Juragan Muda

Juragan Muda
22. Surprise untuk ibu


__ADS_3

"Permisi kak, kami dari toko Sinar elektronik mau mengantar pesanan pembeli atas nama Reyhan Perdana Kusuma counter LARIS JAYA CELL." tutur seorang sopir ke Bayu.


"Oh ya, bener pak itu kakak saya, tapi tadi tidak titip pesan ke saya, coba saya tanyakan dulu ya." pamit Bayu lalu hendak ke kamar kakaknya tapi sudah ada ibunya yang berdiri di pintu yang kebetulan sedang menyapu teras rumah.


"Siapa Bay?" kata ibunya dengan tatapan menyelidik.


"Biasa bu, paketan buat kak Reyhan." jawab Bayu sambil berlalu masuk ke kamar.


"Kak, kakak, bangun ada paketan tuh." Bayu menggoyang goyangkan tubuh Reyhan yang masih tertidur pulas.


"Hemm..... siapa." Reyhan menggeliat lalu mengucek kedua matanya menghilangkan kantuk yang melanda.


"Paketan dari toko elektronik."


"Hem, bawa masuk aja kerumah. Udah aku bayar." Reyhan kembali memejamkan mata.


Bayu segera kedepan menyampaikan pesan kakaknya ke sopir. Ibunya yang melihat dus besar dimasukkan ke rumah oleh petugas toko sedikit kaget.


Bayu yang penasaran segera membuka isi dus yang dilapisi kertas warna warni disaksikan ibunya.


Keduanya terkejut setelah berhasil membuka dus.


"Maa syaa Allah..." sepatah kata yang diucapkan ibunya mengetahui isinya. Hatinya terenyuh dengan anaknya yang sangat perhatian padanya.


"Kak Reyhan baik ya bu, semoga aku juga bisa sepertinya... membahagiakan ibu." Bayu menatap lalu mengelus punggung ibunya. Ibunya membalas dengan tersenyum dan mengamini doa anaknya.


"Ibu suka ngga dengan surprise nya." tanya Reyhan yang ternyata sudah berdiri diambang pintu kamar nya sambil menguap.


Seketika Bayu dan ibu menoleh ke sumber suara, lalu ibunya segera memberi anggukan kepala dan tersenyum. Matanya sedikit berair.


"Kamu tuh apa apaan toh Rey, pake beli mesin cuci segala, kan uangnya bisa ditabung buat tambah modal usaha mu, lagi proses buka cabang kan." ibunya menanggapi.


"Cuma uang receh bu, tak kan mengurangi uang modal ku." jawab Reyhan santai.


"Tapi kan 2 tahun lalu kamu beliin ibu kulkas."


"Ngga ya bu, doakan usaha Reyhan makin sukses ya bu."


"Tentu."


"Ya udah ayok bawa ke belakang Bay, biar ibu coba. Jadi ngga perlu capek-capek ngucek, tinggal puter beres deh." kata Reyhan diiringi tawanya.


Mereka pun segera berjalan ke belakang mencoba hadiah baru.


Dalam hati ibunya juga sangat bersyukur dengan hadiah yang diberi oleh Reyhan.


Pasal nya di desanya belum ada yang memiliki mesin cuci, rata rata masih mencuci secara manual. Tapi ibunya juga tidak ingin pamer dengan apa yang dimiliki nya.


Karena apa yang kita miliki sejatinya hanyalah titipan Allah. Sewaktu waktu bisa saja diambilnya.

__ADS_1


_____


Pagi itu Reyhan berangkat ke kios baru yang terletak di pasar jati. Sengaja ingin membersihkan dan mengecat ulang agar terlihat lebih fresh.


Membersihkan lantai yang dipenuhi bekas lem yang susah dibersihkan dan mengepelnya. Seperti nya pemilik yang dulu kurang menjaga kebersihan. Bau tikus dan kecoak juga terasa menyengat.


Setelah hari beranjak siang bertepatan dengan selesai nya pekerjaan, dirinya bergegas melaksanakan shalat. Dan untuk pertama kalinya dirinya melaksanakan shalat di counter barunya.


Dirinya lebih khusu' dalam memanjatkan doa. Semoga ditempat baru bisa mendapatkan rezeki yang lebih banyak dan berkah. Bacaan doa wirid juga tak luput dibaca.


Ketika hendak menutup rolling door Reyhan dikejutkan dengan suara dari belakang yang menyapa nya.


"Orang baru mas."


"Eh iya mas." Reyhan menoleh ke sumber suara, setelahnya mengangguk sambil tersenyum.


"Mau jualan apa."


"Ah cuma counter kecil kecilan mas rencananya." ucap Reyhan merendah.


"Oh..." jawab orang itu dengan pandangan menelisik ke arah Reyhan tanpa seulas senyum, padahal Reyhan sudah berusaha ramah.


Setelah nya orang itu berlalu pergi tanpa sepatah katapun.


Reyhan pun terbengong menyaksikan orang itu yang sudah berbelok ke arah counter yang berada diujung kiri. Seperti nya menuju counter nya.


