Juragan Muda

Juragan Muda
80. Kado untuk Tiwi


__ADS_3

"Abi, ayo jawab." rengek umi Sofiah karena rasa penasarannya yang membuncah.


Umi Sofiah tidak pernah risau ketika tak sengaja mendengar ada tetangganya yang menggunjingkan tentang siapa jodoh Anisa. Sementara Anisa berpakaian sangat tertutup, wajahnya saja tak pernah terlihat. Umi Sofiah menganggap hal itu masih wajar, jadi tidak membuat nya marah. Dan justru bangga dengan Anisa.


Anisa adalah gadis yang sangat cantik dan baik, umi Sofiah tidak ridho jika Anisa mendapatkan seorang lelaki yang kualitas ilmu agamanya dibawah Anisa. Itu saja yang menjadi kekhawatiran umi Sofiah. Karena jika dilihat soal harta, umi Sofiah tak pernah kekurangan materi sejak awal menikah sampai sekarang.


"Bi, jika waktunya sudah tiba, Anisa akan bicara sendiri kepada abi dan umi. Dan, untuk sekarang biarkan Anisa fokus dulu dengan kesibukan Anisa." pinta Anisa akhirnya.


"Iya, abi tahu. Semoga kesibukan mu jangan sampai melenakan dirimu dari urusan pernikahan. Maafkan abi yang terlanjur banyak bicara soal pemuda tadi. Semoga setiap persangkaan baik abi terhadap pemuda tadi benar adanya. Karena lebih baik kita berhuznudhon daripada bersu'udzon." Abi Gofur memeluk Anisa yang membuat hati Anisa sangat lega. Setidaknya, abi nya masih memberi kebebasan untuk berkarya dan tidak membujuknya untuk segera menikah.


Setelah itu, Anisa masuk kamar. Duduk di tepian ranjang tidur dan kembali memikirkan perkataan abinya. Bagaimana pun juga Anisa kelak akan mengalami sebuah hubungan rumah tangga. Dan misteri jodohnya membuat ia akhir akhir ini banyak termenung.


"Abi, apakah Abi ada niatan untuk menjodohkan Anisa dengan pemuda yang abi ceritakan tadi?" bisik umi Sofiah agar tidak terdengar oleh Anisa.


"Keinginan abi seperti itu umi, semoga saja mereka berdua berjodoh."


"Tapi abi, abi kan baru bertemu dengannya 2 kali, kenapa Abi bisa seyakin itu? Bukankah abi juga banyak memiliki teman pemuda. Kenapa dari dulu tak pernah bercerita soal mereka?"


"Entahlah umi, abi juga bingung. Mungkin ini yang dinamakan firasat orang tua."


"Tapi abi, Anisa adalah anak kita satu-satunya, yang tercantik dan baik akhlaknya. Umi ngga mau sampai kita memberikan pilihan jodoh yang salah untuknya."


"Abi tahu umi, abi juga ingin semua yang terbaik untuk Anisa. Dan kita sebagai orang tua hanya bisa terus mendoakannya dan mengupayakan segala yang terbaik untuk Anisa. ujar abi Gofur sambil memeluk istrinya.


Seperti itulah keharmonisan kedua orang tua Anisa yang selalu ditunjukkan dimanapun berada. Padahal mereka berdua dulu juga melalui proses ta'aruf sebelum menikah. Tapi tetap bahagia sampai sekarang. Dan mereka pun berharap, jika Anisa juga bisa sebahagia mereka ketika menikah melalui proses ta'aruf nanti.


_____


Sesampainya dirumah, Tiwi mengucapkan salam. Dan segera dibalas oleh kedua orang tuanya. Lalu bergegas masuk kamar untuk mengambil pakaian ganti.


Setiap hari Tiwi menunjukkan perubahan sikap yang lebih baik. Mulai dari kebiasaannya yang selalu mengucapkan salam, memakai jilbab kemanapun ia pergi, membaca Al-Qur'an setelah selesai sholat, lebih terbuka kepada kedua orangtuanya. Hal itu membuat kedua orangtuanya tersenyum bahagia.

__ADS_1


Tok... Tok... Tok


"Iya masuk." sahut Tiwi ketika sudah mengaji dan tiba tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya. Melihat pak Somad yang membuka pintu, membuat Tiwi mengernyitkan dahi. Sepenting apa hingga bapaknya menyusul ke kamar.


"Ada apa pak?"


"Kamu lupa ya, ini kan hari ulangtahun mu. Sengaja bapak mau ngasih hadiah buat kamu, ini." kata bapak sambil menyerahkan paper bag pink. Tiwi pun segera menerimanya.


"Kenapa bapak repot repot beliin hadiah buat Tiwi? Kan Tiwi sudah besar pak?"


