
Keluarga pak Atmaja pulang dengan hati yang jauh lebih lega dan tenang. Selama hidupnya ia terus menerus mengejar dan mengumpulkan harta sebanyak mungkin agar selalu hidup berkecukupan dan menikmati setiap kemewahan seperti keluarga nya yang lain. Sehingga membuat ia lupa untuk menyedekahkan sebagian hartanya.
Dan ia merasa sangat beruntung di pertemukan dengan Reyhan yang bisa menyadarkan nya akan semua itu. Lewat Reyhan juga ia bisa bertemu dan berkenalan dengan orang-orang baik seperti haji Dahlan sekeluarga dan pak Gofur.
Sedangkan bagi pak Gofur, sore itu serasa bagi sebuah kejutan yang menyenangkan untuk nya. Selama bertahun-tahun ia menyumbangkan hartanya di salah satu pondok yang di ampu oleh temannya, belum pernah ia sekalipun bertemu dengan Reyhan.
Dan, akhirnya sore itu mereka di pertemukan dengan indahnya. Bahkan ia juga tak menyangka jika Reyhan menjadi donatur tetap pondok pesantren milik temannya itu. Dan sebuah kebahagiaan juga, akhirnya pak Gofur bisa berkenalan dengan pak Atmaja yang di sangka nya adalah orang tua Reyhan. Suatu awal pertemuan yang baik semakin menambah niat pak Gofur untuk mendekatkan Anisa pada Reyhan sekeluarga.
Bagi Anisa, setelah beberapa kali bertemu dengan Reyhan dan melihat perilaku nya yang baik membuat kuncup mawar mekar di hatinya. Ia juga beruntung bisa berkenalan dengan Laura yang di sangka nya adalah adik Reyhan. Ia berharap bisa mencari informasi lebih jauh lewat Laura.
Sedangkan bagi Reyhan sendiri, ia merasa bersyukur bisa berkumpul dalam lingkup orang orang sukses yang tidak tamak harta, saling mengingatkan dalam kebaikan. Ia juga merasa senang dengan perubahan sikap Laura yang lebih lembut dari biasanya, dan selalu memakai setiap gamis pemberian nya. Membuat nya kembali ingin membelikan beberapa set gamis untuk Laura lagi.
"Mampir dulu Rey?" tawar pak Atmaja dan istrinya bersamaan.
"Em... Saya masih ada urusan pah, mah. Saya permisi dulu ya." pamit Reyhan, karena Laura tidak mempersilahkan ia mampir.
"Ya sudah, hati-hati ya." ucap suami istri itu kompak.
"Iya pah, mah. Assalamu'alaikum." balas Reyhan sambil membunyikan klakson mobil nya.
Bergegas Reyhan mencari masjid terdekat untuk mendirikan sholat Maghrib, setelah itu bergegas ia menuju counter untuk mengecek. Melihat omset nya yang terus mengalami kenaikan yang signifikan, ia sangat merasa bersyukur.
"Kalian tahu ngga?" tanya pak Gofur pada istrinya sambil fokus menyetir.
"Tahu apa bi, orang belum cerita lho." balas umi Sofiah sambil nyengir.
"Pemuda tadi yang abi maksud." imbuh pak Gofur.
Anisa baru menoleh menyimak percakapan abi dan umi nya yang menyinggung soal Reyhan.
"Kenapa memangnya bi?" tanya umi Sofiah lagi.
"Beberapa waktu lalu kan abi sering menceritakan tentang sosok pemuda itu, dan itu adalah Reyhan. Abi bersyukur banget tadi kita bisa bertemu dan berkenalan dengan keluarga Reyhan. Gimana menurut umi, dia baik kan? Seperti yang abi ceritakan selama ini."
"Em... Menurut umi dia juga baik sih."
'Jadi yang di ceritakan abi selama ini adalah dia, Reyhan. Ya Allah, aku sangka orang lain.' batin Anisa yang tersenyum di balik cadarnya.
_____
Sore itu Rosyidah ikut menemani abi nya mengisi majelis di rumah pak Atmaja.
Haji Dahlan, mengisi majelis untuk pak Atmaja, satpam, tukang kebun dan Reyhan. Sedangkan Rosyidah mengisi majelis untuk bu Ani, Laura dan beberapa art perempuan.
__ADS_1
Jika haji Dahlan tidak bisa mengisi, barulah di isi oleh Rosyidah, atau terkadang Reyhan juga ikut membantu.
Selama hampir 2 jam kegiatan majelis itu berjalan. Berkat kesabaran dan ketekunan masing-masing, akhirnya keluarga pak Atmaja sudah bisa membaca Al Qur'an. Mereka sangat senang sekaligus bersyukur.
"Mbak Laura, kapan kapan kita jalan jalan yuk?" ajak Rosyidah ketika kegiatan majelis itu sudah selesai. Mama Laura dan art nya sudah pergi.
"Boleh, mau kemana?" balas Laura antusias.
