Juragan Muda

Juragan Muda
189. Kehamilan Laura


__ADS_3

Karena tak sabar, Reyhan menelpon pak Atmaja. Ia memberitahukan kabar gembira itu padanya. Sedangkan Laura tersenyum menatap suaminya yang tampak sangat antusias dalam bercerita melalui panggilan telepon nya. Tak berselang lama, panggilan pun di akhiri.


Semua masih berkumpul di kamar Reyhan. Bu Rohmah memberikan banyak nasehat pada Reyhan dan Laura untuk menjaga baik baik kondisi ibu dan janinnya, karena kandungan Laura sangat lemah. Mereka pun mendengarkan baik baik nasehat ibu.


Meskipun dulu kandungan Anisa kuat, ia juga tetap menyimak baik ucapan ibu mertuanya, karena tidak tahu apa yang akan terjadi kelak ketika ia memiliki anak lagi.


Bu Rohmah menyuruh Reyhan mengambilkan makan malam untuk Laura, agar segera bisa meminum obatnya.


Dengan gerak cepat Reyhan mengambilkan sepiring nasi penuh dengan lauk pauk serta sayur. Lalu segera kembali ke kamar.


Laura membulatkan matanya menatap piring yang di bawa Reyhan ketika ia sudah duduk di samping Laura. Ternyata yang fokus ke piring Reyhan tidak hanya Laura saja, tapi juga mereka yang masih berada di kamar.


"Apa kita akan makan sepiring untuk serumah?" celetuk Laura.


"Ini cuma untuk istri dan calon bayi ku saja Miss." balas Reyhan dengan entengnya.


Sehingga membuat mereka yang melihat terkekeh geli. Namun Reyhan tak begitu mempersoalkan mereka. Justru ia mendekatkan sesendok nasi ke mulut Laura hendak menyuapinya.


"Ayo, hak." Reyhan menyuruh Laura membuka mulutnya karena ia masih saja bengong.


"Ayo non, di makan dulu. Mungkin Reyhan terlalu bersemangat bakal menjadi seorang ayah, hingga nasi semagic com di tuang semua." cicit bu Rohmah. Mereka pun kembali terkekeh.


Akhirnya Laura pun membuka mulutnya menerima suapan. Baru 2 sendok makan, tiba-tiba terdengar suara deru mobil yang sangat ia hafal.


Dan tanpa di beri komando, Bima segera membuka pintu untuk tamu. Ia segera menyalami kedua orang tua Laura lalu mempersilahkan keduanya masuk.


"Silahkan masuk pak, bu, Miss Laura baru di suapin kak Reyhan makan." ucap Bima dengan sopan, yang terdengar dari kamar Reyhan.

__ADS_1


"Terima kasih Bim." ucap pak Atmaja, lalu ia dan Bu Ani melangkah masuk mengikuti Bima.


"Assalamu'alaikum." ucap kedua orang tua Laura.


"Wa'alaikumussalam." balas mereka kompak.


Kedua orang tua Laura lalu melangkah masuk. Bu Ani meletakkan parcel buah di meja rias. Lalu keduanya bersalaman dengan Bayu dan Anisa yang masih berdiri.


Keduanya kini mendekati Laura yang bersandar di dinding tembok. Sebelumnya mereka juga menyalami bu Rohmah dan Reyhan.


Melihat pemandangan yang semrawut itu, Bima berinisiatif mengambil tikar dan menggelar di lantai kamar kakaknya. Tak hanya itu saja, dengan sigap ia juga membawakan cemilan dan minuman untuk tamunya.


"Terima kasih Bima." semua mengucapkan terima kasih pada si kecil yang sangat pintar dan mengerti keadaan itu.


"Oh iya, sampai lupa. Miss Laura lanjutin makan dulu gih." Reyhan mengambil sepiring nasi yang ia taruh di meja dekatnya tadi, lalu kembali menyuapi Laura.


Kedua orang tua Laura mengernyitkan dahi ketika melihat sepiring nasi yang penuh dengan lauk pauk dan sayur yang di bawa Reyhan itu.


"Mas Reyhan ini ma, ada ada saja, ngambilin aku nasi sebanyak ini. Sudah seperti tukang kuli bangunan saja makannya." Laura mengerucutkan bibirnya, sengaja mengadu pada mamanya. Sehingga membuat kedua orang tua Laura terkekeh.


