
Dan di rumah sakit itu di waktu yang bersamaan, namun berbeda ruangan, yang hanya dipisahkan oleh dinding pembatas, ke empat ibu muda tengah berjuang untuk melahirkan bayi.
Para suami pun ikut masuk ke dalam dan menemani istrinya melewati detik-detik melahirkan.
Walaupun profesinya adalah seorang dokter, namun ketika dihadapkan pada situasi yang seperti itu, Adam juga tampak gugup dan khawatir.
"Tenang ya dok, perbanyak doa dan istighfar." kata rekan sesama dokter pada Adam. Ia pun mengangguk sambil menggenggam erat tangan istrinya.
Erghh.....
Setelah mendapat instruksi dari dokter, Tiwi segera mengejan sekuat tenaga, sampai keringat sebesar jagung muncul di dahinya.
Di ruangan samping, Rosyidah juga tengah berjuang melahirkan bayi pertama nya. Melihat Rosyidah yang mengejan hingga berkeringat, Andre pun juga ikut berkeringat.
"Ayo... Ayo... Ayo... Kamu pasti bisa sayang. Sebentar lagi pasti gol." seru Andre yang memberi dukungan istrinya, seperti saat mendukung team sepakbola favoritnya.
"Aku mau melahirkan mas, bukan mau main bola." cicit Rosyidah, di sela erangannya. Sehingga membuat dokter yang melihat tingkah keduanya, justru terkekeh kecil.
Di ruangan yang sebelahnya lagi, Bayu berusaha sekuat tenaga untuk menahan segala rasa yang membuatnya ingin pingsan. Ia tidak ingin kejadian pingsan karena menemani istrinya melahirkan terulang lagi. Anisa semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Bayu sambil mengejan.
Erghhh.....
Dan di ruangan sampingnya lagi, Laura mengalami hal yang sama. Ia tengah berjuang melahirkan bayi keduanya.
Reyhan teringat ketika dulu Laura melahirkan bayi yang sudah tidak bernyawa dalam keadaan yang sangat lemah. Jika mengingat hal itu, ingin sekali rasanya menggantikan posisi istrinya.
Maka sejak saat itu ia lebih menjaga kondisi Laura. Dan ketika Laura dinyatakan hamil, penjagaan nya pun semakin diperketat.
"Kamu pasti bisa sayang, aku tahu kamu adalah wanita yang kuat." ucap Reyhan dengan lembut. Tangannya membelai pucuk kepala, sedangkan tangan satunya menggenggam erat tangan istrinya.
"Ayo Bu, mengejan sekuat tenaga ya. Pandangannya menunduk ke dada." titah dokter.
Erghhh....
Laura kembali mengejan dengan sekuat tenaga. Hingga peluh membanjiri wajahnya yang cantik. Tangannya mencengkram lengan Reyhan hingga kembali meninggalkan jejak goresan.
Walaupun perih, Reyhan mengabaikan rasa itu. Karena, istrinya pasti merasakan perih yang berlebih di jalan lahirnya.
__ADS_1
Dan, setelah beberapa kali mengejan, akhirnya suara tangis bayi yang khas, memecah keheningan pada malam hari itu.
Oek..... Oek..... Oek
"Alhamdulillah." ucap semua orang yang mendengar suara tangisan bayi itu.
Di luar ruang bersalin, yang tengah berkumpul dari keluarga pasien. Mereka saling mengucapkan selamat dan berpelukan untuk menumpahkan rasa bahagia mereka.
Di saat para suami mengucap syukur dengan kelahiran bayi mereka, dan ingin segera mengadzani, Bayu kembali pingsan. Anisa yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya lemah, di sertai sedikit senyuman.
'Dasar kamu mas, kuatnya cuma pas bikin doang. Pas hasilnya sudah keluar, kamu selalu saja pingsan.' bisik Anisa dalam hati.
"Terima kasih sayang, sudah mau berjuang melahirkan anak kita." Ucap Reyhan di sela isak tangisnya karena merasa sangat terharu. Setelah melewati tahapan ujian, akhirnya bisa dipercaya memiliki seorang momongan. Berkali-kali ia mengecup kening dan tangan Laura secara bergantian.
"Katakanlah sayang, kamu mau minta apa sekarang? Aku akan berusaha untuk memenuhinya. Sebagaimana kamu telah berusaha melahirkan bayi kita."
Laura menggeleng lemah sambil tersenyum.
"Semuanya sudah aku miliki. Hidupku terasa jauh lebih lengkap dan sempurna. Aku berharap, semoga rumah tangga kita semakin sakinah mawadah dan warohmah dengan bertambahnya bayi di tengah-tengah kita."
