
"Kenapa mobil anak saya bisa kamu pakai?" tanya haji Dahlan ketika ia sudah mempersilahkan Andre duduk.
Andre pun menceritakan kejadian yang sebenarnya dari awal sampai akhir. Dan haji Dahlan manggut-manggut mendengar nya, sambil pandangan nya menelisik ke arah Andre.
Selama ini, Reyhan selalu sendiri datang ke pondok, dan ini adalah kali pertama haji Dahlan melihat dan berkenalan langsung dengan salah satu teman Reyhan.
Dan dalam pandangan nya, Andre termasuk pemuda yang cukup baik. Jika Reyhan baik, maka kemungkinan besar teman-temannya juga adalah orang yang baik. Itu adalah ilmu klasik yang biasa semua orang terapkan dalam menilai orang yang baru di kenal.
"Permisi pak, ini sudah maghrib, saya mau ijin pulang." ucap Andre setelah mereka bercakap-cakap sekian menit.
"Sholat di sini saja dulu, tidak baik keluar rumah saat maghrib."
Seperti biasanya, haji Dahlan selalu menahan tamu-tamunya pulang saat Maghrib, karena menurutnya hal itu kurang baik di lakukan.
Sejenak Andre mempertimbangkan ajakan haji Dahlan, lalu mengangguk setuju. Ia pun mengekor haji Dahlan untuk mengambil air wudhu di teras depan rumah.
Dan Rosyidah pun segera berlari kecil menuju kamarnya lewat pintu samping. Karena sejak anak-anak TPA pulang, ia menguping pembicaraan abi dan lelaki yang membantunya tadi.
'Oh, jadi namanya Andre, teman sekolah mas Reyhan dulu.' batin Rosyidah ketika sudah sampai kamar dan duduk di tepi ranjang tempat tidur.
'Mas Reyhan itu kan orang baik, pasti teman-temannya juga orang baik. Eh, kenapa aku memikirkan mas Reyhan dan teman-temannya? Apa aku belum bisa move on dari nya? Oh tidak, Rosyidah teman teman abi jauh lebih baik dan mumpuni. Hanya saja aku belum bisa membuka hati untuk mereka.'
Sudah berulang kali haji Dahlan menyuruh Rosyidah untuk berta'ruf dengan anak teman-temannya, tapi Rosyidah selalu dengan tegas menolak. Dulu karena belum siap, kemarin karena hatinya terpikat oleh Reyhan, dan sekarang hatinya masih berusaha untuk move on dari Reyhan.
Sejenak ia berpikir, jika terburu-buru menerima tawaran abinya untuk berta'ruf dengan lelaki lain dan sampai pada jenjang pernikahan, Rosyidah takut tak bisa membahagiakan pasangannya, karena beranggapan hal itu sebagai tempat pelarian saja.
Sementara itu di luar, setelah berwudhu Andre dan haji Dahlan berjalan menuju masjid yang ada di kawasan pondok.
Setelah menunaikan sholat tahiyatul masjid, tak berselang lama iqomah di kumandangkan, Haji Dahlan maju ke depan untuk menjadi imam. Sholat pun di mulai.
Andre larut dalam bacaan bacaan yang menyejukkan hati dan indah terdengar di telinga, sampai tak terasa sholat pun usai. Satu persatu santri keluar dari masjid hingga tinggal dia dan haji Dahlan yang masih khusyu berdo'a.
__ADS_1
Setelah haji Dahlan selesai, mereka pun keluar dari masjid, dan sekalian Andre berpamitan padanya. Mewakili Rosyidah, haji Dahlan mengucapkan rasa terima kasihnya. Dan Andre hanya tersenyum simpul menanggapi hal itu.
_____
Sementara itu, di sore yang bersamaan, Reyhan dan Laura pergi ke dokter untuk memeriksakan diri, kenapa sampai sekarang belum juga hamil.
Laura tampak khawatir, takut ada hal buruk dalam dirinya sehingga mengakibatkan ia belum hamil. Ia pun menyuruh Reyhan untuk mengemudi lebih cepat.
"Ini juga sudah cepat kok sayang. Jangan terlalu khawatir, takutnya nanti bisa mempengaruhi kita semakin sulit mendapat keturunan lho." ucap Reyhan dengan hati hati agar tidak menyinggung perasaan istrinya.
