangannya kembali.
"Orang kaya mah seperti itu jeng, pengennya menang sendiri." sahut ibu-ibu yang lain.
Sementara itu Choki sedikit terengah-engah karena baru saja melarikan diri dari kenek bus dan penjual makanan.
"Bisa gosong ini kalau kelamaan berada di bawah terik matahari. Mana jalannya masih lumayan jauh lagi. Huh, semua ini gara-gara ngga dianter Laura pulang." gerutu Choki.
Sesampainya dikamar, Choki langsung merebahkan diri ditempat tidurnya.
"Mau pingsan aku ma." keluh Choki ke ibunya yang sengaja mengikutinya sambil menaruh segelas es dimeja dekat tempat tidurnya.
"Tumben pulang pulang mengeluh seperti itu Chok, ada apa?"
"Choki jalan kaki ma, dari ujung gang sampai sini." terangnya, lalu segera meneguk segelas es teh itu hingga habis.
"APA! kok bisa?"
"Laura ngga anterin Choki pulang ma, terus terpaksa Choki naik angkutan umum, berhenti di gang ujung, dan sampai sini jalan kaki."
Wahaha....
Ibunya Choki tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan anaknya.
"Lagian kamu jadi anak laki-laki harusnya ya kudu strong." ibunya memperlihatkan otot tangannya.
"Cuma jalan kaki dari sana sampai sini aja mengeluh mau pingsan. Tiap hari ibu jalan ke pasar juga biasa aja. Apalagi sampai rumah juga masih harus masak, nyuci, ngepel dan ***** bengek lainnya Chok."
"Yah, itu kan mama dibayar, beda sama Choki dong."
"Makanya kamu juga harus bantuin ibu, biar dapet gaji juga."
"Ih, ogah. Choki selalu sibuk ngerjain tugas kuliah ma."
"Mamah mamah, mamah gedang (makan pisang). Gayamu anak pembantu aja panggil nya mama segala."
"Suka-suka aku dong ma, biar pun anak pembantu yang penting gayanya ngga kalah sama anak majikan."
"Terserah apa katamu lah, yang penting kamu jangan bikin kecewa hati pak Harso dan bu Susi yang sudah dengan sukarela membiayai kuliahmu. Kalo sampai ngecewain mereka, ibu sumpahin kamu putus dengan Laura." setelahnya ibu segera berlalu pergi meninggalkan Choki yang masih rebahan dikasur.
"MAMAAA" teriak Choki, lalu melemparkan bantal kearah ibunya.
Berteman yuk kak di FB.
FB: Nurul khanifah
Berikan penilaian yang baik ya agar menambah semangat author untuk terus update.
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca, terimakasih semoga sehat selalu dan semakin lancar rezekinya.😘🤗
__ADS_1