"Selama ini kan keluarga kita hidup serba kekurangan dan tidak bisa memberikan hadiah kecil untuk keluarga. Dan setelah bapak jualan di dekat counter Reyhan, bapak selalu mendapatkan omset yang memuaskan. Jadi tak ada salahnya bapak memberikan kado dihari ulang tahun mu kan nduk?" ucapan pak Somad membuat Tiwi tersentuh, dan seketika matanya berkaca-kaca. Begitu bapaknya sangat memperdulikannya. Tapi selama ini Tiwi hanya diam tidak terbuka dengan bapaknya.


"Ya sudah, buruan dibuka, semoga kamu senang memakainya nduk."


Tiwi yang penasaran langsung membuka paper bag itu dan merogoh isi didalamnya. Sebuah mukena dan satu set gamis.


"Terimakasih pak. Tapi, Tiwi kan bisa beli sendiri, kenapa harus bapak yang beliin. Harusnya uang bapak kan ditabung saja."


"Jangan melamun, urusan jodoh memang sudah diatur oleh Allah, kita manusia hanya mampu berusaha. Jika jodohmu datang lebih cepat atau lebih lambat, bapak akan tetap menerimanya dengan senang. Bapak tidak akan pernah memaksakan kehendak. Dan dihari ulangtahun mu ini, bapak doakan semoga kamu diberi jodoh yang paling baik. Karena sekarang, bapak melihatmu yang sudah sangat jauh berubah lebih baik."


"Terimakasih pak." hanya itu kata kata yang mampu diucapkan oleh Tiwi atas segala perhatian bapaknya yang sangat luar biasa itu.


"Lhoh, kok bapak tumben ada dikamar Tiwi?" tanya bu Siti yang tiba-tiba sudah berdiri diambang pintu membawa sepiring pisang goreng hangat. Bergegas ia mendekat ke arah mereka berdua.


"Wah, apa itu nduk?" tanya bu Siti sambil meletakkan sepiring pisang itu di meja yang ada dihadapan Tiwi. Dan meraih kain yang dipangku Tiwi.


"Wah baju baru, bagus sekali." ucap bu Siti sambil membentangkan kain lebar itu.


"Ini juga mukena baru, kok ibu ngga dibelikan nduk?" tanya bu Siti sambil memasang muka cemberut.


"Ini Tiwi dulu, besok besok baru giliran ibu yang bapak belikan."

__ADS_1


"Oh, jadi bapak toh yang beliin?" bu Siti membulatkan mulutnya.


"Iya, kan ini hari ulangtahun Tiwi. Jadi bapak sengaja belikan itu biar bapak juga dapat pahala ketika Tiwi memakai untuk sholat dan untuk bepergian." balas pak Somad.


"Iya, ibu dukung niat baik bapak. Apalagi melihat Tiwi yang semakin hari semakin cantik memakai jilbab, membuat ibu juga kepengin pakai jilbab."


"Alhamdulillah, kalau begitu besok in shaa Allah bapak belikan ibu jilbab."


"Tiwi juga mau beliin ibu jilbab. Kalau ada yang kembar kan keliatan kompak." balas Tiwi sambil tersenyum.


"Terimakasih bapak, terimakasih nduk. Kalian memang paling bisa buat ibu senang. Setelah bertahun-tahun kita hidup susah, perlahan lahan akhirnya kita bisa merasakan hidup berkecukupan juga."


"Iya bu, alhamdulillah. Harusnya dengan nikmat yang luar biasa yang sudah Allah berikan ini membuat kita tambah bersyukur dan semakin dekat dengan Nya."


"Iya pak, ibu tahu itu. Ibu juga bakalan aktif sholat lagi dan ikut kumpul ibu-ibu pengajian."


"Alhamdulillah." ucap pak Somad dengan perasaan lega.


"Tiwi, jika punya penghasilan lebih jangan lupa untuk ditabung ya. Kebutuhan dapur in shaa Allah bisa ibu atur."


"Baik bu."


"Bapak juga cari uang selain untuk membahagiakan keluarga juga untuk ditabung, buat biaya persiapan kalau sewaktu-waktu anak perawan kita ini minta nikah." ujar pak Somad sambil terkekeh.


"Hah, menikah? Kamu serius nduk mau segera menikah?" tanya bu Siti dengan muka serius.


Hai kak, semangat dukung karya author ya. Karena 2 pemberi dukungan terbanyak akan mendapatkan hadiah pulsa total 75rb. Let's go semangat 😉💪💪


Sambil nunggu author update bab selanjutnya mampir dong ke karya teman author yang Joss gandosss 😉😉


__ADS_1


__ADS_2