Juragan Muda

Juragan Muda
53. Mendekatinya kembali


__ADS_3

"Sayang, aku mau ganti handphone. Mumpung ada grand opening counter baru, ayo kita kesana. Katanya mau beliin handphone baru buat aku kok dari dulu ngga jadi." rengek Sinta.


"Iya iya sayang. Ya sudah aku siap siap dulu sekarang, habis itu jemput kamu. Sampai ketemu sayang. Muach." Andre mematikan teleponnya.


Setelah berdandan rapi keduanya bergegas menuju ke grand opening counter LARIS JAYA CELL yang berada dikios pasar Baru.


Keduanya bergandengan mesra memasuki counter. Pandangan nya menyapu setiap sudut ruangan, lalu sejenak senyum mengembang di wajah Sinta yang melihat deretan handphone keluaran terbaru.


"Ayo kita kesana sayang." Andre pun mengikuti arah telunjuk tangan Sinta lalu mengangguk.


"Wah sepertinya bagus-bagus sayang. Aku pilih bentar ya." Andre pun mengangguk lagi. Karena jika ia geleng kepala pertanda akan timbul perang diantara keduanya. Dan tentu saja peperangan akan selalu dimenangkan oleh Sinta.


Setelah Sinta puas memilih, Andre mengeluarkan dompet untuk membayar biaya tukar tambah handphone Sinta. Sedangkan Sinta sendiri terlihat asyik melihat kesekitar ruangan. Matanya membola ketika lagi-lagi ia harus bertemu dengan seorang lelaki yang sangat ia kenal.


"Sayangku, coba lihat dia." Andre pun melihat dengan seksama siapa yang dimaksud oleh kekasihnya itu.


"Lho bukannya itu Reyhan! Kenapa terlihat akrab sekali dengan karyawan sini?"


"Halah paling juga teman sekolahnya dulu, ngga usah terlalu diurusin sayang. Tapi aku lihat penampilannya ada perubahan, ada sedikit manis-manisnya gitu." ujar Sinta sambil terkekeh kecil.


"Hemm kamu mau handphonenya aku tarik lagi?" Andre seketika tersulut emosi mendengar gurauan Sinta.


Akhirnya keduanya pun mendekati Reyhan yang masih sibuk bicara dengan karyawannya.


"Kamu ada disini juga Rey? Cari diskonan juga ya?" ujar Andre.


Reyhan menghentikan bicaranya dan menatap siapa yang mengajaknya bicara.


"Andre, Sinta. Gimana kabarnya?" Reyhan bertanya sambil tersenyum ramah.


"Kita baik Rey, kamu sendiri gimana?"


"Alhamdulillah aku baik."


"Lihat ini." Andre dan Sinta menunjukkan cincin yang sama yang melingkar di jari manis mereka.


"Kita sudah tunangan, tahun depan kita akan menikah."


"Maa syaa Allah Andre, aku turut bahagia. Jangan lupa kabar kabar lagi kalau sudah dekat hari pernikahan."

__ADS_1


Mereka akhirnya mengobrol, tapi tetap dalam obrolan itu Andre dan Sinta selalu merendahkan Reyhan, terkadang juga memamerkan kemesraan mereka.


Namun Reyhan tetap memberikan respon yang biasa saja dan cenderung merendah. Hingga akhirnya datang beberapa rekan Reyhan yang berprofesi sama dan mengucapkan selamat atas pembukaan cabang counter.


Seketika Andre dan Sinta mengerutkan keningnya mendengar percakapan Reyhan dan rekannya.


"Apa benar yang dikatakan mereka Rey, kalau kamu adalah pemilik counter ini?" Andre pun memberanikan diri untuk bertanya karena benar-benar sedang diliputi rasa penasaran yang besar, begitu juga Sinta.


Reyhan hanya mengangguk dan tersenyum simpul.


"Kenapa kamu ngga bilang dari tadi Rey? Tahu gitu kan aku bisa minta diskon." kata Andre tanpa ada rasa malu sama sekali, padahal sejak tadi ia terus menghina dan merendahkan Reyhan.


"Buat apa aku kasih tahu sama kamu Ndre, ini semua hanya titip Allah. Tak ada gunanya aku berkoar-koar. Lebih baik aku diam sambil terus mengembangkan usaha kecil ini." ucapan yang sederhana bagi Reyhan namun mampu menusuk hati Andre.


Bayangan masa lalunya ketika dulu waktu sekolah, dimana Andre adalah satu-satunya teman yang paling akrab dengan Reyhan, bahkan sudah dianggap seperti saudara sendiri. Teman berbagi keluh kesah, berbagi makanan dan segala hal lainnya, bahkan Andre menjadi satu-satunya teman yang menemani Reyhan disaat-saat terpuruk kehilangan ayahnya.


