
"Pakaian syar'i?" gumam Tiwi pelan.
"Iya mbak, pakaian syar'i. Seperti yang saya pakai sekarang."
"Oh....." Tiwi hanya bisa tersenyum kikuk.
"Niat saya tidak hanya sekedar berdagang untuk mencari untung semata mbak. Tapi juga bisa menjadi ladang dakwah bagi saya."
"Maksudnya mbak Anisa apa?"
"Masyarakat masih awam soal pakaian yang saya kenakan saat ini. Maka dari itu saya ingin memperkenalkan nya pelan pelan. Karena menutup aurat hukumnya wajib bagi semua wanita yang sudah baligh.
DEG!
Hati Tiwi ikut tersentil dengan ucapan Anisa barusan. Walaupun Anisa tidak sedang menyinggung dirinya, tapi Tiwi juga sadar diri, jika penampilan nya saat ini memang bagaikan bumi dengan langit jika disandingkan dengan Anisa yang jauh lebih tertutup.
"Maaf mbak Tiwi, saya tidak bermaksud menyinggung mbak." Anisa segera meminta maaf ke Tiwi karena melihat Tiwi yang diam setelah mendengarkan penjelasan nya.
"Eh, tidak apa-apa kok mbak Anisa." Tiwi segera tersenyum agar Anisa tak merasa bersalah.
"Okay, masih betah disini atau mau buru-buru pulang?" tanya Anisa karena waktu sudah semakin sore.
"Ya ampun ngga sadar, tahu tahu sudah sore saja. Ya sudah saya pamit pulang dulu ya mbak. Besok pagi saya akan kesini."
"Iya mbak Tiwi, hati-hati ya."
Keduanya lantas menaiki sepeda nya masing-masing dan melajukannya berlainan arah.
"Dari mana kamu nduk?" bu Siti seketika tersenyum lega melihat Tiwi yang tiba-tiba sudah berdiri di kongliong dapur.
"Tiwi tadi mencari pekerjaan bu."
"Oh ya, terus gimana?"
"Besok Tiwi sudah diijinkan masuk kerja bu."
"Alhamdulillah, secepat itu kah? Memangnya kerja dimana nduk?"
"Di toko pakaian syar'i bu."
"Di toko pakaian syar'i?" bu Siti sedikit mengerucutkan keningnya mendengar nama toko yang disebutkan Tiwi.
"Iya bu, tempatnya tak jauh dari sini. Hanya sekitar 15 menit saja kok bu. Doakan semoga betah kerja di sana ya bu." Tiwi menggenggam tangan ibunya.
"Tentu nduk, ibu akan selalu mendoakan yang terbaik untuk mu." bu Siti membalas senyuman Tiwi dan mengusap pipi Tiwi yang cubi itu.
__ADS_1
"Makasih ya bu, sekarang Tiwi mau mandi dulu."
_____
Keesokan harinya Tiwi sudah bersiap siap menuju ke toko Ar Rahmah milik Anisa.
"Tiwi pamit berangkat kerja dulu ya pak, bu." Tiwi mendekati kedua orang tua nya yang sedang membuat cilok di dapur.
"Iya....." belum selesai berbicara kedua orang tua Tiwi malah terbengong dengan mulut yang sedikit terbuka karena melihat Tiwi yang berdandan berbeda dari biasanya.
"Bukannya kamu.... mau kerja nduk?" setelah sekian detik bengong akhirnya bu Siti bersuara.
"Iya memang Tiwi mau berangkat kerja, kan Tiwi pamitnya juga begitu bu tadi." Tiwi tertawa kecil menanggapi ibunya yang bingung.
"Ya sudah Tiwi berangkat sekarang ya." Tiwi pun melangkah pergi meninggalkan keduanya yang masih bingung.
"Kenapa dengan anak itu ya pak?"
"Hush, ibu ini, anak berubah jadi baik kenapa ngomongnya malah seperti itu? Harusnya kan bersyukur."
"I_iya pak, ibu juga bersyukur kok."
"Doakan saja semoga seterusnya bisa Istiqomah bu. Terus terang bapak malah suka dengan penampilan Tiwi yang seperti tadi, memakai jilbab membuatnya semakin cantik."
"Assalamu'alaikum." suara Anisa mengejutkan Tiwi yang sedang duduk selonjoran di depan teras toko karena toko masih tutup.
"Maa syaa Allah, mbak Tiwi." Anisa tersenyum semringah manakala melihat Tiwi dengan penampilan yang berbeda.
"Mbak Tiwi cantik sekali." Anisa memujinya dengan tulus.
"Mbak Anisa bisa saja, pasti masih lebih cantik mbak Anisa." Tiwi tertunduk malu dengan pujian Anisa barusan.
