Juragan Muda

Juragan Muda
31. Silaturahim 2 keluarga


__ADS_3

"Em kenapa mas?" potong Tiwi cepat karena hari sudah semakin sore ditambah rasa malu pun seakan enggan hilang dari dirinya atas kejadian tadi.


"Em.... Tiwi... kalo kamu jadi pacarku mau ngga?" akhirnya kalimat yang selama ini ditahan Bayu itu pun lolos juga dari mulutnya.


Padahal dalam benaknya ingin menembak Tiwi dengan cara yang romantis seperti sinetron sinetron di tv.


Tapi hatinya tak kuasa untuk menahan nya lebih lama lagi.


Sejenak Tiwi tertegun dengan perasaan yang bercampur aduk seperti es campur yang nyatanya nyegerin. Tapi, yang menyatakan perasaan bukan orang yang selama ini dia harapkan.


"Emm... aku permisi pulang dulu ya mas."


"Lhoh, kan pertanyaan ku belum di jawab kok sudah pulang?" Bayu langsung menghembuskan nafas kasar karena tak sesuai harapan.


"Em.... aku... juga bingung mas, mau jawab apa." pandangan nya menunduk kebawah sambil meremas jemari tangannya.


"Em, aku minta maaf ya Wi kalo terkesan memaksa, kamu berpikir dulu juga ngga papa. Aku bersedia kok nunggu jawabannya. Asal yang bisa bikin aku terbang ke langit ketujuh."


"Mau jawabanku atau mau naik buroq (Kendaraan yang dinaiki Rasulullah ketika isra' mi'raj) mas, kok sampai langit ke tujuh?"


"Dua-duanya Tiwi sayang." karena terlalu gemasnya sampai tak sadar mencubit kedua pipi Tiwi.


"Arghhh... sakit mas."


"Astaga? Maafkan aku yang khilaf Wi." Bayu mengapit kedua tangan Tiwi dan mengucapkan permohonan maaf berkali-kali.


Tiwi pun hanya mengangguk dan berpamitan pulang.


_____


"Kok jadi kebiasaan toh nduk, habis pulang langsung tidur." suara bu Siti mengagetkan Tiwi yang masih rebahan di kasur.


"Capek lagi?" tanya bu Siti sambil memijit punggung anaknya. Dan Tiwi hanya mengangguk.


"Tidur nya ditahan sebentar lagi, ini udah mau Maghrib lho."


"Eh kata bapak, nak Bayu sudah pulang ya dari rumah sakit? Nanti anterin ibu kesana ya?"


"Lhoh, ngapain kesana bu?" Tiwi terkejut dengan permintaan ibunya lalu segera duduk.


"Ya mau menjenguk toh nduk, kok ngapain. Keluarga mereka sudah baik sama keluarga kita, harusnya kita bersyukur dan berterima kasih."


"Kenapa ngga minta tolong dianter bapak saja bu?" Tiwi merasa keberatan dengan permintaan ibunya.


Karena masih belum bisa melupakan kejadian tadi sore.

__ADS_1


"Bapak habis jualan langsung ke rumah pak Bonar yang mau punya hajatan itu. Jadi kamu harus segera mandi dan anterin ibu ya nduk."


Tiwi pun menghela nafas panjang lalu mengangguk.


Setelah mandi segera ke kamar mematut diri didepan cermin. Rambut panjang yang lurus dan masih terlihat basah. Memoles wajah nya tipis, mengenakan kaos warna putih dipadukan outer warna biru dan celana jeans biru membuat Tiwi semakin terlihat cantik.


"Wi, ayo buruan." ibunya sudah berteriak memanggil namanya.


Lalu Tiwi segera menyambar Sling bag yang ada di meja rias nya.


"Cantik sekali Wi, kayak mau ketemu pacar saja." ibunya menowel dagu Tiwi.


"Ah ibu, ayok buruan naik." Tiwi pun segera menjalankan motor matic nya.


Menempuh perjalanan 15 menit akhirnya mereka sampai. Tiwi segera memarkirkan motornya di bawah pohon mangga.


"Sudah sampai bu." kata Tiwi sambil membuka helm.


Biasanya Tiwi jarang pake helm, karena bisa menutupi kecantikan nya.


Tapi karena banyaknya kasus kena denda tilang dimanapun tempat nya oleh pihak yang berwajib melalui camera tersembunyi akhirnya lebih memilih cara aman, dengan mengenakan helm.


Termasuk ketika hendak belanja di minimarket yang letaknya hanya di pinggir desa saja juga harus mengenakan helm.


