
Pagi itu, Reyhan menikmati sarapan pagi bersama keluarga barunya. Mereka saling bertukar cerita sehingga membuat satu sama lain merasa senang, nyaman dan hidup kian berwarna tentunya.
Selesai sarapan, Reyhan membantu Laura membuka kado yang tak terhitung jumlahnya. Laura tak menyangka jika akan mendapatkan kado sebanyak itu, mengingat ia merasa tak memiliki teman yang benar-benar baik kepadanya kecuali madam Su, Rosyidah dan Anisa. Ia juga sadar diri, jika selama ini bersikap angkuh dan tempramental.
Keduanya terkikik kala membaca surat-surat yang di selipkan di dalam kado.
Banyak yang mendoakan agar menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan warohmah. Ada juga yang mendoakan agar segera di karuniai banyak anak. Kalau bisa harus mengungguli geng halilintar.
"Memang nya aku ayam, yang sekali bertelur terus banyak." gerutu Laura setelah membaca surat itu.
Ia pun langsung mencampakkan surat itu ke sembarang arah. Reyhan yang melihat itu langsung terkikik.
"Kalau aku aamiin kan doa mereka gimana Miss?"
"Reyhan, aku ngga mau punya banyak anak. Aku takut melahirkan. Nanti kalau aku gendut dan kamu ngga sayang aku lagi gimana?" Laura mendengus kesal.
"Mana mungkin aku tega meninggalkan wanita yang melahirkan darah daging ku sendiri Miss Laura sayang." dengan gemas Reyhan mencubit pipi Laura.
"Kenapa kamu jadi sering mencubit ku sih?"
"Karena pasangan kita adalah cerminan diri kita sendiri. Dulu kan Miss Laura sering kdrt sama aku, sekarang aku jadi ketularan deh." Reyhan terkekeh sambil mencubit Laura di beberapa bagian tubuhnya.
"Oh, jadi sekarang kamu mau balas dendam sama aku?" Laura menatap Reyhan sambil memasang muka masam.
Tak lama kemudian ia justru menggelitiki pinggang Reyhan. Reyhan yang mendapat serangan mendadak berusaha untuk terus menghindar. Hingga keduanya ambruk di lantai, dengan posisi Laura yang berada di atas.
'Oh Tuhan, kejutan apa lagi ini? Terus saja dalam keadaan seperti ini, padahal Miss Laura baru menstruasi. Tapi adik ku selalu tegang tiap berada di dekatnya.' batin Reyhan sambil menatap Laura.
'Reyhan mulai menatap ku lama. Apa dia akan mengulangi seperti tadi pagi?' Laura segera menutup matanya.
__ADS_1
Alih-alih mengecup, kali ini Reyhan justru menenggelamkan wajah Laura di dadanya dan memeluknya dengan erat.
"Apa miss Laura bisa rasakan detak jantung ku yang saat ini tengah berdetak sangat cepat?" Laura hanya mengangguk sambil mendengarkan dengan serius detak jantung Reyhan.
"Jantung ku selalu berdetak cepat tak karuan ketika berada di dekat Miss Laura. Karena hanya Miss Laura seorang yang bisa membuat jantung ku seperti itu. Bukan wanita lain. Terkadang Allah menjodohkan kita dengan sesuatu yang kita benci sebelumnya. Agar kita menyadari bahwa benci dan cinta itu bedanya tipis. Allah yang maha membolak-balikkan hati kita, jadi kita harus berhati-hati dengan ucapan kita." Reyhan membelai lembut kepala Laura.
"Jadi apa itu artinya aku termakan dengan kata-kata ku sendiri? Dulu aku kan sempat membenci mu dan begitu mencintai Choki. Tapi sekarang justru sebaliknya." Laura mendongakkan kepalanya menatap Reyhan.
"Kalau itu cuma Miss Laura yang bisa menjawab. Bertanyalah pada hati Miss Laura sendiri. Tapi menurut ku iya sih." Reyhan terkekeh di ujung kalimatnya.
"Ih, kamu suami menyebalkan. Aku kan lagi serius bicara." Laura memukul dada Reyhan. Lalu kembali merebahkan tubuhnya di atas tubuh Reyhan.
"Laura... La..." bu Ani membulatkan matanya dan tak meneruskan kalimatnya.
"Eh, ada apa ma?" Laura segera menggeser tubuhnya dan merapikan penampilan nya ketika tiba-tiba mamanya sudah berdiri di ambang pintu.
