Juragan Muda

Juragan Muda
157. Pasar Bahoela


__ADS_3

"Bu, kok sepi?" tanya Laura yang baru saja selesai sholat Dhuha. Kini ia duduk di samping ibunya yang masih fokus melihat acara tv.


"Bayu dan Anisa baru saja keluar, katanya mau jalan-jalan di cfd. Sedangkan Bima sudah main sama teman-teman nya. Reyhan ngga ngajak non Laura pergi?"


Baru saja ibunya bertanya, Reyhan sudah berdiri di ambang pintu kamarnya.


"Miss Laura, ayo buruan siap-siap." ajak Reyhan yang sudah tampak rapi dan semakin terlihat muda. Karena mengenakan kaos hitam polos yang di padukan dengan celana pendek warna cream selutut.


"Ibu mau ikut kami jalan-jalan?" tawar Laura, karena merasa kasian jika hanya di rumah seorang diri. Tapi justru ibunya terkekeh mendengar ajakan Laura. Sehingga membuatnya mengernyitkan dahi.


"Kalian pergi berdua saja, ibu lagi pengen di rumah mendengarkan acara itu." ibu menunjuk tv yang acaranya memang belum selesai.


Sebenarnya ia tahu, jika Reyhan ingin berduaan dengan Laura. Sehingga ia tak ingin mengganggu nya.


Setelah beberapa kali Laura dan Reyhan membujuk ibunya, namun tak berhasil, akhirnya keduanya berangkat sendiri.


Laura bergegas masuk kamar dan mengganti pakaiannya. Kali ini mengenakan stelan warna hitam. Sangat kontras dengan kulitnya yang berwarna putih. Sehingga membuat nya terlihat anggun dan cantik.


Mereka pun berpamitan pada ibunya dengan mencium punggung tangannya dengan takzim.


"Aku kangen naik motor mu mas." celetuk Laura ketika Reyhan hendak membuka pintu mobil.


Reyhan yang paham dengan keinginan istrinya, bergegas masuk ke dalam mengambil jaket dan kunci motornya.


"Ayo Miss." Ajak Reyhan sambil menyodorkan helm untuk Laura. Ia sendiri sudah duduk di atas motornya.


Laura tampak sumringah menerima helm itu dan segera memakainya. Reyhan yang melihatnya pun juga terlihat menyunggingkan senyum.


"Pegangan ya." Reyhan mengingatkan, lalu motor pun mulai melaju pelan meninggalkan pelataran rumah.

__ADS_1


Laura tampak menikmati pemandangan yang di sajikan sepanjang jalan. Ia enggan bertanya pada Reyhan tentang tujuan mereka. Ia yakin jika Reyhan akan membawanya ke tempat yang indah.


Terkadang Reyhan mencuri pandang dari balik kaca spion. Ia melihat istrinya yang tengah menyunggingkan senyum karena melihat keindahan alam sekitar.


Tak ada pembicaraan selama di perjalanan. Keduanya terhanyut dalam angan masing masing yang tentu saja sedang sama sama bahagia.


Ini adalah kali pertama Reyhan menikmati waktu berdua dengan Laura yang sudah berstatus sebagai istrinya, dan sah sah saja melakukan hal apapun.


Sedangkan bagi Laura, ini adalah kali pertamanya pergi menikmati keindahan alam dengan orang yang begitu di cintainya, dan yang pasti serius menjaganya dengan sepenuh hati.


Laura semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Reyhan, ketika sudah hampir mendekati tempat yang di tuju. Karena hawanya mulai terasa semakin dingin. Sehingga membuat Reyhan kembali tersenyum hangat, dan tangan kirinya menggenggam erat tangan Laura.


"Kita sudah sampai Miss Laura sayang." Ucap Reyhan ketika motor mulai memasuki tempat parkir.


Keduanya segera turun dari motor dan mengedarkan pandangannya. Keduanya saling bergandengan tangan dengan mesra, sambil melangkah masuk ke tempat wisata.


Karena baru pembukaan, maka walaupun masih terbilang pagi, tempat itu sudah sangat ramai pengunjung. Tempatnya yang berada di kawasan lereng gunung Lawu, sehingga pagi itu hawa nya masih terasa cukup dingin. Kedua nya merapatkan jaket masing-masing.


