Juragan Muda

Juragan Muda
194. Di sepertiga malam


__ADS_3

Malam itu Reyhan terbangun.


Ketika melihat jam di handphone nya sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Beringsut ia turun dari ranjang king size milik Laura agar tidak mengganggu ia yang tengah tertidur pulas.


Bergegas ia ke kamar mandi untuk buang air kecil, lalu mengambil air wudhu. Rutinitas yang tak pernah terlewatkan adalah melaksanakan sholat tahajud di sepertiga malam. Ada banyak ketenangan batin yang ia dapat selama melaksanakan ibadah sunnah itu.


"Ya Allah, segala yang ada di langit dan di bumi adalah milik mu, dan akan kembali pada mu jika saatnya sudah tiba. Dan inilah yang saat ini kami alami. Meskipun berat, meskipun sulit, kami tak bisa berbuat apapun, kecuali mengikhlaskan. Ya Allah ya Rabb ku, semua berjalan sesuai kehendak Mu. Semoga Engkau permudah kami dalam mengikuti skenario yang telah Engkau buat." Reyhan memanjatkan doa di saat ia telah selesai mengerjakan sholat di sepertiga malamnya. Ia juga tak lupa mendoakan kesembuhan untuk istrinya yang sangat di cintai.


Ketika telah selesai mengerjakan sholat, ia mengambil Al Qur'an yang berada di meja nakas dekat tempat tidur Laura secara pelan-pelan. Lalu mengambil jarak beberapa centimeter dari tempat tidur Laura, agar suaranya ketika mengaji tidak mengganggu istrinya.


Lantunan ayat suci yang keluar dari bibirnya mengalun dengan sangat merdu dan indah. Membuat hatinya lebih tenang dalam menghadapi cobaan hidup ini.


Tidak hanya berefek pada Reyhan sendiri, tapi suaranya yang lembut itu juga berefek pada Laura. Terlihat sekali ia sangat nyenyak tidur. Wajahnya juga tampak lebih tenang.


Tanpa terasa sayup-sayup terdengar suara adzan subuh. Bergegas Reyhan kembali berwudhu lalu mengerjakan sholat fajar di lanjutkan sholat subuh.


Setelah selesai melaksanakan sholat subuh, ia kembali naik ke atas ranjang tempat tidur. Karena ia tak boleh mengerjakan apapun selama berada di rumah Laura. Tugasnya hanya satu, yaitu menemani Laura.


"Kalau Miss Laura sudah sembuh, kita sholat berjamaah ya." bisik Reyhan sambil menatap wajah cantik istrinya.


Ia merapikan rambut Laura yang sedikit menutupi wajahnya. Lalu mengecup sekian menit di keningnya. Hatinya berdesir setiap kali melakukan hal sederhana itu.


"Syafakallah, laa ba'sa thahurun in shaa Allah." doa tulus Reyhan untuk Laura sebelum ia kembali tidur.


Sinar mentari mulai menembus melewati gorden jendela. Membuat Laura mengerjapkan matanya karena silau.


Ia menoleh ke kiri-kanan dan melihat Reyhan yang tidur pulas, dengan satu tangannya melingkar di perut Laura. Sehingga membuat ia tersenyum dan mengusap wajah suaminya dengan lembut.


"Aku sangat mencintaimu mas." bisik Laura lembut lalu hendak mengecup kening suaminya. Tapi justru membuat Reyhan terbelalak kaget.


"Miss Laura sudah bangun?" ucap Reyhan sambil mengucek matanya.


"Baru saja mas." Reyhan tampak silau melihat cahaya matahari yang sudah menembus masuk. Ia meraba mencari handphonenya.


"Astaghfirullah, sudah jam 9." pekik nya terkejut.


"Memang kamu mau kemana mas?" Laura mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


"Tidak kemana-mana sayang. Bukan kah pekerjaan ku yang paling utama adalah menjaga mu?" Reyhan mencubit gemas pipi Laura sambil menyunggingkan senyum.


Reyhan segera menyiapkan air hangat untuk membersihkan tubuh Laura. Setelah itu ia menelpon bibinya untuk mengantarkan sarapan ke kamar.


Namun lagi-lagi, Laura hanya mau makan masakan buatan suaminya. Sehingga Reyhan harus turun ke bawah untuk sekedar memasak.


"Den Reyhan sudah bangun?" tanya bibi. Ia kaget melihat Reyhan yang tiba-tiba sudah berdiri di dapur.


