
Sepanjang perjalanan pulang, Andre terus berkomat kamit merapalkan doa, agar Rosyidah mau menerimanya. Reyhan yang melihatnya terkekeh kecil, namun hal itu tidak mengganggu Andre.
Sampai akhirnya mobil berhenti di pinggir jalan. Reyhan ingin membelikan siomay ikan untuk Laura.
"Kamu mau ikut ngga?"
Andre mengangguk lalu turun. Keduanya berjalan beriringan menuju gerobak penjual yang antri pembeli.
Setelah memesan, keduanya duduk di sebuah kursi yang sudah disediakan, sambil bercakap-cakap.
"Rey, sumpah aku deg-degan banget." ucap Andre yang tak mampu menyembunyikan rasa khawatirnya.
"Tenanglah, kamu sudah berusaha. Hasilnya, serahkan sama Allah. Jika dia yang terbaik untuk mu pasti didekatkan. Jika bukan yang baik untuk mu, semoga dijauhkan. Jangan terlalu memaksakan diri dalam berdo'a. Bukankah kalau kita meminta tidak boleh memaksa?"
Andre diam mencerna nasehat sahabat nya.
Tak berapa lama kemudian, pesanan mereka sudah siap. Setelah membayar totalnya mereka kembali ke mobil. Mereka kembali melanjutkan perjalanan pulang.
"Ini untukmu sekeluarga. Kalau keburu laper makan duluan saja. Jangan tegang terus. Tegangnya pas malam pertama saja." gurau Reyhan.
"Sialan kamu." Andre menonjok lengan Reyhan hingga keduanya terkekeh.
"Bikin aku pengen dengar cerita malam pertama mu Rey, ayo dong cerita. Pasti seru." celetuk Andre.
Reyhan kembali terkekeh sebelum menjawab.
"Itu rahasia perusahaan, ngga boleh diceritakan."
Reyhan pun mengganti topik pembicaraan lain.
Ibunya Andre cukup khawatir ketika anak lelaki satu-satunya belum pulang. Ia terus menengok ke arah pintu sambil sesekali melihat jam dinding. Hatinya merasa lega ketika mendengar suara deru motor memasuki pelataran rumah nya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam. Andre, kok tumben sekali pulang mu malam."
__ADS_1
"Tadi ada hal penting Bu."
"Apapun yang berkaitan dengan Reyhan, pasti penting." balas ibunya. Ia tahu kedua anak itu bersahabat sejak SMA.
Setelah menyalami ibunya, Andre masuk ke kamar. Ia melaksanakan sholat yang tadi sempat tertunda, lalu membaca Al Qur'an. Sembari merebahkan diri, ia beristighfar.
"Jika ada seseorang yang membuatmu merasa surga lebih dekat, maka perjuangkanlah.'
Sebuah petikan nasehat yang berusaha Andre jalankan. Ia merasa bukan saatnya lagi mencari pacar. Ia ingin mencari pendamping yang bisa menemaninya sehidup semati dalam ketaatan.
Ia sadar dulu telah salah memilih jalan. Dan ia berjanji tidak akan mengulangi lagi. Niatannya itu tidak hanya sekedar isapan jempol, melainkan benar benar ia lakukan sepenuh hati.
Dan ketika bertemu dengan Rosyidah, niatnya memperbaiki diri semakin bertambah.
"Rosyidah, aku sadar memang belum pantas mendapatkan cintamu. Karena kamu adalah seorang wanita sholihah yang pasti tidak pernah mengenal kata pacaran sebelumnya. Sedangkan aku, pernah berpacaran. Namun aku akan terus berusaha memantaskan diri untuk bersanding dengan mu lewat doa doa yang senantiasa ku langitkan."
Sekejap bersama mu, menjadi tujuan peraduanku.
Sekali mengenal mu menjadi tujuan hidup ku.
_____
Sementara di tempat yang berbeda, setelah kepulangan Andre dan Reyhan. Rosyidah masih duduk di ruang tamu bersama kedua orang tuanya.
"Rosyidah, semua keputusan Abi serahkan sama kamu. Banyak banyaklah berdoa, meminta petunjuk pada yang Kuasa. Semoga di beri keputusan yang terbaik."
Rosyidah mengangguk. Setelah selesai membereskan meja, ia masuk ke kamar. Ia berwudhu, dan mulai malam itu melaksanakan sholat istikharah.
