Juragan Muda

Juragan Muda
134. Pertunangan Anisa dan Bayu


__ADS_3

Malam harinya, keluarga Reyhan berkumpul di ruang tv yang selama ini juga di fungsikan sebagai ruang keluarga. Karena di sanalah mereka sering berkumpul menghabiskan waktu bersama.


"Rey, kapan kamu akan melamar non Laura?" bu Ani bertanya dengan anak sulungnya terlebih dahulu.


"In shaa Allah besok hari sabtu bu."


"Lalu kamu Bayu?" pandangan bu Ani beralih pada Bayu.


"Besok hari kamis bu."


"Ibu hanya bisa mendoakan, semoga urusan kalian berdua di permudah Allah. Menikah tujuannya bukan sekedar untuk menyalurkan hasrat s*ksual saja. Tapi lebih besar dari itu. Kalian di tuntut untuk bisa menjadi pemimpin rumah tangga yang baik, bijaksana dan mengayomi anggota keluarga kalian. Tidak hanya itu saja, kalian harus mampu untuk mendamaikan hati ibu dan menantu yang jarang bisa bersatu."


Keduanya menyimak baik-baik ucapan ibunya, lalu mengangguk bersamaan.


"Huft... 3 kali dapet bekasnya kak Reyhan semua." celetuk Bayu, yang membuat keluarga nya terkekeh.


"Kamu sendiri kan yang mau?" Reyhan menyenggol lengan Bayu.


"Mau gimana lagi, aku sudah ngga suka pacaran. Aku maunya yang serius. Dan sepertinya aku bisa melihat itu dari Anisa.


"Berarti sewaktu acara kemarin, kamu ngintip ya?" tebak Reyhan yang langsung membuat Bayu terkekeh.


"Gimana kalau nanti nikah nya barengan saja, biar hemat." celetuk Bayu.


"Hust, nikah itu sesuai budget saja, ngga usah terlalu berlebihan kalau ngga mampu. Dari pada habis nikah nanggung hutang." saran Reyhan.


"Eh, tapi benar lho apa kata adik mu Rey. Kalau nikahnya bareng kan Ibu ngga capek." kekeh bu Rohmah.


"Kalau aku sih, nurutin apa yang jadi keinginan calon istri saja." Bayu langsung terbatuk-batuk mendengar penuturan kakaknya yang terlihat tulus dari hati, walaupun itu sekedar candaan.


"Gampang sih ngomong seperti itu, uangnya kan banyak. Apalagi keluarga Laura juga orang kaya, ya cocok cocok saja kan."


"Miss Laura itu spesial, jadi aku juga harus memperlakukan nya dengan spesial pula." kata Reyhan tak mau kalah.


"Yok, perang mulut di mulai. Siapa pemenangnya? Kak Reyhan atau kak Bayu?" celetuk si kecil Bima. Semua pun terkekeh dan larut dalam canda.


______

__ADS_1


Hari hari serasa cepat berlalu, hingga hari kamis mulai menyapa. Keluarga Anisa tengah bersiap-siap menyambut kedatangan keluarga Bayu selepas isya'. Keributan nampak terjadi di dapur, ketika tengah mempersiapkan menu hidangan.


"Sudah siap semua umi?"


"Sepertinya sudah bi."


"Kok sepertinya, yang jelas dong."


"Ya abi cek saja sendiri, kan umi juga bingung sejak tadi berkutat di dapur, takut nya juga ada yang terlewat." balas umi Salwa sewot.


Anisa yang juga tengah membantu menyiapkan makanan hanya bisa mengulum senyum, melihat kedua orang tuanya yang tetap harmonis sampai sekarang. Walaupun ada perbedaan di antara keduanya, tetapi bisa menyikapi dengan bijaksana.


"Anisa, sebentar lagi kan tamunya datang, sebaiknya kamu siap-siap. Jangan sampai ketika nak Bayu sampai sini, kamu masih bau bawang." Anisa terkekeh mendengar candaan abinya, tapi ia juga menuruti perintah nya untuk bersiap siap.


Setelah mandi untuk yang kesekian kalinya, Anisa merapikan diri di depan cermin. Berulang kali ia menghembuskan nafas panjang. Rasanya ia masih tak percaya jika ia akan segera di lamar oleh adiknya Reyhan.


'Ternyata jodoh itu memang penuh misteri. Yang ku lamar kakaknya, eh yang dapat adiknya.' batin Anisa, ia pun terkekeh sendiri. Tak lama kemudian ia mendengar suara deru mobil. Bergegas ia mengintip dari balik jendela kamarnya.


'Hah, mereka sudah datang.' batin Anisa.


Ia membulatkan matanya tak percaya. Bergegas ia merapikan jilbab dan dandanan nya. Walaupun sudah beberapa kali merapikan diri, tapi Anisa tetap merasa tak yakin jika dandanannya sudah rapi.


