Juragan Muda

Juragan Muda
214. Sesuatu untuk Laura dan Anisa


__ADS_3

Setelah perdebatan kecil selesai. Mereka mengetuk pintu sembari mengucapkan salam. Tak lama pintu pun di buka sembari terdengar balasan salam.


Rupanya, umi Sofiah yang membukakan pintu. Sambil tersenyum, ia dan ibunya Andre bersamaan saling mengulurkan tangan. Keduanya lantas menjabat tangan dan berpelukan.


Setelah mengurai pelukan, umi Sofiah mempersilahkan tamunya untuk masuk di ruang tamu.


Di saat semua tamunya sudah duduk, umi Sofiah segera memanggil suaminya dan Rosyidah. Haji Dahlan segera ke depan untuk menemui tamunya, sedangkan Rosyidah ke belakang membantu uminya menyiapkan hidangan.


Tak berapa lama setelah haji Dahlan dan tamunya bercakap-cakap, umi dan Rosyidah memasuki ruang tamu sambil membawa nampan yang berisi hidangan.


Kedua orang tua Andre tampak memperhatikan Rosyidah dengan seksama. Saat itu Rosyidah terlihat anggun dengan balutan gamis syar'i berwarna navi.


Haji Dahlan memperkenalkan Rosyidah pada orang tua Andre. Rosyidah mengulurkan tangan pada ibunya Andre yang segera di balas. Lalu menangkupkan tangan di depan dada sambil membungkukkan badan di hadapan bapaknya Andre. Mereka pun saling melempar senyum, sebelum akhirnya duduk di tengah-tengah kedua orang tuanya.


'Hem, ternyata selera Andre memang benar-benar berubah 180°. Dari yang berpakaian minim menjadi menjadi lebih tertutup. Semoga calon mantu ku itu benar-benar bisa mengubah Andre menjadi sosok yang lebih baik dari sebelumnya.' batin ibunya Andre.


Setelahnya, haji Dahlan mempersilahkan tamunya untuk mencicipi hidangan sambil bercakap-cakap.


Setelah mereka saling terdiam, bapaknya Andre mengutarakan maksud kedatangannya.


"Mohon maaf sebelumnya jika kedatangan kami mengganggu waktu pak ustadz dan ibu. Perkenankan kami untuk menyampaikan sepatah dua patah kata tentang tujuan kami kesini. Yang pertama tentunya untuk menyambung tali silaturahim, yang kedua adalah kami meminta putri bapak dan ibu untuk menjadi istri anak saya Andre."


"Terima kasih atas kunjungannya kesini bapak dan ibu sekalian. Semoga apa yang menjadi doanya terkabul, karena sesama muslim adalah saudara. Untuk tujuan bapak dan ibu perihal meminang, semua saya serahkan pada putri saya. Silahkan nak, sampaikan jawaban mu pada keluarga Andre." balas haji Dahlan.


Rosyidah mengangguk sambil meremas kedua tangannya. Meskipun kemarin Rosyidah sudah memberi jawaban, dan ini hanyalah pengulangan saja, namun ia dan Andre tetap terlihat gugup.


"Bismillah. Setelah saya berdo'a memohon petunjuk Allah, saya..... terima permintaan bapak dan ibu untuk menjadikan saya istri dari putra anda." balas Rosyidah yakin.

__ADS_1


"Alhamdulillah." ucap mereka kompak.


"Nak Andre, apakah kamu ingin melihat wajah putri saya sebelum menentukan tanggal pernikahan?" ucap haji Dahlan.


Dag Dig Dug jantung Andre ketika mendapat tawaran seperti itu. Sebenarnya ia sangat penasaran dengan wajah Rosyidah, namun ia berulang kali meyakinkan hatinya bahwa ia menikahi Rosyidah bukan karena wajahnya, melainkan sikapnya yang baik. Oleh karena itu, ia yakin menolak menerima tawaran itu. Toh saat setelah menikah nanti dirinya akan bisa memandang wajah Rosyidah setiap hari.


"Saya menikahi putri anda bukan karena kecantikan wajahnya, melainkan karena kecantikan hatinya. Toh setelah menikah nanti, saya juga akan melihat wajahnya setiap hari. Oleh karena itu, tidak apa-apa saya tahan niat ini."


"Maa syaa Allah, bapak salut sama kamu nak Andre. Jaman sekarang sulit mencari pemuda seperti mu." puji haji Dahlan sehingga membuat Andre tersipu malu.


