
Setelah berbasa-basi sejenak, haji Dahlan meminta istrinya untuk memanggil Rosyidah yang masih berdiam diri di kamar.
"Ros, ayo keluar. Kamu sudah di tunggu." suara umi Sofiah mengejutkan Rosyidah yang tengah duduk di tepi ranjang sambil beristighfar.
"Eh, i_iya umi." jawabnya sedikit gugup.
"Kamu pasti merasa gugup." kata umi Sofiah, yang sudah duduk di samping Rosyidah. Ia menatap wajah Rosyidah yang sedikit pucat, lalu mengusap lembut kepala sampai punggung anaknya agar lebih nyaman dan tenang.
"Umi dulu juga sama seperti mu. Cepat atau lambat memang kita akan melewati gerbang pernikahan. Yang penting siapkan hati dan diri untuk menerima dengan lapang jodoh yang telah di tetapkan Allah untuk kita. Dengan kita terus memperbaiki diri, in shaa Allah jodoh yang terbaik pasti akan datang. Terkadang yang terbaik menurut kita, belum tentu yang terbaik menurut Allah. Begitupun sebaliknya. Semoga Allah memberi mu pilihan yang tepat."
Rosyidah menganggukkan kepalanya paham. Ia semakin yakin dengan keputusannya.
"Apa umi dan Abi akan menerima apapun keputusan Rosyidah?"
"Insyaa Allah nak." balas umi Sofiah yang tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Setelah meminum air putih yang ada di atas meja hingga tandas, Rosyidah keluar kamar dengan di dampingi uminya.
Rosyidah duduk di tengah-tengah antara kedua orang tuanya.
"Ini dia yang di tunggu-tunggu akhirnya datang juga." kekeh haji Dahlan untuk mencairkan suasana.
Namun, meskipun Andre tampak menyunggingkan senyum, sejujurnya di dalam hatinya juga semakin deg-degan.
"Idah, ayo utarakan keputusan mu pada nak Andre." titah haji Dahlan.
Rosyidah mengangguk sambil menunduk.
"Bismillah.... Saya....... menerima lamaran mas Andre bi." lirih Rosyidah. Namun masih bisa di dengar oleh semuanya.
"Yess!" seru Andre sambil mengangkat kedua tangannya dan melonjak penuh semangat.
Reyhan tampak malu dengan sikap sahabatnya itu, hingga menendang kaki Andre agar segera sadar.
Dan benar, Andre segera tersadar, sambil meringis menahan malu.
"Alhamdulillah, akhirnya doa ku terkabul." ralat Andre dengan muka sok bijaknya.
"Alhamdulillah." ulang mereka kompak.
"Maaf Rosyidah, adakah syarat yang harus aku penuhi agar bisa membahagiakan mu dalam membina rumah tangga nanti?"
Rosyidah tak menyangka, Andre akan bertanya seperti itu. Padahal dalam hatinya ia sudah memantapkan hati untuk menerima Andre apa adanya.
"Jadilah imam yang baik. Yang mampu mengantarkan keluarga kecil kita menuju surganya Allah. Saling menasehati bila masing-masing kita melakukan kesalahan."
__ADS_1
"In shaa Allah Rosyidah. Aku tak bisa berjanji, namun aku akan berusaha semaksimal mungkin. Mendapatkan mu, adalah anugerah terindah dalam hidupku. Aku akan berusaha untuk menjagamu sekuat jiwa raga ku."
Semua tersenyum melihat kemantapan hati Andre.
Setelah perbincangan selesai, dan waktu kian merangkak malam, dua sahabat itu segera ijin pulang. Andre berjanji besok malam akan membawa kedua orang tuanya untuk melamar secara resmi.
Di perjalanan Andre tampak bahagia dengan mengajak Reyhan terus bercerita.
"Rey, terima kasih sudah menjadi jalan menemukan jodoh ku. Jika bukan karena kamu, mungkin sampai sekarang aku masih sengsara dengan Sinta. Dan tentunya tidak bisa mendapatkan Rosyidah. Pasti seumur hidupku penuh penyesalan."
"Jangan berterima kasih pada ku. Semua ini sudah ditakdirkan Allah. Senantiasa terus berdo'a agar diberi takdir yang baik."
Andre mengangguk paham. Keduanya saling berpelukan sebelum akhirnya ia melajukan motornya pulang.
"Assalamu'alaikum. Ibu, bapak." teriak Andre yang tak sabar, ketika sudah sampai rumah. Ia membuka pintu dan mencari keberadaan kedua orang tuanya.
"Apa-apaan sih kamu Ndre, teriak teriak seperti itu?" kata ibunya sambil mengernyitkan dahi menatap Andre.
