
"Tapi.... aku hanya ingin minta kamu untuk segera turun dari pangkuanku, karena aku sudah tidak kuat menahan berat badan mu."
"APA!" sontak wanita itu terkejut dan langsung menggeser badannya dilantai.
"Maaf, aku tak tahu." katanya dengan suara pelan sambil menunduk, karena malu atas pikiran buruknya.
"Ngga apa-apa, aku sudah memaafkan. Kamu sudah kuat untuk berjalan belum?"
"Aku merasa masih sedikit lemas."
"Lalu apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu?"
"Jika kamu tidak keberatan, temani aku sejenak disini sambil memulihkan tenagaku, dan juga menunggu rombonganku datang."
"Baiklah aku akan menemanimu. Kenapa kamu bisa terpisah dengan rombonganmu?"
"Aku belum selesai berdoa, tapi mereka sudah tidak ada, aku berusaha mencari mereka tapi tak juga bertemu."
"Darimana asalmu?" Reyhan kembali bertanya.
"Aku asal Indonesia, dan kamu?"
"Sama, aku juga asal Indonesia. Dari kota karang baru."
"Apa kamu rombongan jamaah Al Rahmah?" tebak wanita itu.
"Kenapa kamu bisa tahu?"
"Karena kita satu rombongan."
"Maaf, aku kurang memperhatikan tadi."
Selanjutnya mereka terdiam dengan pikiran masing-masing, hingga dari kejauhan tampak segerombolan orang yang memakai baju sama berjalan mendekat.
"Kenapa kamu masih disini? Tidak ingin berjalan-jalan sambil berfoto selfi." tanya seorang bapak ke Reyhan yang masih 1 rombongan dengannya.
"Tidak pak, tujuan saya kesini hanya untuk menenangkan diri."
"Oh iya, kakak ini kurang sehat, mohon kesediaannya untuk membantu memapahnya." pinta Reyhan ke rombongan perempuan.
"Aku kira dia istrimu, karena berduaan disini." sahut jamaah lainnya. Karena rombongan Reyhan terdiri dari pasangan suami-istri, hanya Reyhan dan wanita itu saja yang masih single. Lalu dengan sigap, mereka pun segera memapah wanita itu dan mulai berjalan pelan meninggalkan baitullah.
Selama melakukan umrah, Reyhan merasa pikirannya jauh lebih tenang. Mungkin karena dzikir yang rutin ia lafadzkan.
Hal yang tak jauh berbeda juga dialami oleh wanita berniqab itu. Hatinya merasa jauh lebih bahagia dan tenang. Padahal sudah beberapa kali ia melakukan ibadah umrah itu.
__ADS_1
Rombongan Reyhan selalu mengabadikan momen kebersamaan selama di tanah suci. Dengan terpaksa Reyhan dan wanita itu harus mau ikut berfoto demi menjaga solidaritas.
Setelah beberapa hari di tanah suci, waktu nya berkemas untuk kembali pulang ke Indonesia.
Malam terakhir berada di tanah suci, Reyhan duduk termenung menghadap jendela kamarnya. Dari situ ia dapat melihat dengan jelas keindahan Ka'bah.
Tiba-tiba ia teringat akan permintaan ibu yang menurutnya aneh itu, seorang mantu baru. Pacar saja dia tak punya.
'Apakah, ibu menginginkan aku menikah dengan....... Ah, bukan kah itu sesuatu yang aneh. Aku dan dia tak kan mungkin bersatu. Dia anak sultan, sedangkan aku..... Aku tak ingin membuat ibu kecewa, tapi aku juga takut setiap bertemu dengan nenek lampir itu.' batin Reyhan dengan penuh kebimbangan, lalu mendengus kesal.
Setelah selesai berkemas, ia pun mulai tidur malam agar esok bisa bangun lebih awal.
"Arghhh....... ampun, jangan kdrt ke aku." teriak Reyhan.
Lalu dengan nafas terengah-engah dia bangun dari tidurnya. Sambil mengelap keringat ia berusaha mengontrol perasaannya.
"Ya Allah, untung cuma mimpi." gumam Reyhan sambil mengelus dadanya.
"Sial, kenapa aku harus bermimpi dia lagi. Aku akui dia cantik, tapi aku tak pernah terpesona apalagi sampai suka dengannya. Apa ini gara-gara tadi aku memikirkannya sebelum tidur."
Setelah mimpi buruk menjadi suami Laura dan selalu dipukuli, Reyhan tak bisa melanjutkan tidurnya lagi. Akhirnya dia mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat tahajud.
_____
"Apa perlu aku bantu?" Reyhan menawarkan bantuan ke wanita berniqab itu dengan ramah, karena melihatnya membawa barang yang banyak saat keluar kamar akan cek out.
Setelah pengecekan selesai dilakukan, bergegas rombongan itu menaiki pesawat.
