
"Arghhh...... apa yang aku pegang ini?" teriak Laura.
"Kalau mau teriak ya teriak saja, tapi tolong lepaskan adikku yang terus kamu remas, bisa mati sebelum bertarung nanti." sungut Reyhan kesal.
Mendengar perkataan Reyhan, Laura langsung melepas remasannya seraya mengibas ngibaskan tangannya.
"Bisa pelan ngga sih bawa motornya? Kamu sengaja curi kesempatan ya!" bentak Laura penuh emosi lalu menepuk keras punggung Reyhan yang berhenti mendadak.
"Miss nuduh aku cari kesempatan? Bukannya kebalik? Tuh, tadi aku hampir nabrak kucing." tangannya menunjuk kucing yang berlari menjauh.
Meong......
Setelah menghirup nafas panjang, Reyhan bergegas melajukan motornya kembali. Agar segera sampai rumah Laura. Karena tak mau terus berdekatan dengannya. Bisa mati dengan kasus kdrt karena terus-terusan dipukuli Laura.
"Pak Bejo....." teriak Laura dari luar pagar dengan masih membonceng Reyhan.
"Miss, tolong jangan teriak-teriak melulu, bisa panas kupingku." yang langsung membuat Laura terdiam.
Sedangkan pak Bejo bergegas mendekat ke sumber suara setelah namanya disebut.
"Lhoh non Laura? Silahkan masuk non." pak Bejo bergegas membuka pintu gerbang.
"Ayo buruan jalan." perintah Laura ke Reyhan.
"Lhoh, aku kira cuma sampai sini saja Miss." ucap Reyhan, lalu bergegas melajukan motornya sampai teras depan rumah.
Pak Bejo geleng-geleng kepala melihat kelakuan aneh dandanan majikannya itu. Mengenakan selendang putih, baju putih dan sarung putih seperti film Susanna.
Laura menekan bel berkali kali karena tak kunjung dibukakan pintu.
"Sabar Miss." Reyhan menasehati Laura, tapi tak dihiraukan.
Akhirnya setelah yang kesekian kalinya, pintu itu terbuka lebar. Kedua orangtua Laura melongo ketika melihat sepasang muda-mudi yang berdiri dihadapannya dengan model pakaian yang menurutnya aneh bin ajib.
"Sayang, kenapa baru pulang?" tanya bu Ani panik.
"Tanya dia saja!" ucap Laura dengan ketus lalu berjalan menuju kamarnya.
"Apa yang sudah terjadi nak Reyhan?" tanya pak Atmaja sambil memperhatikan penampilan Reyhan kali ini. Koko putih panjang dengan celana kolor warna senada serta sandal jepit, karena sarungnya masih dipakai Laura.
"Maafkan saya pak sudah membuat bapak dan ibu khawatir. Tadi dirumah ada pengajian, karena rencananya sehari lagi saya akan berangkat umroh. Laura mengikuti acara sampai selesai atas bujukan ibu saya. Ditengah perjalanan pulang mobil Miss Laura rusak, bergegas saya menyusulnya. Dan ini ada sedikit makanan." kata Reyhan sambil menyerahkan box sterofoam.
__ADS_1
"Terimakasih sekali atas segala kebaikan mu nak Reyhan. Eh ayo masuk dulu." tawar pak Atmaja dan bu Ani mengangguk.
"Tidak usah pak, saya langsung pamit pulang saja karena sudah semakin malam."
Setelah berpamitan bergegas Reyhan melakukan motornya meninggalkan rumah megah itu. Sedangkan pak Atmaja dan bu Ani menatap kepergian Reyhan sampai bayangannya tak terlihat lagi.
"Ma, kenapa tadi Laura berpakaian seperti itu?" seketika pak Atmaja teringat akan anak gadisnya.
"Apa ia disuruh Reyhan berdandan seperti itu? Apakah Reyhan sudah berhasil merubah Laura? Apa....."
"Jangan cuma apa-apa, lebih baik ayo kita tanyakan." ajak bu Ani.
"Jangan ma, sudah malam, kasian dia. Biarkan Laura istirahat dulu, pasti capek." Bu Ani pun membenarkan perkataan suaminya. Lalu keduanya berbelok ke kamarnya.
Sementara itu, sesampainya dikamar, Laura segera membanting pintu dengan keras. Lalu menjatuhkan diri di tempat tidurnya yang empuk.
Rekaman kejadian yang baru saja ia lalui berputar kembali di kepalanya.
Ada rasa manis-manisnya gitu seperti iklan le mineral ketika berada di dekat Reyhan. Rasa yang tak ia rasakan ketika setiap hari bersama dengan Choki.
