Juragan Muda

Juragan Muda
183. Menjenguk Tiwi


__ADS_3

Keesokan harinya, dokter Adam kembali bekerja sebagaimana biasanya. Ia yang hanya sebagai dokter jaga, mengontrol kondisi tiap pasien. Tiwi juga tak luput dari pantauan nya.


Ia masuk ke ruangan Tiwi ketika ia sedang melaksanakan sholat Dhuha sambil duduk. Dokter Adam pun terpaksa duduk menunggunya sambil bercakap-cakap dengan ibunya Tiwi. Karena hanya tinggal ia seorang yang belum di periksa, maka dokter Adam pun terlihat cukup santai.


'Sepertinya dia wanita yang cukup baik. Mau melaksanakan sesuatu yang sunah padahal baru sakit.' batin dokter sambil sekilas melirik Tiwi.


Setelah Tiwi selesai sholat, bergegas ia mendekat dan memeriksa kondisi nya.


"Tangannya sudah bisa di gerakkan?"


"Sudah dok, yah walaupun masih sedikit sakit." jawab Tiwi sambil mencoba menggerakkan tangannya tapi membuatnya meringis kesakitan.


"Sering sering di pakai latihan, biar semakin lemas tangannya, begitu juga kakinya. Alhamdulillah, tidak ada sesuatu yang serius. Kemarin kamu belum bisa menggerakkan anggota tubuh mu, mungkin efek memar saja. Besok jika keadaan mu jauh lebih baik, in shaa Allah sudah bisa pulang."


"Terima kasih pak dokter." ucap keluarga Tiwi kompak.


Dokter Adam pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Setelah menyampaikan beberapa pesan, ia berpamitan keluar.


Dan di pagi yang sama, namun berbeda ruangan. Anisa sangat terkejut ketika mendapat pesan WhatsApp dari Tiwi, yang mengabarkan jika dirinya terpaksa minta ijin karena sakit. Pasalnya kemarin saat menjenguk dirinya, ia terlihat baik-baik saja.


Karena Anisa penasaran dengan kondisi Tiwi, ia mendesak Tiwi untuk mengatakan yang sebenarnya. Sehingga membuat Anisa kembali terkejut, karena sakit yang di derita Tiwi bukan sakit biasa, melainkan sakit akibat kecelakaan.


Setelah mengetahui detail kamar Tiwi, Anisa merengek mengajak Bayu untuk mengantarkan ke ruangannya.


Sudah tak ada nama Tiwi sama sekali di hati Bayu. Namun ketika ia di minta Anisa untuk mengantarkan ke ruangannya, ia merasa sungkan jika nanti di sana bertemu dengan kedua orang tua Tiwi. Karena mereka juga mengetahui hubungannya selama ini dengan Tiwi. Yang akhirnya kandas di pinggir jalan. Walaupun kesalahan ada pada Tiwi.


Tapi karena Anisa terus merengek akhirnya dengan berat hati Bayu mengantar nya. Meskipun Anisa tahu bahwa Bayu dan Tiwi dulu berpacaran. Tapi ia yakin jika suaminya tak kan mampu berpaling darinya.


Bayu mendorong pelan kursi roda yang di pakai Anisa agar tidak cepat sampai.


"Agak cepat sedikit bisa mas?" kata Anisa yang justru bertentangan dengan hati Bayu.

__ADS_1


"Ngga apa-apa pelan asal sampai sayang. Memang nya kamu ngga ingin menikmati kebersamaan kita berdua?" canda Bayu.


"Jangan bilang kamu takut bertemu dengan mantan mu?"


"Dia bukan hantu ngapain harus takut sayang. Justru yang aku takut kan itu kalau kamu ngambek. Jujur selama kamu hamil aku sangat stress, karena sikap mu yang aneh-aneh."


Anisa terkekeh mendengar ungkapan hati suaminya.


"Kok malah ketawa? Nanti kalau hamil anak ke dua jangan seperti itu lagi ya."


"Itu semua kan bawaan bayi. Mana bisa di tawar mas. Kamu ada ada saja." lagi Anisa terkekeh. Dan akhirnya mereka pun sampai di ruangan Tiwi.


"Assalamu'alaikum." ucap Anisa sambil mendorong pintu ruangan Tiwi.


"Wa'alaikumussalam." balas Tiwi dan ibunya. Karena bapaknya memang harus tetap berjualan hari itu.


Mereka pun saling melempar senyum.


"Bagaimana keadaan mu Tiwi?" tanya Anisa ketika sudah berada di samping Tiwi.


