
Setelah keduanya masuk kamar dan menutup pintu nya. Reyhan membalikkan tubuh Laura, sehingga kini keduanya saling berhadapan dan menatap intens.
"Apa yang Miss Laura rasakan saat ini?"
Laura mengerutkan keningnya mendengar Reyhan bertanya seperti itu. Jika boleh jujur, tentu saja ia sangat merasa bahagia, karena di persunting oleh seseorang yang begitu baik, penuh perhatian seperti Reyhan. Tapi Laura merasa malu jika harus mengakui perasaannya terlebih dulu. Akhirnya ia melempar Reyhan dengan pertanyaan yang sama.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Kamu saja duluan yang jawab. Gimana perasaan kamu sekarang?"
Reyhan tersenyum dan menggenggam tangan Laura.
"Tentu saja aku sangat bahagia. Karena berhasil menemukan cinta sejati ku. Cinta yang tidak memandang harta atau rupa. Tidak seperti beberapa mantan pacar ku dulu yang tega meninggalkan ku ketika mengetahui aku hanyalah seorang pria miskin. Dan sampai sekarang aku masih merasa tak percaya, mendapatkan seorang istri yang cantik, baik dan sholihah. Yah, walaupun aku juga berasa senam jantung ketika berada di samping Miss Laura." Reyhan terkekeh di akhir kalimat nya. Yang membuat Laura sedikit mengerucutkan bibirnya. Tapi dalam hatinya, sungguh sangat bahagia dengan pengakuan Reyhan.
"Lalu gimana perasaan Miss Laura sekarang?"
"Em... sama, aku juga bahagia."
"Itu saja?"
"Aku bahagia bisa menjadi istri mu. Kamu selalu ada di samping ku, menjaga ku, dan penuh perhatian. Berjanjilah pada ku, jangan pernah meninggalkan ku. Aku tak tahu harus mencari kemana lagi orang seperti mu."
"In shaa Allah, aku berjanji Miss Laura. Kita sama-sama berjanji tak kan saling meninggalkan. Aku juga bingung mau mencari wanita paket lengkap seperti mu dimana." Reyhan kembali terkekeh, dan mencubit hidung mancung Laura. Namun Laura segera menghindar dan berjalan menuju meja rias.
"Kamu mandi saja dulu. Kamar mandinya di sudut sebelah kiri itu." sambil berkata, Laura mulai melepaskan accesoris yang menghiasi kepalanya.
Reyhan yang melihat itu, segera mendekat dan membantu Laura dengan hati-hati.
Keduanya melihat ke arah cermin dan untuk yang kesekian kalinya melempar senyum.
"Terima kasih Reyhan." kata Laura setelah jilbab dan accesoris nya berhasil di lepaskan suaminya.
"Hem, Miss Laura mandi duluan saja, nanti keburu dingin." Laura mengangguk patuh pada suaminya.
Bergegas ia mengambil baju ganti lalu berlalu menuju kamar mandi.
Sementara Reyhan, ia tampak menyapu setiap sudut kamar Laura yang di hias dengan sedemikian indah khas pengantin baru. Bahkan, di ranjang tidurnya di hiasi taburan bunga mawar merah yang membentuk daun waru. Di beberapa sudut ruangan juga terdapat bunga segar lainnya, dan menyebarkan bau wangi.
Seketika Reyhan membandingkan dengan kondisi kamarnya sendiri, yang tentunya sangat jauh berbeda.
'Gimana perasaan Miss Laura, ketika mengetahui kondisi kamar ku yang sangat jauh berbeda dengan kamarnya? Apa mungkin dia betah berada di rumah ku. Padahal ukuran rumah ku saja sama dengan ukuran kamar nya ini.' batin Reyhan. Ia pun lebih memilih menghempaskan tubuhnya di sofa dekat tv. Karena merasa sungkan tidur di tempat tidur Laura yang tentunya jauh lebih mewah. Ia juga merasa sayang jika bunga mawar yang sudah di susun indah koyak karena gerakan tidurnya.
__ADS_1
Hampir saja ia terlelap, hingga akhirnya Laura menggoyang goyangkan tubuhnya.
"Reyhan, kenapa kamu tidur di sini?"
Seketika Reyhan menggeliat sambil menghirup wangi tubuh Laura. Ia menatap bidadari yang ada di hadapannya saat ini.
"Miss Laura, semakin cantik saja." kata Reyhan dengan penuh damba.
Sebenarnya hatinya juga berdesir melihat Laura yang terlihat jauh lebih segar sehabis mandi. Tapi ia masih mampu untuk menahan diri, sampai waktu malam tiba.
"Kamu lupa, aku sudah sejak dulu cantik." Laura terkekeh.
"Ya sudah aku mandi dulu ya." Reyhan bergegas menuju kamar mandi.
Ia mulai mengguyur tubuhnya dengan air hangat yang terasa menyegarkan itu. Rasa capeknya seketika hilang. Setelah puas mandi ia hendak mengelap tubuhnya dengan handuk. Tapi ia lupa tidak membawa apapun ketika masuk ke kamar mandi.
