Juragan Muda

Juragan Muda
210. Hanya mimpi


__ADS_3

Acara makan malam berjalan lancar, walaupun tadi ada sedikit accident. Karena sudah malam, mama menyuruh Adam untuk mengantar Tiwi pulang, padahal ia sudah membawa motor sendiri. Sehingga Tiwi menolaknya. Ia pun bersalaman pada mama lalu segera melajukan motornya keluar dari pelataran.


"Kamu gimana sih Dam, kasian kan Tiwi, perempuan pulang malam sendiri." kata mama sambil melihat kepergian Tiwi.


"Tapi Tiwi kan ngotot ma, pengen pulang sendiri, padahal sudah di tawarin berulang kali."


Adam pun serba salah. Karena ia yang justru di marahi mamanya karena membiarkan Tiwi pulang sendiri, padahal ia juga tidak tega.


Hari berikutnya, Adam sepulang kerja menyempatkan diri mampir ke rumah Tiwi untuk menengok ibunya yang beberapa hari lalu pulang dari rumah sakit. Tak lupa ia juga membawa parcel buah dan cemilan.


"Assalamu'alaikum." ucapnya sambil mengetuk pintu.


Setelah beberapa kali mengucapkan salam, akhirnya pintu di buka oleh bapak nya Tiwi.


"Wa'alaikumussalam. Nak dokter?" balas pak Somad.


Adam pun menjabat tangan pak Somad sebelum masuk rumah. Setelah menyediakan minuman, pak Somad mempersilahkan Adam meminumkannya, lalu mencoba cilok yang di suguhkan.


"Enak sekali pak ras ciloknya." puji Adam tulus.


Mereka pun akhirnya saling bercakap-cakap. Tak lupa Adam menanyakan keadaan Bu Siti. Akhirnya pak Somad memanggilkan istrinya dan mereka bercakap-cakap bersama.


"Kalau boleh tahu, apa tujuan nak Adam datang kesini?" sela pak Somad saat Adam mengunyah cilok.


Adam bingung dengan pertanyaan pak Somad. Hingga ia menjawab sejujurnya.


"Tentu saja ingin menjenguk ibu pak. Memangnya kenapa pak?"


"Melihat kedekatan nak dokter dengan Tiwi, saya kira ada hubungan yang spesial." celetuk bu Siti to the point. Sehingga membuat Adam tersedak dari aktivitas makannya.


"Mohon maaf sebelumnya nak dokter. Saya tidak ingin timbul fitnah dari para tetangga dengan kedatangan nak Adam kesini. Bagaimana pun juga kami masih memiliki anak perempuan yang belum menikah. Pasti mereka akan mengira jika nak Adam pacar nya Tiwi. Maklum saja, kehidupan di desa memang seperti ini. Sebaiknya nak Adam mengurangi waktu datang kesini. Maaf jika kata kata saya ini kurang berkenan di hati nak Adam. Saya sudah sepuh, saya hanya ingin lelaki yang serius dan kelak menjadi jodoh Tiwi yang datang kesini."


DEG!


Bagai tersambar petir hati Adam mendengar ungkapan hati pak Somad. Dalam hati ia membenarkan ucapan pria sepuh di hadapannya itu.


Adam, memang tak hanya sekedar ingin menjenguk Bu Siti. Ia ingin bisa akrab dengan kedua orang tua Tiwi, dan itu adalah salah satu caranya. Entah kenapa ia ingin melakukan hal itu.


"Maafkan kedatangan saya yang membuat bapak dan ibu menjadi tidak nyaman dengan tetangga ya pak, Bu. Sejujurnya saya ingin menjalin silaturahim dengan keluarga bapak ibu agar bertambah saudara."


"Saya terima niat baik nak Adam. Semoga bisa terkabul."


Tak lama kemudian suara deru motor membuat mereka saling beradu pandang.

__ADS_1


Sementara Tiwi yang baru saja pulang dari tempat kerja, mengernyitkan dahi karena terkejut, melihat mobil yang sangat ia hafal. Dengan langkah pelan ia menapakkan kaki di teras rumah sambil mengucapkan salam.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam." balas mereka kompak.


Tiwi segera melangkah masuk dan menyalami kedua orang tuanya. Lalu masuk ke kamar.


