
"Okay.. aku siap siap dulu ya mas kalo gitu." kata Reyhan mengakhiri panggilan telepon nya.
"Siapa mas." tanya Bayu yang selalu penasaran dengan isi percakapan kakaknya.
"Temenku mau ngajak belanja handphone." jawab Reyhan lalu segera masuk ke kamarnya lewat pintu yang langsung menghubungkan kamar dengan counter.
Tak lama Reyhan sudah kembali ke depan yang ternyata temannya sudah menunggu nya. Reyhan pun berpamitan ke Bayu.
"Kok yang dipamitin cuma mas Bayu aja ya, aku ngga dipamitin." gumam Tiwi sangat pelan tapi masih bisa terdengar oleh Bayu.
Lalu Bayu pun memandang Tiwi yang masih mematung menyaksikan kepergian Reyhan. Setelah beberapa saat mematung Tiwi hendak memutar tubuhnya kebelakang tapi ternyata dibelakangnya ada Bayu dan sontak keduanya langsung bertubrukan dan jatuh dengan posisi Bayu dibawah Tiwi dan untuk sesaat netra mereka saling beradu.
Tiwi pun cepat menguasai diri, segera duduk sambil menepuk debu ditangannya, lalu setelah nya berdiri diikuti Bayu. Keduanya sama sama mengucapkan permintaan maaf secara berbarengan, setelah itu sedikit tertawa karena ingat kejadian sedetik yang lalu.
Tiwi tidak jadi kebelakang tapi maju ke depan melayani pembeli yang baru saja datang, sedangkan Bayu duduk di depan laptop memainkan kursor. Pikirannya melayang entah kemana.
Hari sudah beranjak sore ketika Reyhan pulang berbelanja. Dengan sigap reyhan mengangkat 1 dus handphone dari mobil temannya.
"Nanti kesambet setan lho kalo melamun trus." sebuah sindiran Bayu lontarkan ketika hendak keluar membantu kakaknya dan tak sengaja melihat Tiwi dengan pandangan yang berbeda menatap ke arah Reyhan. Ada rasa yang berbeda di hati Bayu kala Tiwi berbuat seperti itu.
Setelahnya mereka segera disibukkan dengan mendisplay handphone. Ditengah kesibukan itu seorang tetangga nya datang dan mengajak Reyhan berbicara di teras rumah.
Reyhan pun langsung menanyakan maksud dan tujuannya karena pembeli mulai berdatangan ditambah datangnya stok handphone. Tak perlu bertele-tele, setelah semua disampaikan tetangganya pun segera berpamitan pulang.
"In shaa Allah, nanti saya saja yang ngabarin mas Bowo." kata Reyhan mengakhiri obrolannya dan bergegas masuk ke counter melayani pembeli.
"Tadi sore mas Bowo kesini ngapain mas." tanya Bayu sambil menutup pintu counter.
"Menawarkan tokonya yang ada di depan pasar jati."
"Lhoh, memangnya usaha nya bangkrut apa kok ditawarkan sama kamu." tanya Bayu penasaran.
"Sementara mau merantau, toko sembako nya sepi, tak bisa untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, sedangkan istrinya dirumah saja sudah kerepotan mengurusi anak kembarnya."
"Trus trus.. Rencana mu gimana kak?" Bayu memasang wajah antusias mendengarkan cerita kakaknya.
__ADS_1
"Jangan trus trus mulu! Aku lagi ngitung duit nih, bisa diem ngga." semprot Reyhan.
"Astaga... Kelewatan, orang aku sudah antusias mendengarkan malah dipatahkan." gerutu Bayu, lalu keduanya terdiam dengan kesibukan masing-masing.
_____
"Sebentar ya mas, saya tanyakan ke mas Reyhan dulu." pamit Tiwi ke sopir yang datang.
"Mas, mas Reyhan, ada yang mencari." ucap Tiwi sambil mengetuk pintu kamar Reyhan.
Tak berselang lama Reyhan keluar dari kamar nya sehabis melaksanakan shalat dhuhur. Dan menghampiri pak sopir.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" tawar Reyhan sopan.
"Dengan mas Reyhan Perdana Kusuma ya."
Reyhan pun mengangguk.
"Jadi kami kesini diutus oleh pak bos mengantarkan paket, Ini surat jalannya."