'Meskipun keluarga mu bukan keturunan ustadz, ternyata kamu memiliki hati yang cukup baik mas. Semoga Allah mudahkan segala urusan kita.' batin Rosyidah merasa lega dan bersyukur. Ternyata calon suaminya benar-benar menerima apa adanya dia.


Andre segera mengeluarkan cincin yang ia sembunyikan di balik kantong kemeja batik, lalu menyerahkan pada ibunya. Ia membuka kotak bludru warna merah itu dan mengeluarkan cincin emas yang berkilau indah.


"Ulurkan tangan mu nak Rosyidah." pinta ibunya Andre. Rosyidah segera mengulurkan tangan, dan ibunya Andre memasukkan cincin itu ke jari manis Rosyidah. Terlihat cincin itu pas sekali di tangannya.


Mereka pun mulai menentukan tanggal pernikahan, yakni akan di laksanakan sebulan lagi.


Setelah cukup bercakap-cakap mereka pun berpamitan pulang.


Setelah acara lamaran itu, Andre kembali menjalani hari-hari nya dengan penuh semangat. Baik bekerja ataupun memperbaiki diri dan memperdalam ilmu nya. Sedangkan keluarganya juga tampak sibuk menyiapkan segala sesuatunya. Dari sewa tenda, undangan pernikahan dan masih banyak hal lainnya.


Uang yang selalu Andre tabung dan dulu pernah akan dibelikan mobil, sekarang ia ambil dan akan ia gunakan untuk mewujudkan impiannya, yakni membeli mobil, sebagai hadiah pernikahan. Keduanya orang tuanya setuju dengan niat Andre.


"Menurut ibu, Rosyidah adalah gadis yang baik, jadi dia pantas mendapatkan itu. Kamu beruntung sekali lho Ndre dapat menaklukkan hati anak ustadz."


"Hehe, iya bu. Andre bersyukur banget. Doakan ya Bu, semoga Andre bisa jadi imam yang baik untuk Rosyidah." balas Andre, sebelum ia berpamitan berangkat kerja.

__ADS_1


"Pasti ibu do'akan terus. Dah, buruan berangkat kerja sana, keburu telat nanti. Ingat biaya menikah dan mengurus anak orang tidak ditanggung BPJS." kekeh ibunya.


Sedangkan di tempat lain, yakni di tempat Rosyidah, ia juga terus memanjatkan doa agar segala sesuatunya diberi kelancaran. Ia bisa membina rumah tangga yang baik dengan Andre.


Keluarganya pun juga sama, sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan acara pernikahan nya. Karena dia adalah anak perempuan satu-satunya di keluarganya, maka pesta pernikahan akan diselenggarakan semewah mungkin. Kedua kakak laki-lakinya pun tidak iri akan hal itu.


Hingga tanpa terasa, hari yang berlalu sudah berganti bulan. Hari pernikahan mereka pun semakin dekat. Sore itu, Rosyidah sengaja memberi kabar pada kedua sahabatnya secara mendadak dengan mengunjungi di rumah mertua.


"Assalamu'alaikum." tak lupa ia selalu mengucapkan salam ketika bertamu.


Tak berapa lama kemudian, terlihat Tiwi juga memasuki pelataran rumah Bu Rohmah. Ia berjalan mendekat pada Rosyidah. Keduanya saling bersalaman dan berpelukan. Karena tak kunjung dibukakan pintu, keduanya kembali mengucapkan salam. Barulah setelah sekian kali mengucapkan salam, akhirnya pintu terbuka sembari terdengar balasan salam.


Laura dan Anisa kaget melihat kedatangan Rosyidah dan Tiwi yang bersamaan. Mereka pun saling berpelukan untuk melepas rindu.


"Ya ampun La, kamu semakin cubby saja." goda Rosyidah.


"Gimana ngga cubby, tiap hari kerjaan ku cuma tiduran." balas Laura sambil terkekeh. Mereka pun juga ikut terkekeh.


Semenjak keguguran, Laura memang tak pernah lagi diijinkan bekerja. Semua pekerjaan diambil alih oleh Reyhan. Makanya Laura terlihat semakin cantik dengan pipi yang chubby.


Mereka berempat duduk di teras, setelah Anisa dan Laura menyiapkan minuman dan cemilan. Sambil menikmati cemilan, mereka pun bercakap-cakap. Kebahagiaan jelas tergambar di wajah mereka.


"Oh iya, aku mau memberi ini untuk kalian." celetuk Rosyidah sambil merogoh sesuatu dari tasnya.


"Aku juga punya sesuatu untuk kalian." Tiwi yang ingat segera merogoh tasnya dan mengeluarkan sesuatu.


❤️❤️❤️❤️

__ADS_1



__ADS_2