Penjual makanan dan souvernir di atur dalam suatu barisan yang rapi. Sehingga memudahkan pengunjung untuk berbelanja.


Di barisan penjual souvernir, banyak menawarkan hiasan yang terbuat dari bambu dan serabut kelapa yang di buat menjadi gantungan kunci, pigura, topeng, kalung, gelang dan masih banyak lagi model lain nya yang unik.


Sedangkan di barisan penjual makanan, seluruh peralatan makan nya sangat unik. Mereka menggunakan layah, yaitu piring yang terbuat dari tanah liat yang sudah di bakar terlebih dulu.


Gelas nya terbuat dari potongan bambu yang sudah di haluskan, sehingga tidak perlu khawatir akan terluka ketika menyentuh pinggir nya.


Teko yang di gunakan juga terbuat dari tanah liat yang sudah di bakar terlebih dulu tentu nya, dan di sebut kendi. Air yang di taruh di dalam kendi, sangat terasa dingin seperti dari kulkas. Sehingga terasa sejuk dan menyegarkan.


Peralatan masak nya juga semua menggunakan dari bahan tanah liat, bambu dan batok kelapa, yang memiliki nama berbeda, mulai dari kuali, gentong, centong, kendil dan banyak lagi lain nya. Seluruh tempat duduk nya di buat lesehan dengan menggunakan tikar sebagai alas nya yang di sebut dengan nama kloso.

__ADS_1


Di pasar Bahoela juga terdapat sebuah taman bunga, yang begitu memanjakan mata bagi setiap pengunjung yang datang. Setiap jenis bunga akan di kelompokkan dan di tanam menyerupai berbagai bentuk. Banyak sekali kupu kupu yang hinggap pada bunga yang sedang mekar. Sehingga memberi kesan yang begitu asri dan menentramkan hati.


Laura mengedarkan pandangannya ke setiap sudut tempat itu dengan penuh rasa takjub. Sedangkan Reyhan, ia menatap Laura sambil menyunggingkan senyum. Merasa bahagia karena berhasil membuat orang yang di cintainya bahagia.


Laura mendekat pada deretan penjual souvernir. Ia mengamati setiap souvernir yang di pajang karena terlihat unik. Ia pun membeli beberapa untuk oleh oleh.


Setelahnya, ia berlari kecil menuju taman bunga. Singgah dari bentuk bunga yang satu ke bentuk bunga yang lain. Seakan lupa bahwa ia datang kesitu bersama Reyhan.


Reyhan mengambil beberapa foto Laura tanpa sepengetahuannya. Di semua fotonya, Laura tampak tertawa lepas.


Melihat Laura yang terlihat kelelahan, Reyhan segera mengajak Laura beristirahat sekaligus menikmati makan siang di salah satu warung.


Sambil menunggu pesanan mereka datang, Reyhan menggeser pelan layar handphonenya, dan memperlihatkan foto foto yang ia ambil tadi pada Laura. Laura terkekeh, tak menyadari jika sejak tadi terus menjadi objek foto bagi suaminya.


"Ini pesanannya mas, mbak." kata pelayan itu ramah, sambil meletakkan 2 mangkok nasi rawon dan 2 gelas wedang uwuh. Tak lupa, beberapa cemilan juga di sediakan di meja.


"Terima kasih bu." balas keduanya.


Setelah pelayan pergi, mereka segera mencicipi makanan itu.


Makanan yang dijajakan rata-rata adalah menu khas desa. Memasak dengan cara yang tradisional dan menggunakan banyak bumbu rempah, menghasilkan makanan yang tak kalah lezat dengan makanan restoran.


Keduanya pun tampak menikmati makanan mereka dengan lahap.


Sesekali Reyhan mendekatkan sendoknya ke mulut Laura, ingin menyuapinya. Tapi Laura justru terkekeh, menerima perlakuan hangat dari suaminya.


Laura segera membuka mulutnya menerima suapan dari suaminya, dan membalas melakukan hal yang sama.


Keduanya mengabaikan rasa malu, karena sejak tadi terus di pandang oleh beberapa pengunjung yang kebetulan sedang makan di warung itu.

__ADS_1


"Mungkin mereka lagi pengen suap suapan seperti kita Miss, tapi malu." bisik Reyhan, lalu keduanya terkikik bersama.


__ADS_2