"Kemarin aku lihat story whatsApp Anisa yang upload jualan. Mungkin dia buka toko. Kita kasih kejutan dia saja, kita datangi dia di tokonya." usul Rosyidah.
"Wah ide bagus itu, boleh Ros."
Keduanya kembali menikmati hidangan yang ada, sambil bertukar cerita lagi.
_____
Hari yang dijanjikan pun tiba, Rosyidah menjemput Laura.
"Non, ustadzah Rosyidah sudah datang." teriak bibi dari balik pintu.
"Iya bi, suruh tunggu sebentar ya." balas Laura.
"Pakai baju yang mana ya? kok aku bingung sendiri." gumam Laura sambil sibuk membolak-balik beberapa set gamis yang di belikan Reyhan.
Ia pun segera mengganti bajunya dengan gamis hitam tersebut. Polesan make up tipis membuat ia semakin tampak cantik natural. Ia segera memakai jilbab hitam yang senada dengan warna bajunya.
"Hem... sudah beres." gumam Laura puas dengan style nya siang itu. Ia segera berjalan menuju ruang tamu, dimana Rosyidah sudah menunggunya.
"Maaf Ros sudah membuat mu lama menunggu." ucap Laura sambil menuruni anak tangga.
"Tidak apa-apa mbak, ayo berangkat sekarang." jawab Rosyidah, lalu ia memasukkan handphone nya ke dalam tas.
Rosyidah melajukan mobilnya pelan, keduanya larut dalam obrolan yang mengasyikkan tanpa membahas soal lelaki. Hingga tak terasa mereka sudah sampai di sebuah toko yang tidak terlalu besar tapi pengunjung datang silih berganti.
"Benarkah ini tokonya Ros?" tanya Laura sambil mengamati toko itu.
"Sepertinya benar mbak. Nih fotonya samakan?" Rosyidah menyodorkan foto yang ada di handphone nya.
"Iya, ya sudah yuk turun." ajak Rosyidah, Laura pun mengangguk lalu segera turun.
"Sepertinya tokonya lumayan ramai juga ya mbak."
"Iya Ros, aku suka. Berarti rezekinya Anisa tuh."
__ADS_1
Keduanya segera menuju ke dalam dan mengedarkan pandangan di setiap sudut toko.
"Wow, barang-barang nya juga lumayan banyak." gumam Laura.
"Iya, pinter juga ya Anisa mengelola bisnisnya. Eh tapi, dimana Anisa ya? Kita tanya sama karyawannya yuk." ajak Rosyidah.
Keduanya bergegas menuju meja kasir untuk menanyakan keberadaan Anisa.
"Anisa ada mbak?"
Anya mendongakkan kepalanya melihat siapa yang bertanya. Matanya membulat sempurna ketika melihat kecantikan Laura untuk yang pertama kalinya.
'Ya ampun, kok ada bidadari cantik yang nyasar kesini sih.' batin Anya.
"Sebentar ya kak, aku panggilkan mbak Anisa dulu." ucap Anya ramah.
Tak berselang lama, Anisa sudah datang dan menyapa mereka.
"Assalamu'alaikum." Anisa menyapa kedua temannya itu.
"Wa'alaikumussalam." balas keduanya, lalu saling berjabat tangan dan berpelukan.
"Kenapa kalian bisa tahu aku disini?" tanya Anisa.
"Aku kemarin tak sengaja melihat story' whatsApp mu." ucap Rosyidah apa adanya.
Anisa lalu mengajak keduanya duduk di kursi pengunjung. Mereka saling bertukar cerita. Rosyidah banyak bertanya tentang usaha Anisa. Ia juga ingin seperti Anisa yang memiliki toko perlengkapan muslim dan oleh-oleh haji. Tapi, selama ini dia lebih sering menghabiskan waktu nya untuk bereksperimen membuat aneka jenis makanan. Sedangkan Laura sendiri, ia tak memiliki cita-cita yang pasti.
Tak terasa sudah hampir 2 jam mereka bercerita.
"Aku lihat lihat koleksi toko mu dulu ya Nis." kata Rosyidah, ia pun segera bangkit berdiri dan mengedarkan pandangannya ke setiap sudut.
"Aku juga ya Nis." Laura pun ikut berdiri.
"Iya baiklah, ambil yang banyak nanti aku kasih diskon." ujar Anisa terkekeh.
"Oh ya, aku ambil beserta toko nya boleh?" ujar Laura yang membuat kedua temannya terkekeh.
Awalnya Rosyidah dan Laura berjalan berdampingan, tapi keinginan hati membawa langkah mereka menuju ke tempat yang berbeda.
Laura melihat deretan gamis syar'i. Tangannya bergerak pelan meraba setiap permukaan gamis gamis itu. Akhirnya ia tertarik untuk mengambil satu set gamis yang cukup menarik perhatiannya. Tanpa ia sadari ternyata gamis itu juga hendak di ambil oleh orang yang berada di sebelah nya. Keduanya nya pun menoleh bersamaan.
"Kamu!"
__ADS_1