Juragan Muda

Juragan Muda
237. Keputusan Andre


__ADS_3

Andre sudah memutuskan resign dari pabrik, tempat ladang uangnya selama ini. Keputusan itu tidak diambilnya sepihak. Melainkan sudah membicarakannya pada istrinya. Yang ternyata Rosyidah mendukungnya.


Saat menikmati sarapan pagi bersama dengan keluarga, Andre mengatakan keputusannya itu. Dari pihak keluarga haji Dahlan, menyerahkan sepenuhnya hal itu pada Andre. Karena yang menjalani adalah Andre sendiri.


Sebenarnya, haji Dahlan juga sangat senang, dengan keputusan yang diambil menantunya. Karena itu artinya, selain ada waktu untuk keluarga, juga ada waktu untuk membantu mengurus pondok pesantren.


Bagaimana pun juga, Andre harus dipersiapkan lebih awal, agar lebih matang dalam mengelola. Karena jatah umur seseorang tidak ada yang tahu.


Haji Dahlan pun akhirnya mengatakan permintaannya pada Andre untuk membantunya dalam mengelola pesantren.


Sejenak Andre menoleh pada Rosyidah yang berada disampingnya. Seolah meminta persetujuan. Wanita itu pun mengulas senyum sambil mengangguk. Andre yang paham akan makna senyum dan anggukan istrinya, menatap mertuanya kembali.


"Abi, Andre berhenti bekerja di pabrik karena ingin mengembangkan usaha. Tidak mungkin Andre meminta bantuan istri, karena Rosyidah baru saja melahirkan. Sejujurnya Andre masih fakir ilmu. Masih banyak yang perlu Andre pelajari dan pahami. Namun jika Abi sendiri yang meminta hal itu pada Andre, maka Andre akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu mengelola pondok pesantren kita. Walaupun hati Andre juga diliputi rasa takut, dan was-was, tidak bisa memimpin pondok ini, sebagaimana Abi memimpin dan mengelola."


Haji Dahlan tersenyum mendengar jawaban Andre. Ia memang menyukai jawaban yang lugas dan apa adanya. Tidak terkesan dibuat buat.


Kebanyakan orang akan menerima dengan senang hati, atau justru mengharapkan diberi kesempatan untuk memimpin sebuah organisasi, perusahaan atau lain sebagainya.


Tapi hal itu tidak berlaku bagi Andre, karena ia menyadari kapasitas dirinya yang belum mumpuni.


Melihat senyum di wajah mertuanya, Andre tampak salah tingkah. Ia takut jika jawabannya tadi salah, sehingga mertuanya menertawakannya. Untuk melanjutkan makan, rasanya ia pun enggan. Sehingga hanya mengaduk-aduk makanannya.


"Andre, Abi suka mendengar jawaban mu." ucap haji Dahlan yang membuat Andre mendongakkan kepala menatap mertuanya.


"Abi menyukai jawaban mu yang memang terlihat jujur dari hati. Di saat banyak orang yang menginginkan sebuah jabatan, kamu justru menolaknya. Karena memegang sebuah amanah itu memang sulit.


Namun, melihat sejauh ini usaha mu dalam mendirikan usaha, dalam belajar agama. Membuat Abi semakin bangga padamu.


Semuanya memang perlu di latih, tidak instan. Abi dulu juga begitu, mengumpulkan santri dalam jumlah yang banyak seperri sekarang ini, tidak cukup membutuhkan waktu sehari dua hari, tapi bertahun-tahun.


Jadi, jika di awal kamu mengalami kesulitan dalam membantu mengelola pondok ini, jangan menyerah. Siapa tahu, di masa mendatang, justru pondok ini makin pesat, berada dalam pengawasan mu."

__ADS_1


Andre manggut-manggut menanggapi penjelasan mertuanya.


"In shaa Allah Andre akan berusaha semaksimal mungkin bi."


"Bagus, mumpung masih muda pergunakan waktu mu sebaik-baiknya. Jangan hanya sibuk mengejar dunia, tapi melupakan mengejar akhirat. Kejarlah akhirat, maka dunia akan mengikuti mu."


