Juragan Muda

Juragan Muda
33. Salah duga


__ADS_3

"Mas Reyhan, jangan lupa traktirannya ya?" Dinda segera menodong Reyhan yang baru saja tiba, setelah dari counter cabang.


Anak itu memang sedikit lebih cerewet dan berani ketimbang Tiwi. Mungkin saja karena masih ada hubungan kekeluargaan dengan Reyhan.


"Traktiran apa Din? Aku ngga sedang ulang tahun, lagian kata pak ustadz ulang tahun itu ngga ada hukum nya."


"Aduh, tapi masalahnya bukan itu mas."


"Lalu?" Reyhan mengernyitkan dahi, dan sesaat pandangannya beralih ke Tiwi yang terlihat senyum senyum sendiri.


"Kan mas Reyhan habis beli motor baru, masak ngga ada syukuran kecil kecilan gitu." ujar Dinda dengan sikap kekanakan.


Seketika Reyhan tertawa terbahak bahak mendengar penuturan Dinda. Dinda dan Tiwi langsung saling bertukar pandang melihat Reyhan yang tertawa.


"Kok malah aneh mbak, mas Reyhan ketawa sendiri. Jin dalam motor baru apa nempel ke mas Reyhan ya? Perlu di rukayah seperti nya ini." bisik Dinda ke telinga Tiwi.


Tiwi langsung menyenggol lengan Dinda.


"Hus, kalo ketahuan mas Reyhan dan ia marah gimana? Mana ada jin di dalam motor baru, ada ada aja. Lagian yang benar itu di RUKIYAH bukan RUKAYAH." balas Tiwi seraya berbisik pula.


"Oh iya itu maksudku mbak, Rukiyah. Waktu pelajaran agama di sekolah pernah diterangkan, kalo beli sesuatu sampai rumah harus dibacakan doa doa mbak, karena setiap tempat itu pasti ada jin nya, ada penunggunya. Mbak Tiwi pas pelajaran agama tidur ya?"


Tiwi pun melotot ke arah Dinda tak terima di hina seperti itu. Tapi juga langsung menyuruh Dinda tutup mulut karena Reyhan sudah berhenti tertawa dan tengah menatap mereka yang sedang berbisik.


"Kalian bicara apa?" tanya Reyhan.


"Oh, kita ngga bicara apa-apa kok mas, cuma terpesona aja dengan motor baru mas Reyhan, Iya kan mbak?" kata Tiwi sambil menyenggol lengan Dinda.


"Eh iya mas, bener itu." sahut Dinda cepat.


"Itu tuh bukan motor ku, tapi motor Bayu. Kita tadi berangkat ke dealer bersama. Dan, untuk lebih memudahkan pengiriman sengaja pake nama counterku Tiwi."


Mereka berdua pun hanya bisa ber ooo panjang.


_____


"Kak, besok malam aku ijin dong sama Tiwi."


"Kemana?" tanya Reyhan, lalu menghentikan aktivitasnya mengecek buku transaksi penjualan hari ini.


"Makanya nikmati hidup dong kak, gaul dikit. Namanya anak muda ya malam mingguan lah."


"Halah, bagiku semua hari ya sama aja."

__ADS_1


"Iya iya, uang uang dan uang." sahut Bayu sebal.


"Aku ada acara penting sama Tiwi, boleh ya kak." Bayu berbisik sambil menyatukan kedua tangannya memohon persetujuan kakaknya.


Melihat adiknya yang terlihat begitu serius, akhirnya Reyhan pun mengijinkan. Bagaimana pun juga Reyhan pernah mengalami hal seperti adiknya itu.


_____


Tok.... Tok..... Tok


"Nak Bayu?" Bu Siti terkejut dengan kedatangan Bayu.


Bayu pun langsung tersenyum dan menyalami tangan bu Siti.


"Ada perlu apa nak kesini?"


"Em.... Tiwi ada bu?" Bu Siti pun langsung mengangguk paham.


Setelah mempersilahkan duduk di teras, Bu Siti segera masuk ke kamar Tiwi.


"APA! Mas Bayu datang kesini bu?" Tiwi mengulang perkataan ibunya karena tak percaya, dan ibunya mengangguk.


"Buruan kamu temui, kasian kalo nunggu lama. Apalagi dia makin keren pake motor besar itu."


"Ih,ibu. Pelan-pelan dong, jangan main tarik tarik aja, udah kayak tarik tambang saja."


"Sepertinya dia sengaja mau ngajak kencan kamu, ibu bakal ijinin pokoknya." bisik bu Siti.


