
Sesampainya di rumah, Laura sudah disambut oleh kedua orang tuanya.
"Ngga rugi ya papa keluarin uang salon yang banyak untuk kamu anak kesayangan papa. Ternyata memang benar-benar bisa bikin kamu tambah cantik Laura." kata pak Atmaja sambil berpelukan dengan anaknya. Bu Ani juga melakukan hal yang sama ke Laura. Sehingga Laura merasa bahagia dengan segala yang ia miliki.
"Tentu dong ma, pa. Ya sudah Laura mandi dulu ya." Laura pun mengurai pelukan dengan kedua orangtuanya lalu berjalan menaiki tangga.
Setelah ritual yang panjang khas anak perawan selesai, akhirnya Laura keluar dari kamarnya juga dan berjalan memasuki kamar tamu dimana kedua orang tuanya sudah menunggunya.
"Makanan yang disuruh nganter kerumahnya Reyhan sudah disiapkan ma?" tanya Laura yang tiba-tiba sudah berdiri di depan orang tuanya.
"Eh ini sudah sayang." jawab ibu nya dengan sedikit gelagapan, karena terpukau kecantikan anaknya.
"Sepertinya mama juga pengen ke salon langganan mu deh sayang, karena bisa bikin semakin cantik saja. Kapan-kapan temani mama kesana ya." pinta Bu Ani.
"Ah mama bisa aja, ya sudah Laura berangkat sekarang ya ma." Laura pun berpamitan ke orangtuanya satu persatu dengan memeluknya. Lalu membawa rantang dan beberapa dus kue.
"Laura, jangan lupa nanti foto selfi ya." pak Atmaja mengingatkan sambil nyengir.
"Hem, iya-iya pa. Bye."
"Ada bonus menantimu, nanti bisa cek m-banking mu ya." teriak papa.
"Okay pa, makasih." teriak Laura lalu mobilnya perlahan mulai meninggalkan pelataran rumahnya.
Entahlah, semenjak keluar dari salon madam Su, Laura merasa jauh lebih baik. Langkah nya semakin terasa ringan melaksanakan tugas dari papanya. Apalagi ketika tadi papanya berteriak akan ada bonus untuknya, maka bertambah girang hatinya. Jalanan yang sedikit macet juga dilalui nya tanpa menggerutu, tidak seperti hari biasanya.
Akhirnya mobil pun berhenti tepat di depan rumah Reyhan. Sejenak Laura mengedarkan pandangannya, karena melihat sesuatu yang tak biasa dirumah Reyhan.
"Lhoh, kok ada banyak orang? Ada tendanya juga, dan tumben ini counternya udah tutup." gumam Laura sambil terus memperhatikan keadaan sekitar.
"Ada acara apa sih, kok aku jadi penasaran. Apa ada yang..... lhololoh, kok pikiran ku jadinya buruk. Terus apa yang harus aku lakuin?"
Setelah sejenak berpikir, Laura akhirnya bertanya ke seseorang yang lewat.
"Pak ada acara apa dirumah itu?"
"Oh itu acara pengajian neng sebelum berangkat umroh." jawab bapak-bapak yang ditanya Laura.
"Oh begitu, ya sudah."
Bapak itu pun tersenyum dan berlalu pergi meninggalkan Laura yang tanpa mengucapkan kata terima kasih.
"Waduh, gawat ini, aku kan ngga pakai abaya, mana rok aku cuma 5 centi aja. Kalau makanannya aku titipin orang ya ngga bisa selfi. Apa coba aku telepon dia aja suruh ambil makanan nya."
Laura segera merogoh handphone dari tasnya dan menekan nomor Reyhan. Berulangkali dihubungi tapi tak ada respon sama sekali.
__ADS_1
"Huh dasar, cowok nyebelin, ngga bisa diandalin, ngga ngasih tahu kalau dirumahnya ada pengajian, kalau tahu kan aku bisa persiapan. Eh kok..... persiapan, memang dia siapa aku."
"Arghhh....... Reyhan Reyhan Reyhan."
"Lhololoh, ngomong apa aku barusan." Laura menutup mulut dengan tangannya.
"Astaga, setiap mau ketemu dia kok aku jadi grogi dan stress sih."
Huft...
Setelah sekian menit bicara seorang diri akhirnya, Laura memutuskan turun. Sambil menenteng rantang dan box kue dia berjalan penuh percaya diri.
Ehem.... ehem....
Sengaja Laura mengeraskan deheman nya karena tak tahu harus bicara apa.
Sontak tamu-tamu yang hadir menoleh ke sumber suara. Seketika mata mereka membulat sempurna dengan mulut yang menganga, takjub dengan pesona Laura.
