
Reyhan memutuskan pulang saja untuk menentramkan kondisi batinnya. Untuk pergi ke suatu tempat rasanya juga enggan, apalagi untuk sekedar bertemu dengan Sinta.
Seharian bertukar kabar dengan teman teman sekolah nya. Siapa tau ada informasi pekerjaan yang berhasil didapatkan. Sambil menunggu balasan pesan dari teman temannya Reyhan pun sampai ketiduran.
Seperti biasa, Bima si bungsu akan pulang lebih dulu diantara penghuni rumah lainnya. Pintu tak terkunci selalu menimbulkan rasa was was dihatinya. Kembali menutup pintu pelan, dan mengecek satu persatu sudut ruangan. Hasilnya, sama seperti dulu, mendapati Reyhan yang terdampar diatas kasur.
'Kenapa lagi nih kakakku yang satu ini.' batin Bima.
"Kak, kakak. Sakit lagi?" tanya Bima sambil menggoyang goyangkan badan kakak nya.
"Hemm... engga kok."
"Trus... kok udah pulang"
"Lagi ngga pengen kerja aja." poles Reyhan yang masih enggan berkata jujur.
"Ah masak sih, biasanya juga semangat kalo berangkat kerja."
"Ih... masih kecil udah bisa protes, cerewet juga ya." Reyhan tersenyum kecut.
"Buruan ganti baju dulu sana." suruh Reyhan.
"Nyuruh nyuruh tapi kamu sendiri belum ganti baju." Bima berdiri menunjuk Reyhan sebelum akhirnya keluar dari kamar Reyhan.
'Iya juga sih.' batin Reyhan lalu nyengir sendiri.
"Balasannya semua samaa aja." gumam Reyhan ketika membuka notif pesan masuk lalu kembali meletakkan handphonenya.
Ba'da Maghrib seperti biasa keluarga Reyhan akan berkumpul di depan tv, saat itulah dirinya berkata jujur ke keluarganya kalo sudah diberhentikan dari tempat kerjanya yang sudah satu setengah tahun ini menjadi rumah keduanya sekaligus ladang uang.
Keluarga nya juga sontak kaget, terlebih ibunya, yang selama ini cukup terbantu dengan uang gaji dari Reyhan. Namun ibunya juga tak bisa sepenuhnya menyalahkan Reyhan, karena memang kondisi pabrik yang jauh dari kata stabil. Akhir akhir ini sering mengalami penurunan hasil produksi karena banyaknya produk cacat ditambah dengan adanya wabah Corona jadi kegiatan ekspor ikut terganggu.
"Trus sekarang, rencananya mau ngapain kak?" kata Bayu, pandangannya tak beralih dari handphone yang sedang dipegangnya dengan serius.
"Em... ya coba cari lowongan lagi lah. Eh tanyain juga dong ke teman-teman mu, siapa tau pabrik orang tua nya ada yang membutuhkan karyawan." balas Reyhan sambil mengangkat satu alisnya.
"Iya deh coba nanti."
_____
__ADS_1
Seminggu sudah Reyhan kembali dengan aktivitasnya mencari kerja, dia memutuskan pulang ketika hari sudah sore.
Ba'da Maghrib barulah Reyhan bisa mengecek handphonenya, karena ternyata seharian baterei nya habis dan perlu di charge dulu.
'Tumben kesayanganku Sinta cantik ngga menghubungi aku ya.' batin Reyhan lalu menekan tombol panggil.
'Lho. kok tumben panggilanku ditolak, biasanya juga langsung diangkat. Ngga ketemu seminggu aja Sinta kok jadi beda.' Gumam Reyhan lagi.
Tak lama ada notif pesan masuk dari Sinta dan Reyhan langsung membuka isi pesan. Matanya serius menatap layar ponselnya. Mengucek ngucek matanya untuk memastikan kalo dia tidak salah lihat isi pesan.
"Sinta minta putus? Karena aku sekarang pengangguran!" gumam Reyhan dengan lidah yang terasa kelu.
'Kenapa semudah itu dia mengambil keputusan? Apa dia ngga tau arti kebersamaan selama 6 bulan terakhir ini. Apa dia sudah punya pengganti ku.' batin Reyhan, kemudian segera menelpon Sinta lagi, namun berulangkali panggilan itu di tolak oleh Sinta.
"Ya Allah.... Aku benar benar dilema, sudah pengangguran diputusin pacar pula." gumam Reyhan lalu membanting handphone nya ke kasur.
