
Keduanya mengerang kesakitan, masih terduduk dan menepuk bagian tangan yang mungkin terasa sakit.
"Kamu?" kata keduanya kompak setelah saling beradu pandang.
"Kalian berdua kenal?" salah satu teman lelaki itu bertanya.
"Iya kami saling kenal." sahut Sinta dengan cepat.
"Wah, seperti adegan di tipi-tipi dong. Habis itu bentar lagi pasti jadian." balas yang lain yang membuat Sinta tersenyum samar.
"Dia cuma teman pabrik ku dulu kok, ngga lebih." jawab lelaki itu sambil berdiri. Tentu saja jawabannya itu membuat senyum Sinta langsung pudar.
"Hei Rey, kamu kan lelaki, bantuin cewek nya berdiri dong."
Dengan bersungut-sungut kesal akhirnya Reyhan tetap mengulurkan tangan membantu Sinta berdiri.
"Okay, kalau gitu kita tinggal dulu ya, biar cinta lama bersemi kembali." kata salah satu teman Reyhan, dan mereka kompak kembali melakukan perjalanan sambil terkikik.
"Eh kan pada naik mobil ku." seru Reyhan yang melihat teman teman nya terus berjalan meninggalkan nya.
"Kita bisa naik taxi online." seru teman teman nya.
"Ah, dasar kalian!" maki Reyhan.
Sinta serasa mendapat angin segar karena setelah sekian lama menghubungi Reyhan tapi tak ada jawaban, akhirnya sekarang malah di pertemukan dalam suatu ketidaksengajaan yang akhir nya bisa bertatap muka dengannya. Tentu ia tak kan melewatkan kesempatan ini begitu saja.
"Maafkan aku, tadi sempat terburu-buru hingga menabrak kamu." Sinta memulai akting nya.
"Em, tidak apa-apa, aku juga jalan ngga lihat-lihat."
"siapa yang sakit mas?"
"Salah satu rekan counter ku. Dan kamu?"
"Saudara ku, seharian ini aku nungguin dia. Bikin badan ku terasa capek banget, ini mau pulang karena masih ada acara karang taruna, tapi harus nyari ojek dulu, karena motor ku rusak." Sinta memasang wajah memelas.
__ADS_1
"Oh ya sudah, kalau capek ya langsung istirahat saja begitu sampai rumah. Ngga usah ikut acara karang taruna dulu."
'Lhoh, harus nya kan seperti di film-film itu, kalau adegan seperti ini, nanti cowok nya nawarin boncengan, kok ini enggak?' batin Sinta sambil mengernyitkan dahi.
"Em, kamu tega membiarkan perempuan malam malam pulang sendirian?"
'Kalau itu Miss Laura tentu aku tak tega, karena dia selalu memakai baju seksi, pasti banyak yang bakal melirik. Tapi.... kalau Sinta, harus nya aku tega. Lhoh, kenapa lagi-lagi aku membanding-bandingkan dengan Miss Laura? Astaghfirullah. Lagian dia kan sudah punya cowok. Tapi kasian juga sih.' Reyhan perang batin.
"Mas Reyhan." Suara Sinta terdengar pelan dan ia tertunduk, tapi mampu membuat Reyhan tersadar dari lamunan nya.
"Okay, baiklah aku antar kamu." Reyhan segera berjalan di ikuti Sinta yang tak bisa menyembunyikan raut wajah kebahagiaan nya.
'Waw, mobil Reyhan bagus banget, nyaman pula di naikin.' batin Sinta sambil menikmati duduk di samping kemudi depan.
"Kenapa kamu tidak minta tolong Andre untuk menjemput mu?" tanya Reyhan ketika mobil mulai melaju dan itu mengejutkan Sinta.
"Aku sudah tidak ada hubungan dengan nya lagi." Sinta memperlihatkan muka sedih nya sambil terisak.
Sitt......
Reyhan mengerem mendadak, sehingga membuat kepala Sinta terantuk kaca depan.
"Maaf, aku hanya kaget saja."
Setelah mendengar jawaban itu Reyhan tidak lagi bertanya dan fokus menyetir. Bagi nya tidak mudah untuk percaya pada pengkhianat seperti Sinta. Suatu saat jika bertemu dengan Andre, pasti dia akan bertanya sendiri. Jika tidak bertemu lagi, ya sudah. Reyhan tak mau terlalu memikirkan hal itu.