Dan sekarang hanya karena seorang wanita, Andre hampir saja melupakan semua masa-masa itu. Andre lebih mempercayai Sinta daripada Reyhan teman karibnya.


Dan kini, setelah tanpa sengaja mereka dipertemukan kembali dalam rasa yang sangat tidak mengenakkan. Karena seringnya Andre dan Sinta menghina dan merendahkan Reyhan. Ternyata Reyhan telah membalas semua hinaan itu dengan sebuah prestasi yang cemerlang. Karirnya meroket diusianya yang masih muda yaitu 20tahun.


"Hei Ndre?" Reyhan menepuk bahu Andre yang menyadarkannya dari bayangan masa lalu.


"Eh enggak apa-apa kok Rey. Ya sudah kita pamit mau pulang dulu ya. Sukses selalu." Andre menepuk bahu Reyhan sambil tersenyum untuk memberi dukungan.


"Lho katanya mau minta diskon, mau beli apa memangnya? Ayo aku layani."


"Oh enggak usah Rey, thanks ya."


"Kamu ingat janji aku dulu kan? Kalau aku bakal traktir kamu kalau udah sukses. Sekarang aku tepati janji aku. Buruan kamu mau apa, ambil saja."


"Aku lihat kamu sukses saja udah seneng kok Rey, doakan aku juga bisa seperti mu."


Reyhan pun mengangguk dan tak lupa tersenyum.


"Tanpa kamu minta tentu aku juga bakal doain kamu, karena kamu teman karibku semasa sekolah. Ya udah kalau kamu ngga mau ambil sesuatu dari counterku, gimana kalau kita jajan bareng di restoran sebrang jalan itu. Rasanya kalau menurutku enak kok, dan untuk kali ini kamu ngga boleh nolak. Sinta juga ikut ya. Ayo." Reyhan menggandeng tangan Andre keluar.


"Tunggu bentar ya, aku ambil handphone dulu. Jangan kemana-mana." lalu Reyhan segera mendekat ke mobilnya mengambil keperluannya.


"Itu mobil kamu Rey?" tanya Andre.

__ADS_1


"Cuma titipan. Ayo buruan jalan."


"Mobilmu harganya berapa Rey? Belinya cash apa kredit?" tanya Andre saat menunggu hidangan disajikan.


"Aku lupa harganya, tapi Alhamdulillah aku belinya cash." sengaja Reyhan tak mau menyebut nominal harga takut akan menimbulkan dosa riya' dihatinya.


Sinta dan Andre kembali terperangah tak percaya jika Reyhan mampu membeli mobil sebagus itu dengan cara cash.


"Pesanan datang, ayo diserbu." kata Reyhan diiringi tawa kecil untuk mencairkan suasana. Karena sedari tadi melihat Andre dan Sinta lebih banyak diam, padahal sebelumnya selalu banyak bicara yang merendahkannya.


Andre dan Sinta segera membalas senyuman Reyhan sambil mengangguk, lalu mulai mengambil menu yang sudah dihidangkan.


Sesekali Reyhan mengajak bicara, agar suasana tidak canggung. Tapi tetap saja ada yang terasa berbeda dihati masing-masing insan itu.


Akhirnya makan siang pun selesai. Reyhan mengajak untuk kembali ke counter, setelah sebelumnya membayar total tagihan makan mereka.


"Kapan kapan kita main futsal bareng ya, aku sudah kangen main futsal denganmu." ajak Reyhan, Andre pun mengacungkan 2 jempolnya.


Lalu mereka berpisah, Sinta dan Andre pulang dengan mengendarai motor, sedangkan Reyhan kembali masuk ke counternya.


"Kenapa tak terima tawaran Reyhan untuk mengambil salah satu barang yang dijual di counternya sayang?" tanya Sinta ketika sudah menempuh hampir separuh perjalanan, dan yang ada hanya keheningan. Tidak seperti biasanya yang penuh dengan canda tawa.


"Aku ngga mau merusuhi usaha temanku, harusnya aku selalu mendukung dan tidak menghinanya dulu. Jadi ketika bertemu tidak akan terasa secanggung tadi."


"Ya sudah karena semua sudah jelas, lebih baik kamu jalin persahabatan dengannya lagi."


"Entahlah sayang, rasanya perbedaan kami terlihat begitu jelas. Aku tak mungkin bisa menyamainya yang kini sudah sangat sukses."


Huh..... Sinta menghembuskan nafas kasar.


'Kalau kamu tidak bisa menjadi seperti mas Reyhan dan tidak mau menjalin hubungan dengannya, lebih baik aku saja yang maju untuk mendekatinya kembali.'


Berteman yuk kak di FB.


FB: Nurul khanifah


Berikan penilaian yang baik ya agar menambah semangat author untuk terus update.


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca, terimakasih semoga sehat selalu dan semakin lancar rezekinya.😘🤗

__ADS_1


__ADS_2