
Hari sudah semakin sore. Reyhan segera mengajak Laura pulang, karena hawanya yang semakin bertambah dingin. Reyhan menggenggam erat tangan Laura untuk memberi kehangatan.
"In shaa Allah, kapan kapan kita balik kesini lagi. Atau cari tempat yang lebih indah lagi. Sekarang kita pulang dulu ya sayang." Laura mengangguk dan tak mendebat ucapan suaminya yang benar itu.
Keduanya segera menaiki motor, dan meninggalkan tempat yang indah itu dengan harapan suatu saat bisa kesana lagi.
Di perjalanan, tak lupa Reyhan membeli oleh-oleh untuk keluarganya. Walaupun tak ada yang mengharapkan membawa oleh-oleh, tapi hal itu menjadi sesuatu yang penting untuknya.
Kini, keduanya sedang duduk sambil menunggu seblak pesanan mereka yang sedang di buat, serta es coklat kapal.
"Kamu seperti mama ku. Kalau pergi kemanapun pasti harus membeli oleh-oleh dulu. Padahal makanan di rumah sudah banyak." kekeh Laura. Reyhan tersenyum hangat sebelum akhirnya menimpali ucapan Laura.
"Yang selalu ada di sisi kita kan adalah keluarga, jadi apa salahnya sekedar membelikan oleh-oleh untuk mereka." Reyhan menaikkan satu alisnya.
"Iya, aku percaya padamu mas. Ngga bisa aku mendebat ucapan mu yang selalu benar itu." dengan gemas Laura mencubit hidung suaminya, dan Reyhan pun membalas melakukan hal yang sama.
Beberapa pasang mata pun melihat ke arah mereka yang tengah di mabuk asmara, dan seakan lupa dimana mereka berada sekarang.
Setelah selesai membayar, keduanya segera melanjutkan perjalanannya kembali.
"Assalamu'alaikum." keduanya mengucapkan salam.
"Wa'alaikumussalam." balas seisi rumah kompak.
Bima berbinar ketika melihat Laura dan Reyhan menenteng plastik hitam besar. Ia sudah bisa menebak apa isinya. Pasti oleh-oleh yang selalu kakaknya belikan untuk seisi rumah. Ia pun segera berlari membantu kakaknya.
"Terima kasih Bima." Laura tersenyum hangat pada adik iparnya yang masih kecil itu.
__ADS_1
Setelah mandi dan melaksanakan sholat maghrib, Reyhan dan Laura segera ikut bergabung dengan keluarga di depan tv.
Mereka saling bertukar cerita tentang apa yang sudah mereka lewatkan hari ini dengan penuh rasa bahagia, sambil menikmati seblak hangat yang menggiurkan karena sensasi pedasnya.
Bima mengerucutkan bibirnya, karena hanya mendengar kedua kakaknya yang asyik menghabiskan waktu mereka untuk jalan-jalan hari ini. Sementara dirinya tak ada yang mengajak. Sehingga mengundang gelak tawa keluarganya.
"Bima mau kemana memangnya? Nanti kalau sekolah libur, ikut kak Laura jalan jalan sama mas Reyhan mau ngga?" tawar Laura halus.
Laura tak mempersoalkan mau pergi dengan siapa saja. Yang penting ada Reyhan selalu di sampingnya. Justru Laura merasa senang jika bisa menghabiskan waktu untuk berkumpul dengan keluarga barunya yang penuh canda tawa, dan serba apa adanya itu.
Ternyata memiliki saudara kandung itu terasa sangat menyenangkan. Selain bisa menjadi tempat curhat, juga bisa saling membantu.
Bima bersorak gembira, walau baru sekedar mendengar ajakan Laura. Walaupun pengantin baru, dimana kebanyakan orang pada umumnya lebih suka menghabiskan waktu bersama pasangannya, Reyhan tak mempermasalahkan hal itu. Ia justru bahagia jika Laura bisa membaur dengan keluarganya.
"Sudah jam 9. Waktunya kita tidur, ayo Bima buruan ke kamar." bu Rohmah mengingatkan Bima. Ia ingin anaknya selalu disiplin. Dan jangan sampai melewatkan waktu subuh.