"Bu, akhirnya lamaran ku di terima sama Rosyidah." ucap Andre penuh semangat.
"Alhamdulillah." ucap ibunya dengan wajah yang berbinar.
Bapak yang belum tahu hanya bisa mengernyitkan dahi bingung dengan ucapan anak dan istrinya.
"Ada apa ini?" celetuk bapaknya.
"Jadi calon mantu ku seorang anak haji?" ucap bapak penuh takjub.
"Iya dong pak. Makanya, kita harus lebih memperbaiki sikap, tingkah laku, perbuatan dan semua yang kurang baik pada keluarga kita. Jangan sampai istriku nanti kaget liat kelakuan buruk kita. Jangan sampai mencoreng nama baik haji Dahlan. Karena dia seorang pimpinan pondok." tutur Andre panjang lebar menasehati kedua orang tuanya.
"Iya, bapak dan ibu paham. Meskipun kami belum melihat wajah calon istri mu, jika dia bisa membawa pengaruh positif pada keluarga kita, bapak sangat merasa bersyukur sekali."
Setelah perbincangan itu selesai, dengan langkah ringan Andre memasuki kamarnya. Malam ini karena bahagianya, ia tidur dengan sangat pulas. Dan bangun pagi dengan wajah yang berbinar cerah.
Seperti biasa, Andre berangkat kerja.Dengaj penuh semangat ia mengerjakan tugasnya. Teman sekantornya mengernyitkan dahi, heran dengan sikap Andre yang tidak seperti biasanya.
"Kamu ketempelan jin mana Ndre?" celetuk temannya.
"Kalau aku kesurupan pasti bawaannya marah marah ngga jelas mas. Ini tuh aku lagi seneng, karena nanti malam mau melamar pujaan hati."
"Serius? Kapan kamu punya pacar? Kok tahu-tahu menikah? Kamu pakai sistem kredit ya. Udah anu duluan, nikah belakangan?"
"Sembarangan kalau ngomong." Andre melempar bolpoin yang ia bawa hingga mengenai temannya yang justru terkikik.
"Memangnya beli motor, pakai kredit segala. Jangankan memegang tangannya, melihat wajahnya saja aku belum pernah."
__ADS_1
"Hah, serius?"
"Dua rius malah. Dia itu istimewa banget pokoknya." Andre menerawang memperhatikan langit langit ruangan.
"Aku semakin penasaran dengan wanita mu. Kenalin dong?"
"Nanti kalau sudah menikah aku kenalin kamu."
"Lihat fotonya saja dulu, biar aku ngga penasaran." balas temannya yang masih penasaran.
Andre membuka handphonenya dan memperlihatkan foto profil Rosyidah pada temannya.
"Apa-apaan ini, kok foto kembang?"
Andre terkikik melihat ekspresi temannya.
"Jangankan foto mas, punya nomor teleponnya saja, kita ngga pernah yang namanya telepon atau berbalas pesan."
"Pacaran macam apa itu?" temannya geleng-geleng kepala heran dengan Andre.
Namun Andre masih tersenyum kecil membayangkan perjalanan singkat hingga akhirnya Rosyidah menerima lamarannya.
"Buat apa pacaran, jika ujungnya berpisah. Lebih baik tidak pacaran tapi ujung-ujungnya menikah dengan orang yang baik." dengan gemas Andre mencubit pipinya sendiri.
Setelah pulang kerja, Andre mampir untuk membeli cincin.
"Bismillah, semoga ini cocok untuk Rosyidah." gumamnya sambil menatap cincin emas berbatu putih.
"Saya pilih ini ya mbak." ucapnya pada karyawan toko. Setelah mendapatkan apa yang di mau, ia melenggang keluar toko dengan wajah yang bahagia.
Setelah sholat Maghrib, ia bersama keluarganya berangkat bersama. Kedua orang tuanya berboncengan, sedangkan Andre naik motor sendiri.
Kedua orang tuanya berdecak kagum ketika sudah sampai di depan sebuah rumah yang masih satu kawasan dengan pondok pesantren yang besar dan megah.
"Andre, kamu ngga salah kasih petunjuk kan?"
"Tentu tidak pak,Bu. Pondok milik haji Dahlan memang besar. Nah, rumahnya yang ini." tunjuk Andre pada rumah di depan mereka.
"Pak, sebelum melakukan dosa, ingatlah jika kita memiliki besan seorang ustadz."
"Lhoh, kok ngomong seperti itu sih ke bapak? Bapak ngga pernah bikin dosa lho."
"Astaghfirullah, malah berantem sih. Malu di dengar sama keluarga haji Dahlan pak,Bu." Andre menepuk jidatnya dan berpura-pura menangis.
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1