Juragan Muda

Juragan Muda
216. Permainan di mulai


__ADS_3

Sementara di saat yang bersamaan, di kediaman Tiwi juga tengah di gelar pesta pernikahan. Para tamu yang diundang terlihat sudah memenuhi kursi yang disediakan.


Pagi itu, Adam sudah duduk di depan penghulu dengan mengenakan stelan berwarna putih. Setelah menerima beberapa nasehat dari penghulu, ikrar ijab qobul pun di mulai.


Penghulu menjabat tangan Adam.


"Bismillahirrahmanirrahim. Saya nikah dan kawinkan engkau Adam Suseno dengan putri ku Pratiwi binti Somad Abdul Aziz dengan maskawin berupa seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan senilai 50 juta di bayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Pratiwi binti Somad Abdul Aziz dengan maskawin tersebut dibayar tunai." ucap Adam dalam satu tarikan nafas.


"Bagaimana saksi? Sah?"


"Sah, sah."


"Alhamdulillah."


Semua tampak bersyukur, akhirnya sebuah upacara sakral itu berhasil dilewati. Semua pun terlihat mengusapkan tangan ke wajah sebagai bentuk syukurnya, termasuk kedua mempelai yang duduk di tempat berbeda.


Tiwi menitikkan air mata haru karena ia masih tak menyangka, jika hari ini statusnya telah berubah menjadi seorang istri. Ia juga tak menyangka, akan ada lelaki yang mau menerima dirinya dengan segala kekurangannya.


"Ayo nak, kita ke depan menemui suami mu." ajak bu Siti. Ia menggandeng tangan anaknya untuk memberi dukungan kekuatan.


Tiwi berjalan dengan pelan menuju tempat akad. Ia tampak anggun dengan kebaya putih. Adam terpana hanya dengan melihatnya. Ia segera membenarkan kursi yang akan dipakai untuk duduk Tiwi.


"Silahkan bersalaman dan mengecup kening istri." tutur penghulu.


Kedua mempelai itu mengangguk pada penghulu, lalu pandangannya saling menghadap ke pasangannya. Jantung keduanya sama sama berdegup kencang.


Adam menyodorkan tangan kanannya, lalu Tiwi meraih dan mencium dengan takzim. Adam pun meletakkan tangan kirinya sambil berdoa.


"Allahumma inni as-aluka khairaha wa khaira maa jabaltaha alaihi, wa a'udzibikanmin syarriha wa syarri maa jabaltaha alaihi."


Setelah itu, keduanya dipersilahkan duduk di kursi pengantin, dan segera di susul oleh acara lainnya.

__ADS_1


Seperti pada umumnya, ketika melewati proses sungkem, mereka pun juga terisak, apalagi ketika kedua orang tua masing-masing saling memberi nasehat dan doa'.


Hingga saatnya pengantin berfoto. Keduanya tampak kikuk karena belum terbiasa saling berpegangan. Sehingga fotografer banyak mengarahkan mereka.


Meskipun bukan pesta yang mewah, namun semua berjalan dengan hikmad. Satu persatu tamu undangan mulai meninggalkan tempat acara.


_____


Sementara itu, mobil yang di kendarai Reyhan, melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah Tiwi. Zakira yang sudah kelelahan, akhirnya tertidur pulas dalam pangkuan Bayu.


Namun, kedua pasangan suami-istri itu masih tetap saja bercakap-cakap walaupun rasa lelah mulai melanda.


Meskipun setiap hari mereka selalu bertemu, tetap saja ada hal baru yang mereka ceritakan, sehingga membuat perjalanan tidak terasa membosankan.


Sayup-sayup terdengar suara nyanyian, pertanda sudah semakin dekat dengan rumah Tiwi. Bayu menatap keluar jendela melihat pemandangan sekitar, karena dulu ia sering melewati jalan itu kala masih berpacaran dengan tiwi.


'Astaghfirullah, semua sudah berlalu. Aku telah memiliki keluarga kecil yang bahagia.' batin Bayu. Ia lantas mengusap wajahnya untuk menghilangkan bayangan masa lalunya.


Mobil menepi, dan mereka mulai turun satu persatu. Meskipun acara pernikahan sudah selesai, masih ada tamu yang berdatangan satu persatu.


Setelah saling bersalaman, pak Somad mempersilahkan mereka duduk, dan berlalu masuk ke dalam rumah memanggilkan Tiwi dan Adam. Sementara bu Siti yang baru saja selesai menyalami tamunya, mendekat ke arah keluarga Reyhan dan menyalami nya.