"Wahai Robb ku, di malam ini untuk pertama kalinya hamba bermunajat pada Mu. Memohon petunjuk mu, siapa kah jodoh yang terbaik untuk hamba mu ini. Seorang lelaki datang untuk meminang hamba. Belum lama kami saling mengenal. Yang ku tahu, dia cukuplah baik. Tapi, baik menurut hamba, belum tentu baik menurut Mu. Maka dari itu, jika ia memang yang terbaik untuk hamba, maka dekatkanlah kami, yakinkan lah hati hamba. Jika ia bukan yang terbaik bagi hamba. Maka jauhkanlah, dengan cara terbaik baik Mu. Agar tidak menimbulkan rasa sakit di hati kami. Aamiin."
Setelah berdo'a, Rosyidah naik ke atas tempat tidur, memiringkan badannya ke kanan mulai tidur.
Tengah malam, tiba-tiba Rosyidah merasa kehausan. Air putih yang biasa ia sediakan di meja ternyata lupa belum di isi. Dengan langkah pelan, ia berjalan menuju dapur. Melewati kamar kedua orang tuanya, ia seperti mendengar suara.
'Sepertinya Abi dan umi belum tidur. Sedang ngobrol apa mereka?' batinnya.
__ADS_1
Sebenarnya Rosyidah tahu, jika mencuri dengar percakapan urusan orang lain yang bukan urusannya tidak dibenarkan.
"Bi, Andre itu sepertinya seorang biasa. Apa ketika nanti Rosyidah menerima lamarannya, Abi akan mengijinkannya? Apa Abi yakin Andre bisa menjadi imam yang baik untuk Rosyidah? Apa Abi tidak tertarik untuk menjodohkan Rosyidah dengan pemuda lainnya?" umi Sofiah melempar pertanyaan yang beruntun pada haji Dahlan.
DEG...
'Kenapa umi bertanya seperti itu? Apa tidak suka dengan Andre?' batin Rosyidah merasa tersentil.
Rosyidah tahu, Andre hanyalah orang biasa. Namun kita tidak boleh menjudge seseorang karena ilmunya.
Karena kita tidak tahu, terkadang orang yang memiliki ilmu pas-pasan, justru berusaha mengamalkan ilmu nya dengan sebaik-baiknya.
Seperti yang dilakukan Andre. Dalam keterbatasan ilmu yang di miliki, ia terus berdoa dan memperbaiki sikapnya. Dan Rosyidah bisa melihat hal itu.
"Umi, Rosyidah sudah dewasa, biarkan dia memilih sendiri. Abi yakin, Rosyidah juga tengah melangitkan doa. Agar diberi jodoh yang terbaik. Abi tidak ingin kejadian dulu terulang kembali. Belum sempat kita menyatakan maksud tujuan, Reyhan sudah menolak duluan."
"Tapi bi, apa ngga ada pemuda lain yang ingin melamar Rosy? Dia cantik, baik, ilmunya juga mumpuni."
"Umi, seseorang yang hebat itu, sederhana dalam ucapan nya. Namun hebat dalam tindakan nya. Dan Abi bisa menilai itu dalam diri Andre. Umi tahu sendiri kan, dulu kita juga pernah menjodohkan Rosyidah dengan pemuda lain. Mereka lulusan universitas terbaik, jam terbangnya juga tinggi, anak sahabat sahabat abi. Tapi apa, Idah tetap menolak kan? Mungkin Andre dan Idah ditakdirkan berjodoh, agar keduanya bisa saling melengkapi. Agar Idah bisa menyemangati Andre untuk terus memperbaiki diri. Dan kehadiran Idah bisa menjadi penerang di tengah tengah keluarga Andre yang belum begitu paham."
"Jadi intinya, Abi mendukung jika nanti Rosyidah menerima Andre?" ulang umi Sofiah.
"In shaa Allah Abi setuju." abi mengangguk yakin.
"Baiklah, semoga Rosyidah bisa mengambil keputusan yang tepat. Bisa menemukan lelaki yang tepat dalam menjalani kehidupan rumah tangganya nanti."
"Aamiin. Doa kita sangat penting untuk anak anak kita sayang. Banyak banyaklah berdo'a agar Rosyidah memperoleh jawaban yang tepat."
"Baiklah, umi sholat tahajud dulu."
"Terima kasih Abi, umi, atas doa dan dukungan kalian untuk Rosy. Semoga apapun keputusan ku nanti tidak mengecewakan kalian." lirih Rosyidah.
Rosyidah menghela nafas panjang setelah mendengar percakapan kedua orang tuanya, dan segera meninggalkan tempat itu menuju dapur.
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1