Andre mengulas senyum menerima nasehat dari mertuanya. Sungguh ia merasa beruntung, memiliki istri yang cantik dan sholihah. Memiliki mertua yang baik hati.


Rasanya ia ingin mencium Reyhan. Karena, jika bukan karena sahabatnya itu, Andre mungkin takkan bisa merasakan berada di posisi saat ini.


'Tunggu ya Rey, besok kalau ketemu, akan ku cium kamu.' batin Andre bahagia.


Setelah selesai sarapan, Rosyidah membantu uminya membersihkan meja makan. Sedangkan Andre bergegas ke kamar, untuk mengecek kondisi bayinya. Alhamdulillah, bayi cantik itu masih tertidur lelap.


Sambil menunggu kedatangan Rosyidah, Andre sengaja membaca Al-Qur'an dari aplikasi handphone nya. Sampai suara derit pintu mengalihkan pandangannya. Rosyidah perlahan mendekatinya.


"Sayang, aku mau mengantar surat pengunduran diri hari ini, sekalian buka counter ya."


"Titip Aisyah. Jaga dia baik-baik."


"Kok, pamitannya seperti itu? Kayak mau pergi jauh. Aku takut mendengarnya."


"Eh, bukan seperti itu maksud ku. Mas kan mau bekerja, cari nafkah untuk keluarga kita. Mungkin waktunya seharian. Jadi ngga bisa ikut bantuin kamu menjaga bayi kita dalam waktu yang cukup lama. Pasti kamu akan kecapekan dan kerepotan kan?"


"Oh... seperti itu maksudnya." Rosyidah membulatkan mulutnya sambil manggut-manggut.


"Semua kan kamu lakukan demi keluarga, jadi ya ngga apa-apa mas. Hati-hati ya. Semoga hari ini jualannya senantiasa laris dan berkah."


"Aamiin ya rabbal aalamiin. Terima kasih doanya sayang." Andre mengecup tangan istrinya penuh cinta.


Setelah itu, ia pun bersiap-siap. Lalu menyelempangkan tas nya. Tak lupa mengecup si cantik Aisyah dan istrinya.

__ADS_1


"Mas pamit dulu ya, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


"Jangan bertengkar sama Aisyah ya. Kalau ada apa-apa segera kabari mas." imbuh Andre lagi, yang membuat Rosyidah terkekeh karena candaan nya.


"Mana ada orang tua ribut sama anak mas."


"Ya siapa tahu aja kan. Kalau kamu mau tidur, eh tiba-tiba Aisyah nangis. Terus kalian bertengkar deh."


Lagi-lagi Rosyidah tertawa dengan candaan yang dilemparkan suaminya. Ia pun mendorong suaminya keluar, agar suara tawanya tidak mengganggu putri mereka.


"Dadagh.... sayang." ucap Andre sambil melambaikan tangannya. Rosyidah pun membalasnya dengan lambaian tangan dan senyum hangat.


Pasangan kita adalah cerminan diri kita sendiri.


Bisa jadi wajah kita sama dengan pasangan kita.


Bisa juga wajah kita jauh berbeda dengan pasangan, namun sikap dan wataknya sama dengan kita.


Seperti yang di alami oleh Rosyidah. Dia memang suka bercanda. Sama halnya dengan Andre.


Namun keduanya tidak menyadari hal itu. Masing-masing mereka, menganggap pasangannya jauh lebih cerewet darinya.


Meskipun begitu, keduanya saling menyayangi, mencintai dan tentunya saling mendukung, selama itu dalam hal kebaikan.


Rosyidah yang ilmunya jauh lebih tinggi di banding Andre, tetap menghormatinya sebagai seorang kepala keluarga.


Ia juga menghormati mertuanya, meskipun mereka pemahamannya juga di bawahnya.


Karena, pada dasarnya, semakin tinggi ilmu seseorang, maka akan semakin merendah mereka.

__ADS_1


Begitu juga sebaliknya, semakin dangkal ilmu seseorang, kebanyakan mereka akan berkoar-koar untuk mencari perhatian orang lain.


__ADS_2