'Aneh, tingkah nya seperti itu, apa tak suka ya aku jualan disini.' batin Reyhan menatap orang yang menyapa nya tadi sambil geleng-geleng.


Reyhan pun mengendarai motor nya hendak pulang kerumah. Tapi seperti biasanya dia membeli makanan dulu untuk orang rumah. Dan kali ini lebih memilih bakso untuk makan siang nya.


Setelah sampai rumah, gegas turun dari motornya lalu mendekat ke arah pak Somad sambil menyerahkan sebungkus bakso.


"Wah terimakasih ya mas, bapak jadi ngrepotin kamu terus. Tiap pergi selalu dikasih oleh oleh." ucap pak Somad sungkan karena tiap hari selalu dapat jatah makan siang dari Reyhan.


"Ngga papa kok pak, cuma makanan murahan kok pak, semoga bapak suka ya." ucap Reyhan tulus.


"Setiap pemberian mas Reyhan saya sangat suka. Semoga Allah ganti dengan yang berlipat-lipat ya mas."


"Aamiin ya rabbal aalamiin, terimakasih ya pak doanya."


"Oh ya, kata Tiwi, mas Reyhan mau buka cabang ya."


"In shaa Allah iya pak, mohon doanya ya."


"Tentu, tentu bapak akan doakan mas Reyhan sekeluarga supaya dapat rezeki yang berlimpah."


"Iya pak, sekali lagi terimakasih ya. Oh ya, saya pamit masuk ke dalam dulu ya, laper mau makan juga, itu jangan lupa dimakan ya pak, keburu dingin." ucap Reyhan sambil mengelus perutnya.


"Wi, yuk makan siang bareng." ajak Bayu ke Tiwi.

__ADS_1


"Kamu duluan aja mas. Aku masih menyiapkan pesanan."


"Ikut Bayu sekalian aja Wi, biar aku yang lanjutin mumpung belum ada yang dateng lagi, makanan udah aku sediain di meja." Reyhan turut bicara dari ambang pintu lalu mendekat ke Tiwi mengambil alih tugasnya.


Tiwi pun sebenarnya enggan untuk makan siang dan lebih ingin melanjutkan pekerjaannya ditemani Reyhan, tapi karena terus dipaksa oleh kakak beradik itu akhirnya dia menurut berdiri mengikuti langkah Bayu menuju dapur.


"Kan aku belum laper mas." protes Tiwi ke Bayu tapi tak urung tetap mengekor juga.


"Jangan ngeyel dong, ntar kalo sakit gimana. Kita tuh beruntung lho punya bos kayak kakak ku, perhatian banget sama kita." lalu Bayu menyodorkan semangkok bakso yang masih hangat.


Suara sendok yang beradu dengan piring pun mendominasi kebisuan diantara keduanya. Hingga akhirnya Bayu bicara duluan.


"Wi... Aku boleh tanya ngga."


"Hem, mau tanya apa mas kok pake ijin segala."


"Em... Kriteria cowok yang kamu suka seperti apa, kasih tau dong."


"Uhuk.. uhuk." Tiwi terbatuk-batuk mendengar pertanyaan Bayu.


Bayu pun segera menuang es kopi yang ada di meja lalu menyodorkan ke Tiwi.


"Kok jadi batuk batuk, keselek bakso apa cabe?" Bayu bertanya dengan polosnya.


Tiwi menatap Bayu sekilas sebelum akhirnya menjawab, "Dua duanya."


"Udah enakan kan tenggorokannya, sekarang jawab dong pertanyaanku." bujuk Bayu.


"Kepo banget siiiih.. mau tau aja urusan orang."


"Ya ngga papa, namanya juga usaha."


"Apa?" Tiwi menatap Bayu dengan pandangan yang menelisik.


"Eh, maksud aku ya pokoknya aku pengen tau aja siapa tau aku bisa cariin kriteria cowok seperti yang kamu mau." poles Bayu.


"Atau kamu udah punya cowok ya." lagi Bayu bertanya dengan antusias.


"Ngga ada." jawab Tiwi singkat sambil memasukkan bakso ke mulutnya.


Bayu tak jadi menyuap bakso ke mulutnya.


"Oh ya, serius belum ada." mata nya sedikit berbinar dan senyum simpul menghiasi wajahnya.


Tiwi mengangguk disertai ekspresi datar dan segera berdiri membawa mangkok yang telah kosong menuju wastafel dan mencuci setelah itu berpamitan ke Bayu menuju ke depan.


'Tiwi kok kalo bicara sama aku secukupnya, kalo bicara sama kak Reyhan menggebu gebu, atau cuma perasaan ku aja ya.' batin Bayu menatap punggung Tiwi yang berlalu.


Setelahnya Bayu bangkit mencuci piring lalu menyusul ke depan.

__ADS_1


Tampak Reyhan dan Tiwi tengah sibuk melayani pembeli Bayu pun segera membantu.


Walaupun bosnya adalah kakaknya sendiri, dia juga tetap konsekuen dalam melaksanakan tugasnya. Bahkan gajinya selalu dilebihkan dibanding Tiwi.


__ADS_2