Juragan Muda

Juragan Muda
76. Online shop


__ADS_3

"Astaga, si_siapa kamu?" bu Siti terperanjat kaget melihat wanita bercadar yang ada dikamar Tiwi. Perlahan-lahan wanita itu mendekati bu Siti.


"Siapa kamu... kenapa diam saja? Bapak...." bu Siti berteriak karena panik, langkah nya perlahan-lahan mulai mundur.


"Prank...... Ini Tiwi bu." seru Tiwi sambil memeluk ibunya lalu tertawa terbahak bahak.


"Tiwi!" ucap bu Siti dengan kaget nya, lalu segera mengurai pelukannya dan mencoba mengamati wanita yang ada dihadapannya dengan teliti.


"Astaga, kamu beneran Tiwi, anak ibu?"


"Ya iyalah bu, kalau bukan ngapain aku ada dikamar ini." jawab Tiwi sambil membuka cadarnya.


"Kenapa sih bu teriak teriak?" ucap pak Somad yang baru muncul di ambang pintu mendengar kehebohan istrinya langsung bergegas mendekat. Pak Somad seketika mengamati penampilan Tiwi lalu tersenyum.


"Bapak ngga kaget dengan penampilan Tiwi?" ucap bu Siti karena pak Somad memberi reaksi yang berbeda.


"Kalau kaget ya jelas kaget bu, tapi bapak malah suka kalau Tiwi bisa berpenampilan demikian. Ciri ciri wanita sholihah ya seperti ini, menutup aurat." ucap pak Somad sambil memegang bahu Tiwi sambil tersenyum.


Ucapan bapaknya barusan membuat hati Tiwi semakin senang, dan ingin berusaha seperti Anisa.


"In shaa Allah Tiwi akan berubah jadi lebih baik lagi pak, doakan Tiwi ya." Pak Somad pun mengangguk dan keduanya saling melempar senyum.


"Tapi kan aneh pak, kalau Tiwi berpakaian seperti itu. Apa kata tetangga kita nanti?" sela bu Siti.


"Bu, biarkan orang lain berkata apa. Tapi yang penting kita sebagai orang tua harus mendukung niat baik anak kita. Semampu kamu saja dulu nduk berubahnya, yang penting Istiqomah nya."


"In shaa Allah iya pak, Tiwi akan ingat nasehat bapak."


Setelah berkata seperti itu pak Somad pun keluar lagi.


"Nduk, kalau nak Bayu ngga suka dengan penampilan mu yang seperti ini gimana?" bisik bu Siti, takut terdengar oleh bapak.


Tiwi pun menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan ibunya. Sesuatu yang sebenarnya ingin dilupakan Tiwi tapi ibunya mengingatkan lagi.


"Jika jodoh, tak kan lari kemana bu, jadi ibu tenang saja." ucap Tiwi sambil tersenyum.


"Hem, ya sudah terserah kamu saja nduk, kalau ada apa-apa jangan nangis lagi lho ya." ucap bu Siti memperingatkan, lalu memberikan tumpukan baju itu dan berlalu pergi. Tiwi menggeleng gelengkan kepala melihat kedua orangtuanya yang berbeda sikap.


Tiwi kembali melihat bayangan dirinya dari pantulan cermin.

__ADS_1


"Jika mas Bayu memang jodohku, pasti menerima diriku dan memaafkan segala kesalahan ku. Tapi jika tidak jodohku, semoga aku bisa mendapatkan ganti yang lebih baik lagi." Tiwi bergumam dengan optimis.


_____


Keesokan harinya, Tiwi kembali bersiap masuk kerja. Hari itu dia sengaja masih memakai celana jeans panjang kemeja panjang dan jilbab sebatas dada. Belum mengenakan setelan gamis yang diberi Anisa karena merasa belum percaya diri.


Hal itu memang suatu hal yang wajar, karena setiap proses perubahan memang butuh waktu.


"Assalamu'alaikum." Tiwi menyapa Anisa yang ternyata sudah menyiapkan beberapa orderan pembeli.


"Wa'alaikumussalam." balas Anisa sambil tersenyum.


"Maaf ya mbak, hari pertama saya sudah telat." ucap Tiwi merasa tak enak, lalu segera duduk di dekat Anisa.


"Ngga telat kok mbak, memang sengaja saya berangkat lebih awal untuk menyiapkan orderan pembeli mbak." Selanjutnya Anisa memberi tahu cara kerja admin online shop. Mulai dari membalas chat pembeli tentang stok barang, membedakan struk transfer asli dan palsu, packing barang, sampai nanti di pick up oleh kurir.


Setelah Tiwi benar-benar paham, Anisa segera berpamitan untuk berangkat ke sekolah.