Lalu Tiwi berjalan keluar menemui Bayu, sedangkan bu Siti sengaja menunggu di balik pintu ruang tamu sambil menajamkan pendengarannya alias menguping.


"Mas Bayu? Ada perlu apa kesini?" sapa Tiwi lalu duduk dipinggir dipan yang agak jauh dari Bayu.


"Memang ngga boleh main kesini? Aku mau ngajak kamu cari udara segar Wi sambil nyoba motor baruku, mau ngga?"


Belum selesai Tiwi berpikir, bu Siti keluar sambil membawa teh hangat untuk Bayu.


"Sepeda baru ya nak Bayu? Apa mau ngajak Tiwi healing?" goda bu Siti sambil meletakkan teh hangat di dekat Bayu.


Seketika Tiwi menatap ibunya menahan dongkol.


"Ibuu.... Dapat dari mana kata healing itu?"


Bayu tersenyum sendiri melihat anak dan ibu yang tengah ribut kecil itu.

__ADS_1


"Udah udah, buruan berangkat sana, keburu malam?" Bu Siti sengaja berkata seperti itu lalu segera masuk ke rumah.


"Wi? Ngga perlu tanya Ibumu, itu tadi udah ngijinin. Ayok berangkat."


"I_ya.. itu teh nya di minum dulu, aku ke kamar ganti baju."


"Ngga usah ganti baju pun juga tetap keliatan cantik di mataku kok Wi." Bayu pun selalu mengeluarkan senjata mautnya untuk menaklukkan hati cewek.


Tiwi hanya geleng-geleng kepala lalu bergegas masuk kamar.


"Nak Bayu itu orangnya baik, dari awal ibu lihat sorot matanya itu penuh cinta sama kamu. Sebaiknya terima orang yang mencintai kita, karena orang yang mencintai kita pasti akan melakukan apa saja untuk membuat kita bahagia. Sedangkan bila kamu mencintai seseorang, tapi seseorang itu tidak membalas cintamu, itu akan menjadikan sebuah perjuangan yang sia-sia." ucap bu Siti sambil mengelus rambut Tiwi, sedangkan Tiwi masih terbengong menghadap ke cermin.


"Cinta itu terjadi akan terjadi dengan sendirinya seiring berjalannya waktu." setelah berpesan itu bu Siti pun meninggalkan Tiwi dikamar.


Tiwi pun menghela nafas panjang setelah mendengar nasehat ibunya, mungkin ada benarnya juga bahwa dia harus bisa membuka hati untuk orang yang mencintainya. Jangan hanya mengharapkan cinta orang yang tak kunjung pasti.


Setelah itu gejolak dalam hatinya berhenti, Tiwi segera berganti baju, memoles wajah dan merapikan rambutnya, tak lupa mengenakan sling bag.


Setelah mematut diri sejenak, dia pun bangkit dari duduknya dan bergegas ke depan rumah. Tak enak rasanya membiarkan Bayu menunggu lama.


"Bu, pamit dulu ya keluar sebentar." Bayu berpamitan ke bu Siti sambil mencium punggung tangan wanita itu, dan Tiwi juga melakukan hal yang sama.


"Pegangan Wi." pinta Bayu.


"Udah buruan jalan, ngga enak dilihat ibu." Tiwi menepuk punggung Bayu.


Lalu motor itu pun melaju dengan kecepatan sedang. Sesekali Bayu mengajak bicara Tiwi, dan Tiwi hanya menanggapi seadanya sambil menghirup udara malam yang jarang sekali dia rasakan.


Hingga akhirnya motor pun berhenti di sebuah parkiran taman kota. Lalu keduanya segera turun.


Melihat Tiwi yang mengedarkan pandangannya ke segala arah dengan senyum merekah membuat Bayu juga bahagia.


Bayu segera menggandeng tangan Tiwi menyusuri jalan yang dipenuhi para penjual makanan. Dan anehnya Tiwi langsung mengikuti langkah Bayu tanpa menolak.


"Kamu mau lihat itu?" tanya Bayu menunjuk atraksi barongsai dan Tiwi mengangguk cepat.


Setelah puas berkeliling, Bayu mengajak kesebuah restoran yang tak jauh dari tempatnya berada.


Tak berselang lama, akhirnya makanan yang di pesan pun datang. Mereka segera melahap sampai habis sambil sesekali bercengkrama.


Dan, saat yang dinantikan pun tiba. Untuk yang kesekian kalinya Bayu menyatakan perasaannya ke Tiwi. Karena selama ini Tiwi tak kunjung memberi jawaban.


"Tiwi. Mau ngga jadi pacarku?"

__ADS_1


__ADS_2