
Laura dan bu Rohmah berjalan beriringan sambil membawa sembako itu menuju ke rumah beberapa warga yang menjadi orang penting dalam membantu menyelenggarakan acara pernikahan dan untuk orang yang kurang mampu.
Laura tampak memperhatikan sekelilingnya. Rumah warga desa yang rata-rata kecil tapi berjajar rapi. Tanaman hias yang tumbuh di depan rumah warga terlihat sangat memanjakan mata.
Hal itu berbanding terbalik dengan lingkungan rumah nya. Yang rata-rata rumah bertingkat. Beberapa warga yang kebetulan berada di depan rumah, juga saling bertegur sapa dengan bu Rohmah.
Suasana desa yang masih tampak asri dan warganya yang terlihat ramah, membuat Laura betah berada di sana. Tak lama kemudian, bu Rohmah membelokkan langkahnya menuju sebuah rumah yang terlihat lebih kecil namun tampak bersih, rapi dan juga asri.
"Assalamu'alaikum." bu Rohmah di ikuti Laura mengucapkan salam pada seorang nenek yang sedang memberi makan ayam di samping rumahnya. Ia masih terlihat sehat, segar, dan energik walaupun umurnya sudah banyak.
"Wa'alaikumussalam." sambil tersenyum hangat nenek itu membalas salam keduanya.
Laura segera mencium punggung tangan nenek itu sambil tersenyum.
"Rohmah, ini istri Reyhan?" tanya nenek itu, pandangan nya menelisik ke arah Laura, dan tak lama kemudian berdecak kagum.
"Cantik sekali. Pantas saja, anak mu kebelet ingin langsung menikahinya. Kalau tidak, bisa di sambar orang duluan." kekeh nenek. Bu Rohmah pun juga ikut terkekeh. Sehingga membuat Laura tersipu malu.
"Eh, ada perlu apa datang kesini? Ayo kita duduk di dalam." tawar nenek ramah.
"Disini saja nek, kita ngga lama kok." tolak bu Rohmah halus. Ketiganya kini duduk di teras depan rumah.
Bu Rohmah segera menyampaikan maksud tujuannya datang. Nenek sangat berterima kasih ketika menerima paket sembako itu. Tak lupa ia mendoakan kebaikan untuk keluarga Reyhan.
Setelah sejenak berbasa-basi, akhirnya keduanya segera pamit undur diri. Karena masih ada beberapa rumah yang belum di kunjungi.
Laura mengulurkan beberapa lembar uang merah pada nenek itu karena merasa iba, hidup sendirian jauh dari anak-anaknya. Hingga membuat nenek menitikkan air mata, karena rindu dengan anak dan cucunya yang sudah lama tidak pulang kampung.
"In shaa Allah, kapan-kapan Laura main kesini lagi nek. Nemenin nenek ngasih makan ayam." kekeh Laura, berusaha menghibur hati nenek.
Setelah berpamitan, mereka segera melanjutkan perjalanannya kembali, sampai paket sembako habis dibagikan.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Laura langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur karena capek. Ini adalah kali pertamanya berjalan jalan di desa sambil menyantuni warga.
Tiba-tiba ia teringat akan kenangannya dulu bersama Choki menghabiskan uang untuk berfoya foya, padahal nyatanya ada banyak orang di sekitar yang membutuhkan uluran tangan.
"Kecapekan kan?" suara Reyhan tiba-tiba mengejutkan nya.
Ia sudah masuk kamar sambil membawa es buah yang terlihat sangat menyegarkan. Laura hanya mengangguk sambil tersenyum. Ia pun segera duduk bersandar pada dinding kamar.
"Walaupun capek, aku tetap senang kok. Suasana di sini, jauh berbeda sama di rumah sana mas. Lebih rame, lebih seru." cicit Laura.
Reyhan segera menyodorkan es itu pada Laura, yang langsung di minumnya hingga tinggal setengah saja.
Sambil mengaduk aduk minumannya, Laura mulai bercerita dengan antusias. Reyhan yang mendengarkan juga tampak menyimak baik-baik ucapan istrinya itu tanpa menjeda.
Seulas senyum ia sunggingkan, ketika Laura terenyuh pada seorang nenek yang di tinggalkan anak-anaknya merantau, hingga memberinya sejumlah uang. Tak hanya nenek itu saja yang di beri uang, melainkan beberapa warga yang ia kunjungi juga di beri uang, sampai uang yang ada dalam dompetnya habis.
