
Ciittttt....
JEDDEERR....
"Miss Laura!" seru Reyhan. Ia sangat syok ketika melihat mobil Laura menabrak pembatas jalan karena menghindari mobil yang hendak menyeberang.
Tampak beberapa orang mulai berduyun-duyun mendekat ke arah mobil Laura. Reyhan pun segera meletakkan motor nya di sembarang tempat, dan bergegas menolongnya.
"Permisi pak, saya keluarganya." kata Reyhan memecah kerumunan itu.
"Astaghfirullah!" pekiknya ketika melihat Laura tak sadar diri dan terdapat luka di beberapa wajahnya.
Beruntung ada seorang dokter baik hati yang menawarkan diri untuk mengantarkan ke rumah sakit. Tanpa pikir panjang, Reyhan segera mengangkat tubuh Laura dan masuk ke dalam mobil milik dokter itu.
Selama di mobil, Reyhan menatap wajah cantik itu yang kini terdapat beberapa luka. Tangan kekarnya bergerak lembut mengelus paras cantiknya. Sembari dalam hati ia terus merapalkan doa.
"Bisakah lebih cepat pak?" tanya Reyhan pada dokter muda itu.
"Sudah maksimal. Tenang dan berdoalah semoga tidak terjadi apa-apa." Reyhan pun mengangguk mendengar perkataan dokter itu. Walaupun sebenarnya hatinya tetap tak bisa tenang.
Akhirnya, mobil pun memasuki pelataran rumah sakit. Dokter segera menyuruh petugas rumah sakit untuk menyediakan brankar dorong pasien. Tak lama kemudian, dokter dan beberapa petugas mendekat ke arah mobil. Reyhan meletakkan pelan-pelan tubuh Laura.
Dokter muda itu sedikit terkejut ketika melihat siapa yang ada di hadapannya saat ini. Dia adalah wanita yang dulu pernah di tangani karena penyakit asam lambung. Setelahnya ia ikut mendorong nya menuju kamar IGD.
"Tunggu saja di luar, kami akan berusaha untuk memberikan pertolongan padanya." ucap dokter itu pada Reyhan.
Reyhan hanya bisa menghela nafas kasar. Ia mengusap wajahnya dengan frustasi. Ia teringat untuk mengabari kedua orang tua Laura. Bergegas ia merogoh sakunya.
"Astaghfirullah. Lupa ngga bawa handphone." Reyhan langsung menyugar rambutnya frustasi. Ia hanya bisa mondar-mandir sambil merapalkan doa.
Setelah hampir setengah jam dokter muda itu keluar.
"Bagaimana keadaannya dok?" Reyhan langsung menodongnya dengan pertanyaan.
"Dia masih belum sadar. Beberapa luka di wajahnya sudah kami bersihkan. Untuk luka dalam, kita belum tahu dan harus mengadakan rongten secepatnya. Tapi kami perlu tanda tangan dari pihak keluarga."
"Saya bukan keluarga nya tapi akan bertanggungjawab 100% padanya."
"Tidak bisa, itu melanggar peraturan." Reyhan mendengus kesal karena lupa membawa handphone. Sekarang tidak tahu harus bagaimana memberitahu kabar pada pak Atmaja.
__ADS_1
"Em.. bolehkah saya meminjam handphone dokter? Maaf saya lupa ngga bawa."
"Tentu saja boleh." kata dokter itu sambil menyodorkan handphonenya.
Reyhan segera menerima dan menghubungi nomor pak Atmaja. Ia sangat terkejut dengan kabar yang baru saja di sampaikan oleh Reyhan. Bergegas pak Atmaja dan istrinya menyusul ke rumah sakit yang sudah di kirim lewat share look.
Setelah itu, Reyhan juga mengabari keluarga nya. Reaksi keluarga nya juga sama kagetnya. Mereka pun bergegas menyusul ke rumah sakit.
"Terima kasih dok." ucap Reyhan sambil menyerahkan handphone itu, ketika sudah selesai mengabari.
"Apakah saya boleh menemaninya?"
"Tentu saja boleh. Oh ya, tadi katamu pasien adalah keluarga mu, kenapa berubah lagi?"
"Oh itu... saudara jauh saya dok." ucap Reyhan sambil meringis.
"Ya sudah silahkan masuk." Dokter muda itu berlalu pergi, sedangkan Reyhan masuk ke dalam.
Reyhan duduk di samping Laura dan menatap nya dengan sendu.