Laura pun merasa sebal karena mereka hanya diam menatapnya tanpa mempersilahkan untuk duduk, padahal ia sudah capek dengan kedua tangannya yang penuh dengan makanan.
"Saya mau cari Reyhan, ada ngga orangnya?" kata Laura dengan ketusnya.
"Eh ada ada mbak, sebentar saya panggilkan." jawab salah satu tetangga Reyhan. Lalu berjalan menuju ke ruang tv dimana keluarga Reyhan sedang melakukan persiapan.
"Pacar Reyhan?" sejenak bu Rohmah berpikir, karena anaknya tak pernah cerita soal pacar. Bu Rohmah merasa senang jika anak sulungnya itu memiliki seorang pacar, itu artinya.... bayangannya sampai kemana-mana.
"Bu." tetangganya menepuk bahu bu Rohmah yang bengong.
"Eh dia baru wudhu. Nah tu dia orangnya." seru bu Rohmah.
"Kenapa bu?" tanya Reyhan tidak mengerti.
"Ayo buruan ke depan." dengan menggandeng tangan Reyhan, keduanya berjalan ke ruang tamu dimana acara akan dilangsungkan.
"Ada apa sih bu?" ulang Reyhan yang mulai penasaran.
Hingga akhirnya mereka tiba diruang tamu. Ibunya takjub melihat kecantikan Laura. Sedangkan Reyhan, seketika jantungnya berdetak cepat melihat Laura yang masih mematung diambang pintu tanpa ada yang mempersilahkan duduk dan dikedua tangannya membawa makanan.
'Gawat, nenek lampir datang, bisa kacau acara ku nanti.' batin Reyhan.
"Reyhan! Sini." seru Laura.
"Ah, i_iya Miss." Reyhan menjawab dengan suara yang bergetar, pertanda sedang merasa takut. Lalu ia segera berjalan mendekati Laura diikuti ibunya.
"Nih." Laura menyerahkan makanan yang ia bawa. Dengan sigap Reyhan langsung menerima nya takut tumpah karena Laura memberikan dengan cemberut.
__ADS_1
"Ayo foto dulu. Jangan ge-er ini permintaan papa." jelas Laura sambil mengeluarkan handphone dari tasnya.
"Bima saja kak yang fotoin." tiba-tiba Bima sudah berdiri di dekat mereka.
"Emang kamu bisa." ketus Laura.
"Bisa dong kak, mana."
Lalu Laura memberikan handphone nya ke Bima serta memberi tahu cara menggunakan nya.
"Kak, seperti nya harus lebih dekat, agar gambar nya bisa lebih jelas dan bagus, oh ya jangan lupa senyum yang manis." bak seorang profesional Bima sengaja mengarahkan Reyhan dan Laura agar terlihat seperti pasangan yang serasi.
Cekrek..... cekrek.....
Beberapa foto pun berhasil diabadikan. Lalu Bima mengembalikan handphone ke Laura.
"Ya sudah aku pulang dulu." kata Laura setelah melihat beberapa foto nya, lalu segera mengirimkan ke papanya, agar bonusnya cepat cair.
"Lhoh kok keburu-buru pulang nak, acaranya kan belum dimulai. Ayo duduk dulu." ajak Bu Rohmah.
"Makanannya sini, biar Bima bawa ke dapur." lalu Bima dengan cekatan mengambil alih makanan yang ada ditangan Reyhan.
"Reyhan, ajak duduk." bisik bu Rohmah sambil menyenggol lengan Reyhan.
"E... Ayo duduk dulu Miss, nanti capek berdiri terus."
Laura pun menuruti omongan Reyhan. Mereka duduk berdampingan lesehan.
"Kenapa ngga bilang kalau ada acara disini?" bisik Laura tepat ditelinga Reyhan yang menyebabkan bulu kuduknya seketika merinding.
"Miss, saya lelaki normal lho, jangan ngomong tepat ditelinga saya, bisa bahaya." balas Reyhan sambil berbisik juga.
Seketika Laura menepuk keras paha Reyhan sambil melotot.
"Arghhh... sakit Miss, kalo aku laporin kasus KDRT mau ngga? Atau aku balas cubit paha Miss boleh ngga?" bisik Reyhan yang membuat mata Laura membulat.
Berteman yuk kak di FB.
FB: Nurul khanifah
Berikan penilaian yang baik ya agar menambah semangat author untuk terus update.
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca. Tekan like, hadiah, vote dan favoritkan ya biar karya ini makin populer 🔥🔥
Terimakasih semoga sehat selalu dan semakin lancar rezekinya.😘🤗
__ADS_1