Selama pembicaraan itu berlangsung, Bayu selalu melihat istrinya yang antusias bertanya, tanpa memandang Tiwi dan ibunya.


Bukan maksud tak menghargai mereka, tapi hanya ingin tetap menjaga hati untuk istri tercintanya. Apalagi Anisa telah memberikan nya seorang anak perempuan yang cantik seperti ibunya.


Sehingga membuat Bayu sangat merasa beruntung, ketika putus dengan Tiwi. Malah mendapat jodoh seperti Anisa yang baik luar dalam, cantik jelita dan pandai dalam segala hal. Serasa mendapat durian runtuh.


Walaupun Tiwi sudah berubah, sama sekali Bayu tak bersimpati padanya.


Setelah cukup lama menjenguk Tiwi, Anisa pamit kembali ke ruangan nya. Ia pun berpamitan dengan sopan. Begitu juga dengan Bayu yang melempar senyum sambil membungkukkan badan.


"Mas, kenapa tadi kamu diam saja?" ucap Anisa ketika sudah berada di luar dan kini berjalan menuju kamarnya.

__ADS_1


"Meskipun aku diam, tapi mendengarkan kan?" Padahal kamu juga baru sakit, tapi masih bisa memikirkan orang lain, benar-benar berhati malaikat kamu sayang."


Anisa selalu tersenyum malu mendengar pujian yang di lontarkan suaminya untuknya, meskipun hampir setiap hari ia mendengarnya. Dan justru karena itu lah yang membuat Anisa meleleh berada di samping Bayu.


Tak hanya itu saja, melihat suaminya semakin rajin mengerjakan sholat dan mau belajar memperdalam ilmu agama juga menjadi salah satu kebahagiaan tersendiri di hati Anisa.


Ternyata memang tidak salah keputusannya menerima Bayu menjadi suaminya.


Mencari pasangan itu bukan berdasarkan rasa suka atau rasa cinta saja. Tapi ada yang lebih penting dari itu.


Kita mampu membuat pasangan kita berubah menjadi insan yang lebih baik. Karena kebaikan itu tidak hanya bermanfaat di dunia saja, tapi berharap kebaikan itu juga bisa sampai ke akhirat.


Sementara itu di ruangan Tiwi. Yang hanya ada dirinya dan ibunya, keduanya tampak sedang bercakap cakap.


Ibunya menceritakan tentang rasa terkejutnya ketika melihat Bayu mendorong seorang wanita yang wajahnya tidak terlihat sama sekali karena tertutup cadar. Tak terbersit dalam benaknya jika wanita itu adalah istri Bayu.


Ia memuji segala kebaikan yang melekat dalam diri Anisa. Tiwi yang mendengar hal itu juga tak merasa marah, karena memang Anisa sangat baik. Ia juga sangat mendukung hubungan Bayu dan Anisa.


Bahkan Tiwi merasa beruntung bisa kenal dengan Anisa, karena berkat dirinya, ia bisa berubah menjadi seperti sekarang. Yang menurutnya lebih baik dari pada dulu.


Keesokan harinya, Anisa dan bayinya sudah di ijinkan pulang. Namun Bayu tak kunjung datang untuk menjemputnya. Sehingga membuatnya sedikit kecewa.


Setelah menunggu sampai siang, akhirnya Bayu menyembulkan kepalanya di balik pintu sambil mengucapkan salam. Dan Anisa pun membalas salam itu sambil cemberut.


Setelah memastikan semua tak ada yang tertinggal, mereka beriringan keluar dari kamar rawat dan berjalan menuju tempat Bayu memarkirkan mobilnya.


Anisa dan bu Rohmah mengernyitkan dahi ketika melihat Bayu membuka pintu mobil yang bukan mobilnya Reyhan.


"Mas, itu kan bukan mobilnya mas Reyhan." ucap Anisa mengingatkan.


Bayu tersenyum simpul menanggapi ucapan istrinya.

__ADS_1


"Memang benar ini bukan mobilnya kak Reyhan. Karena ini mobil kita. Walaupun ngga baru yang penting aku belinya cash pakai uang tabungan ku sendiri sayang. Sebagai hadiah karena kamu sudah memberikan ku seorang anak yang cantik."


Anisa terharu dengan ungkapan hati suaminya. Hingga tak sadar menitikkan air mata haru. Bu Rohmah yang melihat itu pun juga ikut terharu dan menitikkan air mata dan tersenyum bahagia.


__ADS_2