"Kamu ngga ingin terong bakar lagi sayang?" celetuk Reyhan yang membuat dokter serta beberapa perawat yang ada di ruangan itu menoleh ke arah Reyhan.
Mereka berpikir, Reyhan terlalu kelewatan, setelah mengumbar kata-kata romantis, dan kini istrinya tengah di jahit di jalan lahirnya, malah menawarkan terong bakar.
"Maaf pak, jalan lahirnya baru di jahit, di larang menawarkan terong bakar pada istrinya." sahut sang dokter.
"Tapi kalau istri saya yang mau gimana dok?"
"Tetap tidak boleh pak."
"Maaf sayang, tidak seharusnya aku menawarkan mu makanan itu. Mungkin bisa di ganti menu yang lainnya. Mintalah, nanti akan segera aku penuhi. Sebentar lagi kamu kan menyusui bayi kita. Harus banyak makan, agar tidak kekurangan gizi."
"Maaf pak, menyela lagi. Terong yang di maksud, sayur terong sungguhan atau....."
"Ya sayur terong sungguhan dok. Mana ada terong kw. Selama istri saya hamil, ngidamnya selalu makan terong bakar."
"Oh...."
__ADS_1
Dokter dan perawat membulatkan mulutnya sambil manggut-manggut.
"Oh, kalau terong sayuran boleh pak. Maaf saya kira terong yang lain." ucap dokter meralat ucapannya.
Setelah dibersihkan dari darah, bayi itu didekatkan pada ibu masing-masing. Mereka mendekap buah hatinya dengan penuh kasih sayang. Sekian menit berlalu dalam dekapan sang ibu, bayi itu beralih di gendongan ayahnya untuk di adzani.
Setelah memastikan semua beres, para ibu di bawa ke kamar perawatan. Keluarga yang sejak tadi menunggu di luar ruang bersalin, segera menghampiri dan mengekor ketika brankar pasien di dorong menuju ke ruang perawatan masing-masing.
Bu Rohmah saat itu menjadi manusia yang paling bingung. Karena menantunya melahirkan secara bersamaan. Ia bingung menentukan siapa yang harus di temani lebih dulu.
Setelah sekian menit berpikir, akhirnya memutuskan untuk menemani Laura terlebih dahulu. Karena ini adalah pertama kalinya Laura melahirkan. Sedangkan Anisa, ini adalah kali keduanya ia melahirkan. Dan dulu, Bu Rohmah juga sempat menemaninya.
Akhirnya Bu Rohmah mendekati Anisa dan keluarganya. Selain mengucapkan selamat, juga berpamitan untuk menemani Reyhan dan Laura.
Anisa dan keluarganya paham akan hal itu, sehingga mereka tidak mempermasalahkannya.
"Tidak apa-apa bu, temani lah mereka dulu. Jika saya berada di posisi ibu, pasti saya juga akan berbuat demikian." ucap umi Salwa bijak.
"Terima kasih atas pengertiannya Bu." ucap Bu Rohmah lalu memeluk besan perempuannya.
Bergegas, Bu Rohmah mengikuti Laura dan sekeluarga memasuki ruang perawatan nya.
"Akhirnya, yang di nanti-nanti, lounching juga. Jagoan neon opa." teriak pak Atmaja dengan girang. Ia mengangkat pelan bayi tampan, hasil persilangan antara Reyhan dan Laura.
Berkali-kali pak Atmaja mengecup bayi itu sehingga membuatnya menggeliat dan mulai menangis dengan kencang.
"Ya ampun papa, jangan keras-keras dong menyayang nya. Jadi nangis kan?" cicit bu Ani. Ia segera mengambil alih bayi itu dari gendongan suaminya lalu menimangnya sebentar.
"Sepertinya baby boy butuh minum asi. Laura, kamu susui dulu ya."
Reyhan segera membantu Laura duduk dengan nyaman, lalu mamanya menyerahkan bayi mungil itu pada Laura.
Untuk pertama kalinya, Laura merasakan ASI-nya di hisap seorang bayi. Ia meringis menahan sakit.
Bu Rohmah yang sejak tadi menemani mereka, merasa sangat bersyukur, akhirnya anak sulungnya kini telah resmi menjadi seorang ayah. Penantian panjangnya, akhirnya berhasil.
Tak ada kebahagiaan yang jauh lebih besar, yang dirasakan oleh seorang ibu, selain melihat anak-anaknya bahagia.
__ADS_1