Reyhan pun segera menerima surat itu dan membacanya dengan seksama karena tidak tau siapa yang dimaksud pak bos oleh sopir . Kemudian setelah nya meminta waktu sebentar untuk menelpon manager menanyakan perihal paket misterius itu.
"Iya pak, bisa dimasukkan sekarang ya." kata Reyhan tersenyum ramah ke pak sopir.
Setelah memasukkan paket peti kemas, sopir berpamitan ke Reyhan, tak lupa Reyhan menyelipkan selembar uang biru ke sopir sebagai ungkapan rasa syukur nya.
Reyhan segera berlalu ke rumah dan kembali keluar dengan membawa martil dan catut, lalu mulai membuka peti kemas.
Tiwi yang sedang berdiri kembali melihat Reyhan dengan tatapan takjub nya, dan kejadian ini pun kembali di lihat Bayu yang hendak masuk counter sambil membawa teko es.
'Astaga, kenapa si Tiwi selalu liatin kak Reyhan seperti itu ya. Apa langsung aku tembak aja ya sebelum keduluan kak reyhan.' batin Bayu, lalu segera mendekat dan meletakkan teko es di bawah meja.
"Beli apa kak?" tanya Bayu yang sudah ikut jongkok dekat Reyhan.
"Alhamdulillah endorse." jawab Reyhan sambil nyengir. Bayu pun mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Dapet endorse an dari supplier handphone langganan ku karena penjualan ku melebihi target tiap bulan nya." tutur Reyhan dengan tangannya yang tetap sibuk mencabut paku peti kemas.
"Wow... amazing." Bayu membulatkan matanya dengan sempurna.
"Padahal udah sering dapet logam mulia dan sekarang ganti dapat etalase counter." Bayu berucap dengan bersemangat.
"Ngga cuma itu, katanya dalam waktu dekat ini ada promotor yang mau bantuin aku disini kata manager nya tadi."
"Laki apa perempuan kak." seloroh Bayu.
"Yah mana aku tau, lagian sama aja mau cowok apa cewek kek, yang penting bisa bantuin aku." Reyhan berucap dengan senyum dan satu alis naik.
"Kamu ngga doyan cewek ya? selama ini aku heran ngga pernah lihat kamu bawa cewek sekedar main kerumah."
"Aku lagi ngga mau mikir cewek, lebih asyik mikir usaha tau." jawab Reyhan pada akhirnya setelah sempat memelototi Bayu lalu menjitak kepala adik yang tak beradab itu.
Tiwi yang mendengar percakapan terakhir kakak beradik itu sedikit dongkol lalu memilih keluar untuk sekedar membasuh muka.
Sedangkan Reyhan dan Bayu segera mengeluarkan etalase dari peti. Keduanya sedikit kebingungan karena counter nya sudah penuh dengan barang barang. Akhirnya, berpikir sejenak untuk mendisplay ulang lagi.
"Seperti nya kamu harus terima tawaran mas Bowo deh kak, buat naruh etalase ini." celetuk Bayu.
"Masalahnya ngga segampang itu, kalo cuma naruh ya gampang aja, tuh taruh dalam rumah juga bisa. Kalo di kios siapa yang menjadi orang kepercayaan ku di sana, emang kamu mau aku taruh disana."
Bayu seketika berpikir, kalo jaga di kios kesempatan buat pedekate sama Tiwi hilang, kalo tidak menerima tawaran, kakaknya kasihan juga.
Reyhan pun menowel lengan adiknya.
"Kok malah bengong, punya rekomendasi teman ngga buat bantuin aku."
"Kalo kamu aja yang dikios gimana kak, aku yang disini sama Tiwi, tentu kamu lebih berpengalaman dibanding yang lain kaan." Bayu beralibi di depan kakak nya.
"Em.... boleh juga ide mu. Kamu adikku jangan pernah kecewain aku. Tetap berusaha melayani pembeli dengan baik. Buat counter ku menjadi semakin maju." ucap Reyhan pada akhirnya yang membuat Tiwi lagi lagi menampakkan kecewa.
"Eh tapi, soal sewa kontrak nya gimana kak, semoga beres ya."
__ADS_1
kata Bayu, karena dia tau kalo mas Bowo pandai bersilat lidah.
"Niat ku baik, jadi aku yakin Allah pasti akan melindungi ku." jawab Reyhan mantap. Lalu segera mengajak Bayu sedikit menggeser etalase baru ke dekat dinding. Setelah itu Reyhan berlalu ke kamar.