"Saya pamit mau mengajar dulu ya mbak, pelan-pelan saja mengerjakan nya, nanti lama-lama juga bisa. Semoga dimudahkan Allah ya. Assalamu'alaikum."


"Iya mbak Anisa, wa'alaikumussalam."


Tepat pukul 12 adzan sholat dhuhur berkumandang. Tiwi bergegas meninggalkan pekerjaannya untuk sejenak melaksanakan shalat.


Setelah selesai sholat ia berniat melanjutkan pekerjaannya lagi, tapi ia mendengar seperti suara ketukan pintu dari arah depan. Segera ia ke depan untuk melihat siapa yang ada disana.


"Permisi mbak, ini pesanannya." kata seorang driver makanan.


"Tapi saya ngga pesanan makanan itu mas." tolak Tiwi dengan dahi yang berkerut takut salah kirim.


"Saya disuruh mengantarkan kesini mbak, sudah dibayar sama mbak Anisa."


"Oh, terimakasih kalau begitu mas." ucap Tiwi sambil menerima kantong plastik itu. Karena perut sudah terasa lapar, Tiwi segera melahap nasi kiriman itu sebelum kembali menyelesaikan pekerjaan nya.


Tepat pukul 3 sebelum mengajar TPA Anisa menyempatkan diri untuk mampir ke tokonya.


"Assalamu'alaikum mbak." sapa Anisa kala melihat Tiwi masih sibuk mempacking barang.


"Wa'alaikumussalam, mbak Anisa sudah pulang?" balas Tiwi sambil mendongakkan kepalanya melihat ke arah Anisa.

__ADS_1


"Sudah mbak, sengaja mampir kesini sebelum mengajar TPA. Mau melihat hasil hari ini mbak." ucap Anisa sambil mengecek rekapan pembeli lalu mulai membantu packing.


"Alhamdulillah mbak, ngga nyangka saya, baru hari pertama kerja ternyata orderannya sudah banyak, ternyata antusias pembeli baju syar'i lumayan juga ya mbak." terang Tiwi.


"Alhamdulillah mbak, semoga berkah dan bermanfaat untuk semua ya mbak." balas Anisa.


"Aamiin."


"Dulu, awalnya juga susah mbak, ada yang bilang harganya mahal lah, ada yang bilang baju kuno lah. Tapi saya tetap bertekad mbak pasti perjuangan saya suatu saat bisa berhasil." terang Anisa mengingat dulu awal awal mengenalkan baju syar'i ke masyarakat.


"Semoga usaha mbak Anisa makin sukses ya, saya pasti bantu semaksimal mungkin." sahut Tiwi dan Anisa mengangguk.


"Mbak, kemarin terimakasih ya sudah diberi stelan gamis. Sebenarnya apa ngga sayang mbak, kalau dikasihkan ke saya cuma-cuma, kan harganya juga lumayan."


"Mbak Tiwi, ngga ada yang namanya cuma-cuma, semua pasti ada balasannya. Dan saya pastinya melakukan semua itu hanya mengharap ridho Allah." dari balik cadarnya Anisa tersenyum manis yang membuat Tiwi semakin kagum dengan kepribadian Anisa.


"Sudah hampir jam 4, mbak Anisa ngga segera mengajar TPA?" ucap Tiwi mengingatkan.


"Masih nunggu kurirnya jemput paket ini dulu mbak, habis itu baru berangkat TPA. Mbak Tiwi pulang duluan ngga apa-apa, ini juga sudah jam pulang kok."


"Saya saja mbak yang menunggu kurirnya, kasian anak anak pasti sudah menunggu mbak Anisa."


"Baiklah kalau begitu, saya pamit dulu ya mbak. Terimakasih sudah dibantuin, semoga betah kerja dengan saya."


Tak berselang lama setelah Anisa pergi, kurir datang untuk menjemput paket. Bergegas Tiwi juga segera membantu.


"Wah, ngga nyangka saya mbak Anisa usaha onlinenya mulai menunjukkan hasil yang bagus." celetuk kurir.


"Lhoh bukannya ini baru awal ya pak." sahut Tiwi.


"Mbak Anisa dari sekolah sudah tekun jualan online mbak, saat kuliah di luar negeri berhenti, dan setelah lulus dilanjutkan lagi sampai sekarang mbak. Saya yang tiap hari ngambil paketannya."


'Apa, mbak Anisa sejak sekolah sudah jualan? Lalu apa kabarnya diriku di waktu itu?'


Hai kak, jgn lupa ya, hadiah pulsa masih menanti. Ayo trus semangat ninggalin jejak buat author 💪💪


Dan, sambil nunggu author update bab selanjutnya, bisa mampir di karya teman author yang seru abis.😍😍


__ADS_1


__ADS_2