Juragan Muda

Juragan Muda
44. Foto selfi


__ADS_3

"Sayang, yuk kita pulang." Ajak Choki ketika jam kuliah sudah selesai.


"Em..... maaf sayang, sepertinya aku ngga bisa nganter kamu. Aku ada acara." tolak Laura yang merasa tak enak karena menolak permintaan Choki.


"Yah kok gitu. Mau nganter hadiah untuk teman papa mu ya?" tebak Choki.


"Iya." Laura mengangguk.


"Kalo aku ikut juga gimana, habis itu kamu nganterin aku pulang."


'Waduh, makin gawat dong kalo Choki ikut, ntar aku dikira selingkuh gimana?' batin Laura, karena yang ditemui nya adalah seorang pemuda yang sepantaran dengannya.


"Eh jangan sayang, untuk kali ini kamu naik taxi online dulu ya. Besok aku pasti anter jemput kamu lagi. Aku takut dimarahin papa." bujuk Laura.


"Iya deh kalo gitu."


"Daa.... sampai ketemu besok sayang." ujar Laura melambaikan tangan ke arah Choki, dan Choki pun melakukan hal yang sama.


Setelah itu bergegas Laura melajukan mobilnya menuju rumah Reyhan.


Akhirnya, setelah 20 menit, sampai juga Laura dirumah bercat hijau itu.


Sejenak dirinya mengatur nafas, karena mendadak bingung dengan apa yang mau dikatakan nanti. Dia pun coba bermonolog sendiri beberapa kali.


"Arghhh.... kenapa aku jadi grogi seperti ini." teriak Laura kesal.


Karena tak biasa dirinya seperti itu, selalu ceplas-ceplos dan percaya diri bicara dengan siapa saja.


"Huh, lebih baik aku segera keluar saja, daripada bingung sendiri." gumamnya lagi.


Laura pun meraih rantang dan paper bag biru. Sejenak menggoyang-goyang rantang.


'Perasaan tadi berat semua, tapi kenapa semua terasa enteng.' lagi Laura bergumam, lalu segera membuka satu persatu rantang.


"Astaga! Chokiiiii!" pekik Laura, melihat isi rantang yang sudah ludes tak tersisa.


Akhirnya Laura segera keluar dari mobilnya dengan hanya menenteng paper bag biru.


Semua mata melihat ke arah Laura tanpa berkedip karena tampilannya yang tampak selalu memukau itu dan bahkan melebihi artis.


Rambut tergerai sebahu, kulit putih mulus sampai lalat pun melorot jika menghinggapi nya, polesan wajah yang tipis tapi membuatnya semakin terlihat cantik, bibir tipis dengan di poles lipstik warna nude, kemeja berwarna senada dengan lipstik nya dan rok di atas lutut berwarna putih, sepatu high heels merah, dan tas bermerk yang menambah kesan mewah. Kacamata hitam juga selalu menghalangi pandangannya dari rakyat jelata, karena ia hanya mau berteman dengan orang orang yang sederajat dengannya.


"Saya cari Reyhan ada ngga orangnya." kata Laura dengan angkuhnya tanpa melihat ke arah Dinda yang sedang melongo melihatnya.


"Heh, saya cari Reyhan, ada ngga orangnya!" nada bicara Laura naik satu oktaf karena Dinda tak kunjung memberi jawaban.


"Eh iya iya ada, tunggu sebentar mbak." jawab Dinda gelagapan.

__ADS_1


"APA! kamu panggil saya mbak? Memang aku mbak mu apa?" maki Laura.


"I_iya, maaf mbak, terus saya harus panggil mbak apa?" Dinda seketika menciut nyalinya ketika berhadapan dengan Laura.


"Panggil saya Miss, Miss Laura, you understand?"


"Yes yes meses Laura."


"Miss Laura! buka meses. Kamu pikir aku kue donat ditaburi meses." bentak Laura penuh emosi.


Dinda pun segera berlari lalu mengetuk pintu kamar Reyhan.


Tok.... Tok.... Tok ...


"Mas, mas Reyhan. Dicari meses Laura, buruan mas." teriak Dinda sambil melihat Laura yang terlihat serius menatapnya.


Dinda kembali mengetuk pintu karena tidak ada jawaban dari dalam.


Dan diketukan terakhir Reyhan akhirnya membuka pintu. Tapi karena Dinda terus melihat Laura, tak sadar jika ia mengetuk dahi Reyhan.


"Arghhh.... Dindaa...." teriak Reyhan. Dinda langsung menoleh kearahnya.


"Ma_maaf mas, itu di cariin sama meses Laura." jawab Dinda geragapan.


"Meses Laura?" ulang Reyhan karena merasa tak punya teman dengan nama itu, lalu mengedarkan pandangan ke arah antrian pembeli. Dan seketika pandangannya terkunci pada wanita cantik yang mirip artis itu.