"I_iya umi." jawab Anisa dengan suara yang tercekat. Untuk yang kesekian kalinya ia merapikan diri lagi.


"Ya Allah, Anisa, kamu itu sudah cantik dan rapi. Kenapa terus menerus merapikan diri? Kalau kelamaan menunggu, terus nak Bayu pulang gimana?" kekeh uminya.


"Ayo." umi Salwa menarik tangan Anisa. Sehingga mau tak mau Anisa segera mengikuti langkah uminya yang terlihat cepat itu.


"Umi, pelan pelan dong." bisik Anisa.


"Perasaan umi jalannya biasa saja." jawab umi Salwa sambil mengerutkan dahi.


"Nah, ini Anisa." kata pak Gofur yang menyambut kedatangan Anisa.


Anisa duduk di tengah-tengah kedua orangtuanya.


Setelah sedikit berbasa-basi, acara pun di mulai. Dengan suara yang lantang Bayu meminta restu kedua orang tua Anisa untuk menjadikan Anisa sebagai seorang istri.

__ADS_1


"Apa kamu sudah yakin nak dengan keputusan mu?" tanya pak Gofur pada Bayu. Bayu lantas mengangguk.


"Apa kamu tak ingin melihat wajahnya terlebih dahulu, sebelum hari itu datang?" imbuh pak Gofur.


Hati Bayu seketika berdetak kencang. Sebagai lelaki normal, ia juga penasaran dengan wajah Anisa yang senantiasa tertutup cadar. Namun naluri nya berkata bahwa kecantikan fisik tidak ada apa-apa nya jika di bandingkan dengan kecantikan hati. Apalagi dua kali menjalin hubungan dengan perempuan, ia selalu apes. Ia sangat memanjakan wanita wanita cantik itu, tapi justru hatinya tak secantik wajahnya. Jadi Bayu memutuskan untuk memilih istri yang biasa saja, namun hatinya baik.


"Tidak pak. Saya menikahi nya bukan karena kecantikan fisik. Saya akan melihat wajahnya nanti ketika sudah sah." Bayu berucap dengan lantang dan tegas.


Semua yang ada di ruangan itu seketika tersenyum lega mendengar ucapan Bayu.


"Bagaimana Anisa?" pak Gofur bertanya pada Anisa.


Setelah mendengar penjelasan Bayu tadi, tentu saja membuat hati Anisa bagai di siram seember air es yang terasa menyejukkan. Dengan mantap ia pun mengangguk. Walaupun ia belum tahu pasti bagaimana sikap Bayu yang sebenarnya.


"Alhamdulillah." seisi ruangan itu mengucapkan syukur kala melihat Anisa mengangguk.


Tukar cincin saat acara lamaran adalah menjadi salah satu momen yang sangat di harapkan dan di tunggu tunggu oleh sepasang kekasih.


Begitu juga dengan Bayu. Sejak tadi ia merasa sangat gelisah kalau cincin yang di belinya tidak sesuai dengan jari Anisa.


Bayu sengaja membeli cincin itu sendirian, tidak mengajak Anisa. Karena Bayu tahu, Anisa tak mungkin mau di ajak berboncengan sebelum sah menjadi pasangan suami istri.


Bayu berniat berdiri, tapi entah kenapa seluruh tulang persendian nya seakan remuk. Perasaan tegang menyerangnya.


"Ayo buruan berdiri." bisik Reyhan sambil menyenggol kaki adiknya.


"Iya, tapi kenapa aku jadi gemetaran seperti ini? Seumur umur, ini baru pertama kalinya mau pegang tangan cewek bercadar. Pasti auranya beda kan sama cewek biasa." bisik Bayu.


"Ampun, ternyata kamu bisa grogi juga." bisik Reyhan.


Reyhan segera menyodorkan segelas teh hangat pada adiknya agar tidak grogi lagi. Setelah meneguk habis minumannya dan beberapa kali membuang nafas, ia mulai berdiri. Anisa pun ikut berdiri dan menyodorkan tangan kanannya.


Mata Bayu beberapa kali mengerjap kala melihat jemari tangan Anisa yang tampak putih bersih. Semakin terlihat cantik dengan hiasan hena.


Reyhan segera menyodok kaki Bayu, sebagai isyarat untuk segera memasangkan cincin, karena ia sudah terlalu lama berdiri. Bayu mulai mengangkat cincin itu dan mendekatkannya ke tangan Anisa. Semua orang tampak menahan senyum kala melihat Bayu yang gemetaran memasangkan cincin itu, hingga akhirnya cincin itu berhasil masuk.


"Alhamdulillah." mereka pun kembali berseru.

__ADS_1


Setelahnya mereka berunding mengenai hari pernikahan. Dan perundingan itu menghasilkan sebuah keputusan. Bahwa, akad nikah sebulan lagi akan di gelar di rumah Anisa pada hari sabtu pagi. Dan pada hari minggu nya, sebuah resepsi pernikahan juga akan di gelar di rumah Bayu.


__ADS_2