Mereka pun segera bubar, dan bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Reyhan yang melihat Laura tengah sibuk merawat diri hanya menyunggingkan senyum. Walaupun saat keluar Laura tetap mengenakan make up tipis dan tidak memakai cadar, ia tak mempermasalahkan hal itu.
Ia tak ingin mengekang istrinya dengan banyak peraturan. Ia ingin agar Laura mengerjakan segala sesuatu berdasarkan niat ikhlas dalam hatinya, bukan berdasarkan unsur paksaan. Toh malam ini,ia berdandan juga untuk suaminya.
Reyhan memeluk Laura dari belakang, sembari menghirup aroma wangi yang menguar dari tubuh Laura dan menghembuskan pelan. Setiap hembusan nafas Reyhan yang mengenai tengkuk Laura, membuatnya merasa geli. Keduanya saling beradu pandang lewat pantulan cermin.
"Terima kasih mas, untuk setiap hal yang sudah kamu lakukan padaku. Semuanya begitu membuat ku bahagia." Laura mendongakkan wajahnya menatap suaminya.
"Itu kan sudah menjadi kewajiban ku Miss Laura." Reyhan mengecup kening Laura dengan penuh cinta. Laura pun menutup matanya, meresapi setiap sentuhan cinta yang diberikan oleh suaminya itu.
__ADS_1
"Kamu sudah selesai." Laura mengangguk. Lalu dengan sigap Reyhan mengangkat tubuh Laura dan meletakkan pelan-pelan di kasur nya.
Jantung Laura berdegup kencang, ketika Reyhan melakukan hal itu. Batinnya bertanya tanya, apakah Reyhan akan meminta hak nya lagi di malam ini. Pengalaman pertamanya yang membuat nya sakit sekujur tubuh mulai menari nari di kepalanya. Nafasnya pun kini mulai terdengar tak beraturan.
"Tenang sayang, aku tak kan meminta hak ku di malam ini. Aku tahu kamu pasti capek sekali. Aku hanya ingin memperlakukan mu dengan sebaik-baiknya, dan semampu yang aku bisa."
Setelah berkata seperti itu, Reyhan kembali mengecup kening Laura. Tangannya mulai bergerak pelan memijit badan Laura yang pasti merasakan capek, karena seharian berjalan. Sehingga membuat hati Laura begitu tersentuh, dan matanya mulai berkaca-kaca.
"Ya Allah, maafkan atas keegoisan dan segala keangkuhan ku dulu padamu ya mas." Laura mengusap wajah Reyhan dengan penuh cinta dan menatap nya intens.
Ia begitu menyadari jika Reyhan sangat mencintai dirinya, padahal dulu ia pernah berbuat yang tidak baik padanya.
Laura berpikir keras, apa sesungguhnya yang membuat Reyhan jatuh cinta kepadanya. Ia menutup matanya dan perlahan mendekatkan wajahnya pada Reyhan untuk memberinya kecupan sayang.
Reyhan yang melihat kesungguhan Laura, membalasnya dengan sebuah kecupan hangat di bibirnya.
"Lakukan saja mas." bisik Laura pelan.
Walaupun badannya terasa capek, tapi ia ingin membahagiakan suaminya, sebagaimana suaminya membahagiakan hatinya.
Tak berapa lama kemudian, rintik hujan mulai terdengar, dan suaranya semakin terdengar keras. Seolah semesta mendukung niat baik Laura pada suaminya di malam itu. Reyhan pun mengangguk sambil tersenyum. Tak lupa ia mengecup kening Laura sambil berdoa sebelum memulai aksinya.
"Terima kasih Miss Laura." ucap Reyhan sambil merapikan rambut Laura, setelah permainan keduanya selesai.
Laura hanya mengangguk dan tersenyum hangat. Tangannya pun membelai wajah Reyhan dengan penuh kasih.
Rasa benci yang dulu terpatri di hatinya kini hilang tak bersisa, di gantikan oleh rasa cinta yang begitu memenuhi hatinya.
__ADS_1
Laura juga sangat merasa bersyukur, dulu orangtuanya bersikeras mendekatkan nya pada Reyhan. Dan akhirnya hal itu terjadi.
Laura tak bisa membayangkan, jika ia sampai menikah dengan Choki, yang ternyata tega mengkhianati nya dan melakukan perbuatan keji. Mungkin kebencian kedua orangtuanya bisa semakin bertambah.