"Saya cuma ingin Miss Laura dan bayinya sehat pa, ma." ucap Reyhan tak mau di salahkan.


Walaupun mereka kembali terkekeh dengan penjelasan Reyhan, namun dalam hati sangat memuji kebaikan dan perhatian yang ia berikan untuk Laura.


Kedua orang tua Laura sangat bersyukur memiliki menantu seperti Reyhan, karena tak pernah berubah perhatian nya pada anaknya, justru malah semakin bertambah.


Setelah mereka berhenti terkekeh, mulai lah mereka bercakap-cakap tentang kehamilan Laura.

__ADS_1


Untuk merayakan kebahagiaan itu sebenarnya keluarga pak Atmaja ingin mengadakan syukuran. Namun melihat Laura yang terlihat lemah, membuat mereka harus menunda acara itu.


Bu Ani sebagai seorang ibu, tak tega melihat anaknya mengandung dalam keadaan lemah seperti itu. Ia ingin membantu merawat Laura. Tentunya Laura harus pindah ke rumah orang tuanya.


Namun lagi-lagi Laura menolak, dengan alasan udara di desa jauh lebih segar dan menenangkan. Kicau burung yang menyambut pagi juga lebih asyik terdengar di telinga dari pada suara bising kendaraan. Dan tentunya tinggal di rumah Reyhan lebih ramai dan semarak karena anggota keluarganya lebih banyak. Apalagi melihat baby Zakira dan mendengar tangisannya membuat nya tambah tak sabar menantikan bayinya lahir.


Meskipun tadi sewaktu tiba di kamar Reyhan di kejutkan dengan keadaan kamar Reyhan yang menurut orang tua Laura sempit, tapi hal itu bukan menjadi tolok ukur kebahagiaan untuk anaknya. Karena Laura menikmati dan mensyukuri itu semua.


Pak Atmaja menyuruh Reyhan untuk lebih mengawasi Laura. Ia tak ingin terjadi apa-apa dengan anak dan calon cucunya.


Dan selama itu pula, pak Atmaja mengijinkan Reyhan untuk tidak masuk kerja. Agar benar-benar fokus mengurus keduanya. Meskipun begitu, pak Atmaja tetap akan mengirimkan sejumlah uang jajan untuk Reyhan dan Laura melalui rekening nya.


Selama pembicaraan itu, Laura hanya menjadi pendengar yang baik, sembari menjawab seperlunya saja. Karena hatinya masih seakan tak percaya dengan keajaiban yang datang untuk nya.


Hingga malam menjelang, barulah kedua orang tua Laura berpamitan pulang. Karena tidak mungkin keduanya akan menginap di rumah mertua Laura yang sangat sempit itu, namun sangat nyaman untuk di tinggali. Bu Ani berjanji akan sering sering menengok keadaan Laura.


"Jaga diri baik-baik ya sayang." Bu Ani mengecup kening Laura, lalu bersalaman dengan semua orang.


Kini tinggallah Laura dan Reyhan berada di kamar. Karena semua orang sudah kembali ke kamar masing-masing setelah melaksanakan sholat isya' yang tertunda tadi.


Reyhan memiringkan badannya menghadap Laura, sambil mengusap pelan perutnya yang masih datar itu. Laura yang tidur terlentang hanya memiringkan kepalanya menatap wajah sang suami. Sehingga keduanya saling beradu pandang. Belum ada pembicaraan yang terjadi selain tatapan cinta yang sarat makna.


"Terima kasih sayang, sudah mau melakukan ini semua. Bahkan kamu hingga sakit sakit seperti ini demi mengandung calon bayi kita. Titip dia selama 9 bulan dalam perut mu ya. Jika kamu atau dedek bayinya mau sesuatu, jangan ragu minta sama aku papanya."


'Kamu bicara apa sih mas? Memang sudah kodratnya kalau wanita itu mengandung. Ada yang kuat ada yang lemah. Mungkin aku termasuk yang lemah. Tapi tetap saja aku ngga merasa keberatan melewati ini semua, demi bayi yang tumbuh dalam perut ku."


"Dedek bayi, jangan nakal dalam perut mama mu ya?" ucap Reyhan di dekat perut Laura sambil mengusap nya. Laura pun membalas dengan tersenyum sambil mengusap pelan kepala suaminya.

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️



__ADS_2