Laura sejenak mencerna perkataan suaminya, yang setelah di pikir pikir memang ada benarnya. Ia pun mencoba untuk tersenyum dan bersikap rileks.
Akhirnya mobil berbelok di sebuah klinik kandungan. Reyhan segera membukakan pintu untuk Laura.
"Mas, aku ngga enak, pasien yang datang di bukain pintu karena perutnya sudah besar. Sedangkan aku..
"Jangan pesimis dong sayang. Kamu itu istrinya pedagang, anaknya pengusaha, masa bermental seperti itu." lagi-lagi Reyhan memberikan suntikan semangat untuk istrinya yang terkadang masih berjiwa labil itu.
Ia memang selalu manja di depan Reyhan yang membuat Reyhan semakin gemas padanya.
Laura segera turun dan berjalan mengambil nomor antrian. Setelah menunggu, satu persatu nomor antrian mulai di panggil, dan akhirnya kini tiba giliran nomor yang di pegang Laura yang di panggil.
"Aku gemetaran nih mas." ucap Laura sambil meringis. Reyhan pun memegang tangan Laura yang memang terasa sangat dingin.
"Sudah ngga apa-apa, ayo masuk, mas temani." ucap Reyhan sambil menggenggam tangan Laura dengan erat. Melihat suaminya yang tampak sangat tenang, Laura kembali percaya diri dan menyambut dengan senyuman.
"Silahkan duduk pak, bu." ucap seorang dokter wanita paruh baya dengan ramah.
Reyhan pun menarik sebuah kursi yang ada di hadapan dokter itu untuk Laura, setelah itu barulah kemudian ia yang duduk.
"Ada yang bisa di bantu pak, bu?" tanya dokter itu setelah semua duduk.
__ADS_1
Reyhan dan Laura saling beradu pandang sebelum akhirnya menjawab pertanyaan dokter.
"Kami sudah 5 bulan menikah tapi saya belum juga hamil dok."
Dokter pun tersenyum sebelum menjawab keluhan Laura.
"Itu masih wajar bu. Ada juga yang puluhan tahun baru di karuniai anak."
"Tapi, saya khawatir kalau terjadi apa-apa pada diri saya. Sementara saudara saya yang baru saja menikah langsung hamil. Itu membuat saya insecure. Saya juga ngga suka orang membicarakan saya karena belum juga hamil." cerocos Laura.
Reyhan yang mendengar keluhan istrinya semakin mengeratkan genggaman tangannya dan mengusap punggung Laura dengan pelan agar lebih tenang.
Dokter itu pun semakin terkesima dengan perhatian yang Reyhan berikan pada Laura.
"Baiklah, kita periksa dulu rahim ibu. Silahkan berbaring di brankar itu." ucap dokter sambil menunjuk brankar tempat tidur.
Reyhan pun tak mau melewatkan kesempatan itu, ia juga bangkit berdiri mengikuti Laura yang perlahan mulai merebahkan diri di atas brankar.
Dokter wanita itu segera mengoleskan gel pada perut Laura, untuk melakukan USG. Ia mulai mengamati gambar hitam putih seperti semut yang ada di layar monitor. Reyhan pun juga ikut memperhatikan walaupun tak tahu apa maksudnya.
Dokter menarik senyuman bahwa di dalam perut Laura memang tak ada penyakit yang serius.
"Lalu kenapa saya tidak kunjung hamil dok?"
"Kurangi beban pikiran, jangan sampai terkena stres yang berlebih, buat hati kita selalu bahagia. Dan, jangan lupa doa dan usaha. Saya melihat suami ibu adalah orang yang sabar, harusnya ibu jangan terlalu memaksakan diri untuk cepat-cepat mendapat momongan. Biar semua mengalir apa adanya. Siapa tahu dengan kesabaran yang kita miliki, bisa membuahkan hasil yang bagus."
Sesaat Laura memikirkan perkataan dokter yang mungkin benar itu.
Tak hanya itu saja, ternyata dokter juga melakukan pemeriksaan tingkat kesuburan pada Laura dan Reyhan. Untuk hasilnya tidak bisa langsung jadi, harus menunggu beberapa hari terlebih dulu.
Dan, keduanya merasa deg-degan menunggu hasil tes itu keluar.
__ADS_1