Reyhan segera mendekat kearah Laura berdiri diikuti Dinda, sedangkan antrian pembeli masih menatap takjub Laura.


"Mbak Laura, ada perlu apa? Mari kita bicara diteras."


"Mbak mbak, Miss Laura bisa ngga!" jawab Laura dengan ketus, lalu segera berjalan ke teras.


"Silahkan duduk mbak, eh Miss... Laura maksud saya." Reyhan segera menutup mulutnya karena hampir saja salah bicara.


"Ada perlu apa ya mbak, kok datang menemui saya? Eh Miss Laura maksudnya." Laura kembali melotot ke Reyhan.


"Tuh, dikasih papa oleh-oleh." jawab Laura sambil menikmati angin dari kipas mini yang dia bawa, tangan kirinya menunjuk paper bag biru yang ia letakkan dimeja.


"Oleh-oleh? Dari papa? papa siapa?" ulang Reyhan sambil sejenak berpikir.


"Dari pak Atmaja maksud nya mbak, eh Miss?" Reyhan coba menebak.


Laura pun mengangguk sambil masih menikmati semilir angin. Sedangkan Reyhan hanya menatap paper bag itu, karena ragu untuk membukanya.


"Btw, emang kalo tamu disini ngga pernah dikasih minum apa gitu ya?" ceplos Laura yang melihat Reyhan hanya diam mematung.


"Hah, tung_tunggu sebentar mbak, eh Miss."

__ADS_1


Reyhan kaget dengan ucapan Laura, lalu segera berlari kecil ke arah pak Somad untuk menyiapkan seporsi cilok, setelahnya segera berlari ke dapur untuk membuatkan es.


Tak berselang lama, dia sudah menyiapkan segelas es susu karena kebetulan kopinya habis dan meletakkan di meja depan Laura.


"Kamu pikir aku anak kecil yang harus dikasih minum susu tiap hari apa!" bentak Laura.


"Ma_maaf kan saya mbak, eh Miss, kebetulan kopi dirumah habis. Kalau gitu saya beliin di mini market depan rumah dulu ya, Miss mau minum apa?" keringat bercucuran di dahi Reyhan karena harus menghadapi manusia seperti Laura.


"Heh, ngga usah aja, kelamaan. Keburu aku mati kehausan." kata Laura dengan emosi yang meluap-luap. Akhirnya dia pun meneguk juga es susu yang sudah tersaji di hadapannya.


Tak lama kemudian, pak Somad mendekat dan meletakkan seporsi cilok di meja dan pamit meninggalkan mereka.


Laura segera menaikkan kacamata nya dan melihat lebih dekat ke makanan yang tersaji di meja.


"What's that?" tanya Laura sambil mengerutkan keningnya.


"Oh itu, namanya cilok Miss. Dibuat dari daging ayam, sapi juga campuran bahan lainnya. Dicoba saja dulu Miss, enak kok." jawab Reyhan diiringi senyum tipis.


Karena Laura masih terbengong, Reyhan segera menusuk 1 buah cilok dan mencocolkan ke saos lalu segera mendekatkan ke mulut Laura. Dan Laura pun segera membuka mulut lalu melahap nya.


"Kamu.... berani beraninya menyuapi aku, curi-curi kesempatan ya!" Bentak Laura setelah ia selesai mengunyah.


Baru saja Reyhan bisa bernafas sedikit lega karena Laura tidak teriak lagi, tapi sekarang malah terjadi lagi.


"Tapi... saya hanya membantu Miss cara makannya biar Miss tau."


"Ngga usah, saya bisa sendiri." Laura segera menusuk 1 buah cilok dan melahapnya sampai habis. Juga menghabiskan segelas es susu karena kepedesan.


Ehem...


sengaja Laura berdehem ke arah Reyhan yang masih berdiri mematung karena melihatnya sudah menghabiskan seluruh hidangan.


"Saya pamit pulang dulu." ucap Laura dengan nada serak karena menyadari kerakusannya makan kali ini, lalu segera bangkit berdiri.


"Eh iya ngga papa Miss, mau saya bungkusin dibawa pulang?" tawar Reyhan.


Laura segera mengibaskan tangan seraya berlalu meninggalkan Reyhan.


Baru saja beberapa langkah Laura berjalan, tiba-tiba ia teringat pesan papanya untuk berfoto selfi dengan Reyhan. Segera ia membalikkan badan dan menghampirinya.


"Ayo kita foto selfi dulu."


Berteman yuk kak di FB.


FB: Nurul khanifah


Berikan penilaian yang baik ya agar menambah semangat author untuk terus update.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca, terimakasih semoga sehat selalu dan semakin lancar rezekinya.😘🤗


__ADS_2