"Sudah lah bi. Kalau belum, ngga mungkin bisa sampai dapur. Memang nya aku punya ilmu Kanuragan yang jiwanya bisa pergi kemana-mana?"


Bibi terkekeh mendengar candaannya.


"Lhololoh, den Reyhan mau ngapain?" bibi mengernyitkan keningnya, ketika melihat Reyhan membuka satu persatu rak penyimpanan.


"Mau masak untuk istri tercinta bi. Bibi tolong bilang ke mama untuk menemani Miss Laura di kamar ya. Aku mau masak bubur sumsum dulu." titah Reyhan tanpa memandang wajah bibinya, karena mulai asyik meracik bahan.


Bibi terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Reyhan yang luwes meracik bahan. Segera pikiran nya tersadar, lalu dengan tergopoh-gopoh mencari keberadaan majikannya.


Setelah melaksanakan tugasnya, bibi sudah kembali lagi ke dapur. Aroma gula Jawa bercampur daun pandan menyeruak menusuk Indra penciuman.


"Hem, harum sekali." gumam bibi.


Tak terasa sudah 1 jam Reyhan uprek di dapur hanya untuk membuatkan bubur sumsum Laura.


"Huft, beres sudah. Tinggal di antar ke kamar." gumamnya.


"Lhoh, sejak kapan bibi ada di sini?" Reyhan tampak kaget dengan kehadiran bibinya.


Bibi terkekeh melihat reaksi Reyhan.


"Sudah dari tadi den. Den Reyhan kan lagi sibuk masak, jadi ngga ngeh dengan kedatangan bibi. Hem, seperti nya baunya enak den." bibi menyunggingkan senyum.


"Ambil saja Bi, tuh di panci masih banyak. Tawarkan sama teman-teman nya juga ngga apa-apa kok. Nanti kalau habis bikin lagi." tawar Reyhan dengan ramah.


Ia segera meninggalkan bibi dan berjalan menuju kamarnya. Ia kasian jika istrinya terlalu lama menunggu.


Mama pun juga memuji bau masakan Reyhan, ketika ia sudah masuk kamar.

__ADS_1


"Pantas saja Laura betah di sana, rupanya kamu juga jago masak ya Rey?"


Reyhan tersipu malu dengan ucapan mertuanya.


"Hanya masakan sederhana yang bisa Reyhan buat ma." balas Reyhan.


Ia segera membantu Laura duduk, lalu menyuapinya.


Mama yang tak mau mengganggu kebersamaan keduanya, segera keluar kamar.


_____


Seminggu 2 kali Laura cek up ke rumah sakit untuk melihat perkembangan nya setelah kuret. Dan hasilnya sudah cukup bagus. Walaupun masih sedikit merasakan nyeri di jalan masuknya, namun itu adalah hal yang wajar. Perlahan semua akan membaik.


Dan tanpa terasa sebulan sudah Laura berada di rumah kedua orang tuanya sendiri. Keadaan nya juga berangsur-angsur membaik.


Ia sudah bisa melakukan aktivitas seperti biasanya. Seminggu yang lalu, Reyhan juga sudah kembali masuk kerja di showroom dan mulai rutin mengecek counternya.


Untuk mengisi waktunya, ia memperbanyak membaca Al Qur'an atau mendengarkan tausyiah lewat aplikasi handphone nya.


"Assalamu'alaikum."


Laura menoleh ke pintu masuk dan melihat Rosyidah dan Anisa.


"Wa'alaikumussalam." jawab Laura dengan mata yang berbinar melihat kehadiran kedua sahabatnya itu.


Mereka saling berpelukan untuk melepas rindu yang memenuhi ruang hati masing-masing.


"Rumah jadi sepi La kalau kita sama sama pergi." kekeh Anisa mengawali obrolan mereka siang hari itu.


Laura tersenyum menanggapi ucapan Anisa. Memang benar, sejak kehadiran mereka berdua di rumah suami mereka, tampak lebih ramai dari pagi hingga malam menjelang.


Sehingga membuat Laura juga rindu dan ingin kembali pulang ke rumah mertuanya.


"Kalau aku sudah sembuh beneran, kita ramaikan rumah itu lagi Nis."


"Kamu juga boleh ikut Ros, jangan diam saja." imbuh Anisa, lalu mereka bertiga terkekeh.

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️



__ADS_2