'Kenapa dia langsung masuk ke kamarnya? Apa ngga lihat aku disini? Atau ngga suka dengan kedatangan ku? Apa ia juga memiliki prinsip yang sam dengan kedua orang tuanya, hanya mengijinkan lelaki yang menjadi jodohnya yang datang kesini?'


Setelah cukup bercakap-cakap, Adam berpamitan pulang. Sekali lagi kedua orang tua Tiwi meminta maaf atas ketidak nyamanan yang mungkin tercipta saat pembicaraan tadi.


Sepanjang perjalanan pulang, Adam terus memikirkan ucapan pak Somad.


'Apa kedua orang tuanya mikir kalo aku itu pacarnya Tiwi? Apa aku terlalu naif mengakui perasaan ku di hadapan orang lain?'


Setiap orang yang berada di dekat Adam mengatakan ia sedang jatuh cinta, namun ia selalu menampik hal itu.


"Darimana saja kamu Dam, kok baru pulang?" tanya mamanya ketika Adam menyalami mamanya yang tengah duduk di ruang tamu sambil membaca novel online.


"Dari.... rumah teman ma."


"Tumben sekali." balas mama sambil menatapnya. Ia melihat putranya yang sedang tidak baik baik saja.


"Kamu ada masalah?"


"Apa benar yang dikatakan orang lain? Aku sedang jatuh cinta? Tapi kenapa harus dengannya? Apa ngga ada cewek lain? Apa yang harus ku lakukan? Menghapusnya dari ingatan ku atau membiarkan saja?"


Setelah bermonolog seorang diri, Adam tertidur, tanpa sempat melepas atribut yang masih menempel.


"Aku terima nikah dan kawinnya Pratiwi binti Abdul Somad dengan maskawin tersebut di bayar tunai."


"Sah." "Sah." "Sah."


"Alhamdulillah."


"Silahkan, mempelai pria untuk mencium kening mempelai wanita."


Bugh.....


"Arghhh...... Sakit."


Adam jatuh dari tempatnya tidur dan bergulingan di lantai. Ia memindai sekitar ruangan sambil mengernyitkan dahi. Ia juga mengucek matanya berulang kali.

__ADS_1


"Hah, jadi ini semua hanya mimpi?" gumamnya sambil mengerjapkan mata berulang kali.


"Ya Allah, kenapa terlihat nyata?"


"Apa aku terlalu terbawa suasana hingga memimpikannya."


Adam duduk termenung bersandar tempat tidurnya. Ia memikirkan rangkaian kejadian yang ia alami sehingga menjadi dekat dengan Tiwi dan sekarang malah memimpikannya.


Setelah merenung cukup lama, ia melaksanakan sholat tahajud. Ia memanjatkan doa agar di beri ketenangan hati.


Setelah sholat ia berniat kembali tidur, namun matanya tak kunjung terpejam. Bayangan Tiwi terus menghantuinya.


Ia pun berniat mandi agar pikiran nya tenang dan bayangan Tiwi menghilang. Namun alih-alih hal itu terwujud, nyatanya bayangan Tiwi selalu saja datang.


Hingga seminggu berlalu ia terus-menerus memimpikan Tiwi.


"Sepertinya aku harus mengambil keputusan." gumam Adam setelah bangun tidur.


"Ma, boleh aku bicara?"


"Butuh ngomong ya ngomong aja, kenapa pakai minta ijin segala, biasanya ngga begitu?" balas Andira santai. Mamanya pun mengangguk setuju.


"Aku sepertinya harus melamar Tiwi."


Uhuk...Uhuk


Mama dan Andira terbatuk-batuk bersamaan sehingga langsung menyambar minumannya, lalu meneguknya hingga tandas. Setelah tenang mamanya menatapnya.


"Mama ngga salah dengar kan?"


"Iya, Dira juga ngga salah dengar kan kak?"


"Setahuku telinga mama dan Dira masih berfungsi dengan baik. Jadi kalian ngga salah dengar." ucap Adam datar.


Ia tahu, pasti Keluarga nya akan terkejut dengan keputusan yang ia ambil. Ia ingin melamar wanita yang belum lama di kenalnya dan tidak pernah berkencan sama sekali dengannya.


"Hore." Andira bersorak kegirangan mendengar ucapan kakaknya.


"Alhamdulillah, kapan kamu akan melamarnya?"


"Nanti malam gimana ma?"


"Setuju." sahut Andira cepat.

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️



__ADS_2