"Kirim nomor rekening Miss Laura ke handphone ku, nanti aku ganti uang yang di pakai tadi."
"Sudah, ngga boleh bersedih seperti itu. Yang penting sekarang kan sudah berhenti." Reyhan mengangkat dagu Laura sambil tersenyum.
"Sekarang kan kita sudah nikah. Tugas ku ngga cuma memberi nafkah batin saja, tapi juga nafkah lahir. Ayo sebutkan nomor rekeningnya, nanti biar aku transfer uangnya. Anggap saja itu sebagai nafkah lahir dari ku. Terserah nanti uangnya mau di pakai untuk apa."
Setelah berulang kali mendesak, akhirnya Laura menyebutkan nomor rekeningnya. Tak berapa lama, handphonenya bergetar, notifikasi pesan masuk sejumlah uang yang di transfer Reyhan.
"Hah, ini terlalu banyak mas." Laura membulatkan matanya tak percaya dengan uang yang baru saja masuk ke rekeningnya sejumlah 60 juta.
"Masa? Menurut ku uang saku yang diberikan papa nominalnya pasti lebih besar dari itu."
"Tahu saja." kekeh Laura, lalu memeluk Reyhan mengucapkan terima kasih.
Laura sudah mandi sore, dan kini sedang duduk di teras menikmati pemandangan sekitar. Walaupun kanan kiri sudah terdapat bangunan, tapi pas di hadapannya, di seberang jalan, masih ada sawah yang cukup luas. Dan kini ia tampak asyik memperhatikan orang-orang yang tengah memanen padi. Karena masih menggunakan alat tradisional.
__ADS_1
Di tengah asyiknya ia memperhatikan sawah, Anisa muncul dari balik pagar mengendarai motor nya. Laura segera menyambutnya dengan senyum hangat dan memeluk Anisa ketika sudah sampai teras. Hubungan keduanya semakin lengket saja.
"Ustadzah baru pulang, pasti capek ya?" kekeh Laura, sengaja menggoda Anisa.
Setelah keduanya berbincang sebentar, Anisa pamit untuk membersihkan diri, dan berjanji akan menemani Laura ngobrol di teras rumah.
Tak berselang lama, Anisa kembali keluar rumah sambil membawa rujak serta es kelapa muda, dan meletakkan nya di meja teras.
Keduanya kini duduk berjejer, menikmati pemandangan sore.
"Ya ampun, Anisa. Harusnya aku yang nyiapin ini semua untuk kamu."
"Tadi di jalan tiba-tiba aku pengen rujak, ya sudah aku mampir dulu, beli." tutur Anisa sambil menyendok rujak.
Laura seketika menelan saliva, ketika melihat Anisa makan dengan lahapnya.
"Kenapa punya mu ngga di makan?" tanya Anisa ketika melihat rujak Laura masih utuh.
"Aku... Ngga suka makan buah yang masih mentah." Laura meringis.
"Kamu habiskan saja punya ku kalau kamu mau." tawar Laura. Anisa pun tersenyum dan mengedipkan matanya.
Mereka saling bertukar cerita, dan penuh canda tawa.
Anisa terkekeh ketika kembali mengingat kisah cintanya. Yang berniat hendak melamar kakak tapi justru di lamar oleh adik. Laura yang mendengar nya juga ikut terkekeh geli. Tidak menyangka Anisa dan keluarganya berani melamar seorang pria. Sesuatu yang jarang terjadi.
Laura pun menceritakan tentang kisah cintanya dengan Choki, sampai ia bisa nyasar ke pantai dan bertemu dengan Reyhan. Dan semua kenangannya bersama Reyhan ia ceritakan pada Anisa.
Anisa membulatkan mata karena merasa takjub. Ia Tak menyangka, ternyata Reyhan dan Laura sudah cukup lama saling mengenal. Dan bukan karena adanya ikatan saudara.
"Hem, setelah melewati lika liku yang panjang, akhirnya kalian bersatu juga ya. Aku salut sama mas Reyhan yang mampu menjaga kamu. Seorang pria biasanya tak bisa menahan godaan ketika di depannya ada wanita cantik yang mengumbar aurat nya." Puji Anisa tulus pada kakak iparnya itu.
__ADS_1
"Kamu memuji suami ku, ngga ada niatan ingin merebutnya dari ku kan Nis?" tanya Laura sambil mengernyitkan keningnya.