'Lhoh, kok diam sih? Tanya apa lagi kek, pasti aku jawab dengan senang hati.' batin Sinta sambil mengerucutkan bibirnya karena Reyhan hanya diam.
Karena Reyhan tak kunjung bertanya, akhirnya Sinta duluan yang memulai percakapan itu, sedangkan Reyhan hanya menjawab seperlunya saja. Mood nya seakan hilang sejak dia bertemu dengan Sinta tadi, dan sekarang yang ada hanya rasa kemanusiaan yang di miliki nya sehingga ia mau mengantar Sinta.
Sampai akhirnya, mereka tiba di rumah Sinta. Seketika Reyhan teringat kembali masa lalu nya dulu, di mana ia sering mengantar jemput Sinta kemanapun mereka pergi. Hingga akhirnya hubungan mereka kandas begitu saja karena Reyhan kena PHK.
'Ah, sudahlah, semua sudah berlalu, tak mungkin aku sesali.'
"Mas, ayo mampir dulu. Pasti keluarga ku senang banget bisa ketemu kamu lagi." tawar Sinta sebelum ia turun dan membuat Reyhan tersadar dari lamunan nya.
__ADS_1
"Tidak usah, aku masih ada urusan." Sinta mengangguk sambil sekali lagi mengucapkan terimakasih lalu ia turun dari mobil.
"Siapa itu Sin?" tanya ibu nya ketika Sinta baru saja tiba di pelataran rumah.
"Masih ingat mas Reyhan?"
"Reyhan?" desis ibu nya dan langsung mengangguk.
"Ya itu dia bu yang baru saja mengantar ku pulang."
"Lhoh, bukankah kamu tadi pergi dengan Andre? Kenapa sekarang bisa pulang dengan Reyhan? Kerja apa dia, sampai punya mobil sebagus itu?" tanya ibu nya dengan wajah yang berbinar.
"Sekarang dia sudah sukses bu, cabang counter nya di mana-mana."
"Ah, coba kamu dapat dia. Pasti bakal enak hidup kita. Tapi, sayangnya kamu sudah terlanjur tunangan dengan Andre."
"Ibu mendukung ku balikan lagi sama mas Reyhan?" dengan wajah berbinar Sinta menatap wajah ibu nya yang langsung mengangguk sambil tersenyum.
"Ah, tapi susah bu untuk mendekatinya lagi." selanjutnya Sinta menceritakan segala usaha yang sudah ia lakukan demi mendekati Reyhan kembali namun satu pun tak ada yang berhasil. Dan justru ketika ia hampir menyerah malah di pertemukan lagi dengan nya.
"Ah, itu bisa jadi rezeki mu Sin, terus semangat." Sinta tersenyum dan memeluk ibu nya, yang memang selalu mendukung nya dalam hal apapun. Berbeda dengan bapak nya yang kadang berbeda.
"Okay, kalau begitu ibu jangan terus menerus mendesak Andre untuk memajukan tanggal pernikahan kita. Biar saja dulu semua berjalan apa adanya."
"Iya iya, tenang saja." ibu nya menowel dagu Sinta sebelum ia keluar.
Sinta merebahkan diri, sambil menatap langit-langit kamar membayangkan pertemuan nya dengan Reyhan, lantas ia senyum-senyum sendiri. Lalu terbuai dalam mimpi indah nya.
"Astaga, sudah jam 5 pagi?" dengan geragapan Sinta terbangun karena bunyi alarm di handphone nya.
Sambil mengucek mata nya, ia coba menajamkan penglihatan nya yang masih di liputi rasa kantuk.
"Banyak sekali, panggilan tak terjawab dan pesan dari Bayu." desis nya ketika perlahan menggulir layar handphone nya tanpa ada niat untuk membalas nya karena ia harus bersiap siap untuk berangkat kerja. Dengan langkah gontai, akhirnya ia berjalan menuju kamar mandi.
"Yah, harus naik motor sendiri deh, ngga ada yang bisa nganter." gerutu Sinta sambil mulai melajukan motor nya pelan menuju pabrik di mana ia bekerja.
__ADS_1
Hai kak, tetap semangat kasih dukungan ke mas Reyhan sampai menemukan cinta sejatinya ya dengan tekan like hadiah vote dan favorit ❤️❤️
Terimakasih untuk kakak semua yang sudah mendukung karya ini. Semoga di beri kesehatan dan kelancaran rezeki 😘😘