Entahlah, demi menegakkan peraturan atau hanya akal-akalan saja. Yang pasti Tiwi cari aman atau uangnya yang akan melayang.


"Ya sudah bu, ayo kita masuk." ajak Tiwi karena tak mau berlama-lama di depan rumah.


Tok..... Tok..... Tok


"Assalamu'alaikum." Bu Siti mengucap salam. Sesaat pandangannya beredar ke setiap sudut rumah itu.


'Hunian yang cukup asri, karena banyaknya tanaman hias yang berjejer rapi dipinggiran rumah dan depan counter.' batin bu Siti.


"Wa'alaikumussalam." jawab Bu Rohmah sambil membuka pintu.


"Nak Tiwi? Ini... ibunya?" tanya bu Rohmah sedikit kaget, karena baru saja Tiwi pulang tapi kini sudah sampai rumah Bu Rohmah lagi.


"Iya bu, kami mau menjenguk mas Bayu." Tiwi pun mencium tangan Bu Rohmah dengan takzim.


Lalu bu Siti dan bu Rohmah saling berjabat tangan dan cipika-cipiki.


"Mari mari, silahkan masuk kalo begitu."


Mereka berjalan beriringan menuju ruang tv dimana Bayu sedang duduk sambil menonton siaran sepak bola.

__ADS_1


"Bay, ada Tiwi dan ibunya." Bayu pun segera menoleh dengan pandangan terkejut, tak menyangka jika Tiwi akan menjenguk lagi.


"Sakit apa nak?" Sapa Bu Siti sambil menyalami Bayu. Begitu pun Tiwi juga melakukan hal yang sama.


Setelah nya bu Siti meletakkan parsel buah di dekat Bayu. Dan percakapan dua keluarga itupun mengalir begitu seru.


Kadang Bayu mencuri-curi pandang ke arah Tiwi yang terlihat sangat cantik itu. Dan sesaat mata mereka saling bertemu pandang.


Tiwi yang menyadari tengah di tatap Bayu, mengalihkan pandangannya pada kedua ibu yang sedang bercerita.


Dan tak terasa jam dinding sudah menunjukkan pukul 8. Itu artinya sudah hampir 2 jam mereka bercengkrama.


"Saya pamit pulang dulu ya bu kalo begitu, sudah malam." pamit Bu Siti.


"Lhoh kok buru buru." Bu Rohmah menimpali.


"Kasian anak-anak dirumah ngga ada yang nemenin. Bapak ke tempat orang punya hajat bu."


"Oh ya, saya antar ke depan yuk bu." balas Bu Rohmah.


"Iya bu. Nak Bayu, cepet sembuh ya. Biar bisa kerja bareng sama Tiwi lagi."


"Oh iya bu, tentu saya ngga tega tinggalin Tiwi kerja sendiri." pandangan nya sekilas melirik Tiwi yang tampak salah tingkah.


Akhirnya setelah berpamitan ke Bayu, pasangan ibu dan anak itu di antar bu Rohmah sampai ke teras depan rumah.


"Jangan kapok main kesini ya bu, Wi."


"Iya bu." jawab ibu dan anak itu bersamaan.


"Lho, habis dari mana ini bu?" tanya pak Somad tapi pandangannya tak beralih dari siaran sepak bola.


"Jenguk nak Bayu pak. Ternyata keluarga mereka ramah ya pak. Nak Bayu juga lucu orangnya. Tapi, masih penasaran dengan yang punya counter seperti apa orangnya." tutur ibu sambil melepas jilbab.


"Nak Reyhan maksudnya, dia orangnya juga baik sama seperti Bayu."


"Dari tadi nak Bayu itu seperti lirik-lirik ke arah Tiwi, apa mereka cinlok ya pak." bisik bu Siti.


"Hush, itu urusan anak muda bu, biarin aja." sahut pak Somad sambil berbisik pula.


"Kalo Tiwi dapet jodoh yang punya counter lebih bersyukur lagi pak aku." bu Siti terkekeh pelan takut terdengar anak-anak.


"Hush, ibu kok gitu sih. Dapat mas Reyhan, mas Bayu atau orang lain yang penting mereka setia dan pengertian sama anak. Kalo soal harta benda pasti bisa di cari."


"Astaghfirullah, iya iya pak. Maafkan ibu pikiran nya sampai mana-mana ya." bapak pun mengangguk. Lalu ibu berlalu ke kamar.

__ADS_1


Deg!


'Ibu ngomongin aku?'


__ADS_2