Reyhan yang bisa memberikan perhatian kecil untuknya tapi terasa sangat membekas dihatinya. Jauh berbeda dengan Choki yang maunya untuk selalu diperhatikan, tanpa mau memperhatikan Laura balik.
"Arghhh.... aku tak boleh seperti ini terus. Pacar ku cuma Choki." gumam Laura dengan penuh amarah.
Setelah capek mengeluarkan seluruh isi hatinya, akhirnya Laura tertidur dengan pulas. Dengan masih mengenakan selendang serta sarung dari keluarga Reyhan.
Sampai suara handphone yang berdering berulangkali mengusik tidurnya. Tangan kanan mengucek mata tangan kiri mencoba mencari keberadaan handphone.
"Choki, kenapa malam-malam dia telepon?" gumam Laura.
"Hallo sayang, ada apa telepon malam-malam?" sapa Laura dengan suara parau.
"APA!" teriak Laura terkejut. Matanya mencari keberadaan jam dinding. Alangkah terkejutnya ia jika jarum jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi.
"Kamu berangkat sendiri saja, aku..... baru sakit." ucap Laura berbohong.
"Nanti, habis kuliah jangan lupa tengok aku, bawain buah-buahan atau apalah terserah kamu."
"Sial, aku kira masih malam, ternyata sudah pagi." gumam Laura, lalu segera duduk bersandar. Tangan lentiknya memainkan sarung yang masih ia kenakan.
"Kenapa sarung nya ngga aku kembalikan semalam serta selendangnya? Kalau begini kan, aku jadi harus bertemu dengan dia lagi. Sial!"
__ADS_1
_____
Flashback On
Sebelumnya Choki marah-marah sendiri, karena sudah berulang kali menelpon Laura tapi tak kunjung diangkat. Padahal waktu sudah sangat mepet untuk mata kuliah jam pertama. Akhirnya, dia menyuruh Mira pacar nomor 2 untuk menjemput nya.
Tentu saja dia menyuruh hal yang sama ke Mira, menunggu di luar gerbang samping.
"Hai sayang?" sapa Mira ketika Choki sudah masuk mobil, dan Choki pun membalas sapaan Mira.
"Wah, aku ngga nyangka ya, ternyata rumahmu sebesar ini." Mira merasa kagum.
"Ah biasa saja kok sayang, hanya punya 2 rumah tingkat dan 4 unit mobil."
"Wow, itu sudah banyak sayang. Kapan-kapan aku boleh main kerumahmu ya? Atau sekali waktu kita pergi pakai mobilmu?" ucap Mira dengan penuh harap.
"Em.... Gimana ya? masalahnya aku belum diijinkan kemana-mana bawa mobil. Dan, aku takut kalau kamu main kerumah ku, terus kita langsung dinikahkan. Soalnya aturan dirumah ku itu super ketat."
"Oh bagus dong kalau kita nikah, kan sama-sama anak orang kaya, apa yang harus ditakutkan? Rasanya aku sudah malas kuliah, setiap hari terus dipaksa buat mikir. Lebih baik kita jalan-jalan saja, gimana?" Tak disangka Mira malah memberi reaksi yang tak terduga atas kebohongan yang Choki lakukan. Niatnya hanya untuk melarang Mira main kerumah, karena itu hanya rumah majikannya.
"Eh, harus semangat kuliah dong sayang, tiap hari kan bisa ketemu aku."
"Walaupun ketemu kamu, tapi kamu kan deket nya sama Miss ganjen itu." protes Mira sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ah tenang saja, itu hanya acting kok. Astaga aku belum telepon dia lagi, tunggu aku acting dulu ya." lalu Choki segera menelpon Laura lagi, karena tak biasanya Laura absen menjemput nya. Sedangkan Mira kembali mengerucutkan bibirnya mendengar Choki menyebut nama musuhnya.
Setelah panggilan yang kesekian kalinya, akhirnya panggilan terhubung. Tak lama kemudian, percakapan itu selesai.
"Kabar bahagia sayang, hari ini Laura ngga masuk kuliah, katanya sakit, jadi kita bisa menikmati waktu seharian penuh." ucap Choki dengan senyum mengembang. Mira yang mendengar hal itu langsung bersorak gembira.
"Ayo sayang kita bolos kuliah saja, kita nikmati kebebasan ini." ajak Mira penuh semangat, Choki pun mengangguk sambil menyunggingkan senyum.
Kebahagiaan hakiki, punya pacar anak orang kaya, tak perlu mengeluarkan uang untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
Berteman yuk kak di FB.
FB: Nurul khanifah
Berikan penilaian yang baik ya agar menambah semangat author untuk terus update.
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca. Tekan like, hadiah, vote dan favoritkan ya biar karya ini makin populer 🔥🔥
__ADS_1
Terimakasih semoga sehat selalu dan semakin lancar rezekinya.😘🤗