Tampak Adam dan Tiwi berjalan beriringan menghampiri keluarga Reyhan. Mereka saling bersalaman dan saling berpelukan sembari terucap kata selamat, sekaligus permintaan maaf karena tidak bisa menyaksikan prosesi ijab qobul karena waktunya bersamaan dengan Rosyidah. Tiwi mengangguk paham, dan tidak mempermasalahkannya.


Tiwi segera mempersilahkan mereka untuk menikmati hidangan yang sudah disediakan.


"Maaf ya mbak, mas, cuma seperti itu hidangannya."


"Ngga apa-apa Wi, kita juga sudah kenyang kok. Kesana kemari isinya ngisi perut terus." canda Anisa yang membuat mereka terkekeh.


Mereka pun saling bercakap-cakap sembari menikmati hidangan yang ada. Terlihat Adam juga cepat akrab dengan mereka, walaupun hanya bertemu sesekali. Hari hampir sore, sehingga mereka segera berpamitan pulang. Tak lupa mengulurkan amplop untuk mempelai.


Hari berlalu dengan begitu cepat, hingga akhirnya malam mulai menyapa.

__ADS_1


Di dalam kamar yang sempit milik Tiwi, Adam tengah membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Sedangkan Tiwi, ia baru saja membersihkan diri, karena badannya terasa lengket.


Tiwi terkejut hingga menekan dada, ketika melihat Adam yang sudah tertidur di tempat tidurnya. Ia lupa menyadari jika telah memiliki suami.


Sejenak ia mematung di depan pintu. Berpikir akan melakukan apa.


'Aneh, kenapa aku bingung dengan apa yang mau ku lakukan, di kamar sendiri?' batinnya.


Ia pun berjalan, lalu meletakkan wedang uwuh di atas meja nakas dekat tempat tidurnya. Aroma khas rempah yang menguar, membuat Adam mengenduskan hidungnya, dan perlahan membuka matanya. Ia tersenyum hangat, sehingga membuat Tiwi salah tingkah.


"Kesinilah." Adam menepuk tempat tidur disampingnya.


'Inikan tempat tidurku, kenapa jadi dia yang mengatur?' batin Tiwi. Dengan ragu ia pun duduk di pinggir tempat tidurnya.


"Kenapa? Kita kan sudah menjadi suami istri."


"Em, aku masih ngga percaya saja dok."


"Ya ampun, kita sudah menikah, kenapa kamu masih memanggil ku seperti itu?" kekeh Adam. Tiwi pun tersenyum sambil menahan rasa deg-degan.


Melihat Tiwi yang tak kunjung membaringkan diri, membuat Adam terduduk, dan keduanya saling berpandangan. Adam meraih kedua tangan Tiwi dan mengecupnya.


"Aku tak menyangka jika akhirnya kita akan dipersatukan dalam ikatan yang suci. Maafkan jika dulu aku pernah buat salah sama kamu ya..... sayang." ucap Andre lalu mengecup tangan Tiwi yang masih terdiam karena merasa aneh ketika Adam memanggilnya dengan kata sayang untuk pertama kalinya.


"I_ya mas." balas Tiwi dengan tersenyum hangat.


Melihat Tiwi yang tersenyum hangat, membuat Adam semakin terpacu adrenalinnya. Ia menggeser tubuhnya, hingga semakin dekat dengan Tiwi, lalu mengecup keningnya lama. Dengan dada yang sama berdebar, keduanya menikmati saat itu.


"Apa kamu sudah siap, menunaikan kewajiban mu sayang?" Adam menatap Tiwi sehingga membuatnya tertunduk malu, lalu tak lama kemudian mengangguk.


Adam pun mulai mengecup kening Tiwi sambil berdoa, lalu kecupan itu menjalar ke bibir yang tampak merah karena polesan lipstik. Sembari perlahan tangannya membuka jilbab Tiwi.


"Kamu begitu cantik." puji Adam ketika jilbab itu berhasil dilepaskan.

__ADS_1


Tiwi hanya tersenyum sambil menundukkan wajahnya. Memandang wajah suaminya, hanya akan membuat jantungnya tak terkendali.


Namun Adam, yang tak kuasa menahan diri, kembali mengecup bibir Tiwi. Tangannya mulai membuka kancing bajunya, dan permainan pun di mulai.


__ADS_2