"Apa yang kamu lakukan di rumah ku? Kenapa tidak bilang-bilang? Kamu selalu saja membuat ku senam jantung." gumam Reyhan. Tangannya menggenggam tangan Laura dengan erat. Bahkan ia menciumi tangan Laura dengan bertubi-tubi.
"Reyhan."
"Bagaimana keadaan non Laura Rey?"
Mereka saling berjabat tangan dan berpelukan, lalu menengok ke arah Laura.
"Kata dokter, Miss Laura harus segera di rongten untuk mengetahui apakah ada luka di bagian dalamnya. Tapi itu butuh tanda tangan dari keluarganya."
"Ya sudah, biar saya yang menemui dokter." pak Atmaja segera melangkah keluar.
"Saya temani papa." Reyhan segera mengikuti pak Atmaja.
Beruntung dokter jaga itu belum pulang dan mereka bisa cepat menemukan nya. Proses tanda tangan pun selesai. Dan akan secepatnya di lakukan rongten.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" pak Atmaja menghentikan langkah dan menatap Reyhan dengan intens.
Yang membuat Reyhan langsung menundukkan pandangan, karena bingung harus berkata apa. Ini adalah pertama kalinya pak Atmaja berbicara serius dengannya.
__ADS_1
"Tadi ada acara pa di rumah, dan saya ngga tahu ternyata Miss Laura datang. Waktu saya mengecek keluar, ia sudah buru buru pergi."
"Kita tunggu sampai Laura sadar, untuk membuktikan kebenaran nya. Dia anak ku satu-satunya. Tak kan ku biarkan ada yang menyakiti nya." setelah berkata seperti itu pak Atmaja segera masuk, dan meninggalkan Reyhan yang masih mematung di depan pintu.
Dokter segera melakukan rongten dan CT-scan untuk mengetahui apakah ada luka dalam atau tidak. Sambil menunggu hasilnya, Laura segera di pindahkan ke ruang VVIP. Pak Atmaja bergerak cepat untuk menyelamatkan putri kesayangannya itu.
"Kak, kenapa kamu malah nunggu di luar?" Bayu yang sejak tadi menemani ibunya di kamar Laura kini keluar.
"Sudah banyak yang menunggunya. Aku nunggu di luar saja."
"Katanya mau berjuang, kok lembek?"
"Seumur-umur pak Atmaja ngga pernah berkata dengan penuh penekanan seperti tadi Bay. Sepertinya ia menuduh ku."
"Wajar lah, orang cuma punya satu anak, perempuan pula. Mana ada orang tua yang tega jika melihat anaknya di sakiti. Tapi, kalau kakak ngga nyakitin Laura, ya sudah tenang saja."
"Kamu benar Bay."
"Satu lagi. Apa kak Reyhan mencintai Laura?"
"Sebenarnya aku juga masih bingung Bay. Tapi... cuma dia satu-satunya wanita yang bisa membuat aku sefrustasi ini."
"Rey, kamu pulang bareng kami atau tetap disini?" suara bu Rohmah mengejutkan keduanya yang tengah asyik bercerita.
"Aku disini saja dulu bu, menunggu sampai ia sadar."
"Hem, baiklah kalau begitu. Ibu tinggal ya, kasian adikmu ngga ada temannya. Banyak lah berdoa." bu Rohmah menepuk bahu Reyhan, ia pun lantas mengangguk.
Semalaman Reyhan tak tidur, ia menunggu Laura di depan kamarnya. Sungguh ia tak berani masuk sampai Laura sadar dan mengatakan yang sebenarnya pada kedua orangtuanya.
Dan pagi itu, akhirnya Laura menunjukkan sebuah perubahan. Perlahan matanya mulai sedikit terbuka dan mengerjap memindai seisi ruangan yang tampak bersilau dan warna putih yang mendominasi. Bau obat langsung menyergap Indra penciuman nya.
"Laura, kamu sudah sadar sayang?" tanya bu Ani yang langsung berdiri di samping Laura, begitu juga dengan pak Atmaja. Laura hanya mengangguk lemah. Kepalanya terasa berdenyut nyeri.
Pak Atmaja segera menekan bel untuk memanggil perawat.
Tak lama, perawat pun datang. Reyhan terkejut ketika melihat perawat yang hendak masuk ke kamar Laura. Bergegas ia menghadang perawat itu.
"Apa yang terjadi sus?"
__ADS_1
"Katanya pasien sudah sadar. Kami di minta untuk mengecek keadaan nya."
"Alhamdulillah." seulas senyum terpancar di wajah Reyhan mendengar kabar baik itu.