Dia pun ikut lompat ke kasur. Sejenak menerawang langit langit kamarnya.
'Ternyata seperti itu sifat Sinta aslinya, aku ngga nyangka. Selama ini pengorbananku untuk nya sia sia saja. Sekarang aku cukup tau diri dan harus ingat apa kata mas Didi, CEWEK BAIK BAIK PASTI NGGA AKAN MAU DI AJAK PACARAN. Ok, aku pegang kata katamu mas, terimakasih untuk persahabatan kita selama ini.' batin Reyhan lalu kembali mengukir senyum untuk melegakan hatinya.
"Wanita cantik tak hanya Sinta seorang, tak perlu risau jika nyatanya hubungan ini harus berakhir dengan tragis." gumam Reyhan sambil tersenyum.
_____
Reyhan tak mau menunda waktunya, pagi itu dia segera bersiap untuk memasukkan surat lamaran ke pabrik sekitar.
Dia berangkat paling akhir ketika semua anggota keluarganya sudah tidak ada dirumah.
Dengan mengendarai motornya, segera berkeliling dari pabrik satu ke pabrik yang lain. Ditengah perjalanan, handphone nya berdering, lalu segera menepi untuk sejenak membuka handphone.
1 panggilan tak terjawab dari Andre teman semasa sekolah dulu. Reyhan segera menghubungi kembali.
"Halo Ndre, ada apa?"
"Oh ya, serius?"
"Iya kebetulan aku lagi di jalan, aku kesitu sekarang ya."
Reyhan pun segera mematikan teleponnya.
__ADS_1
"Mudah mudahan jadi rezekiku." gumam Reyhan disertai senyum, harapannya muncul lagi kala mendapat kabar tentang lowongan kerja di pabrik tempat Andre bekerja.
Cukup menempuh perjalanan 10 menit Reyhan sudah sampai ditempat yang dituju. Setelah sampai dan memarkirkan motornya, dia bergegas menuju ke pos satpam. Belum selesai satpam berbicara dengannya panggilan telepon di meja satpam berdering, sejenak satpam segera mengangkat telepon.
"Tunggu mas, nanti mas Andre akan kesini." kata satpam pada Reyhan.
Tak berselang lama Andre datang dengan senyum.
"Makasih pak sudah menemani teman saya." kata Andre pada satpam.
"Udah bawa lamarannya? Coba sini lihat." pandangan Andre kini beralih ke Reyhan. Lalu Reyhan balas dengan menyodorkan map biru.
"Yok ikut aku." Ajak Andre langsung keruang personalia.
Cukup mengikuti tes selama kurang lebih 1 jam akhirnya Reyhan sudah diperbolehkan langsung kerja.
"Makasih ya Ndre, udah bantuin aku, berasa jadi malaikatku."
Ucap Reyhan sambil tersenyum ke arah Andre.
"Apaan sih, bucin banget, geli aku dengernya." jawab Andre dengan ekspresi menggeliat.
"Aku tinggal ke kantor dulu ya, ngerjain laporan. Ntar kesini lagi kita istirahat bareng jam 12.
"Okay, makasih ya Ndre." jawab Reyhan lalu segera mendekat ke mechanic yang sedang serius bekerja mengikuti ganti proses produksi.
"Gimana kerja nya, nyaman ngga kira kira?" tanya Andre yang duduk berhadapan dengan Reyhan.
"Untung bagiannya sama dengan pabrik tempat kerja ku dulu Ndre, jadi gampang ngikutin." Balas Reyhan, lalu keduanya saling bercerita hingga jam istirahat habis.
_____
"Kok pulang nya bareng Rey, tadi nglamar kerja di mana aja memangnya." sapa ibunya yang baru masuk halaman. Mengetahui Reyhan juga baru saja memasukkan motor kerumah.
"Beruntung bu, tadi aku di telepon Andre, katanya ada lowongan, terus aku datangi saja langsung, dan Alhamdulillah aku tadi langsung kerja."
"Wah, benarkah, beruntung kamu Rey." ucap ibunya berbinar bahagia.
"Huft...."
__ADS_1
"Alhamdulillah, aku bersyukur banget, bisa dapat kerjaan lagi. Sekarang fokus ke kerjaan yang baru saja, itu sudah membuatku bahagia, tak perlu merisaukan Sinta lagi." gumam Reyhan.