Dan tiba giliran wanita itu menaiki tangga pesawat. Kakinya mulai melangkah pelan. Diikuti Reyhan dan rombongan lainnya.
Namun naas, ketika tinggal satu langkah lagi, tiba-tiba wanita itu jatuh tengkurap.
"Arghhh....." Teriak wanita itu dan Reyhan bersamaan. Karena ternyata, tak sengaja Reyhan menginjak ujung gamis wanita itu karena terdorong rombongan lainnya. Sehingga mengakibatkan Reyhan menindih wanita itu.
Sontak saja hal itu menjadi pusat perhatian rombongannya. Mereka yang rata-rata adalah bapak-bapak dan ibu-ibu sedikit menahan tawa melihat muda-mudi yang tampak salah tingkah karena kejadian tak terduga.
"Ma_maafkan aku kak, aku tak sengaja." ucap Reyhan sambil menggeser tubuhnya yang menindih wanita itu.
Wanita itu hanya mengangguk, lalu keduanya sama-sama berdiri, dan berjalan menuju kursi masing-masing. Dan ternyata kursi mereka berjejeran. Hanya dipisahkan oleh jalan untuk lewat.
Selama perjalanan, wanita itu merasakan detak jantungnya berdetak kian cepat ketika tak sengaja melihat Reyhan.
Entah mengapa semenjak kejadian malam itu, ketika Reyhan menolongnya, ada rasa berbeda yang muncul dihatinya. Lalu segera ia halau dengan mengucapkan banyak kalimat istighfar. Karena ia tahu, pikirannya tengah diganggu setan.
Sesampainya di bandara, rombongan umroh sudah disambut oleh keluarga masing-masing. Tak terkecuali Reyhan.
__ADS_1
"Kak Reyhan......." teriak Bima kencang sambil melambaikan tangan. Reyhan membalas melambaikan tangan dan mempercepat langkahnya.
"Wow, kakak bawa oleh-oleh apa saja?" tanya Bima antusias karena melihat bawaan kakaknya yang lumayan banyak. Keluarga nya segera membantu membawakan barang bawaannya.
"Apa saja ada. Ayo segera pulang, kita buka dirumah." ajak Reyhan tersenyum ke adiknya.
Mereka pun segera menaiki taxi online yang sudah dipesan, karena Bayu belum pandai menyetir.
Sementara itu, masih di tempat yang sama, wanita berniqab itu tak henti memandang Reyhan sekeluarga nya sejak tadi hingga pergi menaiki taksi online.
Tak berselang lama, keluarga nya juga datang untuk menjemputnya.
"Maafkan kami yang telat menjemputmu nak." sapa laki-laki paruh baya itu ketika sudah berada didekatnya.
"Tidak apa-apa abi, aku juga baru saja sampai."
Wanita berniqab itupun mencium punggung tangannya dengan penuh takzim. Dia juga melakukan hal yang sama ke wanita paruh baya yang ada didekatnya.
Kemudian bergegas mereka memasuki mobilnya. Selama perjalanan pulang mereka pun asyik bercerita.
"Kenapa kamu terlihat senang sekali nak?" tanya bu Susi ke wanita yang sudah melepas niqab nya ketika berada dikamar.
"Apakah terlihat seperti itu umi?"
"Tentu saja nak, kebahagiaan atau kesedihan seseorang, akan selalu tergambar di wajahnya. Dan kamu tidak bisa menutupi itu Anisa."
"Doakan selalu untuk kebahagiaan Anisa ya umi."
"Tentu saja nak, tanpa kamu minta pasti umi akan selalu mendoakan seluruh anak-anak umi." jawab bu Susi dengan penuh kelembutan.
"Apa kamu mau cerita ke umi tentang hal yang membuatmu seperti ini?" tanya bu Susi sambil mengelus rambut panjang Anisa.
"Maafkan Anisa umi, seperti nya Anisa belum bisa cerita sekarang. Tapi jika sudah saatnya tiba, Anisa akan bercerita ke umi dan abi."
"Baiklah kalau itu mau mu nak, sekarang istirahatlah dulu. Pasti kamu capek selama perjalanan tadi." Bu Susi pun beranjak pergi meninggalkan Anisa dikamar nya.
"Ya Allah, jika memang dia jodohku maka dekatkanlah dengan cara yang baik. Namun, jika dia bukan jodohku, maka pisahkan lah kami dengan cara yang baik pula tanpa harus menyakiti." gumam Anisa, lalu mulai merebahkan diri di pembaringan.
Berteman yuk kak di FB.
FB: Nurul khanifah
Berikan penilaian yang baik ya agar menambah semangat author untuk terus update.
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca. Tekan like, hadiah, vote dan favoritkan ya biar karya ini makin populer 🔥🔥
__ADS_1
Terimakasih semoga sehat selalu dan semakin lancar rezekinya.😘🤗