"Waduh, gimana ini? Masa mau pakai baju ini lagi?" akhirnya setelah berpikir. Ia memanggil Laura untuk mengambilkan baju gantinya.
"Miss Laura, tolong ambilkan baju ganti dan handuk yang ada di dalam tas ku itu." teriaknya.
Laura yang mendengar segera membuka isi tas Reyhan dan mencari handuknya.
Tok...Tok...Tok
"Reyhan, ini baju mu." Teriak Laura di dekat pintu, tapi pandangannya ke arah yang berbeda.
Reyhan yang mendengar segera membuka pintu. Ia tersenyum melihat tingkah Laura sambil meraih baju yang di pegangnya.
Bergegas Laura menjauh dari kamar mandi. Ia duduk di tepi ranjang sambil menunggu waktu adzan maghrib.
Ia merasa deg-degan bagaimana nanti akan melewati malam pertamanya dengan Reyhan.
"Sudah sholat maghrib belum?" Laura terkejut ketika Reyhan sudah berdiri di dekatnya.
"Eh belum. Aku sengaja nungguin kamu, biar bisa jama'ah." Laura segera berdiri menyiapkan peralatan sholat.
Ini adalah pertama kalinya mereka melaksanakan shalat berjama'ah. Laura mencium punggung tangan Reyhan. Keduanya melanjutkan dengan membaca Al Qur'an bersama.
Tok....Tok....Tok
__ADS_1
Mereka beradu pandang ketika mendengar ketukan pintu kamar.
"Aku saja yang bukain pintu." Laura berdiri dan melihat siapa yang mengetuk pintu.
"Sudah di tunggu bapak sama nyonya non, untuk makan malam."
"Iya bi, terima kasih." kata Laura, lalu ia kembali menutup pintu.
"Ayo Reyhan kita makan malam." ajak Laura sambil melepaskan mukenanya. Reyhan mengangguk dan membereskan peralatan ibadah mereka.
Selama makan malam, mereka saling bertukar cerita dan tertawa bersama. Reyhan bersyukur di terima baik oleh keluarga Laura yang sangat kaya itu.
Tiba-tiba Laura merasakan perutnya sakit. Ia pun segera ijin ke kamar duluan. Sesampainya di kamar rasa sakitnya justru hilang. Ia pun hanya duduk di tepi ranjang sambil mengecek handphonenya yang sejak tadi ia telantarkan. Tiba-tiba ia kembali teringat akan malam pertamanya. Sehingga membuatnya kembali gelisah.
"Ya Allah, kalau Reyhan meminta hak nya malam ini juga, gimana? Aku deg-degan dan merasa belum siap. Tapi kalau aku menolak, berdosa gimana?" Laura mondar mandir gelisah. Kembali membuka handphonenya dan mencari ilmu dari google.
Berulang kali ia menghembuskan nafas untuk mengusir rasa gelisah nya. Ia berusaha memantapkan hatinya demi membuat Reyhan bahagia.
"Dia sudah banyak berkorban untuk ku, sekarang aku yang harus berkorban untuknya." gumam Laura.
Bergegas ia membuka lemari dan mengeluarkan baju tidur yang sudah mamanya siapkan jauh jauh hari.
"Ish, mama. Masa aku di suruh pakai beginian sih di hadapan Reyhan? Apa kata dia nanti? Tapi mama bilang, papa suka lihat mama pakai baju seperti ini pas malam pertama. Hem.. ya sudah coba saja deh."
Setelah membersihkan diri, Laura memakai lingerie warna merah menyala yang sangat tipis seperti saringan tahu. Tak hanya itu saja, ia juga memoles wajah nya dan menyemprotkan parfum di seluruh tubuh.
Setelah semua selesai, ia duduk di tepi ranjang sambil beristighfar untuk menghilangkan rasa groginya.
Sementara itu, di lantai bawah. Pak Atmaja segera menyuruh Reyhan untuk segera istirahat, setelah keduanya menghabiskan waktu untuk bertukar cerita.
Reyhan mulai memelankan langkahnya ketika hampir sampai kamar.
'Duh, kenapa jantung ku jadi berdetak secepat ini? Tulang persendian ku juga mulai terasa lemas. Perasaan aku habis makan, ngga mungkin lapar lagi. Apa ini cuma perasaan ku saja? Karena ini pertama nya aku tidur dalam satu kamar dengan seorang wanita. Ya Allah, apa yang harus aku duluan nanti?'
"Reyhan, kenapa kamu masih berdiri di situ? Masuk saja ke kamar Laura. Dia sudah jinak, ngga bakal marah."
Suara bu Ani seketika mengejutkan nya. Ternyata ibu mertuanya membuntutinya dari belakang, untuk memastikan sudah masuk kamar atau belum.
"I_iya ma." sambil meringis Reyhan menjawab. Bergegas ia pun membuka pintu.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Miss Laura!" Seru Reyhan, sambil mengelus dadanya.