"Semoga bisa Istiqomah ya mbak Tiwi." Anisa memeluk erat Tiwi. Tiwi pun segera membalas pelukan Anisa. Entah kenapa Tiwi yang baru kenal sehari dengan Anisa langsung merasa nyaman.
"Yuk masuk." ajak Anisa dan menyudahi pelukannya.
Keduanya segera masuk ke toko, dan mulai membersihkan toko, merapikan berbagai barang yang masih berserakan dan menyusunnya pada sebuah rak yang sudah tersedia.
Karena terlalu bersemangat nya mengerjakan pekerjaan masing-masing tak sadar sudah memasuki waktu sholat dhuhur. Anisa segera mengajak Tiwi untuk menunaikan sholat dhuhur terlebih dahulu sebelum makan siang.
"Sementara Mbak Tiwi kerja disini sendiri dulu ya, jika suatu saat usaha saya ini bisa berkembang pesat in shaa Allah akan saya carikan teman untuk menemani mbak Tiwi." ucap Anisa di sela-sela makan siang.
"Iya mbak Anisa, saya menurut saja dengan mbak."
Selama makan, Tiwi merasa ada yang aneh dengan Anisa karena tidak melepas niqab nya sama sekali. Hanya menyingkap sedikit bagian bawahnya untuk memasukkan makanan ke mulut.
__ADS_1
"Kamu kenapa melihat ku seperti itu mbak?" tanya Anisa karena melihat Tiwi yang tak berkedip menatap nya.
"Eh, eng_enggak apa-apa kok mbak... Anisa." Tiwi sedikit gelagapan karena ketahuan sedang memperhatikan Anisa.
"Kenapa mbak Anisa mau menerima saya yang tidak bisa berpakaian seperti mbak Anisa?"
"Pakaian seseorang itu bukan menjadi tolok ukur bagi saya mbak Tiwi. Karena yang penting dia mampu memegang amanah dengan sebaik-baiknya. In shaa Allah saya yakin mbak Tiwi adalah orang yang dikirimkan oleh Allah untuk membantu saya mengembangkan usaha saya ini." dan jawaban Anisa itu berhasil membuat hati Tiwi bagai disiram air dingin yang menyejukkan.
"Terimakasih ya mbak." ucap Tiwi sambil menatap Anisa.
"Kenapa harus berterimakasih terus mbak, kita adalah partner kerja. Ayo buruan makannya dihabisin."
"Mbak Tiwi, ini ada sesuatu untuk mbak." ucap Anisa ketika mereka mau pulang.
"Apa ini mbak?" tanya Tiwi dengan wajah berkerut.
"Buka saja dirumah. Yuk pulang, sudah sore lho." sengaja Anisa tak mengatakan yang sebenarnya.
"Terimakasih mbak Anisa."
"Assalamu'alaikum." Tiwi mengucapkan salam ketika sudah pulang. Sesuatu yang tak pernah ia lakukan selama ini.
"Wa'alaikumussalam." jawab bapaknya yang sedang mengaji.
"Baru pulang ya nduk?"
"Iya pak, Tiwi pamit bersih bersih dulu ya." balas Tiwi setelah mencium tangannya bapaknya. Selama ini entah kenapa Tiwi memang jarang dekat dengan bapaknya. Dan setelah kemarin melihat Anisa yang mencium tangan abinya ketika pulang kerja, Tiwi ingin melakukan hal yang sama.
Setelah bersih bersih, Tiwi segera menghampiri bungkusan yang tadi diberi Anisa.
"Apa ya kira kira isinya? Aku kan baru kerja sehari, itu pun cuma bersih bersih ruangan, kenapa sudah dikasih hadiah segala." ucap Tiwi yang penasaran sambil membolak-balik bungkusan itu.
Perlahan-lahan ia pun mulai menyobek ujung pinggir nya.
"Hah, baju seperti punya nya mbak Anisa?" gumam Tiwi ketika mulai membentangkan hadiah itu.
"Ini kan harganya lumayan mahal, kalau ngga salah lihat, tadi aku lihat harga nya sekitar 300rb. Kenapa mbak Anisa baik banget ya sama aku. Padahal kita kan baru kenal." gumam Tiwi lagi karena tak percaya.
Karena diliputi rasa penasaran, akhirnya Tiwi segera mencoba setelan gamis itu dan mematut diri di depan cermin.
Bersamaan dengan itu, tiba-tiba bu Siti menyelonong masuk ke kamar Tiwi membawa baju yang sudah disetrika dan hendak memasukkan ke almari.
"Astaga, si_siapa kamu?"
Hai kak, hadiah pulsa masih menanti ya, jangan lupa untuk terus tinggalkan jejak setelah membaca ππ
__ADS_1
Dan, sambil menunggu author update bab selanjutnya, bisa mampir juga disalah satu karya temanku yang ngga kalah seruππ