"Mama ngga lihat kok, tenang saja. Oh iya, ini mama bawakan jamu untuk mu, supaya haidnya lancar dan tak mengganggu kalian berdua." bu Ani menyodorkan segelas jamu kunyit asam. Ia mengernyitkan keningnya karena ini adalah pertama kalinya meminum jamu.
"Minum saja Miss, rasanya enak kok." Laura terpaksa minum karena di bujuk oleh Reyhan.
Seteguk ia berhenti sambil menikmati rasanya, lalu meneguk lagi sampai habis.
"Nah, enak kan? Besok mama belikan lagi. Ya sudah mama keluar sekarang. Kalian lanjutkan lagi, jangan lupa di kunci pintunya." bu Ani mengedipkan sebelah matanya pada Laura.
Reyhan segera mengunci pintu nya ketika mertuanya sudah keluar.
"Mau di lanjutkan lagi atau....." Reyhan sengaja menggantung kalimatnya.
"Ya di lanjutkan lagi lah. Membuka kadonya." kekeh Laura.
__ADS_1
Reyhan langsung memeluk erat Laura dari belakang. Kepalanya di sandarkan pada punggung Laura. Yang membuat Laura merasa geli karena punggungnya terkena hembusan nafas Reyhan.
"Reyhan geli."
"Hem... tapi aku nyaman berada di posisi seperti ini. Memeluk Miss Laura bisa menentramkan batin ku."
Tak di pungkiri, Laura sebenarnya juga merasakan kenyamanan ketika di peluk oleh Reyhan. Sehingga ia membiarkan hal itu, sambil tetap membuka kado.
"Ya ampun, apa lagi ini?" pekik Laura ketika menggenggam jamu tradisional untuk kekuatan laki-laki dan wanita.
"Niat mereka baik sama kita, jangan di tolak ya."
"Hem, entahlah, aku tidur saja." Laura pun bangkit berdiri dan menghempaskan tubuhnya di ranjang yang empuk itu. Reyhan segera menyusul dan memeluknya erat.
Karena Laura masih menstruasi yang membuat nya tak leluasa bergerak, akhirnya keduanya hanya menghabiskan waktu selama sepekan nya di rumah. Rencana bulan madu yang sudah di persiapkan oleh orang tua Laura terpaksa di undur.
Beruntung, acara pernikahan yang di selenggarakan oleh keluarga Reyhan untuknya masih sepekan lagi. Ia memanfaatkan nya untuk merawat dan menemani Laura. Setiap perhatian yang Reyhan tunjukkan padanya, membuat keduanya semakin lengket dan tak bisa terpisahkan. Akhirnya urusan counter dan seluruh persiapan pernikahan, ia limpahkan pada Bayu. Tentunya ada upah yang ia berikan untuk adiknya itu.
Dan di malam itu, keduanya duduk di balkon menatap langit yang di hiasi kerlap kerlip bintang sambil menikmati wedang uwuh, untuk menghilangkan rasa capek dan tentunya baik untuk kesehatan.
Keduanya saling bertukar cerita. Terkadang keduanya terkekeh mengingat kebodohan yang pernah mereka lakukan.
Reyhan memuji Laura yang selalu mendapat peringkat pertama, sedangkan Laura justru terkekeh ketika mendengar pengakuan Reyhan yang tak pernah menjadi juara kelas. Bisa naik kelas dan lulus saja sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagi nya kala itu.
Laura menatap Reyhan dengan rasa simpati yang berlebih ketika mendengar nya bercerita tentang kematian bapaknya yang tragis sampai ia bisa menjadi sesukses sekarang. Sebuah perjuangan yang tidak mudah tentunya. Dan Laura beruntung tak pernah merasakan hidup yang menderita seperti yang di alami Reyhan.
"Reyhan, maafkan aku, dulu sering merepotkan mu." ucap Laura tulus. Bahkan ia sampai menitikkan air mata dan menyandarkan kepalanya di bahu Reyhan.
"Jika dulu Miss Laura tak merepotkan ku, mungkin kita sampai sekarang tak bisa menikmati waktu berdua seperti ini dalam ikatan yang suci." Reyhan menghapus air mata Laura dan menatapnya, sebelum akhirnya kembali mengecup bibir Laura yang seakan sudah menjadi candu untuknya.
__ADS_1